Pertemuan Jenara dengan Mira menghasilkan surat peringatan kepada perusahaan. Bukti tugas berlebihan dan komentar manajer dikumpulkan. Hilda serta dua rekan bersedia menjadi saksi.
Jenara takut kehilangan pekerjaan. Tabungannya hanya cukup beberapa bulan, sedangkan biaya Gio meningkat meski Jeremy sudah membayar bagian sekolah.
Mira menyarankan mencari pekerjaan lain tanpa langsung mengundurkan diri. Jenara memperbarui riwayat hidup diam-diam.
Jeremy mendengar dari Gio bahwa Mama mencari kerja baru. Dia gak menanyakan rincian kepada anak. Dia menghubungi Jenara langsung.
“Aku punya lowongan di salah satu perusahaan.”
“Tidak.”
“Kau bahkan belum dengar.”
“Aku gak mau bekerja di bawahmu.”
Jeremy hampir berkata gajinya tiga kali lebih besar. Dia menahan. “Baik. Aku gak akan menawarkan lagi.”
Sebagai gantinya, dia meminta Gabriel mengirim daftar lowongan publik tanpa hubungan Palevi kepada Mira. Mira boleh memutuskan apakah informasi diberikan. Jeremy gak tau perusahaan mana yang dilamar Jenara.
Mira memberikan daftar tanpa menyebut sumber sampai Jenara memilih tiga posisi. Setelah tau Jeremy membantu, Jenara marah tetapi gak membatalkan lamaran.
“Dia gak mengatur perusahaan atau hasil seleksi,” kata Mira. “Informasi publik tetap dapat kamu pakai.”
Jenara mengikuti wawancara di sebuah perusahaan desain interior. Pengalamannya cocok, tetapi dia khawatir gosip identitas Gio muncul. Dia menjawab jujur bahwa perkara keluarga sedang dimediasi dan gak memengaruhi pekerjaan.
Di rumah Jeremy, Gio menginap lagi. Rosseane gak hadir sesuai konsekuensi. Jeremy memasak mi terlalu lembek dan Gio mengeluh.
“Masakan Mama lebih enak.”
“Papa akan belajar.”
Gio bertanya kapan Mama ikut menginap. Jeremy menjawab rumah Papa bukan kewajiban Mama.
“Tapi kalau Papa nikah sama Mama?”
“Itu keputusan Papa dan Mama, bukan Gio.”
Jeremy mulai memberikan jawaban yang gak membebani anak.
Hasil tes fasilitas menunjukkan satu tabung cocok dengan Jeremy dan Clara. Embrio mereka masih ada. Tabung lain milik pasangan berbeda.
Klinik meminta keputusan dalam enam bulan. Clara ingin melanjutkan, tetapi kali ini mengakui dirinya belum memiliki rencana dukungan.
Jeremy mengatakan dia gak dapat menyetujui penggunaan jika diharapkan menjadi ayah aktif bersama Clara. Dia juga gak dapat melepaskan hubungan secara emosional begitu anak lahir.
“Jadi kamu memaksaku kehilangan kesempatan?”
“Aku mengatakan hidup anak itu akan menghubungkan kita. Kita harus jujur soal akibat.”
Mereka membawa masalah ke pengadilan serta konseling, bukan perang media.
Clara meminta waktu. Dia mulai mempertimbangkan donor lain atau adopsi, meski kondisi medis serta usia membuat proses sulit.
Sementara itu perusahaan Jenara menawarkan penyelesaian: dia mengundurkan diri dengan kompensasi tiga bulan. Mira menilai ada bukti cukup untuk menggugat, tetapi proses panjang.
Jenara mendapat panggilan wawancara kedua. Dia harus memilih antara bertahan, menerima penyelesaian, atau menunggu pekerjaan baru.
Jeremy mengantar Gio pulang dan melihat map. Jenara mengatakan masalah garis besar, lalu menegaskan gak meminta keputusan.
“Kalau aku bilang jangan tanda tangan, kau akan menganggapku mengatur.”
“Benar.”
“Kalau aku diam, kau bilang gak peduli.”
Jenara hampir tersenyum. “Kau bisa bertanya apa yang kubutuhkan.”
Jeremy mengingat pelajaran. “Apa yang kau butuhkan?”
“Dengar saja.”
Jenara menceritakan ketakutan kehilangan pendapatan serta harga diri. Jeremy mendengarkan tanpa menawarkan cek.
Setelah selesai, dia hanya berkata, “Keputusan apa pun gak mengubah bagian biaya Gio yang menjadi tanggung jawabku.”
Jenara mengangguk. Kepastian itu membantunya berpikir tanpa merasa dibeli.
Keesokan harinya perusahaan desain menawarkan pekerjaan dengan gaji lebih baik, masa percobaan tiga bulan, dan jadwal lebih fleksibel. Jenara menerima setelah memeriksa kontrak bersama Mira.
Dia menolak penyelesaian yang mensyaratkan diam dan memilih mengundurkan diri biasa sambil melanjutkan laporan diskriminasi agar pekerja lain terlindungi.
Jeremy memberi ucapan selamat melalui pesan. Gak ada bunga memenuhi kantor atau hadiah mobil.
Jenara membalas, “Terima kasih.”
Dua kata yang dulu hampir gak mungkin kini mulai muncul tanpa menghapus harga diri siapa pun.
Hari terakhir Jenara di kantor lama berlangsung canggung. Manajer mencoba menahan surat pengalaman kerja sampai laporan selesai. Mira mengirim pemberitahuan hukum, dan bagian sumber daya manusia segera menyerahkan dokumen.
Hilda memeluk Jenara. “Aku akan menyusul kalau tempat barumu punya lowongan.”
Jenara tertawa. Dia berjanji persahabatan mereka gak berhenti hanya karena kantor berbeda.
Gabriel menjemput Hilda setelah acara perpisahan. Jenara akhirnya bertemu dia sebagai kekasih sahabatnya, bukan tangan kanan Jeremy. Gabriel meminta maaf karena hubungan pekerjaannya sempat membuat Jenara curiga.
“Aku gak akan memberikan informasi Hilda kepada Bos tanpa izin,” katanya.
Jenara mengangguk. Batas yang jelas membuat mereka dapat berada dalam lingkaran sama.
Di pekerjaan baru, Jenara mendapat meja kecil serta proyek percobaan. Dia hampir menyembunyikan status sebagai ibu tunggal karena takut dinilai. Atasan barunya hanya meminta jadwal penjemputan dicatat agar pembagian tugas adil.
Jeremy gak mengirim bunga, tetapi Gio membuat kartu ucapan. Jeremy membantu mengeja tanpa menulis namanya sendiri besar-besar.
“Dari Gio dan Papa,” tulis anak itu.
Jenara menaruh kartu di meja. Rekan baru bertanya tentang Papa, dan Jenara menjawab mereka sedang menjalani pengasuhan bersama. Gak ada cerita panjang.
Clara mendapat kabar tes lanjutan membutuhkan beberapa minggu. Dia mulai bekerja kembali dan berhenti menunggu telepon sepanjang hari. Pengacara klinik menawarkan kompensasi awal, tetapi dia menyimpannya sampai hasil jelas.
Jeremy menghormati. Mereka hanya berkomunikasi pada jadwal hukum.
Malamnya Jenara menghitung gaji baru dan biaya hidup. Dengan kontribusi Jeremy untuk sekolah, dia dapat menambah tabungan tanpa mengurangi perannya. Dia membuat rekening pendidikan bersama yang hanya dapat digunakan dengan persetujuan kedua pihak.
Jeremy menyetor bagian pertama dan gak menambahkan jumlah berlebihan. Jenara menyetor sesuai kemampuan.
Rekening itu menjadi bukti pertama bahwa uang Jeremy dapat masuk ke hidup Gio tanpa menguasai hidup Jenara.
Gio memberi nama rekening pendidikan mereka “uang sekolah sampai besar”. Jeremy hampir menambahkan dana kuliah penuh, tetapi Jenara meminta setoran mengikuti rencana tahunan.
“Kita gak tau pilihan Gio nanti,” katanya.
Jeremy setuju. Bahkan masa depan anak gak boleh ditentukan seluruhnya oleh ketakutan orang tua hari ini.