Jenara memilih kafe kecil, bukan restoran milik jaringan Jeremy. Dia datang sendiri dan memberi lokasi kepada Hilda. Jeremy juga datang tanpa sopir menunggu di depan.
“Ini bukan kencan,” kata Jenara sebelum duduk.
“Baik.”
“Jangan pesan untukku.”
“Baik.”
Jeremy terlihat tegang seperti lelaki yang gak pernah berkencan. Jenara hampir tertawa.
Mereka memesan masing-masing. Percakapan awal kaku. Jeremy membahas cuaca, Jenara menyindir dia terdengar seperti rapat.
“Aku biasanya gak perlu berusaha membuat perempuan bicara.”
“Karena biasanya kau melempar uang.”
Jeremy menerima sindiran. “Dulu, iya.”
Mereka membahas pekerjaan Jenara, rencana Jeremy mengurangi perjalanan saat jadwal Gio, dan hal kecil lain. Gak ada pembicaraan hak asuh.
Jenara bertanya apa yang Jeremy harapkan.
“Kesempatan mengenalmu lagi. Bukan langsung menikah atau tinggal bersama.”
“Dan kalau aku berhenti?”
“Aku tetap menjadi Papa Gio sesuai kesepakatan.”
Jawaban itu penting. Hubungan romantis gak boleh menjadi harga akses pengasuhan.
Jeremy bertanya batas. Jenara menetapkan pertemuan dua kali sebulan, gak ada hadiah mahal, gak ada kunjungan mendadak, dan Gio belum diberi tahu.
“Kau bisa memutus kapan pun?”
“Kita berdua bisa.”
Jeremy setuju.
Saat keluar, hujan gerimis. Jeremy membawa payung yang dulu diperbaikinya. Jenara tertawa melihatnya.
“Kau masih menyimpan?”
“Kau bilang kembalikan. Setelah dikembalikan, kau meninggalkannya di mobilku saat acara sekolah.”
Mereka berbagi payung sampai halte. Jeremy gak memaksa mengantar. Sebelum berpisah, dia bertanya boleh memegang tangan.
Jenara menolak. “Belum.”
“Baik.”
Di rumah, Hilda menunggu laporan. Jenara mengatakan pertemuan gak buruk.
“Kamu senang?”
“Sedikit.”
Rasa senang membuatnya takut. Terapis mengingatkan ketakutan dapat menjadi sinyal untuk berjalan pelan, bukan selalu berhenti.
Jeremy pulang dan mendapati Rosseane menunggu. Dia menolak menceritakan rincian karena privasi Jenara.
“Tapi Mama ingin tau.”
“Kalau ada keputusan yang menyangkut Gio atau keluarga, aku akan bilang.”
Rosseane mengeluh, namun menghormati.
Pertemuan kedua direncanakan dua minggu kemudian. Sebelum itu, mereka tetap berkomunikasi hanya soal Gio serta satu percakapan pribadi.
Gio merasakan suasana berubah. Mama gak lagi menggerutu setiap menerima pesan Papa. Papa juga tersenyum saat menjemput.
“Mama sama Papa sudah teman?”
“Sedang belajar,” jawab keduanya pada waktu berbeda.
Jawaban sama membuat Gio curiga, tetapi Dokter Ratri membantu orang tua menunggu sampai hubungan stabil.
Di pekerjaan, Jenara mendapat tawaran memimpin proyek baru di Surabaya selama dua bulan. Kesempatan itu baik untuk karier, tetapi berarti jadwal Gio berubah.
Dia memberi tahu Jeremy sebelum menerima. Jeremy menawarkan Gio tinggal lebih banyak bersamanya sementara, dengan Jenara pulang akhir pekan dan panggilan harian.
Jenara takut. Dua bulan adalah waktu terlama jauh dari anak.
“Aku bisa menolak proyek,” katanya.
“Apakah kau ingin menolak atau takut meninggalkan Gio?”
Jenara gak tau.
Mereka berkonsultasi dengan Dokter Ratri. Gio dapat menyesuaikan jika jadwal jelas, sekolah tetap sama, dan Jenara gak menghilang. Alternatif lain adalah membawa Gio, tetapi itu memindahkan sekolah serta menjauhkan Papa.
Jenara meminta waktu memutuskan. Jeremy menegaskan dia akan mendukung karier Jenara tanpa memakai masa dua bulan untuk mengubah hak asuh permanen. Pernyataan dicatat dalam kesepakatan tambahan.
Untuk pertama kalinya, keberadaan Jeremy dapat memberi Jenara kesempatan mengejar pekerjaan yang dulu selalu dia lewatkan sebagai ibu tunggal.
Namun menerima bantuan sebesar itu berarti mempercayakan kehidupan sehari-hari Gio kepada lelaki yang pernah dia anggap paling gak dapat dipercaya.
Jenara menatap tawaran kerja dan kesepakatan pengasuhan. Pertemuan baru mereka baru dimulai, tetapi keputusan berikutnya akan menguji apakah kepercayaan yang tumbuh mampu bertahan saat jarak benar-benar hadir.
Atasan memberi Jenara waktu tiga hari. Proyek Surabaya dapat meningkatkan posisinya dan gaji, tetapi juga membuatnya memimpin tim untuk pertama kali.
Dia membuat jadwal bersama Jeremy: Gio tetap sekolah, Senin sampai Jumat bersama Papa serta Nenek pada jam kerja, akhir pekan bertemu Mama. Jenara dapat pulang dua akhir pekan tiap bulan, sedangkan perusahaan membayar satu perjalanan.
Jeremy menawarkan pesawat pribadi setiap minggu. Jenara menolak. Mereka memasukkan pilihan penerbangan biasa dan dana darurat jika Gio sakit.
Rosseane sangat senang Gio tinggal lebih banyak, tetapi Dokter Ratri mengingatkan jangan mengatakan Mama pergi meninggalkan. Semua orang memakai kalimat, “Mama bekerja sementara dan tetap pulang.”
Gio awalnya menangis. “Kenapa Mama gak bawa Gio?”
Jenara menjelaskan sekolah serta teman tetap di Jakarta. Mereka membuat kalender panggilan dan menghitung hari bersama.
“Mama kerja supaya bangga?”
“Mama bekerja karena Mama juga punya cita-cita. Gio gak harus membiayai Mama saat besar.”
Kalimat itu melepaskan beban lama Gio.
Jeremy menandatangani pernyataan bahwa jadwal sementara gak dapat digunakan sebagai bukti Jenara menyerahkan pengasuhan. Mira memeriksa setiap bagian.
“Kau yakin?” tanya Jeremy setelah dokumen selesai.
Jenara menatapnya. “Aku belum yakin kepadamu sepenuhnya. Tapi aku percaya proses yang kita buat.”
Jeremy menerima perbedaan itu.
Pada hari keberangkatan, Gio memeluk Mama lama. Jeremy berdiri jauh dan gak mempercepat.
Jenara akhirnya melepas lalu berkata kepada Jeremy, “Jaga anak kita.”
“Aku jaga. Dan kalau dia butuh kau, aku akan telepon.”
Pesawat Jenara terbang tanpa Gio untuk pertama kali. Dia menangis, tetapi juga membuka dokumen proyek.
Di bawah sana, Jeremy menggandeng putranya pulang. Dua bulan ke depan akan membuktikan apakah dirinya mampu menjadi ayah utama sementara tanpa mengubah bantuan menjadi kemenangan atas Jenara.
Malam pertama, Jeremy mengirim foto Gio makan malam dan jadwal tidur sesuai kesepakatan. Jenara membalas setelah rapat proyek selesai.
Dia ingin menelepon di luar jadwal, tetapi bertanya lebih dulu. Gio masih terjaga dan senang menerima panggilan. Jeremy memberi mereka waktu tanpa ikut berbicara.
Setelah Gio tidur, Jeremy mengirim satu pesan pribadi: “Hari pertama berjalan baik. Fokus pada pekerjaanmu.”
Jenara menjawab, “Terima kasih. Kalau ada kesulitan, jangan sembunyikan supaya terlihat mampu.”
Jeremy berjanji akan jujur. Esok pagi Gio menolak sarapan serta menangis mencari Mama. Jeremy melaporkan apa adanya, lalu mengikuti saran Jenara membuat telur sederhana.
Gio akhirnya makan. Kejujuran kecil itu mencegah jarak berubah menjadi pertunjukan siapa orang tua paling kuat.
~~~
^vee^