Reana Larasati, biasa dipanggil Reana atau Rea, seorang gadis yang berumur sekitar 20 tahunan, bekerja pada sebuah cafe yang cukup terkenal di kota tempat dia tinggal.
Setelah lulus sekolah terpaksa dia harus bekerja demi membantu keuangan keluarganya dimana hanya Ibunya saja yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk Reana sekolah juga satu adiknya, Ayah Reana sudah lama meninggal dan kini Reana menjadi tulang punggung keluarganya setelah Ibunya terkena stroke.
Reana bekerja keras demi bisa menyekolahkan adik dan untuk pengobatan ibunya, jika dia mendapat jatah libur mingguan dia menggunakan hari itu untuk membantu toko roti milik Bu Dana yang juga pemilik kontrakan yang ditempati Reana, Bu Dana yang tinggal sendiri merasa terhibur dengan kehadiran Reana dan menganggap Reana seperti anaknya sendiri.
"Rea, tolong antar minuman ini ke meja 11 ya," teriak salah satu teman kerjanya.
"Lah, itu kan orderan kamu," balas Reana.
"Tolong Re, aku sudah tidak tahan lagi, tolong ya," ucap Nina, temannya yang langsung pergi begitu saja meninggalkan nampan berisi minuman orderan customer.
"Dasar anak itu," gerutu Reana sambil mengangkat nampan dari meja bar.
Setelah semua orderan terlayani Reana duduk mengistirahatkan kakinya yang terasa pegal karena hari ini cafe lebih ramai dari biasanya, sambil memakan bekal yang di buatkan oleh Bu Dana untuknya.
"Pegel ya?"
Reana menoleh mendapati lelaki tampan tersenyum padanya berdiri di pintu penghubung antara cafe dan ruang istirahat karyawan.
"Eh, Kak Yohan," sapa Reana sedikit terkejut melihat Bosnya berada di dekatnya.
"Sudah lanjutkan makanmu," balas Yohan lalu duduk di kursi yang kosong.
"Kak Yohan sudah makan? kalau belum saya pesankan pada Mas Fariz untuk di buatkan makanan," tanya Reana.
"Sudah aku bilang jangan terlalu formal padaku, santai saja, anggap aku ini sama seperti yang lain, anggaplah teman," tegur Yohan.
"Iya Kak, di biasakan nanti, Kak Yohan ada perlu apa kesini, maksud say- eh aku tumben menemuiku?"
"Ah tidak ada apa-apa kok, cuma memastikan aja kamu baik-baik saja, cuma kamu yang mengambil full time kerja hanya khawatir dengan keadaan karyawanku, apa kamu baik-baik saja?"
"Oh itu, aku baik kok Kak, tenang saja."
"Baiklah kalau begitu, aku sudah menaruh beberapa obat-obatan di kotak obat, kalau kamu perlu bantuan jangan sungkan-sungkan meminta bantuan padaku dan yang lain."
"Iya Kak, terima kasih."
Yohan beranjak dari duduknya dan meninggalkan Reana di ruangan itu melanjutkan istirahatnya, sejenak dia menoleh menatap lekat Reana yang sedang menyuap makanan ke mulutnya, wajahnya menyiratkan lelah yang luar biasa namun dia selalu menutupinya dengan senyum tulus hingga mereka yang tahu siapa Reana lupa jika gadis itu sedang memikul beban berat di pundaknya.
Begitulah Reana yang tidak menampakkan semua masalahnya pada orang lain, dia menutupinya dengan senyuman di wajahnya yang membuat semua orang lupa bahwa gadis ini sedang memikul beban berat di pundaknya.
Reana mengayuh pelan sepeda kesayangannya menuju kontrakan yang tidak seberapa jauh letaknya, angin malam menerpa tubuh rampingnya.
tin...tin...
Sebuah mobil sedan hitam yang terlihat mahal dan mewah berhenti tepat di samping Reana yang juga telah berhenti setelah melihat mobil yang begitu dia hafal berhenti di dekatnya, dia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menyapa si pengemudi mobil tersebut.
"Mau langsung pulang Rea?" tanya Yohan dari dalam mobil.
"Iya Kak, lagian ini sudah terlalu malam jika aku harus mampir dulu."
"Oh begitu, baiklah, lanjutkan perjalananmu, hati-hati."
Reana mengangguk lalu kembali meneruskan mengayuh sepedanya menuju kontrakan. Sesampainya di kontrakan Reana di sambut Bu Dana yang sudah menunggu di teras kontrakannya.
"Loh, Ibu, kenapa disini?"
"Nunggu Reana pulang."
"Sudah malam Bu, nanti Ibu sakit, ayok masuk."
Reana berjalan pelan dan membuka pintu kontrakannya diikuti Bu Dana dibelakangnya, Reana mempersilahkan Bu Dana duduk di kursi ruang tamu dan dia berjalan kearah belakang menaruh tas bawaannya lalu kembali lagi menemui Bu Dana.
"Ada apa sampai-sampai Bu Dana menungguku disini?"
"Tidak ada apa-apa Reana ibu hanya ingin menyerahkan ini."
Bu Dana menyerahkan kantong kain yang berisi kue kering juga beberapa roti untuk Reana.
"Ya ampun Bu kan bisa besok pagi."
"Ibu ingin melihat anak gadis ibu yang sudah beberapa hari tidak bertemu."
Reana mendekati Bu Dana lalu memeluknya dia sangat tahu bagaimana kesepiannya Bu Dana tanpa seorang suami juga anak. Suami dan anak Bu Dana telah meninggal akibat kecelakaan mobil, sejak saat itu Bu Dana memilih untuk tinggal sendiri.
"Oh iya, besok Reana libur, jadi bisa bantu Ibu di toko kue."
"Apa tidak apa-apa kamu Reana, sebaiknya kamu beristirahat."
"Tidak apa-apa Bu, lagian Reana senang bisa membantu Ibu, itung-itung Reana membalas budi sudah diijinkan tinggal disini tanpa mengeluarkan biaya apapun."
"Kamu sudah seperti anak kandungku sendiri Reana, jadi tidak apa, jangan sungkan, malah ibu berharap kamu tinggal bersama ibu saja."
"Reana sangat mau ibu, tapi Reana tidak enak sama penghuni lain, begini saja mereka sudah menatap Reana sangat tidak suka, maaf ya ibu."
"Tidak apa, ibu mengerti, baiklah, kamu istirahat ya, ibu juga mau beristirahat."
"Baik Bu, mari Reana antar."
Setelah mengantar Bu Dana, Reana kembali ke kontrakannya, tidak lupa dia mengunci pintu lalu masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.
Di tempat yang lain, di kota yang sama, seorang gadis sedang duduk bersandar pada sebuah kursi kerja, wajahnya menyiratkan kelelahan yang sangat kentara, tatapannya terpaku pada sebuah bingkai foto yang menampilkan gambar dua orang gadis yang masih memakai seragam sekolah SMA, bibir gadis itu menyunggingkan senyum tipis tapi sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi muram, lalu dia meletakan kembali bingkai foto itu dimeja dan dia memutar kursinya membelakangi meja kerjanya.
"Dimana kamu sekarang Reana?"