Nindy hampir membatalkan keinginannya sendiri ketika waktu yang dijanjikan tiba. Seharian ia berusaha terlihat biasa, tetapi setiap kali jam bergerak, perutnya ikut terasa semakin tidak tenang.
Ia bahkan salah memasukkan pulpen ke kantong yang berbeda lalu menuduh benda itu hilang selama lima menit.
Galih menemukannya terselip pada buku yang sedang dipegangnya.
"Kamu butuh libur," katanya sambil tertawa.
Nindy ingin menjawab bahwa ia justru membutuhkan kesempatan lahir kembali sebagai orang yang tidak menerima tawaran Sony. Namun, ia hanya tertawa dan menyimpan pulpennya dengan benar.
Menjelang pertemuan, ia mengabari Ratih bahwa akan pulang sedikit lebih lambat. Ada pembicaraan dengan atasan. Ibunya meminta kabar sebelum berangkat pulang, lalu mengingatkan makan malam sudah disisihkan.
Hal biasa itu membantu Nindy menenangkan diri.
Masih ada rumah untuk dituju setelah percakapan ini.
Ia mengetuk pintu Alex, masuk setelah dipersilakan, lalu duduk. Di luar masih ada pegawai menyelesaikan pekerjaan. Ruangan tersebut tidak tiba-tiba berubah menyeramkan hanya karena ia mengetahui penghuninya mungkin bukan manusia.
Alex menutup berkas dan memindahkan telepon dari dekat tangannya. Nindy meletakkan tas di sisi kursi. Ponselnya tetap di dalam, tidak dinyalakan untuk merekam diam-diam.
"Apa yang paling ingin kamu tanyakan?" ujar Alex.
Nindy menatapnya. Setelah semua pertanyaan yang disusun sepanjang hari, hanya satu yang keluar.
"Bapak manusia?"
Alex tidak langsung menjawab. Keheningan itu membuat Nindy mendengar bunyi pendingin ruangan yang biasanya tidak pernah diperhatikannya.
"Bukan," katanya akhirnya.
Gadis itu menahan napas.
Sony benar.
Kesimpulan tersebut datang lebih cepat daripada rasa takut. Nindy segera membencinya, sebab bahkan pada saat ini, pria yang membayarnya masih mendapat tempat pertama di kepalanya.
"Lalu Bapak apa?"
"Yang biasa disebut manusia sebagai iblis."
Nindy mencengkeram tepi kursi. Kata itu terdengar berbeda ketika keluar langsung dari mulut Alex. Bukan tuduhan orang lain, bukan cerita kakeknya di teras, bukan pikiran berlebihan ketika ia diminta membawakan payung.
Alex tetap duduk. Ia tidak bergerak mendekat ketika melihat wajah Nindy memucat.
"Saya tidak akan meminta kamu langsung merasa biasa saja."
Gadis itu mengangguk kaku, kemudian menanyakan hal pertama yang muncul setelah kepalanya mulai bekerja lagi.
"Umur Bapak berapa?"
"Seribu seratus sembilan."
Nindy berkedip.
"Itu... tahun?"
Alex menatapnya datar. "Bukan nomor ruangan."
Nindy ingin tertawa, tetapi yang keluar justru suara aneh di tenggorokan. Ia menutup mulut, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan.
Anjir. Selama ini ia menyuruh makhluk berusia seribu tahun bangun pagi.
Ia juga pernah menyebutnya pohon berjalan. Tidak, yang disebut pohon adalah dirinya sendiri. Pikiran Nindy semakin berantakan.
Alex menunggu sampai gadis itu kembali menurunkan tangan.
"Saya tidak berasal dari cerita tentang hukuman manusia," katanya. "Bangsa kami punya kehidupan sendiri sebelum sampai di bumi. Bentuk kami berubah untuk bertahan di sini."
Nindy menatapnya dengan mata melebar. "Seperti pindah dari planet lain?"
Kini Alex yang terlihat terkejut.
"Dari mana kamu mendengar itu?"
"Kakek saya. Dia pernah ditolong seseorang. Katanya iblis."
Nindy menceritakan seperlunya tentang ular dan pertolongan yang tidak biasa. Ia tidak menambahkan ciri wajah yang memang tidak pernah dijelaskan dengan pasti. Alex mendengarkan, kemudian mengatakan bahwa ia tidak bisa memastikan orang tersebut hanya dari cerita itu.
"Jadi bukan cuma Bapak?"
"Bukan."
Nindy menarik napas perlahan. Dunia mendadak terasa lebih besar sekaligus lebih sulit dipercaya daripada pagi tadi.
"Terus kopi yang saya buat?" tanyanya mendadak.
Alex mengernyit. "Kenapa dengan kopinya?"
"Bapak benar-benar meminumnya? Makanan juga? Atau cuma supaya kelihatan seperti manusia?"
Pria itu menatap cangkir kosong di meja, lalu kembali memandang Nindy. "Saya memang makan dan minum. Kamu pikir selama ini saya membuang semua yang kamu siapkan?"
Nindy mengangkat bahu dengan wajah bingung. Kemungkinan di kepalanya sudah terlalu banyak untuk dibantah satu per satu.
"Saya baru tahu ada iblis yang punya jadwal rapat, Pak. Kasih saya waktu."
Alex mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan dimulai, wajahnya sedikit melunak.
"Kalau gak makan sayur?"
"Saya tidak suka."
Nindy terdiam, lalu mengembuskan napas. Jadi tidak semua kebiasaan menyebalkan bosnya mempunyai penjelasan dari dunia lain. Sebagian rupanya memang berasal dari dirinya sendiri.
Ia hampir bertanya tentang panggilan bangun pagi, tetapi urung ketika melihat jam. Ada hal yang lebih penting daripada memastikan apakah selama ini ia kehilangan tidur demi kebutuhan sungguhan atau keisengan seorang atasan.
"Saya boleh takut sedikit?" tanyanya pelan.
Alex tidak menertawakan pertanyaan itu. "Boleh."
"Saya belum ingin keluar ruangan. Cuma... belum bisa langsung biasa saja."
"Saya mengerti."
Nindy melepaskan cengkeraman dari tepi kursi. Ia memperhatikan benda-benda yang dikenalnya: map, pulpen, layar komputer, cangkir kopi. Semuanya tetap sama. Orang di depannya juga masih orang yang kemarin memegang payung sendiri agar ia dapat bekerja.
Perbedaannya hanya satu: sekarang ia mengetahui betapa sedikit hal yang selama ini benar-benar dipahaminya tentang pria tersebut.
Ia bertanya tentang luka di tangannya. Alex membenarkan bahwa ia yang menyembuhkan, tetapi mengatakan kemampuannya tidak selalu bekerja seperti yang diinginkan. Ia tidak dapat memperlakukan setiap luka atau keadaan sebagai sesuatu yang pasti dapat diperbaiki.
"Makanya kemarin Bapak gemetar?"
"Saya menggunakan tenaga. Kadang lebih banyak daripada yang saya perkirakan."
"Tapi lukanya kecil."
Alex menatap kedua tangannya. "Saya tahu."
Dua kata itu tidak terdengar seperti jawaban dari seseorang yang menguasai semua yang dapat dilakukannya. Nindy teringat pekerja di lokasi produksi dan wajah Alex sesudah berada di bawah matahari.
Ia lalu menanyakan Refan dengan suara lebih pelan.
"Beliau tahu?"
Alex mengangguk. "Ya."
Nindy menelan ludah. Kepercayaan selama puluhan tahun kini mempunyai arti yang tidak dipahaminya ketika pertama mendengar cerita Galih.
"Dan Pak Andromeda?"
Pria itu diam sebentar sebelum kembali mengangguk. "Andro tahu. Tapi jangan berasumsi semua orang di dekat saya juga tahu."
Nindy langsung teringat Isabela dan Galih. Ia mengangguk, lalu memandang tangannya sendiri.
"Kenapa Bapak menyembuhkan saya kalau itu membuat saya tahu?"
Alex tidak segera menjawab. Ketika akhirnya berbicara, suaranya lebih rendah.
"Karena kamu terluka di depan saya. Saya bertindak sebelum memikirkan yang lain."
Tidak ada alasan besar. Tidak ada janji bahwa Nindy berbeda dari semua orang. Justru kesederhanaannya membuat dada gadis itu terasa semakin berat.
Ponsel di dalam tas bergetar.
Nindy tidak mengambilnya. Ia tahu belum tentu Sony, tetapi rasa bersalah sudah lebih dulu membuat telapak tangannya dingin.
Alex menggeser gelas air ke dekatnya.
"Kamu boleh bertanya lagi."
Nindy memandang gelas, lalu wajah pria yang baru saja menyerahkan rahasia sebesar itu kepadanya. Kesempatan untuk berbohong masih terbuka. Ia bisa pulang, menulis laporan, dan kembali besok sambil tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun, bibirnya justru bergerak dengan susah payah.
"Pak... ada sesuatu tentang alasan saya bekerja di sini yang belum Bapak tahu."
°°°°°