Seperti hari-hari biasanya Reana pergi bekerja tepat pukul sembilan pagi dengan mengayuh sepeda kesayangan pemberian Bu Dana, dengan senyum mengembang menyapa orang di jalan yang dia kenali sebagai tetangga atau pelanggan kue di toko kue milik Bu Dana, Reana terus mengayuh sepeda hingga dia sampai di cafe tempat dia bekerja.
"Selamat pagi," sapanya kepada teman-teman kerjanya.
"Nah sudah lengkap yuk mulai bekerja," seru Fariz sebagai leader sekaligus koki di cafe tersebut.
Setelah menaruh tas di loker Reana dengan sigap membantu teman-temannya mempersiapkan segala sesuatunya, mulai dari peralatan dapur, bar, meja kursi dan masih banyak lagi.
"Hari ini Meta gak masuk, kamu gantiin dia ya Reana," ucap Fariz.
"Oke, tapi Kak hari ini jum'at lho apa gak apa kita gak nambah personil?"
"Lah iya ya, hari ini jum'at ya," ucap Fariz sambil menepuk jidatnya.
"Kalau aku bantu keberatan gak?" seru suara dari arah pintu masuk.
Semua serentak menoleh kearah pintu dan mendapati Yohan sedang berdiri dengan pose sok kerennya.
"Sangat terbantu dan terima kasih, yok lanjut siap-siap yok," seru Fariz.
Tepat pukul sepuluh pagi cafe telah siap dan pintu utama pun sudah di buka, pelanggan yang hafal jam buka cafe mulai berdatangan, tepat pada jam istirahat cafe mulai rame bahkan mereka harus menambah kursi di area luar cafe yang memang di sediakan jika didalam sudah penuh.
Orderan pun tak henti-hentinya berdatangan seiring bertambahnya pengunjung, cafe akan sangat ramai ketika jam istirahat terlebih jika hari jum'at karena pada hari tersebut jam istirahat lebih panjang karena perusahaan menghormati mereka-mereka yang beragama muslim dan diharuskan sholat jum'at, maka dari itu banyak karyawan yang memanfaatkan jam istirahat panjang itu untuk nongkrong di cafe.
Cafe ini pun letaknya sangat strategis berada di ruang lingkup perkantoran dan perumahan penduduk, harganya pun sangat terjangkau untuk anak muda atau para karyawan menjadi nilai plus yang menambah ramainya pengunjung cafe.
"Rea, Rea, tolong handle pesanan meja 8 ya, aku mau ke meja 12," seru Fani sambil membawa nampan berisi beberapa gelas minuman.
Rea yang baru saja menaruh nampannya di meja bar langsung berjalan kearah meja 8 dimana ada tiga wanita cantik yang terlihat seumurannya dengan pakaian yang terlihat mahal dan mewah.
"Maaf permisi mau pesan apa?" sapa Reana ramah dan sopan.
Ketiga wanita cantik itu langsung menoleh pada Reana, salah satu diantara mereka menatap Reana dengan tajam dan seksama, membuat Reana yang merasa diperhatikan turut memperhatikan mereka.
"Reana," sapa salah satu wanita tersebut.
Reana tak bergeming, tubuhnya sudah bergetar sejak dia melihat siapa yang berada di hadapannya, dia langsung merapalkan mantra agar tubuh, otak dan hatinya dapat sinkron dan kembali membaik.
"Maaf, mau pesan apa? atau anda semua memilih dulu nanti bisa memanggil saya," ucapnya setenang mungkin.
"Emm, saya pesan ice chocolate avocado ya satu sama salad aja deh," ucap salah satu diantara wanita itu.
"Saya, hot tea camomile sama ayam bakar ya satu," wanita satunya pesan.
"Ekhem, saya pesan spagheti dan ice lemon," terakhir wanita yang memperhatikan Reana telah memesan.
Dengan tangan yang bergetar Reana mencatat semua pesanan mereka, setelahnya dia meninggalkan meja delapan dengan perasaan yang tidak karuan. Di meja bar dia bertemu dengan Fani yang sudah selesai dengan orderannya Reana menyerahkan orderan meja delapan padanya dan langsung menuju ruang loker.
Reana duduk mencoba menenangkan dirinya, sekelebat bayangan masa lalu kembali hadir dalam ingatannya, seketika dia memejamkan matanya rapat-rapat sambil menutup telinganya dengan kedua tangan.
Sisil yang melihat Reana langsung menghampiri memeluk sahabatnya membantu dia menenangkan diri, setelah Reana bisa mengontrol dirinya, Sisil melepaskan pelukannya.
"Apa yang terjadi?"
"Meja delapan ada Abel."
"Abel? Abelia Syahab?"
"Ya."
Sisil segera berjalan cepat keluar lalu melihat kearah meja delapan, benar, disana duduk Abel dan kedua temannya, Sisil berdecih lalu mengepalkan tangannya menahan rasa marah luar biasa begitu melihat wanita itu.
Sisil kembali pada Reana yang masih duduk di kursi loker dengan wajah yang masih terlihat pucat, sisil menggenggam tangan sahabatnya itu untuk menyalurkan kekuatan.
"Kembalilah kedepan, kasian yang lain," suruh Reana.
"Sudah longgar, jam istirahat sudah habis sejak tiga puluh menit yang lalu, " tolak Sisil.
"Loh, kok disini? loh Reana kenapa kok pucat?" tegur Fariz khawatir.
"Lupa belum sarapan Kak, maagnya kambuh," bohong Sisil.
"Astaga, yasudah, aku buatkan makanan sekalian untuk yang lain nanti kita makan bersama," seru Fariz dan langsung masuk kembali ke dapur.
"Yaudah aku tinggal ke depan dulu bantu bersih-bersih, kamu disini dulu."
Sisil meninggalkan Reana sendiri di ruang loker, sepeninggal Sisil, Reana memilih merebahkan tubuhnya karena kepalanya terasa pening.
*****
Rena sedang duduk bersantai menikmati segelas jus jeruk di pinggir kolam renangnya, namun ketenangan yang dia dapatkan tak bertahan lama karena Rena kedatangan tamu yang tak pernah dia harapkan di hari santainya.
"Lama tak jumpa itu muka masih saja jutek," tegur Abel, tamu Rena.
"Kau ganggu hari santaiku."
"Kau gak kangen aku apa ya,"
Rena tersenyum lalu merentangkan tangannya, tahu akan maksudnya Abel segera berjalan cepat dan memeluk tubuh ramping Rena.
"Siapa bilang gak kangen, aku kangen, kamu pulang gak bilang aku tahu-tahu sudah disini beberapa hari, jahat kamu Bel."
"Maaf, kan kejutan, aku juga harus menata n mengisi keperluan di apartemen kan."
Mereka melepaskan pelukan lalu duduk di kursi yang berada dipinggir kolam renang.
"Aku kemarin pergi ke sebuah cafe."
"Lalu?"
"Aku melihat Reana menjadi pelayan disana."
Tubuh Rena menegang mendengar nama Reana disebut oleh Abel.
"Dia seperti takut melihatku, bahkan badannya bergetar hebat, kejadian itu sudah berlalu beberapa tahun, tapi Reana masih saja takut melihatku, padahal aku ingin meminta maaf tapi setelah mencatat pesananku dia tidak muncul lagi."
Kepala Abel menunduk, ada gurat penyesalan yang tidak pernah lepas dari wajahnya ketika dia mengingat nama Reana dan segala macam perlakuannya dulu tidak pernah hilang dari ingatannya.
Rena tersenyum kecut, dialah orang yang paling jahat yang sesungguhnya, dialah penyebab semua penderitaan yang dialami oleh Reana, dialah sumber kesedihan bagi Reana, semua itu karenanya, dialah yang seharusnya lebih pantas untuk disalahkan.