Nadine berjalan pergi menuju parkiran dimana motornya berada melihat ban motor nya yang sudah kempes dua duanya.
Ia terkejut menatap sepeda motornya sambil mengepalkan tangannya dan berteriak.
"Baskaraaaaaaaaaaa!!!!"
Ia melihat sekeliling yang tampak sepi dikampus itu,mencari sosok pemuda yang membuatnya naik pitam.
"cowok itu enggak ada dimana mana mobilnya juga!"seru Nadine merasa kesal .
Dengan terpaksa ia menuntun motor itu dan berjalan kaki sampai kerumah.
"Thank you Bas,take care ya!"seru Ivanka yang turun dari mobil Pajero itu.
"Yaudah hati hati,Udah gih masuk pasti mama nungguin kamu didalem!"seru Baskara yang menurunkan Ivanka di cafe milik keluarganya.
Ia pun segera melanjutkan perjalanan menuju kediaman rumahnya dengan hati senang membayangkan gadis yang ia jaili itu menangis dan akan meminta maaf padanya karena telah mengingkari janji untuk menjadi kacungnya.
Dari kejauhan terlihat di tepi jalanan gadis berkepang dua yang menuntun sepeda motor berada disana,Baskara memberhentikan mobilnya tepat didepan gadis itu.
"Gimana masih mau main main sama aku?"tanya Baskara menatap gadis itu yang tampak kesal.
Gadis itu hanya diam dan melanjutkan perjalanannya dengan keringat yang mengucur di keningnya.
"Dasar keras kepala,bukannya minta maaf!"seru Baskara meninggalkannya.
Tetapi tiba tiba kepalanya terasa pusing dan pandangannya sedikit kabur,ia yang sedang mengendarai mobilnya tidak bisa berkonsentrasi dan mendadak berhenti hampir menabrak pengendara lain.
Nadine yang melihat mobil yang dibawa baskara itu tampak hilang kendali merasa terkejut ia segera melepaskan sepeda motornya di tepi jalan itu dan berlari menuju mobil Pajero yang mendadak berhenti .
Ia segera membuka pintu mobil itu melihat Baskara yang sedang kesakitan memegang kepalanya.
"Bas..kamu enggak papa?"tanya Nadine tampak cemas bertanya pada pemuda itu.
"Kepalaku sakit!"
"Aku antar kamu kedokter ya,aku bisa bawa mobil kok?"tanya Nadine
Baskara hanya mengangguk pelan kemudian ia berpindah posisi duduk disebelahnya,Nadine yang tampak khawatir segera mengendarai mobil Pajero itu dengan sangat hati hati.
"Ini minum aja dulu!"ucapnya mengambil air botol mineral dari dalma tasnya.
"Thanks!"
Beberapa menit mereka tiba dirumah sakit,dengan pelan Nadine membantu memapah Baskara masuk keruang UGD untuk diperiksa.
"Sudah berapa lama merasakan sakit kepala seperti ini mas?"tanya dokter itu setelah selesai memeriksa.
"Baru dua kali dok,rasanya kepala saya seperti ditusuk tusuk tapi nanti hilang sendiri !"ucap Baskara yang mulai berasa baikan.
"Anda sepertinya harus menjalankan beberapa tes untuk mengetahui penyebab sakit kepalanya dan untuk sementara saya berikan obat untuk pereda sakitnya,silahkan !"seru dokter memberikan surat tes untuk diperiksa di ruang lab.
Baskara segera keluar bersama Nadine kemudian berjalan keluar rumah menuju mobilnya.
"Loh kamu enggak jadi tes di lab?"tanya Nadine tampak heran melihat baskara yang segera pulang.
"Enggak perlu,sakit kepala kaya gini biasa di kasih obat juga sembuh"sahut Baskara menghidupkan mesin mobilnya.
"Bener bener ya,bilang aja takut!"celetuk Nadine .
"Siapa yang takut ,buktinya aku sehat lagi kan kamu aja terlalu lebay !"sahut Baskara .
"Seharusnya kamu bersyukur masih selamet kamu tau gak tadi kamu hampir nabrak orang dijalan"
"Udah enggak usah dramatisir,by the way thank kamu udah anter aku ke RS tapi dengan begini bukan berarti aku berubah pikiran buat jadiin kamu kacung ku!"ucapnya lagi.
Nadine melirik ke arah Baskara dengan tatapan tajam,"Tau seperti ini aku enggak akan nolongin kamu cowok nyebelin!"gumamnya dalam hati.
"By the way kamu belajar nyetir dari mana,kayaknya udah lancar banget!"
"Ayahku yang mengajarkanku menyetir !"
"Ayah kamu supir mobil angkutan umum ya?"tanya Baskara tersenyum .
"Enggak ada faedahnya kalau aku kasih tau dia juga"ucapnya dalam hati mencoba untuk bersabar.
Mereka tiba di jalan dimana motor Nadine ditinggalkan,mereka segera turun dan melihat motor itu yang masih tergeletak dijalan.
"Ayo aku antar kamu pulang,biar motormu nanti aku suruh orang untuk membawanya ke bengkel!"seru Baskara yang merasa iba.
Gadis itu pun menurut dan segera masuk kedalam mobil,Nadine hanya diam menatap jalan dari balik kaca mobil sesekali melirik ke arah baskara yang terlibat tampan itu.Berada didalam mobil itu ia merasa sangat nyaman mengingatkannya pada saat masa kecil nya yang bahagia dan sejahtera.
"Rumah kamu dimana?"
"Hah..apa?"ucap Nadine membuyarkan lamunannya.
"Ye daritadi kok bengong aja,aku lagi tanya rumah kamu dimana neng?"
"Oh,disana,kamu turunin aku aja disana!"ucap Nadine menunjuk sebuah rumah sederhana ditepi jalan .
Tiba disana Nadine mengucapkan terima kasih dan segera masuk kedalam rumah.Baskara melanjutkan perjalanannya dan pulang menuju rumahnya.
"Sore pah!"seru baskara mencium punggung tangan ayahnya dan segera masuk kekamar.
"Bas Ivanka mana katanya sama kamu?"
"Ivanka ke resto pah katanya mama mau kenalin sama temen temen mama"
"Yasudah kalau begitu!"sahut ayahnya dengan santai sambil menyeruput kopi panas.
Nadine dengan wajah cemberut masuk kedalam kamarnya,ia tampak lesu dan lelah karena mendorong sepeda motor itu dijalanan karena ulah baskara.
"Nadine bantuin ibu yuk buat kue,ibu dapet pesenan kue dalam jumlah banyak dari ibunya teman kamu siapa namanya Sisil ya?"seru Suci menghampirinya yang baru saja selesai mandi.
"Iya Bu sebentar"sahut Nadine segera melangkah ke dapur.
"Kamu kenapa lagi Nad,setiap pulang kuliah ibu perhatiin kamu murung terus,apa dikerjain lagi sama anak orang kaya itu?"tanya ibunya penasaran.
"Iya Bu,ban motorku di kempesin sama dia dia duanya aku jadi harus dorong kerumah"
"Ya ampun"ucap Ibunya bergegas kehalaman depan melihat kondisi motor anaknya itu.
"Mana motor kamu Nad kok enggak ada,jangan sampe ayah kamu tau nad bisa murka ayahmu sama anak itu"ucap suci tampak panik.
"Lagi dibawa kebengkel sama dia Bu,ibu tenang aja dia mau bertanggung jawab soalnya tadi aku abis anterin dia kerumah sakit"
"syukurlah kalau enggak ayahmu enggak akan diam gitu aja liat putri kesayangannya di kerjain terus menerus,keterlaluan sekali anak itu apa orangtuanya enggak mendidiknya "
"Udah ya Bu enggak usah dibahas lagi,Nadine dh ikhlas Bu,kasian juga dia tadi hampir mau nabrak orang karena enggak konsen menyetir "
"Mungkin dia kena karmanya udah jail sama kamu!"
Di sisi kolam renang Baskara sedang bersantai sambil bermain gitar,sesekali ia memandang foto gadis kecil itu dan menyimpannya di bawah tatakan cangkir teh yang ia minum.
"Akhirnya acara ibu ibu telah selesai dan aku terbebas lagi!"celetuk Ivanka yang muncul dengan wajah cerianya.
Mendengar itu Baskara tertawa membayangkan bagaimana gadis bule itu di dekati ibu ibu sosialita ibunya karena berparas cantik.
"Kamu happy ya liat keadaan aku tadi?"tanya Ivanka duduk disebelahnya.
"Enggak,ge'er aja kamu!"
"Memang seperti itu kan?"tanya Ivanka lagi menatap Bryan.
Tiba tiba terdengar suara ibunya memanggil.
"Baskara sini nak sebentar!"
"Aku kedalem dulu ya sebentar!"seru baskara menaruh gitarnya disana dan beranjak pergi.
Ivanka tersenyum memandang pemuda itu yang sudah memikat hatinya,tanpa disengaja matanya melihat sebuah kertas putih yang terlihat dari bawah tatakan cangkir teh yang berada di atas meja itu.
Ia mengambilnya melihat seorang gadis kecil yang tersenyum bersama anak lelaki disampingnya.
"Ini pasti Nana,penghalangku hanya kamu nana,dimanapun kamu berada aku berdoa agar kamu tidak akan pernah bertemu dengan Baskara lagi"ucapnya mengambil foto itu dan memasukkannya kedalam tas miliknya dan meninggalkan tempat itu.
Nadine berbaring diatas tempat tidurnya menatap langit yang dihiasi bayangan bintang dari cahaya laser miliknya.
Terbesit dalam pikirannya sosok Baskara yang bersikap lembut padanya saat itu.
"Ih kenapa aku jadi mikirin dia"ucapnya menutup wajahnya dengan bantal.
"Cowok nyebelin itu yang udah buat aku kesel terus selama aku masuk kekampus itu,ingat kata ayah aku enggak boleh deket deket sama dia karena akibatnya aku akan dapet masalah terus menerus,Aarggh nyebelin !"seru Nadine berteriak .
"Nadine kamu enggak papa?"seru ibunya dari balik pintu kamar bertanya .
"Enggak papa Bu cuma liat kecoa aja lewat"sahut Nadine berbohong.
"Aku enggak boleh suka sama cowok itu,dia itu musuh aku!"celetuknya berusaha memejamkan matanya.
Pagi itu mereka saling berpapasan dan bertemu di kampus,Baskara yang biasanya memalingkan wajahnya kini tersenyum melihat gadis itu yang berdiri dihadapannya begitupun Nadine yang tampak salah tingkah.
"Motor kamu gimana udah dateng kan kemarin?"tanya Baskara berbicara dengan anda lembut.
"Udah,orang bengkel udah nganterin,thanks ya walau itu perbuatan kamu sendiri tapi kamu udah bertanggung jawab aja aku udah bersyukur!"seru Nadine tampak malu.
"Iya,mulai sekarang aku enggak akan berbuat kaya gitu lagi ke kamu"
"Serius,jadi aku enggak perlu jadi kacung kamu lagi?"tanya Nadine dengan senang hati.
"Iya,enggak seharusnya aku perlakukan kamu kaya gitu"sahut baskara tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan Nadine.
"Tunggu Baskara!"
Mendengar itu Baskara menghentikan langkahnya ia menoleh melihat Nadine yang tampak gugup .
"Kamu mau jadi teman aku?"
***