"Tidurlah, sudah malam. Bayi kita juga butuh istirahat, jangan repot melulu di dapur, mau bikin apa lagi? Sudah jam segini," ucap Ethan khawatir, saat melihat Ratu terus bekerja di dapur tanpa henti setelah selesai mandi, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 malam.
"Ini, anu Om, aku bikin makanan ringan buat besok," jawab Ratu gugup. Lebih gugup lagi ketika Ethan malah masuk ke dapur dan berdiri di sebelahnya.
"Banyak sekali, siapa yang makan nanti?" tanya Ethan heran. Ratu melangkah ke samping, menjauhi Ethan dengan perasaan was-was, membuat Ethan tertegun melihatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Ethan.
"Ehm, Om, itu ..., malam pertamanya di tunda dulu ya, aku masih belum siap," ucap Ratu malu-malu. Ethan kembali tertegun.
"Maksudmu bagaimana?"
"Om menungguku, bukan?"
Ethan mengangguk. "Iya, aku sudah dari tadi menunggu kamu, akhirnya kamu sadar juga," jawabnya.
"Tapi, Om, aku masih belum siap buat malam pertama sama Om," ucap Ratu memelas.
"Apa? Kamu itu istriku, mau bagaimana pun juga kamu harus patuh pada suami," sahut Ethan sembari memasang tampang garang. "Dan sekarang suami kamu ini mau kita tidur bersama, bersihkan dirimu, dan bereskan semua ini, kamu bisa lanjutkan semua besok," titahnya.
Ratu mengangguk takut. "B-baik, Om."
"Cepat! Aku sudah sangat mengantuk."
"Iya, aku usahakan secepatnya, Om duluan saja ke kamar."
"Tidak bisa! Aku harus tetap mengawasi kamu, biar kamu tidak banyak alasan lagi. Sepertinya kamu ingin aku tidur lebih dulu, begitu bukan?" tebak Ethan sembari menyeringai.
Ratu menghela napas berat lalu mulai membersihkan meja dapur dan menyimpan semuanya dengan cepat. Ia takut Ethan lebih marah lagi nantinya, karena saat ia mencuri pandang pada pria paruh baya itu, ia melihat kedua mata Ethan sudah terlihat merah.
"Sudah, biarkan saja sisanya. Aku sudah tidak tahan lagi!" teriak Ethan yang lalu menyambar lengan Ratu dan mengajaknya segera masuk kamar.
"Aku belum cuci muka, Om, biar aku ke kamar mandi dulu," ucap Ratu.
"Alasan! Di kamar ada, cuci muka di sana saja!"
Ratu mengerucutkan bibirnya. Mau tidak mau akhirnya ia pun mengikuti langkah Ethan, masuk ke dalam kamar.
Ethan membiarkan Ratu masuk ke dalam kamar mandi, sementara ia merapikan tempat tidur sembari menyeringai. "Malam pertama?" gumamnya dengan perasaan geli. "Apa aku masih pantas untuk itu?"
Setelah selesai, Ethan melangkah ke wastafel dan membasuh wajahnya yang terasa lengket dan gerah. Ia lalu melihat jam dinding dan beralih pada pintu kamar mandi.
"Ratu!" panggil Ethan. "Ngapain lama-lama di dalam?"
"Sebentar Om, lagi tanggung," jawab Ratu.
"Kalau kamu beralasan lagi, aku akan masuk dengan kunci cadangan!" ancam Ethan. Ia begitu khawatir, pasalnya sudah 30 menit Ratu berada di dalam sana.
Terdengar suara decakan dari dalam. Ethan yakin Ratu kini sedang berpikir panjang untuk terus berada di dalam sana.
"Tiga ...!" Ethan mulai menghitung mundur.
"Dua ...!"
"Sa–"
"Iyaaa, aku keluar nih, Om, barusan kelar. Duh! Jadi nggak konsen nongkrongnya, belum tuntas."
"Sudah, jangan alasan! Cepat tidur sana."
Ratu melangkah enggan dan mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memilih tidur pada tepian ranjang dan menghadap dinding, membelakangi Ethan yang kini sudah naik ke atas ranjang dan mendekatinya.
"Tidurlah."
"Iya, Om."
Ratu terkejut ketika ia merasakan hembusan napas dari hidung Ethan yang jaraknya begitu dekat dengan tengkuknya. Entah apa yang pria itu lakukan, yang jelas posisinya kini sudah berada tepat di tengah ranjang. Jantung Ratu berdegup begitu kencang, tubuhnya gemetaran. Ia tidak bisa tenang dan kini sedang memikirkan banyak hal yang membuatnya gelisah.
Ethan tersenyum geli melihat Ratu yang tidur di tepian ranjang. Ia lalu bergerak cepat tetapi dengan ekstra hati-hati, mengangkat tubuh Ratu dan menggesernya agar tidur di tengah ranjang. Ratu berontak, ingin melepaskan diri dari kedua tangan Ethan.
"Lepas, Om! Aku sudah bilang masih belum siap malam ini!" teriak Ratu, panik.
Ethan terkekeh. "Apa yang kamu pikirkan? Aku hanya menempatkan tubuhmu tepat di tengah ranjang, agar nanti kamu tidak terjatuh," jawab Ethan sembari menahan tawa. Ia tahu Ratu sedang menghindari ritual malam pertama dengannya, meskipun sebenarnya ia juga tidak ingin melakukannya. Ia sudah terlalu kaku dan lupa bagaimana cara melakukan ritual itu, sejak bercerai dengan istrinya sekitar 10 tahun yang lalu.
"Oh, maaf," desis Ratu dengan wajah merona. Ia begitu malu pada Ethan karena sudah berpikir yang iya-iya tentang adegan malam pertama yang tidak ingin ia lakukan.
"Sudah, tidurlah yang tenang, isi tenaga untuk besok, karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Ethan sembari menutupi tubuh Ratu dengan selimut sampai batas leher.
"Kemana, Om?"
"Lihat saja besok," jawab Ethan. "Sudah, aku mau tidur juga."
"Om tidur dimana?" tanya Ratu heran saat melihat Ethan mengambil satu bantal dari sisinya lalu turun dari ranjang king size itu.
"Aku di sofa saja," jawab Ethan. Ratu seketika jengah. Ia merasa tidak enak hati pada pria itu.
"Kok di sofa?" tanya Ratu.
"Kalau tidur di sampingmu kamu pasti takut, maka sebaiknya aku di sini saja."
Ratu tersentak. Ternyata Ethan mengetahui isi hatinya. "Om, tidurlah di sini, bersamaku," ucapnya pada akhirnya.
Ethan menggelengkan kepala. "Aku juga takut," jawabnya.
"Takut apa? Aku bukan hantu, Om."
"Memang bukan," sahut Ethan. "Tetapi jika aku ada di dekatmu, aku takut tidak mampu menahan diri, meskipun kamu istriku."
Ratu terdiam kelu. Ternyata penilaiannya terhadap Ethan telah salah. Lelaki paruh baya yang kini adalah suaminya itu terlihat enggan juga jika harus melakukan ritual malam pertama bersamanya. Mungkin karena mereka sama-sama masih baru mengenal.
"Aku jadi tidak enak sama Om, masa aku tidur di sini sedangkan Om malah di sofa?"
Ethan menghela napas panjang lalu mengusap kasar wajahnya. "Baiklah, aku tidur seranjang denganmu, tetapi kamu jangan takut ya."
Ratu mengangguk meskipun jantungnya berdegup kencang, dan hatinya ingin berteriak, mengucapkan kata tidak, untuk menjawab niat Ethan.
Ethan naik ke atas tempat tidur dengan pelan dan hati-hati. Entah kenapa wajahnya terasa panas saat mendekat pada Ratu. Bukan itu saja, jantungnya pun berdegup begitu kencang, dan kedua tangannya bergetar. Ada apanya wanita ini? Kenapa aku tiba-tiba menjadi lemas, berdekatan dengannya? Benak Ethan berkecamuk.
Keduanya kini tidur dengan posisi telentang, saling berdampingan, dengan satu bantal guling yang berada di tengah, menjadi pembatas di antara Ratu dan Ethan yang saat ini sama-sama terdiam kaku.
Merasa tidak nyaman, Ethan mulai menggerakkan sedikit tubuhnya, hanya untuk meregangkan otot, lalu mulai merubah posisi menjadi miring, menghadap ke Ratu.
"Maaf Om, dilarang menghadap ke sini," celetuk Ratu dengan suara bergetar. Ethan mendengus pelan lalu memutar balik tubuhnya, mengganti posisi ke arah sebaliknya. Ratu menghela napas lega.
"Katanya janji tidak akan takut?" tanya Ethan.
"Tidak takut sih, Om. Tetapi ada udara yang mampir ke wajahku, dan asalnya dari lubang hidung Om yang cukup besar itu," jawab Ratu dengan lugunya, membuat Ethan seketika mendelik.
"Jangan salah, bentuk hidung yang begini ini banyak rejekinya, daripada hidungmu yang mungil itu."
"Sama saja, Om lupa kalau aku sebelumnya adalah seorang artis dan model?" sahut Ratu tak mau kalah.
"Tapi sekarang kamu hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa," ucap Ethan. "Ku mohon jaga selalu rahasia tentang identitasmu ini, karena akan berpengaruh besar pada nasibku kelak."
"Berpengaruh bagaimana?" tanya Ratu tak mengerti.
"Kak Rama sudah menjelaskan padaku, jika aku mempunyai istri seorang artis, maka hakku akan dikurangi, dan aku hanya akan menerima 45% harta warisan dari mendiang ayahku," jawab Ethan dengan wajah sedih.
"Yang 55% larinya kemana?"
"Ke kantong mereka 'lah! Aku rugi jadinya. Lagipula di sana ada hak Ansel yang harus tetap ku pertahankan juga, masih ditambah lagi calon bayi ini, yang nantinya akan lahir," jelas Ethan. "Dia juga berhak atas hakku, sama dengan Ansel," tegasnya, yang membuat Ratu seketika merasa terharu.
"Anjani ...," panggil Ethan pelan.
"Hm?"
"Bisa minta tolong?"
"Apa, Om?"
"Tolong pijat tubuhku, rasanya kaku sekali."
"Pijat yang bagaimana?" tanya Ratu waspada.
"Pijat plus-plus!" jawab Ethan sembari menahan tawa.
"Apa? Oh, tidak!"