"Jangan berlarian seperti itu!" teriak Ethan saat melihat Ratu berlarian di sepanjang pantai.
"Aman, kok. Kemari lah, Om, di sini view nya lebih cocok buat ambil foto," ucap Ratu sembari melambaikan tangannya memanggil Ethan.
"Benarkah?" Ethan melangkah cepat mendekati Ratu lalu tersenyum. "Kamu benar, mari kita berpose," ajaknya yang lalu merengkuh bahu Ratu dan memeluknya erat, serta menempelkan kepalanya ke kepala Ratu.
"Ehm, kenapa begini Om, posenya?" tanya Ratu sedikit memprotes.
"Kamu lupa kalau kita baru menikah?"
"Ah, iya. Maaf."
"Pakai kacamata dan topimu, jangan sampai ada yang mengenalimu, meskipun Ansel sudah tahu kamu sekarang ibu tirinya. Aku hanya tidak mau terjadi masalah ke depannya," titah Ethan.
"Baik, Om," jawab Ratu, patuh. Ia juga tidak ingin keluarganya tahu jika ia sudah menikah bersama Ethan, orang yang seharusnya menjadi besan orang tuanya. Ah, sungguh pelik kehidupan ini.
Keduanya lalu berpose dan berswa foto, dengan berbagai macam latar belakang bertemakan lautan, yang saat itu sudah menjelang senja. Puas dengan apa yang merela lakukan, keduanya kini duduk berdampingan sembari memandangi lautan luas yang penuh dengan gemerlap cahaya, terkena pantulan cahaya matahari yang hampir tenggelam.
"Om ...," panggil Ratu.
"Hm."
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena Om sudah bersedia menerima Ratu apa adanya, meskipun dalam kondisi hamil," jawab Ratu dengan kedua mata yang mulai menghangat dan berair pada sudutnya. Suasana pantai yang temaram, membuatnya terbawa dalam kesyahduan suasana.
"Tidak masalah, toh calon bayi itu adalah anak dari Ansel, alias cucuku sendiri," jawab Ethan dengan suara sedikit tercekat. Sulit baginya menempatkan diri antara menjadi seorang ayah tiri sekaligus kakek dari calon bayi itu.
Jawaban Ethan membuat Ratu seketika tertegun. Apa yang dikatakan Ethan memang benar, anak yang ia kandung adalah memang cucunya. Ia pun lantas menghela napas panjang. Semesta sepertinya sedang ingin bercanda dengannya, karena sejatinya ia mengharapkan Ansel untuk bertanggung jawab dan menikahinya, tetapi ternyata ia justru menikah dengan ayah kekasihnya itu. Miris. Dan ia pun sangat kecewa dengan keputusan Ansel serta pemikirannya tentang karir.
"Kenapa diam?" tanya Ethan, mengejutkan Ratu. "Teringat Ansel?"
"Jika kita membahas anak ini, sudah pasti aku akan terus ingat sama Ansel, Om."
"Kecewa sama dia? Sakit hati?"
"Sangat, Om," jawab Ratu jujur, tanpa berpura-pura ataupun berbohong.
"Kau tahu, Ratu, Ansel seperti itu karena dia masih terobsesi tuntutan dariku," ucap Ethan. "Aku dulu memang keras padanya, karena dia sudah cukup dewasa tetapi sikapnya masih seperti anak-anak, belum bisa dewasa.
"Hingga suatu saat, ibunya yang selalu sayang dan membelanya, tiba-tiba pergi tanpa kabar, membuatnya frustasi, karena tidak ada lagi yang bisa membantunya saat sedang kekurangan uang."
Ratu mendengarkan dengan seksama, sembari sesekali menatap Ethan, melihat ekspresinya saat bicara. Cukup tenang dan sangat dewasa. Itu wajar, karena usianya memang sudah 48 tahun, saat ini, dan usianya sendiri hanya setengahnya, alias 24 tahun. Tetapi, saat mereka honeymoon sekarang ini, banyak yang memanggil Ethan dengan panggilan "Bang" atau "Mas", membuat pria itu tertawa lebar di sepanjang jalan.
Memikirkan hal itu, tanpa terasa Ratu tersenyum sembari terus menatap wajah Ethan yang memang terlihat awet muda, seperti yang masih berusia 30 an tahun.
"Aku sudah berkali-kali memergoki kamu sedang memandangiku, apa kamu sudah mulai jatuh cinta padaku?" celetuk Ethan, yang membuat Ratu sontak membuang muka ke arah lain dengan cepat. Ethan tertawa geli melihatnya. "Kamu natural sekali," ucapnya pelan.
"Om, sudah mulai gelap, apa kita akan menginap di sini?" tanya Ratu mengalihkan pembicaraan.
"Oke, kita kembali ke cottage, entah bagaimana dua mahluk pemalu itu sepeninggal kita," ucap Ethan sembari terkekeh. "Sulit sekali menyatukan mereka."
"Om mau jodohkan Pak Sam dengan Diana?"
"Begitulah, mereka orang-orang baik yang selalu setia padaku. Pekerjaan mereka juga selalu sesuai keinginanku, bisa dibilang, hanya mereka yang mampu memahami apa uang ku inginkan," jawab Ethan panjang lebar. "Senang rasanya kalau mereka bisa bersatu, dan bisa menjadi saudara kita."
"Saudara Om, maksudnya? Apa Om lupa kalau nantinya aku tidak lagi hidup bersama Om."
Ethan menatap dalam kedua mata Ratu. Ia lalu menghela napas panjang dan tersenyum misterius. "Kita lihat saja nanti, kita kedepannya bagaimana."
"Kalau boleh jujur, aku sebenarnya masih ingin bebas, Om, jadi nanti kalau misal pernikahan kita sudah selesai, aku mau pergi jauh dan membuka usaha yang baru."
"Bagaimana dengan anak kita?"
"Anak kita?"
"Anakmu adalah anakku juga, Ratu. Bagaimanapun juga kita sudah resmi menjadi suami istri, apa kamu lupa?"
Ratu tertunduk jengah. Bagaimana mungkin seorang yang sebenarnya bukan ayah mengaku menjadi seorang ayah bagi calon bayinya? Sedangkan yang benar-benar ayahnya justru menghilang. Ratu mengusap kasar wajahnya.
"Apa kamu keberatan jika aku menganggapnya sebagai anakku sendiri? Benih yang kamu kandung itu masih keturunan langsung dariku, ada darahku di sana."
"Terima kasih," hanya itu saja yang mampu Ratu ucapkan sebagai wujud rasa harunya. Disaat orang lain banyak yang menolak menikahi wanita hamil, berbeda dengan Ethan yang justru menerimanya dengan baik, hanya dengan syarat berpura-pura menjadi istrinya.
Ethan tersenyum. Dalam langkah panjang mereka menuju cottage, banyak hal sudah dipikirkan oleh Ratu, terlebih mengenai Ansel. Ia memang begitu dan masih mencintai Ansel, tetapi ia masih sulit menerima sikap dan keputusan Ansel. Entahlah.
Ketika sampai di depan cottage, mereka melihat Sam dan Diana yang sedang beradu mulut. Keduanya tidak menyadari jika Ratu dan Ethan sudah berdiri di sana dan akhirnya terguyur air dari keran yang di pegang oleh Sam.
"Wadaw! Maaf, Tuan, saya tidak sengaja," ucap Sam penuh penyesalan. Ia pun lantas menghampiri Ethan dan menggosokkan tangannya pada tubuh atasannya itu, bermaksud untuk mengeringkan. Ethan hanya diam melihatnya, tetapi ia seketika berang saat tangan Sam hendak berpindah ke tubuh Ratu.
"Singkirkan tanganmu dari istriku!" bentak Ethan yang seketika menyadarkan Sam atas tindakannya. Diana terkikik melihat tingkah Sam.
"Kalian sedang apa?" tanya Ratu. Ia lalu menggamit lengan Ethan, mengajaknya untuk segera masuk.
"Ini Nyonya, Pak Sam dari tadi marah-marah terus sama saya," lapor Diana. "Mana saya nggak tahu salahnya apa."
Ratu mengernyit melihat penampilan Diana yang terkesan norak. Ia lalu menoleh pada Sam. dan mendapati pria itu menganggukkan kepala sembari menunjuk riasan Diana. Seketika Ratu memahami inti masalah yang sebenarnya.
"Oh, ya sudah. Pak Sam, tolong maafkan Diana ya, beri dia kesempatan untuk merubah penampilan dulu, setelah itu kalian jalan-jalan lah sana, masa dari tadi cuma begini aja kegiatannya?" ujar Ratu sembari tertawa.
Diana tertunduk malu, melihat penampilannya sendiri. Semula memang ia sengaja melakukan itu untuk memancing tawa Sam yang sangat mahal itu, tetapi ternyata malah berbuah pertengkaran yang tidak ada habisnya, sampai Ratu dan Ethan pulang ke cottage.
"Sam, mandi dan bersiaplah!" seru Ethan memerintah.
"Untuk apa, Tuan?" tanya Sam heran.
"Ajak Diana keluar jalan-jalan dan makan malam di luar!" perintah Ethan.
"Tapi, Tuan ...."
"Tidak ada tapi-tapi, aku butuh waktu berduaan bersama istriku, apa kalian tidak peka? Lekas bersiap kalian berdua!"
"Tuan, jangan marah dong, saya cuma tidak paham maksudnya," ucap Sam memelas. Ia lalu membereskan bekas kekacauan yang ia buat bersama Diana, dan segera pergi, masuk ke kamarnya di sebelah kiri kamar utama, sementara Diana masuk ke kamar di sebelah kanan kamar utama.
"Beres sudah!" desis Ethan yang lalu tertawa. Ratu terdiam sembari menjajari langkah Ethan. "Kamu kenapa diam?"
Ratu menatap Ethan takut-takut. "Ehm, apa benar Om sedang ingin berduaan saja denganku?" tanyanya lugu. Ethan sontak tertawa lebar.
"Dasar wanita lugu. Sana masuklah dan istirahat. Aku juga ngantuk."
Ratu seketika mengerucutkan bibirnya. "Om masih belum jawab pertanyaanku."
"Ratu, aku mengatakan itu agar mereka segera keluar berdua, kencan," jelas Ethan. "Kalau soal waktu berduaan, dari tadi juga kita sudah berduaan, bukan?"
Ratu tersipu. "Oh, syukurlah kalau begitu."
"Kamu pikirkan apa? Malam pertama? Apa kamu mau? Ayo kalau mau, buruan, dimana maunya, di kamar mandi atau di kasur saja nih?" goda Ethan sembari menyeringai usil pada Ratu yang kini berlari masuk ke dalam kamar mandi. Ethan terbahak melihatnya. Ia begitu senang menggoda Ratu.
"Jangan dikunci nanti aku masuk menyusul kamu, kita mandi barengan ya ...," teriak Ethan.
"Tidak ...!"