Ratu cepat-cepat menjauh dari Ethan. Ia masih tidak sanggup berada di dekat pria yang sudah menjadi suaminya itu, yang ternyata adalah ayah Ansel.
"Bagaimana bisa aku terjebak hubungan dengan ayah dan anaknya sekaligus? Dan sepertinya sifat mereka jauh berbeda," benak Ratu berkecamuk.
"Jangan lupakan pakaian tradisi malam pertama," ucap Ethan, saat Ratu menyimpan travel bag di sudut kamar. Isinya hanya sedikit pakaian miliknya yang dibelikan oleh Ethan melalui Samdan Diana, wakil sekaligus sekretaris Ethan.
"Pakaian tradisi?"
"Iya, pakaian yang itu, tipis dan ...." Ethan hanya mengedipkan satu matanya, tanpa bermaksud menyelesaikan ucapannya. Ratu melengos.
"Dih, maunya! Kita 'kan cuma sementara saja nikahnya, status kita hanya pura-pura, meskipun pernikahan kita secara resmi," sahut Ratu jengah. "Lagipula aku nggak punya pakaian semacam itu."
"Tidak masalah, kita bisa melakukannya dengan pura-pura juga," jawab Ethan sembari menyeringai.
"Melakukan apa?"
"Masa kamu nggak tahu apa yang biasanya dilakukan oleh semua pasangan pengantin baru saat honeymoon?"
Ratu tertegun. Benarkah di sana nanti mereka akan melakukannya? Apakah harus? Ia tidak mungkin melakukannya bersama Ethan, di saat ia sedang mengandung benih dari Ansel, mantan kekasih, yang juga anak tirinya. Memikirkan hal itu wajah Ratu seketika merona. Semesta kalau bercanda tidak kira-kira, bagaimana bisa ia mendapatkan Ansel sekaligus ayahnya? Ratu mengusap kasar wajahnya.
"Kenapa diam? Membayangkan? Jangan dibayangkan, dilakukan saja nanti di sana, bersamaku," celetuk Ethan. Ratu mencebik.
"Jangan bercanda terus, apa Om sudah bersiap-siap untuk besok?" kilah Ratu.
"Tolong dong, kamu 'kan istriku, sudah kewajibanmu menyiapkan semua kebutuhan suami," jawab Ethan dengan santainya.
"Oke, hanya pakaian di dalam lemari itu saja, 'kan?"
"Iya, masih ada pakaian kotor di kamar mandi, tapi biar Sam saja nanti yang urus, sebelum berangkat besok pagi."
"Aku sudah tidak sabar lagi," celetuk Ratu sambil tersenyum membayangkan.
"Sabar, nanti juga kita akan sampai di sana dan langsung praktek ilmu membuat anak," jawab Ethan.
"Tidak ...!"
***
Keesokan harinya, seperti yang sudah Ethan janjikan dan persiapkan, ia dan Ratu berangkat ke Bali untuk honeymoon.
Ratu begitu antusias menyambut ide Ethan, seolah lupa jika ia sedang berlibur dengan orang asing, yang kini menjadi suaminya. Seseorang yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Sudah siap?" tanya Ethan.
"Sudah, tinggal bawa saja ke mobil," jawab Ratu.
"Jangan lupa penyamaranmu, aku tidak mau kita di sana dikerubungi para fans gila mu itu." Ethan memperingatkan.
"Fans saya tidak gila, Om, tolong dijaga ucapannya," protes Ratu.
"Maksudku para fans yang benar-benar mengidolakan dirimu, seperti orang gila," ralat Ethan.
"Sama saja, Om."
Ethan terkekeh pelan. "Jangan khawatir, aku temani memakai penyamaran," ucapnya.
"Harus ya?"
"Iya dong, fans ku tak kalah banyak denganmu, jangan salah."
"Om juga artis? Artis apa?" tanya Ratu penasaran. Jika diperhatikan secara seksama, pria paruh baya yang berusia 48 tahun itu masih cukup tampan dan gagah. Bisa dibilang awet muda. Ethan masih mempunyai daya tarik yang kuat, terlebih bentuk tubuhnya yang begitu tegap dan proporsional.
Sepertinya pria itu cukup memanjakan tubuhnya di tempat-tempat biasa para pria menjaga kesehatannya. Maklum saja, Ethan adalah pengusaha dengan nama besar yang cukup dikenal di kalangan para artis, karena kerap kali memberikan dukungan dengan berbagai macam produk hasil dari perusahaan miliknya.
"Hey! Malah melamun," tegur Ethan saat melihat kebekuan Ratu yang sedang menatapnya tanpa berkedip. "Aku memang tampan, simpan saja kekagumanmu itu buat nanti saat kita sudah sampai di Bali untuk bulan madu."
Ratu memutar bola matanya malas. Pria di hadapannya ini ternyata cukup narsis. Tetapi tidak salah, karena memang terlihat masih pantas dan cukup menarik di depan para wanita.
"Sam, kamu yang bawa mobilnya," titah Ethan sembari melempar kunci mobil pada Sam yang sudah berdiri menunggu di samping mobil Ethan.
"Siap!" sahut Sam cepat. "Kita cuma bertiga, Tuan?"
"Tentu saja," jawab Ethan. "Kenapa memangnya?"
"Saya anyep dong, Tuan. Anda berdua berbulan madu, lalu saya sama siapa?" tanya Sam bermaksud bercanda.
"Oh, maaf, aku lupa!" pekik Ethan sedikit panik. "Cepat hubungi Diana, aku sudah memintanya untuk bersiap ikut kita ke Bali."
"Diana?" tanya Sam tak mengerti.
"Iya, wakil mu itu, masa kau lupa?"
"Buat apa ajak dia, Tuan?"
"Biar kau tidak gigit jari selama di sana," jawab Ethan yang lalu membukakan pintu untuk Ratu, setelahnya ia lalu masuk ke sisi yang lain. "Cepat, Sam. Panggil dia. Suruh orang-orang mu buat jemput di apartemennya!"
"B-baik, Tuan."
Sam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Meskipun bingung, ia akhirnya menghubungi Diana, wakilnya, sembari memberi perintah pada salah satu anak buahnya untuk menjemput wanita itu.
"Ya, Pak Sam."
"Bersiaplah, orangku sudah berangkat menjemputmu," jawab Sam kaku.
"Jemput? Mau kemana?"
Sam tertegun mendengar jawaban Diana. "Bukannya Tuan Ethan memintamu untuk ikut kami ke Bali?" tanyanya, memastikan.
"Tuan Ethan? Benarkah? Ah, tunggu sebentar, aku bersiap dan berkemas dulu!" pekik Diana yang membuat Sam seketika menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Tunggu, jangan ditutup dulu!"
"Ada apa lagi, Pak Sam?"
"Kau yakin tidak diberitahu Tuan Ethan?"
"Soal ke Bali? Nggak tuh, Pak."
Sam seketika menggeram pelan. Sepertinya atasannya itu sudah mengerjainya. Dan akhirnya ia pun menutup panggilan secara sepihak, lalu segera masuk ke dalam mobil dan melirik Ethan yang duduk di belakang bersama Ratu, dari kaca spion.
"Bagaimana, Diana sudah siap?" tanya Ethan sembari menahan senyum jahilnya. Sementara Ratu lebih memilih untuk menunduk dan memainkan ponselnya. Ia sudah mengetahui keisengan Ethan setelah suaminya itu memberitahunya.
"Diana tidak ikut, Tuan," dusta Sam. Ia melirik Ethan sekilas lalu tertawa dalam hati saat melihat perubahan raut wajah pria itu.
"Kenapa tidak ikut? Apa kau tidak bilang kalau aku yang memintanya?" protes Ethan geram.
"Diana tidak tahu apa-apa, Tuan."
"Bodoh! Biar aku saja yang menghubunginya!" Ethan mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Diana.
"Yes, Tuan Ethan?"
"Apa kau masih belum siap-siap juga sampai sekarang? Kami mengajakmu ke Bali!" tegur Ethan tanpa basa basi.
"Oh, berarti yang dikatakan Pak Sam itu sungguhan?"
"Tentu saja. Cepatlah, ada yang sudah berangkat menjemputmu. Kami tunggu!" perintah Ethan yang lalu memutus panggilan itu. Ia yakin kini Diana pasti sedang panik mempersiapkan semuanya secara mendadak. Dalam hatinya tertawa geli.
"Kita berangkat sekarang, Tuan?" tanya Sam lugu.
"Berangkat kemana? Kita tunggu Diana dulu!"
"Oh, baik. Maaf, saya lupa."
Ethan mendengus pelan. Ia lalu menyandarkan tubuhnya dengan nyaman dan memejamkan mata, berusaha untuk tidur. Ia harus banyak mengisi tenaga, sebelum perjalanan panjang mereka di Bali nantinya.
Hampir satu jam dan kini datanglah wanita yang sudah mereka tunggu. Ratu menepuk pelan bahu Ethan, berusaha untuk membangunkannya, saat melihat Diana kebingungan naik mobil yang mana, karena mobil yang satunya telah penuh dengan para bodyguard Ethan.
"Ada apa?" tanya Ethan sembari mengusap kasar wajahnya. Ia terlihat masih mengantuk.
"Diana sudah datang," jawab Ratu.
"Oh ya sudah, Sam, kita berangkat sekarang!"
"Baik, Tuan!" jawab Sam bersemangat. Ia sudah jenuh menunggu lama seorang Diana, di dalam mobil bersama Ratu dan Ethan.
"Eh, tunggu dulu! Diana bagaimana? Sayang, kamu memintanya ikut cuma sampai di sini saja?" tegur Ratu sembari menepuk punggung tangan Ethan yang kini tertegun, ia lupa jika Diana belum masuk je dalam mobil.
"Sam, biarkan dia duduk di sebelahmu!" titah Ethan.
"Tapi, Tuan ...."
"Diana! Masuk, duduklah bersama Sam!" teriak Ethan yang keluar dari mobil sesaat, tanpa mempedulikan Sam.
Dengan perasaan jengah, Diana masuk dan duduk di samping Sam sembari tersenyum lebar pada pria itu.
"Kita berangkat, Sam!" perintah Ethan.
"Baik, Tuan," jawab Sam lemas.