Seorang gadis berjalan dengan sedikit berlari menyusuri sebuah lorong rumah sakit, gadis itu mengabaikan umpatan kekesalan dari orang-orang yang berlalu lalang di lorong karena dia tidak sengaja menabrak atau menyenggol tubuh mereka dalam fikirannya hanya satu dia ingin cepat sampai diruangan dimana Mamanya dirawat.
Sesampainya di ruang rawat Mamanya, hal pertama yang dia lihat adalah brankar dimana Mamanya sedang tertidur pulas, dia pun duduk di kursi yang ada disamping brankar tersebut sambil memandangi wajah Mamanya, Elisa.
"Non Rena," panggil Bi Asih yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bi, gimana keadaan Mama?" tanya Rena dengan nada penuh kekhawatiran.
"Dokter bilang Nyonya terkena Anemia, untuk selebihnya tidak perlu ada yang di khawatirkan, malah dokter bilang nanti sore Nyonya boleh pulang."
"Ah, syukurlah, terima kasih ya Bi."
"Non Rena katanya ada rapat penting."
"Ah iya, tapi aku kesini dulu khawatir dengan keadaan Mama."
"Kan ada Bibi, Non Rena jangan khawatir."
"Iya Bi, makasih."
Rena tidak bisa menyembunyikan perasaan lega setelah melihat sendiri keadaan Elisa, Mamanya. Gadis itu sangat mengkhawatirkan keadaan Elisa setelah menerima kabar jika Elisa pingsan, dia pun segera memutuskan untuk pergi kerumah sakit melihat sendiri keadaan Elisa.
Setelah Rena merasa tenang, dia memutuskan kembali ke kantornya karena rapat akan di mulai satu jam lagi, setelah berpamitan pada Bi Asih, Rena langsung meninggalkan ruang rawat Elisa.
Saat lift yang membawanya ke lantai dasar terbuka dia segera keluar, baru beberapa langkah dia berhenti lalu berbalik, dia merasa baru saja berpapasan dengan seseorang yang dia kenal, saat dia ingin mengejar orang itu bertepatan dengan pintu lift yang tertutup, membuatnya mengurungkan niat mengejar seseorang itu dan memutuskan untuk bergegas menuju kantornya.
Dalam perjalanan menuju kantor, Rena tidak bisa mengenyahkan fikirannya dari orang yang berpapasan dengannya, wajah seorang gadis dari masa lalu kembali menyeruak dalam fikirannya membuat tangannya sedikit bergetar.
"Apa tadi itu benar kamu?"
"Reanara."
Gumamnya pada diri sendiri dengan suara sedikit bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
*****
Disisi lain Reana sedang berada di sebuah ruang rawat menjenguk Sisil teman kerjanya yang di rawat karena usus buntu dan sudah selesai di operasi.
"Kamu datang sendiri Rea?" tanya Sisil.
"Iya, mungkin yang lain nanti, hari ini aku kan libur."
"Kamu gak bantu Bu Dana?"
"Setelah ini, aku sudah pamit kok."
Reana berdiri dari duduknya, lalu mengambil minuman kaleng yang berada di meja dan dia berdiri di jendela kaca menatap pemandangan luar yang sebenarnya tidak menarik. Kegiatan Reana tak luput dari perhatian Sisil, temannya itu sangat tahu jika Reana sedang memikirkan sesuatu.
"Ada yang mengganggu fikiranmu?"
"Aku bertemu dengannya."
"What!"
"Iya, aku bertemu, lebih tepatnya berpapasan dengannya."
"Where?"
"Di sini, rumah sakit."
"Kamu gak apa-apa?"
"Gak, hanya saja aku takut bertemu dengannya lagi suatu saat nanti."
"Aku harap itu tidak akan terjadi."
"I hope so."
Reana merebahkan tubuhnya pada sofa panjang tidak jauh dari brankar Sisil, hanya dengan berpapasan dengan "orang itu" membuat tubuhnya lelah.
Kilasan kisah masa lalu kembali muncul dalam ingatannya, membawa kepedihan yang luar biasa pada hatinya, bertahun-tahun dia mencoba untuk melupakan semua kisah menyedihkan itu dan semua sia-sia saat dia berpapasan dengan "orang itu".
Sisil menggigit bibir bawahnya meredam rasa khawatir terhadap keadaan temannya, dia sangat tahu bagaimana perasaan yang di rasakan oleh temannya, karena dia dan salah satu temannya menjadi saksi bagaimana seorang Reana melewati hari-hari menyedihkan itu. Tangan Sisil menggapai ponsel yang tergeletak di meja samping brankarnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk seseorang, berharap dia yang membaca pesan itu mengerti dan pulang.
*****
Di ruang kerjanya Rena terlihat sibuk mengerjakan berkas yang harus dia tanda tangani.
tok...tok...tok
"Masuk!"
"Nona memanggil saya," seorang pria gagah bersetelan jas serba hitam menghadap Rena sambil membungkuk hormat.
"Kemarilah dan duduk."
Pria itu pun berjalan mendekati Rena dan duduk di kursi yang hanya terpisahkan oleh meja kerja.
"Ada tugas untukmu Paul."
"Tugas apa Nona?"
"Temukan keberadaan orang ini."
Rena menyerahkan sebuah foto pada Paul yang langsung di periksa dengan seksama oleh pria itu.
"Cari info apa saja sebisamu, teruma dimana dia tinggal dan bekerja."
"Baik Nona."
"Kamu bisa mengerjakan sekarang."
Paul pun berdiri lalu memberi hormat pada Rena lalu beranjak dari ruangan tersebut, baru beberapa langkah sebelum Paul membuka pintu, Rena kembali berucap.
"Namanya Reana Larasati."