Kotak itu tidak besar, tetapi Alex menatapnya seolah benda tersebut dapat mengubah udara di seluruh ruangan.
Nindy berdiri dekat pintu bersama seorang perempuan berambut mulai memutih. Perempuan itu datang setelah membuat janji melalui kantor, memperkenalkan diri sebagai Laras, istri mendiang Refan. Nindy menjemputnya dari tempat menunggu dan membantu membawa kotak yang ada di tangannya.
"Saya menemukan beberapa barang Bapak yang sepertinya milik kantor," kata Laras.
Alex berdiri dari kursinya.
Tidak ada pertanyaan dingin tentang mengapa tamu datang pada jam sibuk. Ia mempersilakan Laras duduk, lalu meminta Nindy menyiapkan minuman.
Gadis itu segera bergerak. Ketika kembali, suasana masih tenang. Alex duduk di seberang Laras, sementara kotak sudah terbuka di atas meja kecil.
Di dalamnya ada buku catatan, sebuah tempat kartu, dan beberapa amplop yang telah dipisahkan. Laras menunjuk benda-benda itu sambil menjelaskan bahwa ia belum sempat membereskannya lebih awal.
"Tidak perlu terburu-buru," jawab Alex.
Nada suaranya membuat Nindy hampir salah meletakkan cangkir.
Jadi pria itu sebenarnya bisa bicara tanpa terdengar seperti sedang memeriksa kesalahan bawahannya?
Nindy segera memundurkan tubuh setelah minuman tersaji. Alex menahannya sebelum ia mencapai pintu.
"Tolong catat barang yang nanti perlu diserahkan ke administrasi. Yang pribadi tetap dikembalikan kepada Bu Laras."
"Baik, Pak."
Nindy mengambil buku dan duduk di kursi yang ditunjukkan. Ia tidak membuka amplop sendiri. Laras dan Alex memilah lebih dahulu, kemudian menyebut bagian yang perlu dicatat.
Beberapa isi kotak ternyata hanya barang kantor biasa. Tidak ada surat rahasia yang langsung menjelaskan kematian Refan. Tidak ada benda aneh yang dapat dipotret Nindy dan dikirimkan kepada Sony.
Hanya peninggalan seseorang yang selama bertahun-tahun datang bekerja, lalu suatu pagi tidak pernah pulang lagi.
"Dia masih sering cerita tentang Bapak di rumah," kata Laras sambil memegang buku catatan yang ternyata pribadi.
Alex menatap buku itu. "Mengeluh?"
Laras tertawa kecil. "Kadang. Kalau disuruh mencari barang yang sebenarnya ada di meja Bapak sendiri."
Nindy buru-buru menunduk. Bibirnya sudah terlanjur bergerak menahan senyum.
Alex melihatnya sekilas, tetapi tidak menegur.
"Beliau memang lebih ingat letak barang saya daripada saya sendiri," katanya.
"Bapak saya juga begitu," sahut Nindy tanpa berpikir.
Dua orang di depannya menoleh. Ia langsung membeku, merasa telah menyela percakapan yang tidak seharusnya.
Namun, Laras justru tersenyum. "Kalau begitu, kamu sudah latihan di rumah."
Nindy ikut tersenyum. Suasana yang semula terlalu hening menjadi sedikit lebih hangat.
Laras kemudian mengucapkan terima kasih atas bantuan setelah kematian suaminya. Ia tidak menyebut jumlah. Alex juga tidak mengulang apa yang telah diberikannya. Pria itu hanya menanyakan apakah ada urusan yang masih menyulitkan keluarga.
Nindy menulis judul daftar barang sambil mencoba tidak mendengarkan terlalu jauh. Pertemuan tersebut mendadak terasa berbeda dari kesempatan mengumpulkan informasi.
Ketika Laras bersiap pulang, Alex mengambil sebuah pulpen tua dari kotak. Ia memandangnya sebentar, lalu hendak mengembalikan.
"Simpan saja, Pak," kata Laras. "Dia punya beberapa di rumah. Yang ini sering dia bawa kalau mendampingi Bapak."
Alex diam cukup lama sebelum mengangguk.
Nindy mengantar Laras sampai tempat menunggu kendaraan. Perempuan itu memegang kembali buku catatan pribadi dan barang yang memang menjadi milik keluarganya.
"Kamu sekretaris barunya?" tanyanya.
"Iya, Bu. Baru belajar."
"Suami saya dulu juga belajar. Cuma kalau sudah lama, orang mengira kita langsung pandai sejak awal."
Nindy terkekeh. Laras menatapnya dengan ramah, lalu menambahkan bahwa Alex kadang lupa menjelaskan sesuatu karena mengira orang lain sudah mengetahui kebiasaannya.
"Kalau tidak tahu, tanya. Jangan takut terus sampai pekerjaannya salah."
Nindy mengangguk. Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi lebih berguna daripada sebagian kalimat panjang dalam daftar milik bosnya.
Setelah Laras pergi, Nindy kembali ke lantai tiga. Alex belum memanggilnya. Ia terlihat duduk dengan pulpen tua di tangan, tidak sedang membaca layar komputer.
Nindy mengetuk sebelum masuk menyerahkan daftar.
"Sudah saya pisahkan sesuai arahan tadi, Pak."
Alex menerima kertas, memeriksanya sebentar, lalu meletakkan di meja.
"Terima kasih."
Nindy hampir menoleh ke belakang untuk memastikan pria itu benar-benar berbicara kepadanya. Namun, wajah Alex membuatnya mengurungkan lelucon yang sempat muncul dalam kepala.
"Pak Refan pasti sangat mengenal Bapak," katanya hati-hati.
Alex melihat pulpen di tangannya. "Lebih daripada yang saya sadari."
Nindy tidak tahu harus menjawab apa. Untuk pertama kalinya, wajah dingin pria itu tampak seperti sesuatu yang dipertahankan agar perasaan lain tidak terlalu terlihat.
Ia teringat kehilangan kakeknya dari kehidupan sehari-hari ketika mereka tidak lagi tinggal berdekatan. Terbayang cerita tentang iblis di teras, suara yang membuatnya mengantuk, dan keyakinan sederhana bahwa tidak semua makhluk yang ditakuti orang adalah jahat.
Kenangan itu tidak membuktikan siapa Alex. Tetapi cukup membuat pertanyaan berikutnya terasa kejam jika diucapkan hanya demi Sony.
Nindy akhirnya memilih membicarakan jadwal.
"Ada dua berkas yang belum mendesak. Bisa saya letakkan untuk besok?"
Alex mengangguk. "Yang satu jangan lupa diperiksa lagi angkanya."
"Siap."
Ketika keluar, Nindy menatap daftar tugasnya. Ia masih membutuhkan pekerjaan ini. Keluarganya masih membutuhkan uang. Sony masih menunggu sesuatu yang dapat dipakai untuk menjatuhkan pria di dalam ruangan itu.
Semua kenyataan tersebut belum berubah.
Yang berubah hanyalah perasaan Nindy ketika membayangkan dirinya berhasil.
°°°°°
Di dalam ruangannya, Alex memutar pulpen tua di antara jari. Bagian luarnya sudah sedikit terkelupas. Refan pernah menolak menggantinya karena, menurut lelaki itu, pulpen yang masih bisa menulis tidak mempunyai alasan untuk pensiun lebih awal.
Alex sempat menertawakan kebiasaan tersebut.
Sekarang ia justru tidak ingin meletakkannya terlalu jauh.
Ruangannya sudah kembali tenang, tetapi ada bagian dari kedatangan Laras yang masih tertinggal. Cara perempuan itu menyebut suaminya. Cara ia berhenti sebelum mengatakan bahwa barang-barang tersebut ditemukan dalam tas yang biasa dibawa bekerja.
Manusia menyimpan begitu banyak kehidupan di dalam benda kecil. Alex telah melihatnya berkali-kali, tetapi tetap tidak menemukan cara agar perpisahan berikutnya terasa lebih mudah.
Ia mendongak ketika terdengar suara dari meja di luar. Nindy sedang berbicara melalui telepon kantor, menjelaskan bahwa berkas tertentu harus diperbaiki sebelum dikembalikan. Suaranya terdengar jauh lebih mantap daripada pada hari pertama bekerja.
Gadis itu belajar cepat, meskipun wajahnya hampir selalu menunjukkan keluhan yang gagal ditelan sepenuhnya.
Alex meletakkan pulpen Refan dalam laci yang dapat dijangkaunya. Ia tidak akan menyuruh Nindy menggunakan benda itu. Gadis tersebut mempunyai cara kerja sendiri, dan untuk pertama kalinya ia mempertimbangkan apakah terlalu banyak kebiasaan lamanya yang dipaksakan kepada orang baru.
Pikirannya berhenti ketika Nindy tiba-tiba bersin cukup keras di luar.
Alex menatap kaca. Gadis itu sedang mengipas hidung dengan selembar kertas, lalu memasang wajah seolah tidak terjadi apa-apa ketika menyadari dirinya diperhatikan.
Sudut bibir Alex terangkat sedikit.
Ruangan ini memang tidak lagi sama. Ia belum tahu apakah dirinya sudah siap menerima perubahan tersebut.
°°°°°