Ratu tersenyum lebar menatap lautan luas di hadapannya, terlihat Ethan sedang berlarian bersama Sam, memperebutkan bola seperti anak kecil, sementara tidak jauh dari tempatnya berdiri, Diana sedang sibuk mempersiapkan makanan dan minuman untuk mereka berempat.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Ratu pada Diana. Ia lalu ikut duduk di samping Diana sambil terus tersenyum senang.
"Tidak perlu, Nyonya. Nanti Tuan Ethan marahi saya kalau sudah bikin repot Nyonya," ucap Diana jengah. Tangannya sibuk menepis tangan Ratu yang kini sudah banyak membantunya dengan cekatan.
"Tidak masalah, suamiku pasti lebih senang kalau istrinya banyak gerak."
"Tapi tetap saja saya yang tidak enak, Nyonya."
"Tenanglah, aku bosan berdiam diri terus dari tadi. Lagipula Ethan tidak akan tahu, dia terlalu asik bermain sama Pak Sam."
Diana menoleh, menatap kejauhan, melihat Ethan dan Sam yang masih asik berlarian sembari berebut bola. Keduanya terlihat begitu menikmati permainan itu tanpa peduli panas yang menerpa, begitu pun ombak lautan yang menyapu kaki telanjang mereka yang berlari menapaki pinggiran pantai.
"Baiklah, Nyonya," ucap Diana pada akhirnya.
Keduanya lalu menyibukkan diri menyiapkan semua sambil terus bicara, mencoba untuk mengakrabkan diri, hingga akhirnya selesai. Keduanya tersenyum lega.
"Kamu sudah lama bekerja di tempat suamiku?" tanya Ratu sembari menatap wajah Diana yang sebenarnya cantik, tetapi sering terlihat minder itu.
"Lumayan, Nyonya. Sudah hampir lima tahun," jawab Diana tanpa berani menatap Ratu.
"Selama itu sudah ada Pak Sam juga di sana?"
Diana mengangguk membenarkan. "Saat saya mulai bekerja, di sana sudah ada Pak Sam, kata orang-orang beliau malah sudah sepuluh tahun lebih menjadi asisten dan orang kepercayaan Tuan Ethan," jawabnya.
Ratu terbelalak takjub. "Pantas mereka sudah begitu akrab."
"Banyak yang bilang, Pak Sam itu ekornya Tuan Ethan, yang kemana-mana selalu mengikuti, saking setianya."
Ratu tertawa. "Apa Pak Sam juga sudah berkeluarga?"
"Masih belum , Nyonya," jawab Diana sambil tertawa geli. "Pak Sam itu paling takut sama yang namanya wanita."
"Masa sih?"
"Iya, Nyonya. Tuan Ethan sudah berkali-kali coba-coba mendekatkan Pak Sam sama beberapa karyawati atau juga sama beberapa artis yang dekat sama Tuan, tetapi ternyata Pak Sam tetap bergeming, beliau justru terkesan menghindari jika kami mengupayakan waktu pertemuannya bersama salah satu wanita itu."
"Kalian kerja sama carikan jodoh buat Pak Sam?" tanya Ratu sambil tertawa geli.
"Begitulah, Nyonya."
"Sempat-sempatnya Ethan bikin acara seperti itu, padahal saat aku lihat dia pertama kali, kesannya dingin dan kaku, ternyata ...."
Diana tertawa. "Tuan Ethan orangnya asik, tapi tegas. Kami semua tidak berani macam-macam apalagi sampai membuat beliau marah, karena kalau Tuan Ethan sudah marah, maka kondisi kantor tidak akan tenang."
"Begitu 'kah?"
"Iya Nyonya. Nanti Nyonya pasti bisa tahu sendiri kalau sudah lama hidup berdua sama Tuan Ethan."
Sontak Ratu terdiam sendu. Di dalam benaknya sama sekali tidak ada angan-angan untuk hidup lama bersama Ethan. Ia juga sebenarnya ingin bebas seperti dulu lagi, hanya saja mungkin nantinya ia ada tanggungan anak, yang harus sering ia perhatikan dan jaga setiap hari. Entahlah, ia masih belum memikirkan bagaimana nantinya jika anaknya sudah lahir.
"Nyonya, Tuan dan Pak Sam ke sini," ucap Diana memberitahu. Ia lalu beringsut mundur, memberi tempat untuk kedua pria itu duduk. Ratu bergerak cepat menyiapkan minuman untuk Ethan, namun pria itu mengangkat satu tangannya, menolak pemberian Ratu.
"Aku mandi dulu, setelah itu makan, bersama kalian," ucap Ethan. Ratu segera menyambar travel bag milik Ethan dan mengambilkan pakaian santai untuk suaminya itu. Ethan menerimanya sembari tersenyum lebar, membuat Ratu seketika terpana.
Sam yang melihatnya hanya mampu berdehem kecil sembari mengambil pakaian untuknya sendiri dari dalam tasnya, sementara Diana hanya tertunduk diam, bingung dengan apa yang harus ia lakukan nantinya.
Sepeninggal kedua pria itu, Ratu menatap Diana dan tersenyum geli. "Kamu sudah menikah, Diana?" tanyanya ingin tahu.
"Saya Nyonya? Masih belum. Saya masih belum menemukan lelaki yang cocok dan mau sama saya," jawab Diana malu-malu.
"Ah, berarti kamu yang harusnya dampingi Pak Sam," celetuk Ratu. "Buat apa kalian susah-susah comblang i Pak Sam, kalau sebenarnya ada yang jomblo di sini?"
Diana mendadak kelu. Sebenarnya ia sudah lama menyukai Sam, hanya saja ia tidak begitu percaya diri dan berani menunjukkan perasaannya pada asisten Ethan yang masih berusia 29 tahun itu.
"Kalau aku lihat, kalian ini cocok, Pak Sam yang tampan dan dewasa banget dengan kamu yang juga cantik."
"Jangan buat saya jadi malu, Nyonya. Mana ada yang mau sama saya? Pak Sam saja nggak pernah bicara lama sama saya selama ini, padahal sudah bekerja bareng selama lima tahun."
Ratu tertawa. "Masih belum kali ya, coba aja maju duluan, pancing Pak Sam, siapa tahu nanti gayung bersambut."
"Sakit, Nyonya, kalau gayungnya dipukulkan ke kepala saya buat ingatkan saya biar buka mata, lihat kenyataan," sahut Diana sambil mengusap kasar wajahnya. Tawa Ratu makin kencang. Baru kali ini ia bisa bicara santai bersama orang lain, biasanya ia selalu takut dikejar fans, dan sepertinya Diana tidak mengenalinya. Kalau toh tahu jika ia adalah seorang artis, Ethan ataupun Sam pasti sudah memperingatkannya supaya tetap diam dan jaga rahasia.
***
"Kita jalan-jalan, yuk, sambil menunggu matahari tenggelam," ajak Ethan pada Ratu. "Kamu masih capek?"
Ratu menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, ayo aja kalau mau jalan-jalan. Kemana?"
"Ke pantai lagi, aku mau ambil foto kita berdua."
"Buat apa?" tanya Ratu.
"Buat ditunjukkan ke Kak Rama dan Kak Erika, yang pasti mereka saat ini sedang kepo, pengen tahu bagaimana honeymoon kita di sini."
"Ah, oke. Sekarang 'kah?"
"Ayo, jangan lupa bawa bekal minuman, aku sering haus kalau sedang di luar."
Ratu mengangguk dan tertawa geli. "Oke, aku bawa dua botol," jawabnya sembari mengambil dua botol air mineral dingin dari dalam kulkas. "Kenapa tidak beli saja? Di sana sepertinya banyak warung makanan."
"Aku tidak suka minum air di daerah pantai. Kadang rasanya hambar atau bau obat. Lebih enak air mineral," jawab Ethan memberitahu.
"Oh begitu, oke. Kita berangkat sekarang."
Keduanya lalu melangkah berdua meninggalkan cottage yang mereka sewa secara pribadi untuk berempat bersama Sam dan juga Diana.
"Sam!" teriak Ethan. Sam keluar dari dalam kamarnya dan berlari mendekati Ethan yang sudah berdiri di depan gerbang cottage.
"Ya, Tuan, ada apa?"
"Jangan urus pekerjaan terus! Sesekali ajak Diana jalan-jalan, soal pekerjaan biar nanti aku bantu," titah Ethan.
"Ta-tapi, Tuan, saya ...."
"Apa kau tidak bosan melihat laptop terus? Jalan-jalan sana! Nikmati waktu liburan kalian, percuma jauh-jauh ke sini kalau masih berkutat dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya itu."
Mau tidak mau Sam mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Tapi saya tidak ...."
"Tidak punya uang saku? Pakai ini, buat jajan, makan dan minum kalian berdua," potong Ethan sembari memberikan salah satu kartu debit miliknya pada Sam. "Kalau selesai kembalikan, jangan dibawa terus!" imbuhnya ketus, yang seketika membuat Ratu tertawa.
"Apa yang lucu, Sayang?"
"Gayamu bicara, kamu seolah ikhlas tetapi ujung-ujungnya melarang Sam bawa terus kartu itu," jawab Ratu.
"Sam sudah bawa dua kartuku yang lain, kalau tiga kebanyakan," sahut Ethan membela diri. "Nanti yang buatmu ada sendiri, sudah ku simpan di rumah."
Ratu mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih," ucapnya tulus, meskipun ia sebenarnya masih belum terlalu membutuhkan. Ia hanya ingin menghormati Ethan sebagai suaminya.
"Ayo, kita pergi dulu. Biarkan mereka nanti main sendiri berdua," ajak Ethan sembari menggenggam lembut tangan Ratu dan mengajaknya pergi.
Sam menatap mereka sambil tersenyum. "Semoga kali ini Anda serius menjalin hubungan dengan Nona Ratu, Tuan. Sudah terlalu lama Anda sendiri, sejak ditinggal pergi tanpa kabar oleh mantan istri Anda," gumamnya pelan.
"Ayo, Pak Sam. Kita kemana sekarang?" celetuk Diana yang tiba-tiba berdiri di samping Sam dengan pakaian dan riasan yang sangat mencolok. Sam terkejut melihatnya lalu membuang muka ke arah lain sembari menahan tawa.
"Kau mau kemana?" tanya Sam dengan suara bergetar.
"Jalan-jalan, seperti perintah Tuan Ethan," jawab Diana lugu. Ia lalu memperhatikan penampilannya sendiri dengan penuh tanya, karena melihat Sam yang sedang kesulitan menahan tawanya.
"Dengan penampilan seperti itu? Sebaiknya tetap tinggal di sini saja, daripada malu karena ditertawakan orang banyak di luar sana," ucap Sam yang membuat Diana tertegun.
"Ditertawakan karena apa?"
"Carilah cermin dan lihatlah penampilanmu di sana! Aku malu jalan sama kamu kalau penampilanmu norak begitu," ketus Sam yang lalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Diana yang bertanya-tanya.