"Baik," jawab Ratu yang lalu melangkah ke kamar mandi sembari menyambar ponselnya. Ia sedikit lega karena tidak di interogasi di depan Ansel, meskipun sebenarnya ia begitu penasaran dengan jawaban Ansel pada Ethan, yang saat ini adalah suaminya. Sungguh miris, ia mengandung benih dari Ansel, tetapi yang menikahinya justru pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya itu.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian!" desak Ethan dengan suara penuh penekanan. Ansel tertunduk kelu. Mana mungkin ia mengaku semuanya di hadapan Ethan yang kini telah menikahi kekasihnya itu?
"Ansel!" bentak Ethan. "Papa bertanya padamu. Apa hubunganmu dengan Ratu, apa kalian selama ini berpacaran?"
Ansel mengangkat wajahnya dan menatap Ethan ragu. "Kalau Ansel jujur, apa Papa tidak marah?"
Ethan terdiam sesaat lalu menggelengkan kepalanya. "Aku usahakan untuk tidak marah, asal kamu benar-benar jujur!"
Ansel mencari kesungguhan di mata ayahnya. Ia lalu menelan saliva dengan susah payah dan mulai memberanikan diri untuk bicara.
"Dia memang kekasihku, Pa," jawabnya berterus terang. "Dan kami selama ini ...."
"Sudah terlalu jauh berhubungan? Apakah itu yang ingin kau katakan padaku?"
"Tunggu sebentar, Pa. Biar Ansel selesaikan dulu. Katanya Papa ingin Ansel bicara?"
Ethan menghela napas panjang. "Baiklah, lanjutkan!"
Ansel menarik napas panjang lalu menghembuskan dengan berat. "Sekitar dua bulan yang lalu kami dijebak oleh seseorang, dia memasukkan sesuatu ke dalam minuman kami, yang membuat kami akhirnya melakukan hubungan terlarang," jelasnya.
Ethan memejamkan kedua matanya erat. Ia lalu mengusap kasar wajahnya dengan gusar. "Kenapa bisa sampai begitu?"
"Kami juga tidak tahu, Pa. Tiba-tiba saja kami ada dalam satu ruangan yang terkunci dari luar, di saat kami sudah sama-sama terpengaruh sesuatu itu, dan terjadilah hal yang tidak sepantasnya kami lakukan," jelas Ansel. "Maafkan Ansel, Pa."
Ethan termenung. Entah bagaimana kini kondisi hatinya setelah mendengar jika ternyata ayah dari janin yang dikandung oleh Ratu adalah Ansel. Miris, ia yang seharusnya menjadi kakek dari calon bayi itu, kini ternyata telah menjadi ayahnya. Ethan menghela napas berat.
"Apa dia sebenarnya teman wanitamu yang sempat kau ceritakan itu sama papa?"
Ansel menganggukkan kepalanya, membenarkan. "Iya, Pa. Dan waktu itu Papa melarang kami untuk berpacaran, karena Ansel masih belum punya pekerjaan."
"Tapi kalian tetap berhubungan?"
Ansel mengangguk pelan. "Begitulah, Pa."
"Lalu kenapa kamu tidak menikahinya?"
Ansel tercekat, ia bingung harus menjawab bagaimana, karena sebenarnya ia masih belum siap untuk menjadi seorang ayah. Ia masih ingin bersenang-senang dan juga bekerja keras, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu mandiri. Seperti tantangan dari Ethan sebelum ia bekerja dulu.
"Kenapa diam?" tegur Ethan. Pria berusia 48 tahun itu tertawa sinis. "Papa berani bertaruh kalau sebenarnya kamu masih belum siap berumah tangga," tebaknya. Ansel tertunduk diam. Dugaan ayahnya itu sepenuhnya benar.
Ethan menghela napas panjang. "Lalu bagaimana perasaanmu saat melihat Ratu sekarang adalah ibu tirimu?"
Sudut bibir Ansel terangkat sinis. Ia lalu mengedikkan bahunya. "Mau bagaimana lagi? Pergerakan Papa jauh lebih cepat dari Ansel," jawabnya pasrah.
"Kamu tidak cemburu?"
Ansel menatap nanar wajah tenang sang ayah. "Haruskah Ansel menjawabnya? Siapa yang tidak cemburu saat tahu kekasihnya menikah dengan orang lain, terlebih dengan ayahnya sendiri?"
Kini Ethan yang tertunduk. Satu kakinya bergerak menendang kecil di atas lantai, sementara kedua tangannya berada di kedua saku celana. Pria paruh baya itu terlihat berpikir keras.
"Aku akan mencoba ikhlas, memberikan Ratu untuk Papa. Dan sepertinya Ratu pun menginginkan Papa, maka dari itu ia menerima lamaran Papa," ucap Ansel dengan suara berat. Terlihat jelas jika ia memaksakan diri untuk mengucapkannya.
"Pernikahan kami hanya sementara," celetuk Ethan. "Jadi, kamu bisa menunggu setidaknya sampai anak kita lahir ke dunia ini."
"Anak kita?"
"Lalu, bagaimana aku harus menyebutnya? Aku suami Ratu dan kau ayah biologis dari anak itu," sahut Ethan bingung. "Bisakah kamu menjawab ku? Aku ini ayah atau kakek, sebenarnya?"
Ansel menggelengkan kepalanya jengah. "Aku sudah terlalu lelah untuk memikirkan tentang calon bayiku ini," keluhnya. "Bisakah aku menitipkannya dulu padamu, Pa?"
"Bocah kurang ajar! Bisa-bisanya kamu malah menitip?!" gusar Ethan. "Enak sekali, bisa lepas tanggung jawab."
"Mau bagaimana lagi, sekarang Papa yang jadi suaminya. Urusin dong."
"Dasar bocah!" geram Ethan sambil melempar bantal ke wajah putra tunggalnya itu. Ansel tak mau kalah. Ia menyambar bantal sofa lalu membalas lemparan Ethan dengan keras. Untuk sesaat keduanya terlihat seperti anak kecil, hingga akhirnya terhenti saat melihat Ratu keluar dari kamar mandi.
"Aku bosan di dalam sana, apakah kalian sudah selesai?" tanya Ratu acuh tak acuh. Sebenarnya dari tadi ia sudah ikut mendengar jawaban Ansel, dan kini ia lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu, walaupun ia sangat kecewa dengan jawaban Ansel pada Ethan, karena ternyata Ansel hanya ingin bersenang-senang dengannya.
"Sudah," jawab Ethan. Ansel seketika beranjak dari duduknya lalu menatap Ratu dengan berbagai macam perasaan yang berkecamuk dalam hatinya.
"Sayang, apakah kita masih lama di hotel ini?" tanya Ratu pada Ethan, tanpa mempedulikan tatapan aneh dari Ansel.
"Masih sampai sekitar satu minggu," jawab Ethan. "Setelah itu kita pulang ke kediaman keluarga Parvez."
"Ah, begitu."
"Kenapa, Sayang?" tanya Ethan heran.
"Aku pengen jalan-jalan dulu, menikmati waktu, sebelum pulang ke sana," jawab Ratu, yang lalu menggelayut manja pada lengan Ethan. Kedekatan itu sontak membuat Ansel mencebik. Diam-diam ia pun pergi dengan hati yang hancur.
"Baiklah, besok kita honeymoon ke suatu tempat," jawab Ethan sembari melirik sekilas punggung tegap Ansel yang menghilang di balik pintu.
"Oke, Sayang."
"Kamu istirahatlah, aku akan menemui Kak Rama. Mungkin pestanya sudah berakhir."
"Baik, Om," jawab Ratu, kembali ke mode semula, karena ia sudah tidak melihat keberadaan Ansel di sana.
"Kok, Om? Bukankah aku ini suami kamu?" protes Ethan.
"Hanya sementara saja, bukan?"
"Ck! Terserah. Yang penting kalau di depan orang lain jangan lupa bersikap mesra padaku."
"Oke, Om."
Ethan melangkah ke pintu tetapi ia lalu berbalik menatap Ratu. "Aku sudah tahu siapa yang sudah menanam benih dalam rahimmu," ucapnya pelan.
"Lalu, Om masih tetap bertahan dalam pernikahan ini?" tanya Ratu.
Ethan terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya. "Aku tetap pada pendirianku."
"Sampai aku melahirkan anak ini, bukan?" tanya Ratu memastikan. Ia sudah tidak bersikap formal lagi pada Ethan, demi lancarnya sandiwara mereka.
Ethan mengangguk tegas. "Dan selama itu kamu tidak boleh bergaul dengan lelaki lain, terlebih Ansel!"
Ratu mengangguk setuju. Bukan hal yang sulit baginya jika hanya itu persyaratan yang diberikan oleh Ethan. Dan tentang Ansel, dia sudah tidak peduli lagi padanya, semenjak kekasihnya itu menolak untuk bertanggung jawab, serta saat ia mendengar jawaban Ansel pada Ethan. Baginya semua sudah cukup jelas. Ia tidak akan lagi mengharapkan Ansel. Dan jika suatu saat nanti ia telah bercerai dengan Ethan, ia akan memikirkan rencana selanjutnya untuk mempertahankan hidup bersama anaknya kelak.
Ratu membuka aplikasi mobile banking dan tersenyum saat melihat saldo tabungannya di sana. "Setidaknya ini masih cukup untuk bertahan hidup selama sekitar lima tahun ke depan," gumamnya. "Sebagian akan tetap ku tabung untuk masa depan anakku."
Ketika ia mulai merebahkan diri, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Ansel tertera di sana. Ratu tertegun dan akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu setelah cukup lama berpikir.
"Kamu masih sedang bermesraan dengan papaku?" tanya Ansel curiga.
"Yang sopan kalau bicara dengan ibumu, Ansel," jawab Ratu dingin.
Terdengar helaan napas berat di ujung panggilan. "Aku tahu aku salah. Maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan. "Nikmatilah hidupmu bersama papa, berbahagialah. Aku akan pergi dan suatu saat nanti pasti akan kembali untuk menjemput dan menikahi kamu."
Ratu terdiam. Entah ia bisa percaya atau tidak dengan ucapan Ansel itu, yang jelas kini hanya terasa hambar di dalam hatinya. Ia masih tidak terima dengan cara Ansel memutuskan hubungan dengannya.
"Aku titip dulu calon anak kita. Jaga dia baik-baik. Suatu saat nanti kita pasti akan bahagia bersama."
Ratu masih tetap bungkam dan sepertinya membuat Ansel menjadi heran.
"Sayang, kenapa kamu diam?"
"Bukankah kita sudah putus? Dan tentang anak ini, kau sudah menolaknya, Ansel. Apa kau lupa?"
"Maaf, waktu itu aku sedang kalut dan khilaf. Aku tidak menyangka jika akhirnya kamu hamil."
Ratu terdiam kelu. Apapun jawaban Ansel saat ini, sudah tidak mampu lagi mempengaruhi hati dan keputusannya.
"Sayang, kenapa kamu diam lagi?"
"Pergilah ...."