Nindy menelepon kakeknya pada malam ketika hujan membuat sinyal beberapa kali terdengar putus. Sudah beberapa minggu ia lebih sering menitipkan salam melalui mamanya daripada berbicara sendiri. Kesibukan mencari pekerjaan, kebangkrutan keluarga, dan pekerjaan baru terasa selalu datang berbarengan.
"Ini Nindy, Kek!"
"Kakek tahu. Suaramu masih sama kalau sedang ingin bertanya."
Gadis itu tertawa. Ia duduk di tepi tempat tidur, menurunkan suara agar tidak membuat Nandiro kembali mengeluh tentang rapat malamnya.
Mereka berbicara tentang kabar keluarga lebih dahulu. Kakeknya sudah mengetahui kesulitan yang dialami Roy dan Ratih. Ia menanyakan pekerjaan baru Nindy, lalu mengingatkan agar gadis itu tidak lupa makan hanya karena ingin menyelesaikan semuanya.
"Bos Nindy agak menyebalkan," keluhnya.
"Kalau Kakek bertanya kepadanya, mungkin dia bilang sekretarisnya cerewet."
"Kakek kok membela dia?"
Tawa dari seberang membuat Nindy tersenyum lebih lebar. Sesaat ia merasa kembali menjadi anak kecil yang duduk di teras, menunggu cerita sebelum mengantuk.
Namun, cerita yang ingin ditanyakannya kali ini tidak terasa seperti dongeng.
"Kek, ingat cerita tentang iblis yang pernah menolong Kakek?"
Ada jeda singkat sebelum jawaban datang.
"Ingat. Kenapa?"
"Nindy kepikiran saja. Waktu itu benar-benar terjadi? Bukan cerita supaya Nindy gak takut kalau lampu mati?"
Kakeknya tertawa pelan, lalu mengatakan bahwa kejadian itu sungguh dialaminya. Ia pernah dipatuk ular, lalu ditolong seseorang dengan cara yang tidak dapat dijelaskannya seperti pertolongan biasa.
Nindy memandang telapak tangannya.
"Dengan sentuhan?"
"Iya."
"Ada cahaya?"
Kakeknya terdiam lebih lama. "Kakek tidak ingin mengarang yang sudah tidak terlalu jelas di ingatan. Yang Kakek ingat, setelah dia menolong, keadaan Kakek membaik. Wajahnya pun sekarang tidak bisa Kakek gambarkan dengan tepat."
Nindy mengangguk, meskipun lelaki tua itu tidak dapat melihatnya. Sebagian dirinya berharap mendapat ciri yang sangat jelas: mata coklat, rahang tegas, kebiasaan memasang wajah kesal. Namun, ingatan manusia rupanya tidak tersimpan seperti foto yang tinggal diperbesar.
"Kakek tahu namanya?"
"Tidak. Kami tidak sempat berkenalan seperti orang bertamu."
Nindy tertawa kecil, lalu diam. Pertanyaannya semakin banyak, tetapi jawaban yang tersedia tidak bertambah secepat itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan ini?" tanya kakeknya.
Ia menggigit bibir. Setelah beberapa detik, Nindy menceritakan kembali kejadian saat dirinya jatuh di hutan ketika SMP. Ia tidak menyebut Alex. Ia hanya menjelaskan bagaimana dulu seorang pria menahannya agar tidak menghantam dasar jurang.
"Nindy masih sering berpikir mungkin waktu itu cuma terlalu ketakutan."
"Kamu yang mengalami. Kakek tidak bisa memastikan sesuatu yang tidak Kakek lihat."
"Tapi mungkin, kan?"
"Mungkin."
Satu kata itu membuat dadanya terasa sesak dengan cara yang aneh. Selama ini ia selalu menginginkan kepastian. Sekarang, kemungkinan saja sudah cukup untuk membuat seluruh cerita masa kecilnya berubah bentuk.
Kakeknya tidak menyuruh Nindy mempercayai setiap orang yang mengaku dapat melakukan keajaiban. Ia justru mengatakan bahwa nama sebuah makhluk tidak membuat seluruh perbuatannya otomatis baik atau jahat.
"Lihat juga yang dia lakukan, Nin. Dulu yang menolong Kakek tidak mengambil apa-apa setelahnya."
Nindy memejamkan mata. Sony memberinya uang sambil meminta sesuatu yang mungkin menghancurkan orang lain. Alex menyembuhkan tangannya, lalu terlihat kelelahan karena melakukannya.
Perbandingan itu datang sebelum ia sempat menahannya.
Setelah panggilan berakhir, Nindy duduk lama di tepi tempat tidur. Ia belum mendapat nama penyelamat kakeknya. Belum juga dapat memastikan pria di dasar jurang adalah Alex. Tetapi kini ia tidak lagi merasa cukup menjawab semuanya dengan kata mustahil.
Ia mencoba mengingat peristiwa di hutan tanpa menambahkan potongan dari wajah Alex yang kini dilihatnya setiap hari. Ghina dan Aryo bertengkar. Ergi berdiri tidak jauh. Ia masuk di antara mereka, lalu kehilangan keseimbangan sebelum sempat menemukan pegangan.
Yang paling jelas justru rasa takutnya sendiri.
Setelah itu udara terasa berhenti menyeret tubuhnya. Ada lengan yang menahan, suara yang menyuruhnya turun, dan senyum yang begitu berbeda dari kepanikan beberapa detik sebelumnya.
Nindy memejamkan mata lebih erat, seolah dengan begitu ingatan akan menjadi lebih tajam. Namun, wajah pria itu tetap tidak tersusun menjadi gambar yang pasti.
"Jangan maksa, Nin," gumamnya.
Ia mengambil buku dan menuliskan hal yang masih diingat secara terpisah. Bukan untuk membuat laporan kepada Sony, melainkan agar tidak mengubah ketidakjelasan menjadi keyakinan hanya karena ingin semua pertanyaan mempunyai satu jawaban.
Di bawahnya ia menulis pertanyaan lain: apakah penolong Kakek sama dengan orang di hutan?
Gadis itu menatap kalimat tersebut, kemudian memberi tanda tanya yang lebih besar. Jarak waktunya jauh. Tempatnya pun belum pernah dibandingkan dengan jelas. Ia bahkan tidak tahu apakah para iblis saling mengenal seperti tetangga satu gang atau tersebar begitu luas hingga tidak mungkin mengetahuinya.
Nandiro menyingkap tirai untuk menanyakan apakah pengisi daya boleh dipinjam. Nindy buru-buru menutup buku, lalu menunjuk tempat benda tersebut.
"Lo nulis apa sih sampai serius banget?"
"Catatan."
"Ya, gue juga tahu itu bukan resep rendang."
Nindy mengambil bantal. Adiknya langsung tertawa dan mundur sebelum benda itu benar-benar dilemparkan.
Setelah ia sendirian lagi, Nindy merasakan bahunya lebih ringan sedikit. Ternyata dunia masih bisa berisi adik menyebalkan, meskipun ada kemungkinan makhluk berusia sangat panjang bekerja sebagai CEO beberapa kilometer dari rumahnya.
°°°°°
Keesokan siang, Nindy menyerahkan daftar jadwal sambil menunggu Alex selesai membaca satu halaman. Pria itu mencoret waktu yang bertabrakan, kemudian mengembalikannya untuk diperbaiki.
Gadis itu tidak segera pergi.
"Ada lagi?"
"Ada pertanyaan yang kemarin belum dijawab, Pak."
Alex menyandarkan punggung. Tatapannya bergerak ke tangan Nindy sebelum kembali ke wajahnya.
"Saya ingat."
"Kalau Bapak terus diam, saya malah memikirkan macam-macam."
"Kamu memang tampaknya pandai melakukan itu."
Nindy memicingkan mata. Alex sempat terlihat hendak tersenyum, tetapi urung ketika gadis itu tetap memasang wajah serius.
Ia akhirnya mengusulkan waktu setelah urusan kantor selesai hari berikutnya. Bukan di tengah rapat, bukan pula saat seseorang menunggu tanda tangan di luar pintu. Mereka akan berbicara di ruang kerjanya tanpa berusaha memasukkan penjelasan ke sela lima menit kosong.
Nindy setuju. Tempatnya tetap kantor, tempat yang ia kenal. Ia tidak perlu membayangkan dirinya dibawa ke gua rahasia atau ruangan bawah tanah seperti cerita yang pernah ditontonnya.
"Dan Bapak benar-benar menjawab?"
"Kalau saya tahu jawabannya."
"Tentang diri sendiri masa gak tahu?"
Alex menatapnya lama. "Hidup lama tidak berarti mengetahui semuanya."
Nindy terdiam.
Sebelum ia sempat menanyakan arti kalimat itu, telepon kembali berdering. Alex melihatnya, lalu mengulangi waktu pertemuan mereka dengan jelas.
Kali ini Nindy keluar tanpa merasa pertanyaannya dibuang begitu saja.
Namun, sepanjang berjalan menuju meja, ia hanya memikirkan dua kata yang baru didengarnya.
Hidup lama.
Seberapa lama sebenarnya?
°°°°°