Seperti biasanya setiap pukul sembilan pagi Reana akan berangkat bekerja, dia kayuh sepeda kesayangannya dengan penuh semangat menuju cafe tempat dia bekerja.
Sesampainya di cafe sudah berkumpul teman-teman rekan kerjanya, termasuk Sisil yang sudah keluar dari rumah sakit sejak satu minggu yang lalu dan kini dia sudah mulai bekerja kembali.
"Nah, ini dia, Reana kamu datang terlambat jadi kamu bagian ngepel lantai ya, seperti biasa," ucap Fariz, koki sekaligus leader di cafe, sambil meledek Reana.
"Yah, kok aku terakhir sih," keluh Reana sambil menaruh tasnya dalam loker.
"Lelet sih, sudah tahu kalau yang datang terakhir pasti kena jatah," ledek Sisil.
"Ah, kali ini aku aman," celetuk Radit, teman Reana yang lainnya.
"Eh, Sekar kok gak keliatan?" tanya Reana celingukan mencari keberadaan Sekar.
"Dia ijin,"
"Tim, kita pagi ini, kurang satu dong?" tanya Sisil sambil menunduk lemas.
"Bisa yok bisa," teriak Beno dari arah dapur.
"Ngapain Beno di dapur?" tanya Reana.
"Biasa, apalagi kalau tidak makan," jawab Radit sambil membersihkan meja bar tempatnya menjalankan tugasnya sebagai bartender.
"Nah, yok mulai bekerja," perintah Fariz.
Semuanya segera menyebar, mengerjakan tugas masing-masing, selesai membersihkan dan menyiapkan segala sesuatu, mereka membersihkan diri dan berganti baju dengan seragam, setelah semua siap Fariz pun membuka cafe.
Hari ini cuaca sangat cerah, customer cafe pun lumayan ramai cukup membuat mereka yang kekurangan orang menjadi sedikit kelimpungan, Sisil dan Reana bergantian mengisi kekosongan Sekar sebagai kasir. Dan cafe pun semakin ramai ketika jam makan siang tiba terlebih hari ini adalah hari jumat yang biasanya jam istirahat lebih panjang karena beberapa diantara karyawan pria menunaikan sholat jumat, beruntung Yohan datang tepat waktu dan langsung mengisi bagian kasir terkadang juga dia membantu mengantarkan pesanan customer.
Cafe milik Yohan tidak hanya menyediakan minuman dan makanan ringan, tapi juga makanan berat mulai dari Italian, Western, Asia dan lokal, harganya pun terjangkau, letaknya pun strategis di wilayah perkantoran, maka dari itu setiap jam istirahat pasti akan ramai oleh customer kantoran.
Setelah jam makan siang habis, barulah mereka bisa bernafas lega, cafe pun lengang meski ada satu atau dua meja terisi tapi itu lebih dari cukup untuk mereka beristirahat sambil makan siang.
"Re, nih, tadi Ibu nitip buat kamu," ucap Sisil sambil mengulurkan kotak makan berwarna biru muda.
"Yampun Sil, bilang makasih ya sama Ibumu."
"Iya, siap, makan yuk, laper."
Mereka berdua pun makan dengan lahap di selingi dengan mengobrol hal-hal ringan.
"Loh, kalian sudah makan?" tiba-tiba Yohan muncul di ruang istirahat.
"Ih, Kak Yohan, ngagetin aja sih," omel Sisil karena kaget tiba-tiba Yohan muncul.
"Haha, maaf, baru aku pesankan makanan, kalian sudah makan duluan," kata Yohan.
"Tadi bawa bekal sih Kak, yaudah makanannya buat nanti aja," balas Reana.
"Oh ya Sil, kamu jadi full time?" tanya Yohan.
"Jadi Kak, mulai hari ini kan?" jawab Sisil.
"Iya, baguslah ada yang nemenin Reana, tapi apa kamu tidak apa-apa full time, apalagi kamu baru saja sakit?" tanya Yohan memastikan.
"Tenang Kak, aku baik-baik saja," balas Sisil.
Sedang Reana menatap Sisil penuh arti, dia menuntut penjelasan tentang keputusan Sisil mengambil full time.
"Kenapa kamu ambil full time Sil?" tanya Reana pada Sisil ketika Yohan sudah pergi meninggalkan mereka.
"Pengen aja,"
"Serius Sil?"
"Hah, gini Reana, aku khawatir dengan keadaanmu, apalagi setelah kejadian tempo hari, yang terus membuatku kepikiran, aku yakin suatu saat, meski aku tidak mau ini terjadi, dia pasti akan menemuimu, ketika itu terjadi aku tidak mau kamu dalam keadaan sendiri."
"Tapi kamu gak harus begini, aku jadi merepotkan kamu dan membebanimu."
"Kamu gak merepotkanku dan membebaniku, ini kemauanku sendiri dan tidak ada yang menyuruhku."
"Tapi..."
"Gini Re, aku tahu sejak kejadian itu kamu sulit percaya dengan orang, aku paham, aku tahu kamu bahkan ragu denganku, tapi aku tidak ragu Reana, aku tidak ragu menganggapmu sebagai sahabat dan sebagai saudaraku, meski aku tahu kamu hanya menganggapku hanya teman biasa, tapi aku tidak perduli."
Mata Reana berkaca-kaca mendengar penuturan Sisil, orang yang dianggap hanya teman biasa itu begitu tulus padanya tapi apa balasan Reana, dia tidak bisa melihat ketulusan itu, Reana terlalu tinggi membangun benteng untuk melindungi dirinya sendiri hingga lupa bahwa masih ada orang yang perduli dengannya dengan tulus.
Sisil yang tahu jika Reana akan menangis segera memeluknya, seketika Reana menangis pelan agar tak menimbulkan kekhawatiran temannya yang lain.
"Begitu menyentuhnya omonganku ya, sampai-sampai kamu menangis," ledek Sisil.
"Shut up."
Sisil pun tertawa, setidaknya dia merasa bahagia sekarang bisa sedikit merobohkan benteng kokoh milik Reana.
*****
Di ruang kerjanya Rena sedang menimang sebuah map berwarna merah, sejak beberapa menit lalu dia hanya memandangi map tersebut tanpa sedikit pun untuk membukanya.
Setelah bergelut dengan fikirannya sendiri, akhirnya Rena dengan perlahan membuka map tersebut, dia baca secara seksama apa yang tertulis pada kertas yang ada di dalam map, setelah selesai membaca semuanya, Rena mengambil salah satu foto yang diambil secara candid, satu senyum tipis mengembang di bibirnya, dia nampak senang namun detik berikutnya wajah Rena nampak murung lagi.
"Akhirnya aku bisa menemukanmu."
"Reana Larasati, I got you."