Nindy memandang layar komputernya dengan kening berkerut. Sejak tadi ia sudah membaca halaman yang sama sebanyak tiga kali. Bukan karena kalimatnya sulit dipahami, melainkan karena senyum Galih masih berputar-putar di kepalanya seperti iklan yang tidak menyediakan tombol untuk dilewati.
Gawat. Ini benar-benar gawat.
Ia datang untuk mencari kelemahan Alex, bukan untuk menemukan kelemahannya sendiri di hadapan cowok berlesung pipi.
"Fokus, Nin," gumamnya sembari menepuk kedua pipinya pelan.
Telepon di atas meja berdering. Nindy tersentak, lalu cepat-cepat mengangkatnya. Dari balik kaca, Alex sedang menatapnya dengan wajah datar.
"Kalau sedang mengantuk, cuci muka. Jangan memukuli diri sendiri di meja kerja."
Nindy membeku.
Jadi sejak tadi pria itu memperhatikannya?
"Saya gak mengantuk, Pak."
"Bagus. Siapkan jadwal besok. Ada kunjungan ke tempat pengambilan gambar untuk projek yang sudah berjalan. Koordinasikan dengan Galih."
Mendengar nama terakhir itu, punggung Nindy spontan menegak. "Dengan Mas Galih?"
Alex menyipitkan mata. "Ada Galih lain di perusahaan ini?"
"Gak ada, Pak. Siap."
Sambungan berakhir. Nindy menurunkan gagang telepon sembari menggerutu. Bahkan kesempatan untuk merasa senang pun harus lebih dulu melewati komentar menyebalkan dari bosnya itu.
Ia membuka buku catatan. Kunjungan besok bukan untuk iklan susu yang baru dipresentasikan, melainkan pekerjaan lain yang sudah memasuki tahap produksi. Nindy mencatatnya dengan teliti agar tidak tertukar. Setidaknya urusan pekerjaan sungguhan harus tetap beres jika ia ingin bertahan tiga bulan.
Belum selesai menulis, Galih sudah muncul membawa binder berwarna navy.
"Sibuk?"
Nindy mendongak terlalu cepat. "Enggak! Eh, maksudnya, lagi nyatet."
Galih terkekeh. Ia meletakkan binder di atas meja dan menunjuk halaman yang perlu ditandatangani Alex. Beberapa penyesuaian dari rapat tadi sudah dimasukkan. Setelah menjelaskan, ia tidak langsung pergi.
"Pak Alex sudah bilang soal besok?"
"Sudah. Aku diminta koordinasi sama kamu."
Untunglah ia tidak lagi memanggil Mas dengan nada terlalu manis. Nindy merasa sudah cukup mempermalukan dirinya sendiri sejak berkenalan.
Galih menerangkan waktu keberangkatan dan hal yang perlu dibawa. Nindy mendengarkan sambil mencatat, lalu melihat nama penanggung jawab yang belum dikenalnya. Ia meminta penjelasan dan mendapat jawaban tanpa tatapan seolah dirinya orang paling lambat sedunia.
Benar-benar berbeda dengan Alex.
"Kamu sudah lama kerja di sini?" tanyanya setelah catatan selesai.
"Beberapa tahun. Mulai dari tim kreatif, terus dipercaya memegang bagian ini."
"Masih muda sudah jadi Creative Director. Hebat."
Galih tersenyum malu. "Timku juga hebat. Kalau sendirian, mungkin cuma jadi direktur yang panik."
Nindy ikut tertawa. Lalu ia teringat alasan lain mengapa percakapan ini berguna. Cowok di depannya cukup dekat dengan Alex. Mungkin ia bisa mendapatkan informasi tanpa harus terdengar seperti sedang menginterogasi.
"Berarti kamu juga kenal sekretaris Pak Alex yang dulu?"
Senyum Galih perlahan mereda. "Pak Refan? Kenal."
Nindy segera merasa pertanyaannya kurang tepat. Namun, Galih sudah melanjutkan sebelum ia sempat meminta maaf.
"Beliau sering bantu aku waktu pertama kerja. Kalau Pak Alex sedang susah diajak bicara, Pak Refan yang tahu kapan sebaiknya kami masuk."
"Beliau sudah lama di sini?"
"Lebih lama daripada kebanyakan orang. Sama Pak Alex juga sudah puluhan tahun."
Puluhan tahun?
Ujung pulpen Nindy berhenti. Ia melirik ke balik kaca. Alex terlihat seperti pria yang mungkin baru memasuki usia tiga puluhan. Kalau sekretarisnya sudah bekerja puluhan tahun, kapan pria itu mulai mempunyai sekretaris? Sejak masih memakai seragam sekolah?
Atau sejak masih belajar berjalan?
"Pak Alex sendiri umurnya berapa?" tanyanya seolah baru terpikir.
Galih mengangkat bahu. "Aku gak pernah tanya."
"Gak penasaran?"
"Penasaran. Tapi aku masih sayang pekerjaan."
Mereka tertawa pelan. Nindy menyembunyikan kekecewaannya dengan menutup buku. Pertanyaan sederhana ternyata tidak menghasilkan jawaban sederhana.
"Kamu jangan terlalu takut," sambung Galih. "Mukanya memang begitu. Tapi waktu Pak Refan meninggal, dia sendiri yang memastikan keluarga beliau dibantu."
Nindy menatap Galih lagi. Keterangan itu tidak menyerupai kelemahan yang diinginkan Sony.
"Kecelakaannya... parah?"
Galih terdiam sebentar. "Aku cuma tahu mobil beliau kecelakaan waktu hendak menjemput Pak Alex. Soal yang lain, aku gak tahu pasti."
Nindy mengangguk. Ia tidak mengajukan pertanyaan berikutnya. Mendadak terasa tidak enak menggunakan duka seseorang sebagai jalan memulai penyelidikan.
Galih melihat ujung catatan yang belum selesai. "Kalau soal alur berkas, nanti aku kirim urutannya. Biar kamu gak bolak-balik karena ada yang terlewat."
"Boleh. Aku masih suka ketuker mana yang harus masuk duluan."
"Dulu aku juga. Pak Refan yang sering menyelamatkan sebelum semuanya sampai ke meja Pak Alex."
Nindy tersenyum. Ia sempat membayangkan bertanya apakah Refan meninggalkan catatan tentang kehidupan pribadi bos mereka. Tetapi Galih sudah membicarakan urutan pemeriksaan dengan begitu tulus sehingga niat itu terasa seperti sesuatu yang kotor di sela percakapan biasa.
Ia akhirnya menanyakan pekerjaan saja.
Galih menunjukkan perbedaan antara bahan yang baru diajukan dan berkas yang sudah siap dimintakan persetujuan. Penjelasannya membuat Nindy kembali mengingat pelajaran manajemen yang dulu dipelajarinya. Setidaknya gelar di belakang namanya tidak benar-benar menganggur selama ia sibuk mengambil pakaian dari penatu.
"Oh, jadi yang ini belum boleh langsung aku taruh untuk ditandatangani?"
"Betul. Aku tinggal menjelaskan revisinya, lalu kamu sampaikan."
Nindy memberi tanda pada halaman yang dimaksud. Untuk sesaat ia merasa bangga karena mulai memahami sesuatu tanpa harus diteriaki lebih dahulu.
Galih melihatnya dan tersenyum. "Pelan-pelan juga hafal."
Hati Nindy kembali berulah. Ia buru-buru menunduk, pura-pura mencari tutup pulpen yang sebenarnya masih di tangannya.
Kalau begini terus, justru dirinya yang perlu diberi daftar semua hal yang harus diingat. Nomor pertama: jangan kehilangan akal setiap kali Galih tersenyum.
Dari ruangan sebelah, Alex mengetuk kaca dengan ujung jarinya. Tidak keras, tetapi cukup membuat dua orang itu menoleh bersamaan.
Ia menunjuk binder di meja Nindy.
"Nah, aku balik dulu," kata Galih sambil menahan tawa. "Sebelum kita dikira membuka acara bincang-bincang."
Nindy membawa binder ke ruangan Alex. Ia menjelaskan bagian yang memerlukan tanda tangan, lalu menunggu ketika pria itu membaca. Alex tidak langsung menandatangani hanya karena sebelumnya sudah menyukai idenya.
"Kalimat ini perlu diperiksa lagi dengan klien," katanya sambil menunjuk satu bagian. "Jangan sampai pesan iklannya lebih besar daripada yang dapat mereka pertanggungjawabkan."
Nindy mencatat. Galih harus mendapat kembali berkas itu untuk penyesuaian sebelum persetujuan akhir. Ternyata menjadi sekretaris bukan hanya mengisi kopi, meskipun bosnya sering membuat kesan sebaliknya.
Ketika ia hendak pergi, Alex kembali bersuara.
"Besok bawa payung yang besar."
"Seberapa besar, Pak?"
Alex mendongak. "Cukup untuk saya. Tidak perlu menutupi seluruh Jakarta."
Nindy tersenyum kaku. Dalam hati ia sudah melempar payung bayangan tepat ke wajah pria itu.
Namun, begitu kembali ke meja, ia menulis dua catatan terpisah.
Yang pertama untuk pekerjaan: koordinasi dengan Galih dan siapkan payung.
Yang kedua hanya satu pertanyaan.
Bagaimana mungkin Refan sudah menemani Alex selama puluhan tahun?
°°°°°