POV Shazia Mahira
Aku memaksa mataku untuk terbuka. Dan aku langsung mendapatkan diriku ada di kamar rumah sakit.
“Rambutku,” gumamku. Segera memeriksa diriku, ternyata hanya celana panjangku yang berlumpur. Pakaianku sama sekali tidak bernoda. Pergelangan kaki kiriku sudah diperban dengan celana yang terpotong. Ketika aku beranjak untuk bersandar di tempat tidur, pintu terbuka. Dua tentara masuk dengan tubuh tegap dan tinggi yang hampir dua meter.
“Oh, hairstylist yang melarikan diri ini sudah bangun ternyata,” ucap salah seorang tentara yang tampak dingin dan berwibawa.
Potongan rambutnya cepak dengan bulu halus di sekitar rahang yang sudah dicukur rapi. Mata kecoklatannya tampak begitu tegas. Jangan lupakan, tubuhnya yang tegap sangat mempesona. Fisiknya benar-benar sangat sempurna.
“Siapa? Aku? Melarikan diri? Tidak, aku tidak melarikan diri?!” aku memprotes ucapan tentara itu.
Pria itu pun menekankan ucapannya.
“Shazia Mahira, dua puluh empat tahun, seorang hairstylist. Kau datang dari Bandung dan melewati ladang ranjau sebagai warga sipil ketika kami sedang survey tanah di kilometer nol Aceh. Kau bahkan bukan seorang perwira tapi sangat berani melewati ranjau tersebut. Apa yang membuatmu datang jauh-jauh dari Bandung ke Sabang?” matanya menyipit.
“Bersyukurlah itu bukan ranjau operasi militer. Itu hanya survey sederhana. Aku akan bertanya sekali lagi, Apa yang membuatmu datang jauh-jauh dari Bandung ke Sabang?”
“Main saja,” ucapku.
Dia benar-benar tidak menunjukkan belas kasihan sama sekali.
“Apa kau seorang mata-mata? Penyelundup?”
“Siapa? Aku? Oh, tentu saja bukan. Aku tidak berminat menjadi mata-mata. Aku hanya ingin menikmati hidup, terima kasih banyak atas ucapanmu itu. Aku tidak akan kuat dengan hukuman atau apapun, jadi aku akan menceritakannya secara detail.”
Tentara lain di belakang pria itu kembali tertawa, tapi satu tatapan tajam dari atasannya langsung membuat mereka bungkam.
“Lalu, ada apa? Kenapa kau datang jauh-jauh dari Bandung ke Sabang?”
Suara komandan itu terdengar makin lantang.
“Kau tidak punya catatan kriminal. Kau juga bahkan tidak pernah ditilang. Kau bukan seorang buronan, tapi apa kau punya penjelasan yang masuk akal kenapa datang ke kilometer nol wilayah Indonesia?”
“Aku tidak punya kendaraan.”
“Kendaraan?” ulang komandan tersebut.
“Ya, aku tidak pernah ditilang karena tidak punya kendaraan,” aku menjelaskannya. Dan lagi-lagi ucapanku membuat para tentara tak bisa menahan tawa. Tatapan tajam pun langsung dilayangkan hingga membuat mereka sekali lagi bungkam.
Rahang pria itu semakin mengeras.
“Dengar, peuyeum Bandung, ini peringatan pertama dan terakhirmu. Aku tidak ingin melihatmu di Provinsi ini lagi apalagi di wilayah perbatasan negara. Tidak ada kesempatan kedua. Jangan biarkan aku menemukanmu. Jika tidak, kau tidak akan bisa melarikan diri.”
‘Peuyeum Bandung?’
Aku mendengus, apa itu sebutan yang pantas dari seorang tentara untuk warga sipilnya?
Aku pun memandang ke arah tentara lain disana.
“Apa makanan khas di Sabang?”
“Sate gurita,” jawab tentara itu tanpa berpikir.
“Diam!” bentak sang komandan membuat bawahannya langsung terbata-bata.
“Maaf, Komandan. Aku hanya mencoba menjawab pertanyaan itu.”.
“Jangan khawatir, Pak. Aku akan membela kalian semua. Pengetahuan dasara ini akan membuat Sabang semakin dikenal.”
Aku ingin memanggil komandan itu dengan sebutan yang membuat kota Sabang lebih terkenal. Seperti saat dia mengejekku dengan peuyeum khas Bandung.
Alhasil, aku benar-benar tak bisa menahan diri lagi.
“Kenapa kau suka sekali berteriak? Aku sudah menembak pergelangan kakiku, meski aku tidak bersalah. Alih-alih datang untuk meminta maaf, kau malah berteriak sesuka hatimu.”
Tatapan kami bertemu sekali lagi, tapi kata yang terlontar selanjutnya tertuju pada prajuritnya.
“Dasar angkuh!”
“Ya, Komandan?”
“Masukkan dia ke dalam tahanan karena berani menentang sambil menghina tentara. Biarkan dia sadar.”
Mataku membulat tak percaya. “Apa?!”
“Tapi, Ndan.” Pras mulai menyela, tapi langsung membeku ketika tangan komandannya terangkat.
Pria itu menatap Pras dengan tajam.
“Jika dia tidak segera ditahan, maka kau akan menerima latihan yang lebih berat, Kid.”
Kemudian komandan itu melangkah ke arahku, kehadirannya membawa aura yang sangat menegangkan.
“Jika kau waras, seharusnya kau tidak akan berani melawanku, Peuyeum Bandung.”
Setelah itu, dia langsung meninggalkan ruangan.
Kala itu, aku memandang Pras yang tampak lebih bersahabat dari atasannya itu.
“Apa aku akan masuk ke dalam tahanan?”
Pras malah tertawa, sikapnya berubah lunak.
“Tidak, Nona. Dia tidak akan seserius itu. Kau akan bebas siang nanti. Tapi kau harus tahu, kau berlari ke zona yang berbahaya ketika kami sedang melakukan survei tanah dan kau malah mengharapkan permintaan maaf …”
Pras menggelengkan kepala.
“Kau mungkin sedikit berlebihan.”
Aku harus akui, sikapku memang sedikit arogan. Tapi aku mana tahu kalau wilayah itu sedang ada survey tanah? Aku bahkan tidak tahu tempat seperti itu. Sabang benar-benar tidak menyambutku dengan hangat. Seharusnya, aku pergi ke Jakarta saja.
Ketika perawat itu mengizinkanku untuk keluar dari rumah sakit. Aku berdiri dengan hati-hati sambil menatap Pras.
“Apa aku juga perlu diborgol?”
Dia terkekeh.
“Tidak sampai seperti itu, Nona. Tapi kalau kau tidak bisa berjalan, aku akan menuntunmu.”
“Tidak, tidak. Aku masih bisa jalan—lebih tepatnya, aku bisa melompat-lompat. Kau akan terlihat seperti memburu seekor ayam hutan.”
Aku menatapnya dengan pandangan penuh ejek.
“Apa kalian punya kebiasaan menembak warga sipil?”
Kali ini, tawa Pras sangat tulus.
“Komandan terpaksa menembak untuk menghentikanmu, bukan untuk membunuhmu. Kau berlari sangat kencang di ladang ranjau. Bahkan ada pagar kawat berduri yang kau langkahi dengan percaya diri. Selain itu …”
Suara Pras melemah. “Ada sekelompok penyelundup bersenjata di daerah ini.”
Kamu berjalan menyusuri koridor. Aku tergopoh-gopoh disampingnya.
“Penyelundup bersenjata?”
“Ya, mereka berencana untuk menyeberangi perbatasan dan menjual senjata pada teroris. Kami hendak menghentikan operasi mereka. Kami tak sengaja menemukan keberadaan mereka ketika sedang survei tanah. Tapi ….”
“Tapi aku malah terlibat,” ucapku melanjutkan ucapan Pras.
“Betul sekali. Jika kau datang setengah jam kemudian, kami mungkin akan memburu mereka seperti ayam hutan, bukan justru menyerangmu.”
“Aku minta maaf karena tidak tahu soal itu. Aku benar-benar panik.”
Aku menggigit bibir bawahku.
“Apa mereka berhasil menjual senjata itu?”
“Tidak, karena kekacauan yang kau buat, mereka melarikan diri tanpa jejak.”
Pras memandangku penuh arti.
“Tapi, kau berpura-pura saja tidak tahu ini, oke? Aku mengatakannya agar kau tidak terlihat takut dan bingung.”
“Oh, ini adalah rahasia negara pertama yang akan ku jaga. Sungguh, rasanya sangat menyenangkan.”
Aku bercanda hingga membuatnya tertawa lagi. Setidaknya, para tentara disini tahu caranya tertawa. Tidak seperti komandannya yang kaku dan suka berteriak.
Kami tiba di pangkalan TNI AL Sabang dengan kendaraan militer. Sesuai dengan ucapan sang komandan, mereka memasukkannya ke dalam sel tahanan. Ketika aku bertanya, waktu saat itu masih jam lima pagi. Aku duduk di bangku, di dalam sel dan menanti waktu sampai agak siang hari.
Seorang petugas medis militer datang untuk memeriksa pergelangan kakiku dan tingkat kesakitan yang ku alami.
“Komandan memintaku untuk memeriksanya,” ucap petugas itu. Aku pikir petugas itu adalah orang kiriman Pras atau mungkin komandan langsungnya. Aku hampir tidak tahu pangkat di kemiliteran ini. Komandan, Kapten, setidaknya aku pernah mendengar istilah itu dalam hidupku.
Tentara lainnya datang membawakanku teh. Aku pun bertanya penuh harap.
“Apa aku sudah diizinkan pergi sekarang?”
“Kau akan bebas pukul dua belas siang,” jawabnya dengan tenang. “Lagi pula, jam segini kau pasti belum punya tujuan, ‘kan? Kau ada di tempat yang aman dan nyaman. Coba santai dulu,” ucapnya setelah itu berlalu.
Benar juga. Aku tidak mungkin bisa temukan hotel atau penginapan subuh-subuh begini. Mungkin, pangkalan ini menjadi tempat yang paling aman untukku saat ini. Aku menyeruput teh dan meringkuk di bangku seraya menarik hoodie-ku. Karena tidak ada hal lain yang bisa kulakukan. Aku pun memilih untuk tidur saja.
Setelah matahari mulai naik, aku pun terbangun. Pria itu adalah Pras. Seketika itu pula, mata kami beradu di udara. Aku mengulum senyum walaupun masih mengantuk.
“Selamat siang. Aku sudah boleh pergi, ‘kan?”
“Ya, kau sudah boleh pergi. Selamat!”
Matanya berbinar geli.
“Semoga saja kau tidak berakhir di tempat seperti ini lagi.”
“Apa dia ada disini?” tanyaku, berusaha terdengar santai.
“Siapa?”
“Orang yang sudah menembak pergelangan kakiku dan menahanku.”
“Komandan Liam?”
“Aku tidak tahu namanya. Tapi yang aku ingat, dia orang yang suka berteriak kemarin.”
“Ah, Kapten Liam Surya Gunawan, kebanggan TNI angkatan laut se-Indonesia. Dia dikenal sebagai tentara pendiam dan berwibawa.”
Bibir Pras terasa berkedut.
“Dia jarang sekali bicara. Dan bersama denganmu kemarin adalah rekor baginya. Dia sudah pergi pagi-pagi sekali.”
“Mungkin dia tidak ingin bertemu denganku lagi,” ucapku seraya tertawa. Aku pun meraih ponselku, lalu melihat koperku ada disana.
“Oh, koper-koperku!”
“Saat kau pingsan kemarin, kami menggeledahnya untuk mencari barang bukti. Kalau-kalau kau menyembunyikan sesuatu,” jelas Pras.
“Aku bahkan belum tahu apa isinya. Bibiku yang mengemas semuanya.”
Aku merasa ragu.
“Apa ada sesuatu … yang aneh?”
“Komandan Liam yang memeriksanya sendiri. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, kau mungkin tidak akan dibiarkan pergi sekarang.”
Aku mendengus dalam hati. Penasaran apa saja yang dikemasi oleh bibiku? Betapa memalukan jika pria itu menemukan sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.”
“Pras—maksudku, Jendral …”
“Pras saja sudah cukup. Tidak perlu formal.”
“Terima kasih. Apa kau tahu hotel atau penginapan yang bersih untuk tempat tinggal?”
“Tentu saja. Biar aku tuliskan alamatnya untukmu.”
Pras pun mengeluarkan buku catatan.
“Sebenarnya aku ingin sekali mengantarmu jika tidak sedang sibuk.”
“Tidak, tidak … tidak masalah. Aku rasa, aku lebih suka menjauh dari orang-orang berseragam untuk sementara waktu,” ucapku seraya tertawa kecil. Dia ikut bergabung dan menyerahkan kertas berisi alamat itu padaku. Setelah memanggil taksi, dia pun mengantarku ke gerbang utama stasiun.
Di penginapan yang direkomendasikan Pras, aku membayar dimuka untuk menginap selama seminggu. Cukup bagiku tinggal di tempat yang bersih untuk saat ini. Aku merogoh ponselku kemudian menelepon bibiku. Aku ingin memberinya kabar dan meminta bibi untuk menyembunyikan nomorku.
Nada sambung terdengar tiga kali sebelum sebuah suara di seberang sana menyahut.
“Halo?”
“Halo, aku dari perusahaan survei, apakah Anda ada waktu?”
Sambil menyamarkan suara, aku mengucapkan kode khusus diantara kami.
“Shazia, Sayang. Aku sedang sendirian. Mereka pergi ke kantor polisi untuk mencari keberadaanmu. Apa kau di rumah sakit atau kabur dengan seseorang? Si b******k itu sedang menyelidiki.”
“Jadi dia sudah datang?”
“Ya, tadi pagi. Kau dimana, Sayang?”
“Di Sabang, Aceh.”
“Ya ampun. Ketika aku bilang kau harus kabur … maksudku, tidak perlu sejauh itu! Kalau kau bisa, mungkin kau sudah ke bulan kali, ya!”
“Oh bibi, aku tentu ingin sekali melakukannya. Tapi, apa Paman marah?”
“Tidak, Sayang. Kami minum beberapa gelas lalu tak sadarkan diri. Ketika aku bilang, aku tidak ingat apapun. Dia tetap diam karena tidak ingat juga.”
“Bukankah kau terlalu santai soal ini?”
“Si Ismail b******k itu bertingkah aneh. Jika bukan karena pamanmu, dia mungkin tidak akan mempedulikanmu kepergianmu. Kurasa dia benar-benar sedang ada dalam masalah. Di kantor polisi saja, dia enggan berbicara.”
“Aku berharap mereka sama sekali tidak bertanya. Mungkin sekarang mereka tahu aku sedang ada disini, karena …”
Aku menarik nafas panjang.
“Tenanglah, Bibi. Aku sempat di rawat di rumah sakit dan di pangkalan TNI.”
“Rumah sakit? Shazia, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Hanya insiden kecil saja. Jangan khawatir. Aku baik-baik saja, Bi.”
“Pamanmu, punya teman di stasiun. Ini bukan laporan resmi orang hilang. Dia hanya mencari informasi tentang kemungkinan yang terjadi semalam. Hanya di Bandung saja, bukan di seluruh pelosok negeri.”
“Senang mendengar itu, Bi. aku sudah sampai di penginapan. Aku perlu mandi dan membersihkan diri. Kita akan bicara lagi nanti.”
Setelah saling mendoakan, kami pun menutup telepon. Aku meletakkan kedua koperku di tempat tidur lalu membuka keduanya. Seorang pria telah menggeledahnya. Koperku jadi sangat berantakan. Seperti yang kukhawatirkan. Bibi sudah mengemas semua pakaian dalamku berwarna-warni dan berbagai model. Aku punya kebiasaan itu, pakaian dalamku harus serasi dengan pakaian yang kukenakan. Apa Kapten arogan itu melihat semua milikku?”
“Setidaknya, dia meminta izin sebelum mengobrak-abrik barangku,” gerutu aku, sambil mengeluarkan pakaian. Tanganku meraih sebuah tas kecil. Di dalamnya aku menemukan bahan perban dan selotip anti air. Bibiku tidak mungkin mengemasi semua ini. Apa kapten itu yang telah meninggalkannya? Jika memang begitu, pasti si pemarah itu, bukan Pras yang sudah mengirim petugas medis untuk memeriksa lukaku. Mungkin dia tidak sekasar yang terlihat.
Setelah menempelkan selotip anti ait di atas jahitanku, aku pun mandi. Beruntungnya, peluru itu hanya menyempet pergelangan kakiku. Dia memang sepertinya bermaksud menghentikan langkah kakiku bukan untuk melukainya. Lima jahitan ini pasti akan meninggalkan bekas luka. Tapi setidaknya ini hanya lecet saja.
Aku mengenakan pakaian hangat yang ada di koper. Akhir tahun di Sabang selalu dibersamai hujan, anginnya dingin dan menusuk tulang. Aku yang mengira di Bandung sudah sangat dingin, tidak tahu bagaimana harus beradaptasi di tempat itu.
Sambil mengeringkan dan merapikan rambutku dengan hati-hati, dimana jadi salah satu obsesiku. Aku jadi ingat wanita yang mengunjungi bibiku setelah orang tuanya meninggal.
“Dia tampak seperti ibunya. Wajah Sahla cantik seperti dia, kulitnya juga terawat.”
Ucapan itu terus membekas di ingatanku. Kulit kami sangat mirip karena aku merawatnya dengan hati-hati.
Aku kehilangan ibu, ayah, adik laki-lakiku dalam satu malam. Aku tiba-tiba terbangun di perawatan intensif. Tapi, adikku tidak selamat. Sebelum aku bisa mencerna peristiwa itu, aku sudah mendapati diriku di pemakaman. Berdiri di tiga makam yang berjejer.
“Mereka ada disini sekarang,” ucap bibiku. Mereka ada disana dan kami ada disini–-hanya aku dan bibi yang tersisa.
Bibiku pun tidak pernah meninggalkanku setelah itu. Meski pamanku selalu meminta untuk melakukan pekerjaan rumah, bibi tidak pernah memaksaku melakukannya. Namun, karena takut paman mengusirku, aku melakukannya tanpa diminta.
Sejak aku beranjak dewasa, Ismail selalu datang melecehkanku. Dia menyudukanku sendirian, menyentuh tubuhku yang sedang pubertas, mengatakan hal-hal menjijikan. Di malam hari, dia akan menyelinap ke kamarku, memeluk, membelai setiap inci tubuhku lalu memberikan ancaman. Dia selalu memaksa dengan mengancam akan membuangku ke panti asuhan jika menolak. Dia juga mengatakan tidak ada seorang pun yang akan percaya padaku.
Namun, ketika tuntutannya semakin menjijikkan. Aku tidak sanggup lagi. Aku kahirnya menceritakannya pada bibiku. Syukurnya, bibiku mempercayaiku. Dia tidak pernah meninggalkan kami dalam kondisi berdua. Bahkan, bibi selalu tidur disampingku sepanjang malam tanpa sepengetahuan pamanku. Katanya, meski paman mempercayaiku, dia akan memihak pada putranya. Aku dan bibiku akhirnya melawan Ismail dengan cara kami sendiri.
Setelah sekolah menengah atas, aku mulai bekerja full-time di salon Dania. Tempat aku menghabiskan liburan musim panas. Bibiku berbicara secara terpisah dengan pamanku dan Ismail untuk menyuruhnya ke Amerika melalui perusahaan konstruksi. Dia adalah teknisi listrik. Meski begitu, mereka biasanya akan mengirim pada pekerja ke negara-negara Eropa. Entah bagaimana, bibiku bisa meyakinkan mereka mengirim Ismail ke belahan negara lain. Bibiku satu-satunya keluarga yang kumiliki. Dia selalu berusaha melindungiku.
Lambat laun, perutku mulai keroncongan. Setelah membalut ulang pergelangan kakiku. Aku pun keluar. Udara dingin di malam hari, menjernihkan pikiranku. Aku bertanya arah tempat makan dan juga lowongan pekerjaan. Pertama, aku butuh ke apotek untuk membeli banyak perban. Lalu, aku membeli ponsel baru. Model yang lebih bagus dari ponsel lamaku. Ini satu-satunya privilege yang kumiliki. Karena tabunganku tidak akan bertahan selamanya. Aku sudah menabung selama bertahun-tahun untuk membuka salon dengan bantuan bibiku.
Ketika aku meninggalkan konter handphone. Aku melihat flyer dengan kalimat ‘dicari pekerja’ di sebuah restoran kecil di seberang jalan. Jika Ismail mencariku ke Sabang, dia akan mencariku disetiap salon. Jadi, sudah waktunya aku beralih profesi. Dari penata rambut menjadi seorang pelayan. Itu pun, kalau aku mendapatkan pekerjaan itu.
***