Sony tidak terlihat senang ketika Nindy mengatakan bahwa kebiasaan Alex belum cukup untuk membuktikan apa pun. Pertemuan kali ini berlangsung singkat di ruang kerjanya setelah Nindy menyelesaikan urusan yang memang membawanya ke lantai sepuluh.
"Kamu terlalu berhati-hati," katanya.
Nindy menggenggam buku catatan di depan tubuh. "Saya memang harus hati-hati, Pak. Bapak sendiri yang bilang jangan sampai ketahuan."
Sony menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Benar. Tapi hati-hati tidak sama dengan tidak bergerak."
Ia menanyakan dokumen lama, foto-foto, atau informasi tentang riwayat kerja Alex yang mungkin ditemukan Nindy selama menjalankan tugas. Gadis itu mendengarkan sambil merasakan tenggorokannya mengering.
"Saya cuma bisa melihat berkas yang memang diberikan untuk pekerjaan saya."
"Kamu sekretarisnya. Seharusnya cukup dekat untuk mengetahui lebih banyak daripada orang lain."
Nindy ingin mengatakan bahwa dekat dengan meja seseorang tidak berarti mendapat hak membuka seluruh hidupnya. Namun, kalimat itu tertahan oleh ingatan tentang transfer yang sudah diterimanya.
Sony kemudian mengingatkan bahwa pembayaran berikutnya dijanjikan setelah ia bekerja satu bulan. Waktunya belum tiba. Janji tersebut tetap ada, tetapi ia ingin melihat kemajuan yang lebih jelas.
"Saya tidak meminta kamu mengarang bukti," katanya. "Saya meminta kamu menemukannya."
Nindy mengangguk. Anehnya, ia justru merasa lebih terpojok oleh kalimat yang terdengar masuk akal itu.
Ia sudah menemukan sesuatu. Hanya saja, sesuatu tersebut berupa bantuan yang diterimanya sendiri.
Saat kembali ke lantai tiga, Nindy berhenti di dekat jendela koridor. Jakarta terlihat sibuk jauh di bawah sana. Dulu bekerja di gedung seperti ini adalah impian yang rasanya terlalu tinggi untuk dicapai. Kini ia berada di dalamnya dan berharap ada tempat yang tidak membuatnya harus memilih kebohongan setiap beberapa jam.
"Nin?"
Galih berdiri tidak jauh darinya, membawa beberapa lembar hasil revisi. Nindy segera memasang senyum.
"Kenapa?"
"Aku yang seharusnya tanya. Kamu berdiri seperti sedang menghitung gedung buat dibeli."
Nindy tertawa pendek. "Kalau pakai saldo sekarang, mungkin dapat satu kesetnya."
Galih ikut tertawa. Ia menunjukkan berkas yang perlu diteruskan kepada Alex, lalu bertanya apakah Nindy sudah makan. Gadis itu baru menyadari perutnya kosong sejak pagi.
Mereka akhirnya makan di tempat yang biasa dipakai pegawai saat istirahat. Nindy memilih menu yang paling mudah dihitung dalam anggaran mingguannya. Galih tidak mengomentari pilihan tersebut atau memaksanya menerima makanan lain.
Hal kecil itu membuatnya lebih nyaman.
"Aku boleh tanya sesuatu?" kata Nindy setelah beberapa suap.
"Boleh. Kalau soal desain, mungkin bisa. Kalau soal kenapa printer selalu rusak waktu dibutuhkan, aku menyerah."
Nindy tersenyum, kemudian bertanya bagaimana biasanya orang kantor mendapatkan bahan sejarah perusahaan untuk kebutuhan pekerjaan. Ia sengaja tidak menyebut nama Alex atau permintaan Sony.
Galih menjelaskan bahwa materi resmi dapat diminta sesuai keperluan. Sebagian foto acara ada pada dokumentasi yang memang digunakan perusahaan. Untuk berkas pribadi, ia tidak mengurusnya.
"Kamu diminta menyiapkan materi?" tanyanya.
Nindy menunduk pada piring. "Aku cuma ingin tahu alurnya. Masih banyak yang belum kupahami."
Galih mengangguk. "Kalau bingung soal akses, tanyakan dulu. Jangan sampai kamu malah dimarahi karena mengambil bahan yang bukan untuk pekerjaanmu."
Nindy menelan makanannya dengan susah payah. Nasihat ramah itu terasa seperti pintu yang ditutup sebelum ia nekat berjalan melewatinya.
"Iya. Makasih."
Percakapan beralih kepada hal lain. Galih bercerita tentang timnya yang memperdebatkan pilihan warna terlalu lama, lalu akhirnya memilih warna pertama. Nindy tertawa lebih lepas. Untuk beberapa menit ia hampir merasa menjadi pegawai biasa yang sedang makan bersama teman.
Hampir.
°°°°°
Malamnya, Nandiro memperlihatkan kabar tentang pekerjaan akhir pekan yang ditemukannya melalui seorang teman kampus. Bukan tawaran besar. Hanya kesempatan membantu sebuah kegiatan dengan upah harian jika jadwalnya cocok.
Nindy membaca dengan alis terangkat.
"Lo yakin gak mengganggu kuliah?"
"Makanya gue lihat jadwal dulu. Belum langsung gue ambil."
"Bagus. Jangan gampang percaya juga. Tanyakan pekerjaannya jelas atau enggak."
Setelah kalimat itu keluar, Nindy mendadak terdiam. Nasihat yang sangat bagus dari seseorang yang sudah menerima uang untuk memata-matai atasannya sendiri.
Nandiro tidak menyadari perubahan wajahnya.
"Gue cuma mau punya uang buat kebutuhan sendiri," katanya. "Biar gak sedikit-sedikit telepon lo."
Nindy meletakkan ponsel adiknya di meja. Ada kelegaan yang tidak langsung menghapus semua kekesalan, tetapi cukup membuat nada suaranya melunak.
"Coba cari tahu baik-baik. Kalau jelas dan jadwalnya cocok, gak apa-apa."
Nandiro mengangguk. Ia lalu menanyakan apakah pekerjaan baru Nindy menyenangkan.
Gadis itu memandang tas yang diletakkan di sudut ruang tamu. Di dalamnya ada catatan pekerjaan, telepon, dan rahasia yang rasanya semakin berat meskipun tidak mempunyai bentuk.
"Kadang," jawabnya.
"Bos lo masih galak?"
"Masih. Itu sepertinya penyakit bawaan."
Nandiro tertawa. Nindy ikut tersenyum, tetapi pikirannya kembali kepada telapak tangan yang sudah sembuh.
Mungkin yang tidak beres dalam pekerjaan ini bukan hanya bosnya.
Mungkin juga alasan ia bertahan di sana.
Roy pulang tidak lama setelah mereka selesai berbicara. Ia membawa kantong kecil berisi makanan yang dibeli dalam perjalanan. Nandiro segera menutup bukunya untuk membantu mengambil piring, sedangkan Nindy menyisihkan barang dari meja yang sempit.
Ayahnya terlihat letih. Ada bekas lipatan pada kemeja dan gerakan pelan ketika ia duduk. Nindy hampir menanyakan apakah uang mereka masih kurang, tetapi Roy lebih dahulu bercerita tentang pekerjaannya hari itu.
Ia masih harus membiasakan diri menerima arahan dari orang yang dahulu mungkin pernah datang kepadanya untuk meminta keputusan.
"Papa malu?" tanya Nindy hati-hati.
Roy tersenyum tipis. "Kadang gengsinya muncul. Tapi pekerjaan itu tetap pekerjaan. Kalau Papa terus sibuk marah karena jabatan, pekerjaannya tidak selesai."
Nindy menunduk. Ia tahu ayahnya belum mempunyai jawaban untuk seluruh kesulitan keluarga mereka. Namun, melihatnya mengakui perasaan yang tidak menyenangkan tanpa menyalahkan orang lain membuat sesuatu di dada Nindy bergerak.
"Pa, kalau ada orang bantu kita, berarti kita harus selalu menuruti dia?"
Roy menatapnya. Ratih yang sedang merapikan makanan juga berhenti sebentar.
"Bantuan apa dulu?" tanya ayahnya.
Nindy cepat menggeleng. "Cuma kepikiran. Di kantor banyak orang yang membantu saya belajar."
Roy mengangguk, meskipun sorot matanya masih menyimpan pertanyaan. "Berterima kasih itu perlu. Tapi kalau diminta melakukan sesuatu yang tidak benar, tetap harus dipikirkan. Jangan takut bertanya hanya karena sudah dibantu."
Nindy tersenyum kecil. Ia mengambil piring agar tidak perlu terlalu lama menatap ayahnya.
Penjelasan itu terdengar mudah di meja makan. Bagian sulitnya adalah mengatakan bahwa uang yang dimaksud bukan sekadar bantuan belajar, dan orang yang memberikannya sedang menunggu hasil yang mungkin tidak sanggup lagi ia serahkan.
Ia belum mengatakan itu malam tersebut. Tetapi pertanyaan ayahnya ikut tinggal di kepala setelah lampu rumah mulai dipadamkan.
°°°°°