Nindy tidak terlambat pagi itu. Ia bahkan tiba dengan payung besar, buku catatan, dan keyakinan bahwa kali ini tidak ada satu pun hal yang dilupakannya.
Keyakinan tersebut bertahan sampai Alex keluar dari ruangannya.
"Berkas yang saya minta?"
Nindy langsung menepuk tas. "Sudah, Pak."
"Jadwal?"
"Sudah."
"Galih?"
"Gak saya masukkan ke tas, Pak."
Hening.
Nindy baru menyadari jawabannya setelah kalimat itu selesai. Ia memejamkan mata sebentar, ingin menelan kembali seluruh suku katanya. Namun, sebelum sempat meminta maaf, terdengar tawa dari belakangnya.
Galih berdiri sambil memegang map.
"Saya sudah siap, Pak. Dan masih bisa jalan sendiri."
Alex memandang kedua orang itu bergantian. "Bagus. Kalau begitu berhenti membuat pertunjukan di depan ruangan saya."
Ia melangkah lebih dahulu. Nindy mengikuti dengan wajah panas, sedangkan Galih berjalan di sampingnya sambil berusaha keras menahan tawa.
Hari yang panjang baru saja dimulai.
°°°°°
Lokasi pengambilan gambar berada di halaman sebuah bangunan yang disewa untuk produksi. Tim sudah bekerja ketika rombongan perusahaan tiba. Orang-orang membawa perlengkapan, memeriksa tampilan gambar, dan saling memanggil dari berbagai arah.
Nindy membuka payung begitu Alex turun dari mobil. Satu tangannya memegang tas, tangan lain berusaha menyesuaikan tinggi payung dengan pria yang terus berjalan itu.
"Pak, pelan sedikit."
Alex menoleh. "Kamu belum latihan lari?"
"Sudah. Tapi latihannya gak sambil jadi pohon berjalan."
Galih mendadak batuk di belakang mereka. Nindy tidak berani memastikan apakah batuk itu sungguhan atau tawa yang gagal disembunyikan.
Alex justru mengambil payung dari tangannya.
Nindy mengerjap.
"Catat yang perlu dicatat," katanya. "Tangan kamu cuma dua."
Ia ingin menjawab bahwa untunglah bosnya akhirnya menyadari fakta tersebut. Namun, demi kelangsungan pekerjaan, ia memilih membuka buku dengan senyum terbaiknya.
Galih menjelaskan perkembangan produksi bersama penanggung jawab lapangan. Alex menyimak, sesekali melihat layar pemantauan dan menanyakan penyesuaian yang sudah dilakukan. Sikapnya tetap dingin, tetapi pertanyaannya jelas. Tidak ada pekerjaan ulang yang diminta hanya karena ia ingin terlihat berkuasa.
Nindy mencatat hampir tanpa berhenti.
Ketika mereka berpindah ke sisi halaman, angin tiba-tiba bertiup lebih kuat. Selembar bahan ringan yang dipasang di dekat perlengkapan terlepas dari penjepitnya. Orang di dekatnya bergerak untuk menahan, sementara seorang pekerja yang lebih tua kehilangan keseimbangan saat mencoba menghindar.
Nindy baru sempat berseru ketika Alex sudah berpindah.
Payung jatuh ke tanah. Pria itu menangkap lengan pekerja tersebut sebelum tubuhnya membentur sisi meja perlengkapan. Gerakannya begitu cepat hingga Nindy tidak yakin kapan ia meninggalkan tempatnya berdiri.
"Duduk dulu," kata Alex.
Galih membantu menyingkirkan barang yang menghalangi. Tim menghentikan kegiatan sebentar untuk memastikan keadaan dan merapikan bagian yang lepas. Tidak ada keributan besar, hanya napas terkejut dan beberapa ucapan syukur karena kejadian itu tidak menjadi lebih buruk.
Alex tetap berdiri di bawah matahari.
Nindy melihatnya memejamkan mata sesaat. Tangannya yang menggenggam lengan pekerja itu mulai terlepas, kemudian ia menarik napas dalam. Wajahnya tidak tampak setenang beberapa menit sebelumnya.
"Pak?"
Alex menoleh dengan sorot tajam. "Payungnya."
Nindy segera mengambil payung yang jatuh dan membuka kembali bagian yang terlipat. Ia berdiri di samping Alex, menahan bayangan tepat di atas kepala pria itu.
Jarak mereka dekat. Cukup dekat untuk melihat keringat tipis pada pelipisnya dan rahang yang mengeras seperti sedang menahan sesuatu.
"Bapak gak apa-apa?"
"Panas."
Jawaban singkat itu masuk akal. Semua orang juga kepanasan. Tetapi Nindy tidak bisa berhenti memikirkan cara Alex bergerak tadi, juga perubahan wajahnya setelah beberapa saat terkena matahari langsung.
"Kita masuk sebentar," ujar Galih sambil menunjuk ruang yang lebih teduh.
Alex mengangguk tanpa membantah. Di dalam, ia duduk dan meminta air. Nindy menyerahkan botol yang sudah disiapkan, lalu diam-diam mengamati tangannya.
Penanggung jawab produksi masuk membawa catatan penyesuaian. Galih menemuinya di dekat pintu, membicarakan bagian pekerjaan yang dapat diteruskan sambil area luar dirapikan. Nindy hampir ikut berdiri, tetapi Alex menunjuk bukunya.
"Yang berubah dicatat. Jangan nanti jadwal lama dikirim lagi."
Ia segera mengangguk. Tugas yang jelas membantu menenangkan pikirannya. Nindy mendengarkan penjelasan dari Galih, mengulangi waktu yang disebut agar tidak keliru, lalu memberi garis pada bagian yang tidak jadi dilakukan siang itu.
Alex memperhatikannya sebentar sebelum kembali menyandarkan tubuh.
"Kamu bisa membacakan ringkasannya?"
Nindy membacanya. Pada bagian terakhir ia sempat tertukar nama orang yang harus dihubungi. Galih mengoreksi dengan pelan, dan Nindy segera membetulkan.
"Selain itu benar," kata Alex.
Gadis itu mendongak, hampir tidak percaya bahwa dua kata terakhir keluar dari mulut bosnya tanpa tambahan sindiran.
"Baik, Pak."
Ia menutup buku dengan gerakan lebih hati-hati. Mendapat pekerjaan yang sungguh memerlukan pikirannya ternyata membuat perjalanan ini tidak sepenuhnya menyebalkan. Kalau tidak harus memata-matai orang, mungkin ia bisa menikmati profesi barunya sedikit lebih lama.
Dari luar, pekerja yang tadi ditolong mengirim ucapan terima kasih melalui rekannya. Alex hanya mengangguk dan mengatakan agar ia tidak dipaksa segera kembali bekerja jika belum merasa mampu.
Nindy melihat payung yang disandarkan di dekat kursi. Ada noda tanah pada salah satu sisinya. Pria ini bisa saja tetap berdiri di bawah payung dan membiarkan orang lain lebih dulu bergerak. Galih ada di dekatnya. Tim juga ramai.
Namun, tadi Alex yang bergerak pertama, dan sekarang justru ia yang harus duduk lebih lama.
Tidak ada tanduk yang tumbuh. Tidak ada asap dari kulitnya.
Nindy hampir mengumpat kepada pikirannya sendiri. Ia terlalu sering menonton cerita aneh sampai berharap menemukan jawaban dengan cara paling tidak masuk akal.
"Kenapa melihat saya seperti itu?" tanya Alex.
"Saya memastikan Bapak masih... baik-baik saja."
Nyaris. Ia hampir mengatakan masih manusia.
Alex menatapnya lama, membuat Nindy buru-buru membuka buku. Ia menyebut pekerjaan yang tertunda, lalu menanyakan apakah kunjungan perlu disingkat. Alex mengatakan mereka akan menyelesaikan pembicaraan di dalam saja.
Sebelum pulang, ia meminta penanggung jawab memastikan pekerja yang tadi hampir jatuh benar-benar dapat beristirahat. Tidak ada ucapan tentang memotong bayaran karena pekerjaan berhenti.
Nindy mendengar semuanya.
Dalam mobil, Galih membicarakan tindak lanjut produksi. Nindy ikut menjawab ketika diperlukan, tetapi pikirannya sesekali kembali pada satu gerakan cepat di halaman.
Alex duduk lebih diam daripada saat berangkat. Matanya terpejam, meskipun Nindy tidak yakin pria itu tidur.
"Pak Alex memang cepat kalau lihat orang hampir celaka," kata Galih pelan ketika mereka menunggu mobil melewati antrean kendaraan.
Nindy menoleh. "Sering?"
"Maksudku, dia gak banyak mikir kalau mau menolong."
Nindy mengangguk, lalu menatap payung hitam di dekat kakinya.
Sony meminta bukti bahwa Alex bukan manusia.
Sayangnya, hal yang paling jelas dilihat Nindy hari itu justru bagaimana pria tersebut menolong seorang manusia tanpa sempat memikirkan dirinya sendiri.
°°°°°