"Iya, aku menyukaimu, karena kamu bisa diajak kerja sama" jawab Ethan tenang.
"Saya bisa, karena saya terpaksa, Om," jawab Ratu.
Ethan tertawa. "Sama saja bagiku. Dan sebagai ucapan terima kasih, Sam akan segera mentransfer upahmu."
Ratu terdiam berpikir. "Tetapi, pekerjaan saya jadi lebih banyak, karena masih harus berpura-pura menjadi istri Om."
"Tenanglah, nanti aku transfer lagi sejumlah uang, khusus untuk status pura-pura itu."
Ratu menghela napas berat. Apakah ia bahagia mendengarnya? Tentu saja tidak, karena ia masih belum terbebas dari Ethan dan tuntutan pekerjaan barunya saat ini.
***
Dalam waktu satu minggu ini Sam disibukkan dengan persiapan pernikahan Ratu dan Ethan. Hanya ratusan undangan yang dibuat oleh Ethan, selebihnya Rama juga ikut menambahkan, karena banyak klien bisnisnya yang bekerja sama dan memiliki saham pada perusahaan milik Ethan.
"Bagaimana Sam, sudah beres semua?" tanya Ethan.
Sam, asisten sekaligus orang kepercayaan Ethan itu mengangguk yakin. "Sudah, Tuan. Tinggal memastikan soal catering dan dekorasi saja," jawabnya dengan wajah yang bermandi peluh.
"Oke, kau istirahat dulu, jangan pingsan, aku masih sangat membutuhkan tenagamu," titah Ethan. "Biar aku dan Anjani yang urus sisanya, kau cukup awasi yang di ballroom hotel, sambil istirahat."
"Baik, Tuan, terima kasih," ucap Sam lega. Sudah sejak pagi ia berkutat dengan persiapan dadakan itu, membuatnya lupa makan siang dan juga sekedar duduk, minum kopi untuk melepas lelah. Dan ternyata Ethan cukup peka dengan kondisinya. Ia benar-benar bersyukur mempunyai atasan seperti Ethan.
Ethan segera menjemput Ratu di hotel dan mengajaknya mengurus semua hal yang masih tersisa.
*
Dan inilah yang terjadi, Ratu kini bersanding dengan Ethan di atas pelaminan. Pernikahan yang digelar dalam ballroom hotel mewah milik Ethan terlihat begitu mewah dan elegan.
"Mulai saat ini kau harus menjaga sikap dan tutur katamu di depan semua klien bisnisku," desis Ethan sembari pura-pura mengusap keringat Ratu di dahinya.
"Tapi, Om ...."
"Aku bukan kerabatmu, aku sekarang suami kamu, ingat itu! Panggil aku dengan nama atau sebutan mesra lainnya, agar semua orang percaya jika kita saling mencintai." Ethan menatap tajam pada Ratu namun sedetik kemudian ia tersenyum lebar ketika ada tamu yang datang mengucapkan selamat pada mereka berdua.
Setengah jam sebelum acara usai, Ethan buru-buru menarik tangan Ratu dan membawanya pergi meninggalkan pelaminan, di iringi tatapan sinis kakak Ethan yang saat itu mendampingi mereka, menggantikan posisi orang tua mereka yang sudah meninggal.
"Jangan harap pernikahan kalian akan langgeng, selama ada aku," desis Rama, kakak kandung Ethan.
"Serahkan semua padaku," sahut Erika. Ia yang paling vocal menentang pernikahan Ethan dengan Ratu, karena mengira Ratu dari kalangan biasa.
"Lakukan dengan baik, jangan sampai Ethan curiga."
"Sudah pasti akan seperti itu, Sayangku."
Keduanya seketika terdiam saat melihat kedatangan seseorang yang kini menghampiri mereka tanpa senyuman.
"Ansel? Kapan datang?" tanya Rama basa basi.
"Dimana Papa dan Ibu tiriku?"
Rama dan Erika saling berpandangan lalu menunjuk keluar. "Mereka sudah meninggalkan tempat, mungkin ke kamar, sepertinya Papamu tidak sabar menikmati malam pertama, eh ..., entah malam ke berapa bersama ibu tirimu itu," jawabnya sembari menyeringai.
Tanpa banyak bicara, Ansel yang memang tidak menyukai paman dan bibinya itu pun pergi keluar, menyusul Ethan dan Ratu. Ia ingin bertemu sekaligus menyambut ibu tirinya. Dua hari yang lalu Ethan secara pribadi meminta ijin padanya untuk menikah lagi, dan ia menyetujui.
"Mulai nanti malam kita tinggal di rumah utama keluarga Parvez," ucap Ethan sembari melepas jasnya.
"Baik, Om. Hanya untuk sementara, bukan?" tanya Ratu was-was. Pasalnya ia sedari tadi bisa menangkap tatapan sinis kedua kakak Ethan padanya.
"Selama kau masih jadi istriku," jawab Ethan.
"Sampai kapan?"
"Sampai semua aset milikku mereka kembalikan dan anakmu sudah sudah lahir," tegas Ethan.
Ratu menghitung jangka waktunya untuk tinggal di sana. Dan ia sedikit cemberut karena masih ada sisa waktu 8 bulan lagi yang harus ia jalani, karena saat ini kandungannya masih berusia 4 minggu.
"Lama sekali," gumamnya sebal.
"Jalani saja, daripada nama mu tercemar."
Ratu menatap tajam Ethan. "Itu tidak akan terjadi kalau Om tidak melakukan semua ini padaku!" protesnya. Ethan hanya mencebikkan bibirnya seraya menyibukkan diri dengan ponselnya.
Suara ketukan pintu mengisi keheningan yang sempat tercipta diantara keduanya. Ethan mendecak kesal lalu menatap Ratu. "Buka pintunya, kalau ada yang cari aku, bilang aku sedang tidur!"
Ratu terkikik geli. "Mana bisa? Orang Om duduknya tepat di depan pintu," ucapnya. Ethan hanya terkekeh pelan.
Ratu memegang handle pintu dengan hati berdebar. Entah kenapa saat ini hatinya tiba-tiba terasa kacau. Bayangan masa lalu saat bersama kekasihnya, melintas begitu saja dalam benaknya.
"Buka pintunya! Kenapa malah melamun di sana?" tegur Ethan. Ia lalu beranjak dari duduknya lalu menghampiri Ratu dengan bersungut-sungut. "Apa kau terlalu udik? Sampai tidak bisa membuka pintu kamar hotel ini?" gerutunya.
"Aku ...."
"Papa, congratulations," ucap seseorang dengan suara bariton yang khas. Ratu seketika terperanjat dan berdiam kelu di belakang tubuh Ethan.
"Suara itu ...," desis Ratu. Degup jantungnya terasa semakin kencang.
"Halo, Boy! Kapan kau datang? Kami sudah menunggumu," sambut Ethan yang lantas memeluk tubuh sosok yang baru datang itu.
Kedua mata Ratu terbelalak lebar saat menatap wajah yang kini bersandar di pundak Ethan. Wajah yang selama ini selalu melekat dalam hatinya, dan juga pernah ia hujani ciuman dengan penuh cinta.
"A-Ansel?" desis Ratu tanpa sadar, memancing atensi dari kedua pria berbeda usia itu yang kini mengurai pelukan mereka.
"Kamu?" Ansel menatap Ratu tak percaya. Sementara Ethan mengernyitkan dahinya, menatap keduanya dengan penuh tanya.
"Kalian saling kenal?" tanya Ethan.
"D-dia kekas_"
"Tidak, Pa. Ansel cuma heran dan takjub karena ternyata Papa menikah dengan seorang model sekaligus artis yang cukup ternama," potong Ansel cepat, sembari menatap dingin pada Ratu.
"Kamu, kenapa ...."
"Kami tidak saling kenal, tapi Ansel cukup tahu tentangnya," lanjut Ansel yang lalu membuang wajahnya ke arah luar. Ada perih yang menggores hatinya saat itu. Sementara Ratu menatapnya tak percaya.
"Sepertinya ada sesuatu diantara kalian berdua, apa benar dugaanku?" selidik Ethan.
Ratu tertunduk kelu, ia tidak mampu menjawab karena mendapat tatapan tajam penuh ancaman dari Ansel.
Melihat situasi yang sepertinya tidak baik-baik saja, Ethan segera menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia lalu meminta Ansel dan Ratu duduk berdampingan di sofa, sementara ia duduk di pinggiran ranjang sembari menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, bersidekap. Ia menatap keduanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Apa tidak ada diantara kalian yang mau menjawab ku? Atau aku minta Sam saja yang mencari tahu tentang kalian?" tegur Ethan jengkel.
Ansel menghela napas berat lalu mengusap kasar wajahnya. Ia sempat melirik Ratu sekilas, lalu kembali menatap Ethan, ayah kandungnya itu.
"Sebenarnya, kami adalah rekan kerja di Bintang Langit Agency," jawab Ansel. "Dia seorang model," imbuhnya.
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Ethan sembari menyipitkan mata menatap Ansel, putranya, karena ia sudah tahu tentang Ratu.
"Aku di bagian kreatif dan fotografer, Ayah. Aku mengenalnya karena sering bertemu saat pengambilan gambar outdoor, di beberapa lokasi."
Ethan menelisik kejujuran di kedua mata putranya. Ia lalu beralih menatap Ratu yang masih tetap menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ethan, yang selalu bersandiwara jika ada orang lain selain ia dan Ratu.
Ratu tergagap lalu menatap Ethan ragu. "Aku baik-baik saja," jawabnya. Ethan mengernyitkan dahinya, bingung dengan kegelisahan Ratu.
"Apa kalian ini sebenarnya pasangan kekasih?" todong Ethan yang seketika membuat keduanya terhenyak, tidak menyangka jika pria itu bisa menebak.
"Bukan, Pa."
"I-iya."
Ethan semakin tidak mengerti saat mendengar dua jawaban kompak yang berbeda itu.
"Sepertinya aku harus menyiapkan mesin tes kejujuran," gumam Ethan yang lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi Sam.
"Kemarilah cepat sambil membawa alat yang ku minta dalam pesan!" titah Ethan. Ia lalu kembali menyimpan ponselnya setelah menjawab jawaban dari Sam.
Sementara itu Ansel terlihat gelisah. Jauh berbeda dengan Ratu yang justru terlihat tenang. Hal itu tidak luput dari pandangan mata Ethan.
"Sayang," panggil Ethan pada Ratu. "Kamu menjauh lah dulu, aku bicara sama Ansel," titahnya.