Isabela datang ketika Nindy sedang mencoba menyusun ulang jadwal yang berubah mendadak. Wanita itu mengenakan pakaian yang terlihat sederhana, tetapi Nindy yakin harganya cukup untuk membuatnya tidak makan selama beberapa minggu.
"Alex ada?"
Nindy segera berdiri. "Ada, Bu. Tapi sedang menerima panggilan. Saya tanyakan sebentar."
Isabela melihat pintu ruangan yang tertutup, lalu menatap Nindy lagi. "Saya bisa menunggu di dalam."
"Saya tetap perlu memberi tahu dulu, Bu."
Kalimat itu membuat tenggorokan Nindy terasa kering. Menghalangi putri pemilik perusahaan tidak termasuk kegiatan yang ia bayangkan akan dilakukan untuk mempertahankan pekerjaannya.
Isabela menyilangkan tangan. "Kamu baru kerja di sini, kan?"
"Iya. Justru karena masih baru, saya takut salah."
Nindy tersenyum dengan wajah yang sudah mulai pegal. Isabela menatapnya beberapa detik, kemudian mendengus pelan dan duduk di kursi dekat meja.
Selamat. Nindy belum berubah menjadi pengangguran.
Ia menghubungi Alex, menyampaikan kedatangan Isabela, lalu menerima jawaban bahwa tamunya bisa masuk setelah panggilan selesai. Nindy menyampaikan hal tersebut tanpa menambah atau mengurangi satu kata pun yang penting.
Isabela melirik jam tangan.
"Dia masih bisa bekerja sampai lupa waktu, ya."
Nindy tidak tahu apakah perlu menjawab. Ia memilih mengangguk secukupnya.
"Dari saya kecil juga begitu," sambung Isabela. "Kalau saya datang ke kantor Papa, dia paling susah diajak bicara kalau sedang memegang berkas."
Pulpen Nindy berhenti.
Sejak Isabela kecil?
Wanita di depannya tampak sudah berada pada akhir usia dua puluhan. Kalau Alex sudah bekerja ketika ia masih kecil, usia pria itu seharusnya tidak seperti yang terlihat sekarang.
Keterangan Galih tentang Refan kembali terlintas.
"Bapak sudah lama sekali kenal keluarga Ibu?" tanya Nindy, berusaha terdengar biasa.
Isabela mengangkat dagu sedikit. "Tentu. Alex bukan orang asing untuk keluarga kami."
Jawaban itu disertai tatapan yang membuat Nindy merasa sedang diberi garis pembatas yang tidak terlihat.
"Oh."
"Kenapa?"
"Saya cuma baru tahu, Bu."
Isabela kembali melihat pintu. Nindy menahan diri agar tidak menanyakan usia Alex secara langsung. Ia sudah cukup sering melakukannya kepada Galih. Jika semua orang mulai membandingkan pertanyaannya, penyamaran buruknya mungkin akan selesai sebelum akhir bulan.
Ketika pintu terbuka, Alex mempersilakan Isabela masuk. Wanita itu berdiri dengan senyum yang langsung berubah lebih cerah. Sebelum mengikuti Alex, ia menoleh kepada Nindy.
"Kopinya seperti waktu itu saja."
"Baik, Bu."
Nindy menuju pantry sambil menghela napas panjang. Ia baru saja mendapat petunjuk tanpa perlu membuka dokumen apa pun. Sony pasti akan tertarik.
Sayangnya, sekarang setiap kali nama pria itu muncul dalam pikiran, rasa senangnya justru menghilang.
°°°°°
Saat membawa kopi, Nindy mendengar sebagian percakapan mengenai acara perusahaan yang akan datang. Isabela meminta Alex hadir bersama ayahnya. Alex menanyakan jadwal lengkap sebelum menjawab.
"Kamu selalu seperti ini," keluh Isabela. "Susah sekali meminta waktumu."
"Kalau tanggalnya belum jelas, saya tidak bisa menjawab."
Nindy menaruh cangkir dengan hati-hati. Ia tidak ingin mengulangi kejadian gelas pecah, apalagi di depan Isabela. Tangan kanannya tanpa sadar disembunyikan sedikit setelah nampan kosong.
Alex melihat gerakan itu.
Mata mereka bertemu sebentar. Cukup untuk membuat Nindy kembali memikirkan janji penjelasan yang belum dipenuhi.
"Nindy, nanti masukkan jadwalnya setelah Bu Isabela mengirimkan rincian," kata Alex.
"Baik, Pak."
Isabela mendongak. "Kalau jadwal makan malam minggu ini?"
Nindy kebingungan. Ia tidak mengetahui janji makan malam yang dimaksud. Namun, Alex segera menjawab bahwa belum ada kesepakatan untuk itu.
"Saya bilang akan melihat waktu, bukan menyetujui harinya."
Wajah Isabela mengeras sedikit. Nindy memegang nampan lebih erat, ingin segera keluar sebelum menjadi bagian dari percakapan yang jelas tidak membutuhkan sekretaris sebagai penonton.
Beruntung Alex mempersilakannya pergi.
Di meja, Nindy mencoba menyelesaikan catatan. Namun, suara Isabela yang menyebut masa kecilnya terus kembali. Begitu juga cerita kakeknya tentang makhluk yang hidup sangat lama dan berbaur dengan manusia.
Apakah semuanya memang berhubungan?
Atau ia sedang memaksa setiap hal masuk ke dalam tuduhan Sony?
Tidak lama kemudian Andromeda datang. Nindy berdiri untuk menyapa. Lelaki tua itu menanyakan apakah ia sudah lebih terbiasa bekerja bersama Alex.
"Masih belajar, Pak."
"Bagus. Alex kadang lupa bahwa orang lain tidak langsung mengetahui semua yang dipikirkannya."
Nindy tersenyum. Kalimat tersebut terdengar sangat mirip dengan perkataan Laras.
Sebelum masuk, Andromeda melihat daftar kunjungan produksi yang masih berada di meja. Ia menanyakan apakah perjalanan sebelumnya berjalan lancar. Nindy menjawab bahwa kegiatan selesai meskipun sempat dihentikan untuk merapikan area setelah angin kencang.
"Alex baik-baik saja setelah pulang?" tanyanya kemudian.
Pertanyaan itu membuat Nindy menatapnya lebih saksama.
"Beliau sempat istirahat, Pak."
Andromeda mengangguk. "Baik."
Tidak ada penjelasan tambahan. Lelaki itu masuk, dan pintu kembali tertutup. Nindy ditinggalkan dengan satu pertanyaan baru yang sesungguhnya berasal dari pertanyaan lama.
Seberapa banyak Andromeda mengetahui orang yang selama ini dipercayainya memimpin perusahaan?
Gadis itu menulis sesuatu di buku catatan pribadinya, lalu segera menutupnya ketika mendengar langkah orang mendekat.
Alex sudah dikenal sejak Isabela kecil. Andromeda menanyakan keadaan Alex setelah kegiatan di luar.
Di bawah dua kalimat itu, Nindy menambahkan satu pengingat untuk dirinya sendiri.
Jangan menyamakan dugaan dengan jawaban.
Isabela keluar lebih dahulu beberapa waktu kemudian. Andromeda masih berbicara dengan Alex di dalam. Nindy segera menutup buku pribadinya dan kembali melihat jadwal kerja yang terbuka pada layar.
Wanita itu berhenti di depan meja.
"Tadi saya sudah mengirim rincian acara."
Nindy memeriksa pesan yang masuk melalui jalur yang digunakan untuk pekerjaan. Ia membaca tanggal dan waktu, mencocokkannya dengan jadwal Alex, lalu menjelaskan bahwa ada satu urusan yang waktunya berdekatan. Kehadiran perlu dipastikan oleh Alex setelah melihat susunannya.
"Kamu tidak bisa menggeser yang lain?"
"Saya bisa mengajukan pilihan, Bu. Tapi belum bisa menjanjikan sebelum Pak Alex memutuskan."
Isabela mengamati wajahnya. Nindy menyiapkan senyum yang sama seperti sebelumnya, sambil berharap wanita itu tidak menganggap penjelasannya sebagai perlawanan pribadi.
"Tolong kabari saya langsung setelah jelas. Jangan sampai undangannya sudah disiapkan, dia baru bilang tidak bisa."
"Baik. Saya catat."
Nindy menulis permintaan tersebut di tempat yang sesuai. Isabela melihat gerakannya, kemudian mengendurkan lipatan tangan.
"Alex memang perlu orang yang mengingatkan. Dia sering merasa semua orang bisa mengikuti pikirannya."
Kali ini Nindy tidak berhasil sepenuhnya menyembunyikan senyum.
Isabela menyadarinya. "Kamu juga sudah tahu rupanya."
"Saya sedang belajar, Bu."
Wanita itu mendengus kecil, tetapi tidak terdengar semarah ketika pertama datang. Ia lalu berpamitan dan berjalan menuju lift, meninggalkan Nindy dengan perasaan yang sedikit berbeda.
Isabela tetap membuatnya gugup. Namun, rupanya tidak setiap percakapan harus menjadi pertandingan, selama Nindy mengetahui pekerjaan yang sedang dikerjakannya.
Gadis itu menyimpan jadwal, kemudian memandang buku pribadinya yang tertutup. Ada hal-hal yang dapat ia pastikan melalui pekerjaan. Ada pula hal-hal yang belum berhak disimpulkannya hanya karena seseorang menatap Alex dengan cara tertentu.
°°°°°