"Sayang, kamu mengusirku?"
Ratu tertawa sinis. "Kamu maunya begitu 'kan? Maka pergilah. Jangan pikirkan lagi tentangku."
"Tidak bisa begitu, Sayang. Aku mencintaimu."
"Secinta itu sampai kau memintaku untuk menggugurkan janin ini dan tidak mau bertanggung jawab?" balas Ratu kesal.
"Bukan begitu, aku hanya tidak siap, aku ...."
"Tidak bisakah kamu jujur padaku, Ansel? Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Tapi kenapa kamu malah memutuskan hubungan kita? Bicara pun kau terlihat enggan dan tidak mau menatapku!" potong Ratu. "Dan semudah itu kau bicara putus!" imbuhnya penuh penekanan.
Hening sesaat di ujung panggilan. Sepertinya Ansel benar-benar tersudut kali ini. "Kamu tahu aku punya alasan," jawabnya dengan suara tercekat.
"Sudah cukup, Ansel. Aku sekarang istri dari ayahmu. Status hubungan kita pun otomatis sudah berubah. Sadarlah, diantara kita sudah tidak ada hubungan lagi."
"Papa bilang semua hanya sementara. Kita bisa lanjutkan untuk mewujudkan semua mimpi kita saat pernikahan kalian usai."
Ratu tertawa sumbang. "Sudahlah, jangan terlalu banyak bermimpi. Aku sudah tidak memikirkannya lagi."
"Tapi, Ratu ...."
"Mama," potong Ratu. "Ingat, aku sekarang adalah mama kamu. Jangan sampai salah, karena aku tidak mau suamiku kecewa karenanya," tegasnya yang seketika membuat Ansel bungkam.
Untuk beberapa saat hanya kesunyian yang mengisi ruang hampa di hati Ratu. Tidak ada lagi suara dari mulut Ansel, hanya helaan napas berat yang sudah berkali-kali Ratu dengar dari ujung panggilan.
Hingga akhirnya Ratu tidak tahan lagi. Ia lalu berdehem pelan. "Sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku tutup sekarang," ucapnya kemudian, yang lalu benar-benar menutup panggilan itu dan melempar ponselnya begitu saja.
"Aku sudah lelah," desis Ratu. "Pergilah Ansel, tidak ada lagi hal istimewa di antara kita. Aku telah salah mencintai seseorang. Dan itu kamu." Setelah mengatakan hal itu, Ratu memejamkan matanya, melupakan semua yang pernah terjadi di antara mereka.
***
Ansel melangkah pergi dari lobi hotel dengan gontai. Ia kini menyesali apa yang telah ia putuskan saat itu. Bagaimanapun juga, tidak seharusnya ia menyakiti hati Ratu dengan memutuskannya secara sepihak, tanpa mau mendengar curahan hati Ratu.
Dan ia begitu menyesal karena tidak mampu melakukan apapun untuk menahan kepergian Ratu saat itu, saat dimana ia sudah memutuskan Ratu dan menyadari kebodohannya.
Ya, setelah kepergian Ratu saat itu, Ansel segera mengejarnya, tetapi terlambat, saat ia sudah sampai di luar, mobil yang dikendarai Ratu sudah melaju kencang. Tinggallah ia sendiri, menyesali semua yang telah terjadi.
Dan sejak saat itu, ia terus bekerja keras, untuk melupakan kesesakan hatinya yang merasa bersalah pada Ratu. Rasa bersalahnya semakin dalam ketika mendengar kabar jika Ratu telah keluar dari agensinya.
"Bodoh!" sungut Ansel pada dirinya sendiri. Ia melangkah sambil menendang keras beberapa batu yang ia temui di jalan, tanpa mrmpedulikan tatapan tajam seseorang yang terkena batu.
"Kau begitu bodoh melepas seseorang yang begitu berarti buatmu, Ansel!" geramnya kesal. "Sekarang kamu puas? Ratu sudah tidak menginginkanmu lagi!"
Saat masuk ke dalam mobilnya, Ansel berteriak kencang, melepas semua kekesalan dalam hatinya. Ia lalu menyandarkan kepala dan menyugar surai panjang, yang tidak disukai oleh Ratu. Kini ia justru berjanji akan memotong rambut sesuai keinginan mantan kekasihnya itu.
"Aku tetap pada janjiku, Ratu. Suaru hari nanti aku akan kembali padamu. Kita akan menikah dan membesarkan anak kita bersama. Camkan itu!" desisnya.
Sam yang berdiri tidak jauh dari tempat Andel berada, hanya diam dan terus mengawasinya, sesuai perintah Ethan. Orang kepercayaan Ethan itu kini terlihat cemas, saat mengetahui Ansel terlihat begitu kacau di dalam mobilnya.
"Apa yang terjadi? Apa dia tidak setuju dengan pernikahan ayahnya? Apa karena usia ibu tirinya hampir sama dengannya?" gumam Sam, menduga-duga.
Tidak sabar karena penasaran, Sam segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Ethan untuk bertanya dan memastikan dugaannya.
"Dia mantan kekasih Ratu." jawab Ethan.
"Jadi ...?"
"Ya, dia ayah biologis dari janin dalam kandungan Ratu."
Sam mengusap kasar wajahnya. Pantas saja Ansel terlihat begitu gusar dan putus asa. Ternyata karena Ratu adalah mantan kekasihnya, sebelum menikah dengan Ethan. Tunggu dulu, mantan? Sam segera membalas pesan Ethan.
"Mantan kekasih, Tuan?"
"Ya, mereka putus sebelum kita menculik Ratu."
"Lalu bagaimana tadi? Jantung aman?" tanya Sam khawatir. Ia yakin ketiganya pasti tidak menyangka akan bertemu Ansel di saat yang tidak disangka.
"Tidak aman! Jantung kami bertiga seolah hampir terlepas dari tempatnya."
Sam menghela napas panjang. "Sebaiknya Anda berdua istirahat, untuk menenangkan diri."
"Masih belum bisa, ada beberapa klien yang datang, aku menemani Kak Rama. Setelah Ansel pergi, kau cepatlah kembali ke ballroom."
"Siap!"
Sam kembali menyimpan ponselnya saat Ethan sudah menutup panggilan. Ia lalu kembali memperhatikan Ansel, yang kini mulai melajukan mobilnya, keluar dari basement.
"Jaga diri baik-baik, Tuan Ansel. Semoga Anda tetap kuat menghadapi kenyataan," gumam Sam, melepas kepergian Ansel. Ia lalu melangkah kembali, menuju ke ballroom hotel, untuk menemani Rama, menggantikan Ethan, yang sudah seharusnya beristirahat.
***
"Bagaimana, dia sudah pergi?" tanya Ethan, setelah melihat Sam sudah berada di sampingnya.
"Sudah, Tuan."
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ethan khawatir.
"Tuan Ansel terlihat kacau, tapi saya yakin beliau pasti mampu mengatasinya."
"Hm semoga saja begitu."
"Ayolah, Tuan, jangan terlalu dipikirkan, Anda harus kembali fokus pada tujuan awal. Saya sudah meminta anak buah saya untuk mengawal dan menjaga Ansel, kembali ke kota Bandung," ucap Sam.
"Benarkah? Terima kasih kau sudah melakukannya untukku."
"Sudah menjadi tugas saya, Tuan."
"Aku kembali dulu menemani Anjani, kau tetaplah di sini, bantu Kak Rama," pamit Ethan.
"Baik, Tuan."
Ethan melangkah pergi dengan perasaan khawatir. Ia begitu mencemaskan Ansel, setelah mengetahui ia menikahi kekasihnya.
"Semoga kau kuat, anakku. Maafkan papa yang terpaksa melakukannya demi menyelamatkan papa sendiri," gumamnya.
Ethan mengetuk pintu saat sudah sampai di depan kamarnya bersama Ratu. Tak lama pintu pun terbuka, menampakkan wajah Ratu yang penuh tanya.
"Bagaimana, sudah selesai acara kita?" tanya Ratu, menyambut kedatangan Ethan.
"Sebentar lagi. Masih ada rekan bisnis Kak Rama," jawab Ethan lesu. Ia lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Mau kopi?" tanya Ratu menawarkan. Ethan menggelengkan kepalanya, menolak tawaran dari Ratu.
"Aku baru minum di ballroom tadi."
"Oke."
"Kamu serius mau jalan-jalan?" tanya Ethan m, saat Ratu baru saja duduk di tepian tempat tidur.
"Kalau boleh, sih. Aku jenuh dan ingin membuang segala beban masalahku, akhir-akhir ini."
"Boleh saja, aku juga pengen refreshing."
"Kapan dong kalau gitu?"
"Besok pagi kita berangkat honeymoon ke Bali," jawab Ethan. "Apa kau ada lokasi lain yang ingin kau datangi?"
Ratu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya pandangan lain," jawabnya.
"Ya sudah, kita ke Bali saja kalau begitu," putus Ethan.
"Oke, deal!"
Ethan tertawa melihat tingkah Ratu yang cukup menggelikan baginya.
"Kalau begitu aku mau bersiap dulu," pamit Ratu.
"Kamu tidak mengajakku?" celetuk Ethan.
"Kemana?"
"Tidur bersama, kita 'kan pengatin batu."
"Tidak ...!" pekik Ratu.