"Kamu belum boleh gagal sekarang, Nin."
Nindy mengucapkan kalimat itu sambil menatap pesan Sony yang belum dibalas. Pria tersebut menanyakan perkembangan, seolah satu malam setelah pertemuan dengan Laras sudah cukup untuk mengubah semua ketidaktahuan Nindy menjadi bukti.
Gadis itu mengetik bahwa ia masih mengamati, lalu menghapus bagian penjelasan yang terlalu panjang. Ia belum mempunyai sesuatu yang dapat dipastikan. Itu bukan kebohongan.
Belum.
Telepon meja berdering, membuat Nindy hampir menjatuhkan ponselnya. Ia menarik napas sebelum mengangkat.
"Ya, Pak?"
"Masuk sebentar. Bawa berkas yang tadi."
Nindy menyimpan ponsel dalam tas dan mengambil map. Hari sudah menjelang sore. Sebagian rapat selesai, dan Alex hendak memeriksa satu persetujuan sebelum jadwalnya berakhir.
Di dalam, pria itu menunjuk kursi agar Nindy duduk. Mereka membahas bagian yang masih memerlukan penyesuaian. Nindy menulis, sesekali meminta Alex mengulang karena bicaranya terlalu cepat.
"Tangan saya gak bisa lari seperti kaki saya, Pak."
Alex mendongak. "Kalau begitu, singkat catatannya."
"Kalau terlalu singkat, besok saya sendiri gak paham."
Untuk sesaat, sudut bibir Alex bergerak. Nindy tidak yakin itu senyum atau gerakan otot yang kebetulan salah tempat.
Ia kembali menulis sebelum kesempatan tersebut hilang.
Setelah pembicaraan selesai, Nindy berdiri untuk merapikan beberapa lembar. Ujung map menyenggol gelas di sisi meja yang sebelumnya luput dari perhatiannya. Gelas itu bergeser, mengenai tepi, lalu jatuh sebelum ia sempat menangkapnya.
Prang!
Nindy terlonjak.
"Maaf, Pak! Saya gak sengaja."
Ia spontan membungkuk, hendak mengambil pecahan besar agar tidak terinjak. Sebuah suara menyuruhnya berhenti, tetapi terlambat. Ujung tajam sudah menggores sisi telapak tangannya.
"Aw!"
Nindy menarik tangan. Darah muncul pada luka yang tidak besar, tetapi cukup membuatnya terkejut dan kesal kepada dirinya sendiri.
Alex sudah berada di dekatnya.
"Saya bilang jangan dipegang."
"Iya, saya dengar setelah kena."
Kalimat itu keluar sebelum sempat disaring. Alex menatapnya, lalu menghela napas dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Ia mengarahkan Nindy menjauh dari pecahan dan memberikan tisu agar darah tidak menetes ke mana-mana. Nindy duduk kembali dengan pipi panas. Ia sudah bersiap mendengar ceramah panjang tentang sekretaris ceroboh.
Namun, Alex hanya menatap tangannya.
"Boleh saya lihat?"
Nindy mengangguk dan membuka telapak sedikit. Luka itu terlihat jelas ketika tisu diangkat. Alex memeriksanya dengan wajah lebih serius daripada saat melihat angka dalam berkas.
Lalu dua jarinya menyentuh dekat sisi tangan Nindy.
Hangat.
Nindy sempat mengira kehangatan itu berasal dari kulit pria tersebut. Namun, sedetik kemudian ada cahaya tipis di antara jari mereka. Begitu redup hingga mungkin terlewat jika ia tidak sedang memandang tepat ke sana.
Gadis itu berhenti bernapas.
Garis luka pada telapaknya merapat.
Bukan perlahan seperti luka yang menunggu berhari-hari. Bukan pula hilang karena ditutupi tangan Alex. Nindy melihatnya sendiri: bagian yang tadi terbuka kini menutup, meninggalkan jejak darah pada kulit yang tidak lagi terluka.
Alex menarik tangannya terlalu cepat.
"Pak..."
Nindy memandang telapak sendiri, kemudian wajahnya. Semua komentar lucu yang biasanya selalu tersedia mendadak lenyap. Tidak ada satu pun kalimat yang terasa cukup untuk sesuatu yang baru dilihatnya.
Pria itu menahan tepi meja. Jari-jarinya bergetar sebentar sebelum digenggam.
Nindy melihat gerakan itu juga.
"Barusan... apa?"
Alex tidak segera menjawab. Ia menatap pintu yang masih tertutup, lalu kembali memandang Nindy. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak hanya dingin. Ada kewaspadaan yang membuat ruangan terasa berbeda.
Nindy teringat dasar jurang.
Kakinya yang tidak jadi menghantam tanah. Seorang pria yang menggendongnya turun melalui udara. Senyum singkat sebelum sosok itu menjauh. Selama bertahun-tahun ia menganggap ingatan tersebut terlalu aneh untuk diceritakan tanpa dianggap berkhayal.
Tetapi wajah dalam ingatan itu tidak cukup jelas untuk langsung disamakan dengan pria di hadapannya.
"Tangan kamu masih sakit?" tanya Alex akhirnya.
Nindy menggeleng dengan gerakan kaku.
"Kalau begitu, duduk dulu. Jangan berdiri dekat pecahan."
Ia menelepon untuk meminta bantuan membersihkan gelas. Suaranya kembali terdengar biasa, seolah yang terjadi barusan hanya kecelakaan kecil akibat sekretaris kurang hati-hati.
Nindy masih menatap tangan sendiri ketika pintu diketuk. Ia menurunkannya ke pangkuan, lalu mundur agar petugas dapat bekerja. Tidak ada yang bertanya mengapa wajahnya pucat. Orang-orang mengira ia hanya terkejut setelah menjatuhkan gelas.
Beberapa menit kemudian, ia sudah berada di mejanya.
Galih kebetulan melewati koridor sambil membawa berkas. Ia berhenti ketika melihat Nindy duduk terlalu tegak, seperti seseorang yang baru dimarahi tetapi masih berusaha menjaga harga diri.
"Kamu kenapa?"
Nindy mendongak. Untuk sesaat ia hampir menunjukkan telapak tangannya. Galih ramah. Galih mengenal Alex. Mungkin cowok itu akan menjelaskan bahwa ada sesuatu yang wajar dan ia hanya terlalu terkejut untuk memahaminya.
Namun, ia teringat jawaban Galih tentang kecelakaan Refan: kalau tidak tahu pasti, ia tidak berpura-pura tahu.
Nindy sendiri baru mempunyai pengalaman beberapa detik yang belum dipahaminya. Ia belum sanggup mengubahnya menjadi cerita yang harus ditanggapi orang lain.
"Aku menjatuhkan gelas," katanya akhirnya.
Galih melihat ke arah ruangan Alex. "Dimarahi?"
"Enggak."
"Terus kenapa mukamu seperti habis melihat hantu?"
Pertanyaan itu membuat Nindy tersedak ludahnya sendiri. Galih segera meminta maaf sambil menunjuk botol minum di meja. Ia menunggu sampai Nindy menggeleng, mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Kalau butuh bantuan, bilang saja."
Nindy mengangguk dan memaksakan senyum. Galih melanjutkan langkah, meninggalkannya bersama ruangan yang terasa terlalu terang untuk menyimpan rahasia sebesar ini.
Ia membuka telapak lagi di bawah meja. Tidak ada luka. Bekas darah yang tadi sudah dibersihkan tidak meninggalkan apa pun untuk diperlihatkan.
Kalau ia menceritakannya sekarang, orang lain mungkin mengira ia panik lalu salah melihat. Tetapi Alex juga melihat. Alex yang melakukannya.
Nindy menelan ludah. Pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi apakah ia mengarang semua ini, melainkan mengapa pria itu bersedia memperlihatkannya demi sebuah luka kecil.
Ponsel bergetar dari dalam tas.
Sony Ferdinan: Ada hal aneh yang kamu lihat hari ini?
Nindy membaca kalimat itu sampai hurufnya terasa kabur. Ia baru saja melihat sesuatu yang seharusnya menjadi keberhasilan pertama dalam pekerjaannya yang tersembunyi.
Namun, ia juga melihat tangan Alex gemetar setelah menolongnya.
Tidak ada foto. Tidak ada rekaman. Hanya telapak yang bersih, tisu bernoda darah, dan ingatan yang kini tidak mau diam.
Jari Nindy bergerak di atas layar.
Nindy: Belum ada bukti yang bisa saya kirim, Pak.
Ia mengirim pesan itu, kemudian meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja.
Dari balik kaca, Alex sedang menatapnya.
Nindy membalas tatapan itu untuk beberapa detik, lalu perlahan menyembunyikan tangannya di bawah meja. Ia belum tahu pria itu sebenarnya siapa. Ia juga belum tahu apakah lelaki yang menyelamatkannya dahulu mempunyai hubungan dengan kejadian sore ini.
Satu hal yang diketahuinya: sekarang ia mempunyai sesuatu untuk dilaporkan.
Dan untuk pertama kalinya, ia memilih tidak menceritakannya.
°°°°°