Bab 5: Malam yang Dingin
Perjalanan pulang di dalam mobil diwarnai oleh keheningan yang panjang. Baik Arga maupun Rina tidak ada yang membuka suara. Arga fokus menyetir dengan pandangan lurus ke depan, sementara Rina memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap lampu-lampu jalan yang menyala redup.
Setibanya di rumah, mereka masuk dengan langkah yang berat. Arga langsung meletakkan jasnya di sofa dan duduk memegangi kepalanya. Rina pun berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan minuman hangat, meskipun hatinya masih terasa sangat sakit.
Saat Rina membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya di meja depan Arga, Arga meraih tangan Rina. "Duduklah sebentar, Rina. Kita harus bicara."
Rina duduk di sofa seberang, menjaga jarak. Ia menatap Arga dengan tatapan kosong. "Bicara tentang apa, Mas? Tentang Clara? Atau tentang kebosananmu terhadapku?"
"Dengarkan aku dulu," pinta Arga dengan nada memohon. "Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa hidup kita monoton karena aku tidak mencintaimu. Tekanan di kantor sangat tinggi akhir-akhir ini. Clara sering membantuku menyelesaikan laporan, dan kami sering bertukar pikiran."
"Tapi apakah harus dengan merendahkan pernikahan kita di depannya, Mas?" tanya Rina dengan suara serak. "Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Apa yang kurang dariku?"
Arga menggeleng cepat. "Tidak ada yang kurang darimu, Rina. Kamu istri yang luar biasa. Hanya saja, aku merasa kehilangan diriku yang dulu. Semuanya terasa begitu datar dan membosankan, tanpa ada gairah."
Mendengar kejujuran itu, Rina merasa dunianya runtuh. Pernikahan yang ia bangun dengan cinta dan pengorbanan ternyata dianggap sebagai sebuah rutinitas yang membosankan oleh suaminya sendiri.