Sony mengirim pesan ketika Nindy sedang merapikan meja sebelum pulang. Pesannya pendek, tetapi cukup membuat bahu gadis itu menegang.
Sony Ferdinan: Temui saya sebelum pulang. Ada yang perlu dibicarakan.
Nindy membaca pesan itu dua kali. Sudah lebih dari seminggu ia berada di dekat Alex. Ia hafal pesanan kopi, tahu jam makan, bahkan mulai bisa mengenali kapan kerutan di dahi pria itu berarti kesal dan kapan berarti sedang membaca angka.
Sayangnya, semua itu bukan bukti bahwa Alex adalah iblis.
Nindy melirik ruang bosnya. Alex masih bekerja. Jadwal untuk malam itu sudah dijelaskannya, dan ia telah diizinkan pulang setelah memastikan kebutuhan yang diminta selesai. Jadi tidak ada alasan masuk ke ruangan pria itu hanya untuk mencari perlindungan dari Sony.
Perlindungan? Nindy langsung merinding sendiri.
Sejak kapan iblis calon sasarannya terasa lebih aman daripada manusia yang memberinya pekerjaan?
Ia naik ke lantai sepuluh setelah memberitahukan kedatangannya. Pertemuan berlangsung di ruang kerja Sony, bukan di ruangan Andromeda tempat ia pertama kali diperkenalkan kepada Alex.
Sony tersenyum begitu Nindy masuk. "Bagaimana bekerja dengan Alex?"
"Baik, Pak."
"Baik saja?"
Nindy duduk setelah dipersilakan. "Tugasnya banyak. Saya masih menyesuaikan diri."
Sony bersandar. "Saya tidak sedang menanyakan penilaian kerja kamu."
Gadis itu menelan ludah. Senyum ramah pria di depannya ternyata bisa tetap ada meskipun kalimatnya membuat perutnya dingin.
"Apa yang sudah kamu temukan?"
Nindy menjelaskan sebatas yang diketahuinya. Alex tidak menyukai sinar matahari langsung, sangat menyukai daging, dan mempunyai banyak kebiasaan yang harus diikuti sekretarisnya. Ia tidak menyebut dugaan mengenai usia. Pertanyaan tanpa jawaban belum tentu berguna, terlebih setelah Galih sendiri mengaku tidak mengetahuinya.
Sony mendengarkan dengan jari mengetuk meja.
"Itu bisa dilakukan manusia biasa. Saya butuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan seperti itu."
"Saya tahu, Pak. Tapi saya baru bekerja sebentar."
"Dan waktu kamu tetap tiga bulan. Bukan tiga bulan setelah merasa nyaman."
Nindy meremas tali tasnya. "Iya."
Sony merendahkan suara. "Kamu cukup dekat dengannya setiap hari. Perhatikan. Kalau ada sesuatu yang benar-benar aneh, jangan hanya mengingatnya. Saya perlu bukti yang bisa diperlihatkan."
Nindy memandang ujung meja, membayangkan dirinya mengangkat telepon di depan Alex lalu meminta pria itu menunjukkan kemampuan iblisnya.
Permisi, Pak. Boleh terbang sebentar? Untuk laporan tambahan saya.
Anjir. Ia pasti dipecat sebelum kameranya menyala.
"Kenapa Bapak yakin sekali dia bukan manusia?" tanyanya, akhirnya memberanikan diri.
Ketukan jari Sony berhenti.
"Ada hal-hal yang saya lihat selama bekerja di sini."
"Hal seperti apa? Mungkin kalau saya tahu, saya bisa lebih mengerti yang harus dicari."
Sony memandangnya cukup lama untuk membuat Nindy menyesali pertanyaan itu. Namun, ketika menjawab, suaranya tetap tenang.
"Kamu lakukan bagian kamu dulu. Saya yang menilai hasilnya."
Itu bukan jawaban. Nindy mengetahuinya, tetapi belum mempunyai keberanian untuk mengatakannya.
Sony kemudian menanyakan biaya kuliah Nandiro. Nada suaranya kembali hangat. Perubahan itu begitu cepat hingga Nindy merasa percakapan tentang Alex tadi berlangsung dengan orang lain.
"Sudah dibayarkan, Pak. Uang yang Bapak kirim sangat membantu."
"Bagus. Saya menepati janji. Kamu juga harus begitu."
Lima belas juta rupiah. Angka itu kembali berputar di kepala Nindy. Sebagian sudah dipakai untuk biaya yang mendesak. Sisanya diatur untuk kebutuhan yang sebelumnya terus tertunda. Ia tidak bisa sekadar mengembalikan semuanya malam ini lalu berjalan keluar seolah tidak pernah membuat kesepakatan.
Pertemuan berakhir dengan Sony memintanya memberi kabar secara teratur. Nindy menyetujui, kemudian meninggalkan ruangan dengan langkah yang lebih berat daripada saat datang.
Sebelum pintu benar-benar tertutup, Sony memanggilnya sekali lagi. Nindy berbalik dengan senyum yang hampir habis.
"Jangan membicarakan kesepakatan kita kepada orang kantor. Mereka tidak perlu tahu."
"Saya mengerti, Pak."
"Termasuk Galih."
Nindy menegang sebentar. Bagaimana pria itu tahu ia sudah mengobrol dengan Galih? Lalu ia ingat bahwa kantor ini dipenuhi orang, dan berkenalan dengan pimpinan bagian kreatif bukan sesuatu yang dilakukan diam-diam.
Ia tidak perlu menganggap Sony mempunyai mata tambahan di belakang kepalanya.
Tetap saja, cara pria itu menyebut nama Galih membuatnya tidak nyaman.
"Saya gak membicarakannya dengan siapa pun," jawabnya.
Sony mengangguk, akhirnya membiarkannya pergi. Di luar ruangan, Nindy berhenti sejenak untuk membetulkan tali tas yang melintir. Tangannya terasa terlalu sibuk pada benda kecil itu, padahal pikirannya hanya ingin cepat menjauh.
Pada awalnya ia membayangkan pekerjaan ini seperti mencari satu jawaban, menyerahkannya, lalu menerima hidup yang lebih mudah. Sekarang setiap percakapan mempunyai bagian yang harus disembunyikan. Kepada Alex ia menyembunyikan Sony. Kepada keluarga ia menyembunyikan tugasnya. Kepada Galih ia menyembunyikan alasan di balik beberapa pertanyaan.
"Gue bahkan belum jago jadi sekretaris," gumamnya lirih. "Sudah sok jadi mata-mata."
Seorang pegawai lewat dan menoleh. Nindy langsung tersenyum seolah sedang menyapa, lalu berjalan cepat menuju lift.
Hebat. Selain harus mengingat daftar milik Alex, mulai sekarang ia juga harus mengingat untuk tidak membicarakan kebohongannya keras-keras di koridor perusahaan.
Di dalam lift, ia memandang pantulan wajahnya sendiri.
"Lo yang pilih, Nin," gumamnya.
Tetapi mengingat bahwa ia telah memilih tidak membuat pilihannya terasa lebih ringan.
°°°°°
Nandiro sedang duduk di ruang tamu ketika Nindy pulang. Buku kuliah terbuka di pangkuannya. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, ia tidak sedang memegang telepon untuk bermain.
"Kak, lihat ini."
Nindy hampir mengerang. "Kalau brosur biaya tambahan, gue pura-pura pingsan sekarang."
"Bukan!" Nandiro menarik bukunya menjauh. "Tugas. Gue mau tanya."
Ratih muncul dari dapur dan tertawa mendengar mereka. Di belakangnya, Roy sedang menyiapkan pakaian untuk pekerjaan esok hari. Ayah mereka terlihat lelah setelah seharian bekerja di perusahaan kenalannya, tetapi masih menanyakan apakah Nindy sudah makan.
Nindy menggeleng. Ia meletakkan tas, mencuci tangan, lalu duduk di dekat adiknya.
Nandiro memperlihatkan tugas yang belum dipahaminya. Penjelasan Nindy mula-mula terdengar tidak sabar, tetapi perlahan ia ikut membuka kembali ingatan tentang pelajaran yang pernah dipelajarinya dahulu.
"Oh, jadi bukan yang ini?" tanya Nandiro.
"Iya. Makanya baca pertanyaannya sampai habis. Jangan cuma pengen cepat selesai."
Adiknya mendecih, tetapi mencoret jawaban yang salah. Setelah beberapa saat ia berkata pelan, "Makasih, Kak."
"Sama-sama. Bayar lima puluh ribu."
"Ih!"
Nindy tertawa. Nandiro ikut tertawa, lalu menyenggol lengannya dengan siku.
"Gue serius. Makasih buat semuanya juga."
Tawa Nindy mereda. Ia memandang buku di pangkuan adiknya, kemudian wajah Ratih yang sedang membagi makanan di dapur.
Mereka tidak mengetahui pekerjaan tambahan yang membiayai sebagian ketenangan malam ini.
Nindy menunduk, berpura-pura memeriksa soal berikutnya.
Ia ingin membuat keluarganya bahagia. Tetapi kini ia mulai bertanya-tanya, sampai di mana ia sanggup berjalan untuk membayar kebahagiaan itu?
°°°°°