"Selamat dini hari, Pak Alex. Selamat bangun tidur. Jangan tidur lagi karena..."
Nindy berhenti.
Ia menatap telapak tangannya sendiri di bawah lampu kamar. Sejak semalam, tangan itu sudah dibolak-balik, dibersihkan, bahkan didekatkan ke cermin. Tidak ada luka. Yang tersisa hanya rasa bingung yang justru bertambah setiap kali ia mencoba melupakan kejadian tersebut.
"Karena apa?"
Suara Alex membuat Nindy menegakkan punggung.
"Karena saya gak akan membangunkan Bapak dua kali."
"Saya sudah bangun."
"Iya. Bagus, Pak."
Hening. Biasanya pada bagian ini Nindy sudah menutup sambungan dengan lega, lalu merencanakan bagaimana membuat tubuhnya tidak kembali tertidur. Pagi itu ia justru tetap menempelkan telepon di telinga.
"Ada lagi?" tanya Alex.
Nindy membuka mulut, kemudian menutupnya kembali. Bagaimana cara bertanya kepada seseorang apakah ia benar-benar manusia sebelum matahari terbit?
"Enggak. Sampai bertemu di kantor, Pak."
Ia menutup sambungan dan menjatuhkan tubuh ke kasur.
"Payah banget lo, Nin!"
Dari balik tirai terdengar suara Nandiro yang masih mengantuk, menyuruhnya berhenti mengadakan rapat dengan diri sendiri. Nindy melempar pandangan kesal ke arah pintu, lalu bangkit sebelum adiknya benar-benar datang mengganggu.
°°°°°
Alex memanggilnya sesudah kopi pagi diletakkan. Nindy berdiri di depan meja dengan kedua tangan di belakang punggung. Ia tidak tahu mengapa merasa seperti murid yang ketahuan menyimpan contekan, padahal justru bosnya yang seharusnya menjelaskan sesuatu.
"Tangan kamu bagaimana?"
Nindy mengeluarkan telapak kanannya. "Seperti tangan, Pak."
Alex mengangkat alis.
"Maksud saya, sudah baik. Gak ada lukanya."
"Bagus."
Pria itu hendak kembali melihat berkas, membuat Nindy spontan maju setengah langkah.
"Pak, tunggu."
Alex berhenti.
"Bapak gak bisa bilang bagus lalu selesai begitu saja."
Kalimatnya terdengar lebih berani daripada yang direncanakan. Nindy sempat ingin menariknya kembali, tetapi pertanyaan itu sudah terlalu lama berputar sejak sore kemarin.
"Saya melihatnya. Luka saya menutup. Ada cahaya juga. Itu bukan karena saya pusing, kan?"
Alex meletakkan berkas perlahan. Ia memandang pintu, lalu menunjuk kursi.
"Duduk."
Nindy menurut, tetapi ujung kakinya tetap mengarah ke pintu. Kebiasaan yang ternyata muncul sendiri ketika ia takut.
Alex melihatnya. Namun, pria itu tidak bangkit untuk menutup jalan atau mendekat. Ia tetap duduk di seberang meja.
"Kamu tidak salah lihat," katanya.
Jantung Nindy berdegup lebih keras.
Pengakuan sederhana tersebut justru lebih menakutkan daripada seratus alasan yang mungkin terdengar tidak masuk akal. Kalau tidak salah lihat, berarti sesuatu yang mustahil benar-benar telah terjadi.
"Jadi Bapak..."
"Saya bisa melakukan hal yang kamu lihat kemarin."
"Saya tahu. Pertanyaan saya bukan cuma itu."
Alex mengusap tepi meja dengan ibu jarinya. Gerakannya kecil, tetapi membuat Nindy sadar bahwa pria tersebut juga tidak setenang wajahnya.
"Tidak semua hal mudah dijelaskan dalam lima menit sebelum rapat."
"Lalu kapan?"
Pria itu menatapnya. Nindy menelan ludah, tetapi kali ini tidak menunduk.
"Saya akan memberi penjelasan," kata Alex akhirnya. "Namun, saya perlu tahu dulu. Apa kamu sudah menceritakan kejadian itu kepada orang lain?"
Nindy terdiam terlalu lama.
Sony. Pesan. Uang. Seluruhnya berdesakan di kepala, meskipun pertanyaan Alex hanya mengenai kejadian penyembuhan.
"Belum," jawabnya. Jawaban itu benar. "Saya belum cerita tentang tangan saya kepada siapa pun."
Alex mengangguk pelan. Ia meminta Nindy menjaga hal tersebut sementara mereka belum membicarakannya dengan jelas.
"Bapak mengancam saya?"
Alis Alex terangkat. "Saya meminta. Kalau mengancam, kalimat saya tidak seperti itu."
Nindy langsung menegang.
Alex mengembuskan napas, menyadari ucapannya sama sekali tidak membantu. "Saya tidak akan menyakiti kamu karena bertanya."
Nindy mengamati wajahnya. Masih ada rasa takut, tetapi tidak sama dengan ketakutan yang dibayangkannya ketika pertama kali menerima tawaran Sony. Di depannya tidak ada makhluk yang sedang menunggu kesempatan memangsanya.
Yang ada justru pria menyebalkan yang kelihatan kesulitan menjelaskan dirinya sendiri.
Telepon di meja Alex berdering. Jadwal rapat tidak ikut berhenti hanya karena sekretarisnya baru menemukan sesuatu yang mustahil. Alex mengangkat sebentar, memastikan waktu, lalu menutup sambungan.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini," katanya. "Bukan di tengah orang keluar masuk membawa berkas."
Nindy mengangguk enggan. Ia tidak puas, tetapi setidaknya satu hal telah dipastikan: dirinya tidak sedang mengarang kejadian kemarin.
Ketika berdiri, ia teringat getaran pada tangan Alex sesudah luka itu tertutup.
"Bapak sendiri baik-baik saja?"
Alex tampak terkejut oleh pertanyaan tersebut.
"Kenapa?"
"Kemarin tangan Bapak gemetar."
Untuk beberapa detik, pria itu hanya memandangnya. Kemudian ia menarik kedua tangannya lebih dekat ke tubuh.
"Saya masih bisa bekerja."
Itu bukan jawaban yang sama. Nindy mengenalinya karena ia sendiri sering mengatakan hal serupa kepada keluarganya ketika terlalu lelah.
Ia tidak mendesak lagi. Sebelum keluar, gadis itu memastikan bagian meja yang kemarin terkena pecahan sudah bersih, lalu mengambil map yang perlu disiapkan.
"Oh, Pak."
Alex mendongak sekali lagi.
"Terima kasih. Untuk tangan saya. Saya belum sempat bilang."
Nindy keluar sebelum wajahnya terasa semakin panas. Di balik meja, Alex tetap diam, memandang pintu beberapa saat setelah gadis itu pergi.
Ia baru bergerak ketika layar komputernya meredup. Di sudut meja, cangkir kopi masih mengeluarkan uap tipis. Alex mengulurkan tangan seperti biasa, lalu berhenti ketika merasakan kekakuan pada jari-jarinya.
Rasa lelah itu belum sepenuhnya hilang.
Ia memindahkan cangkir dengan tangan lain dan merutuki dirinya sendiri dalam hati. Menyembuhkan luka kecil seharusnya tidak membuatnya harus memikirkan cara memegang minuman keesokan pagi. Dahulu hal seperti itu bahkan tidak perlu diperhitungkan.
Alex menatap telapaknya lama. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa Nindy memperhatikan getaran tersebut. Bukan semata-mata karena gadis itu bisa menjadi takut, melainkan karena kini ada orang lain yang melihat sesuatu yang selama ini ingin diabaikannya.
Teleponnya berbunyi lagi. Kali ini pengingat jadwal, bukan panggilan manusia yang membutuhkan jawaban. Ia mematikannya, membuka berkas, lalu mencoba memusatkan pikiran.
Dari luar terdengar Nindy berbicara kepada seseorang yang menyerahkan dokumen. Gadis itu meminta satu bagian dilengkapi sebelum diteruskan, kemudian mengucapkan terima kasih dengan suara yang lebih mantap daripada sebelumnya.
Ia masih bekerja.
Tidak berlari keluar gedung. Tidak berteriak memanggil orang untuk melihat sesuatu yang dianggapnya menakutkan. Meskipun Alex tadi melihat jelas bagaimana ujung kaki gadis itu terus mengarah ke pintu.
Pria itu meletakkan cangkirnya kembali. Ia tahu sikap diam Nindy belum tentu berarti menerima. Ketakutan manusia dapat berubah setelah mereka sempat berpikir atau mendengar pendapat orang lain.
Namun, ada satu bagian percakapan yang terus kembali mengganggu konsentrasinya: gadis itu sempat menanyakan keadaannya, bukan hanya nasib tangannya sendiri.
Alex mengembuskan napas, lalu memaksa matanya kembali pada tulisan di hadapan.
Ia sudah menyiapkan diri menghadapi ketakutan.
Ternyata ia belum menyiapkan diri menghadapi ucapan terima kasih.
°°°°°