Alex tidak langsung menanggapi kalimat Nindy. Ia menatap gadis di depannya, kemudian perlahan menarik kembali tangan yang tadi menggeser gelas air.
"Tentang alasan kamu bekerja?" ulangnya.
Nindy mengangguk. Tenggorokannya mendadak terasa terlalu sempit untuk mengeluarkan suara. Semua keberanian yang terkumpul beberapa detik lalu seperti meninggalkannya begitu Alex benar-benar menunggu jawaban.
Namun, kali ini ia tidak ingin kembali bersembunyi di balik kalimat belum ada bukti.
"Saya menerima tawaran dari Pak Sony. Bukan cuma untuk jadi sekretaris Bapak."
Wajah Alex berubah. Tidak banyak. Hanya sorot matanya yang semakin tajam dan punggungnya yang kembali tegak.
"Lanjutkan."
Nindy menjelaskan pertemuan di kafe, tawaran pekerjaan, dan permintaan untuk mencari bukti bahwa Alex bukan manusia. Ia juga menyebut batas waktu tiga bulan serta janji pembayaran biaya kuliah Nandiro dan pelunasan utang keluarga.
Ketika sampai pada uang lima belas juta, suaranya mengecil.
Alex mendengar sampai selesai tanpa menyela. Justru sikap diam itu membuat Nindy lebih takut daripada jika pria tersebut langsung membentaknya.
"Uangnya sudah kamu terima?"
"Sudah. Sebagian sudah dipakai."
"Berapa banyak yang sudah kamu ceritakan kepadanya?"
Nindy mengangkat wajah. "Kebiasaan yang bisa dilihat orang. Bapak menghindari matahari, suka daging, tugas-tugas saya. Kejadian tangan saya belum saya ceritakan. Pembicaraan kita hari ini juga belum."
Alex menatap tas di samping kursinya.
Nindy segera memahami arah pandangan itu. Ia mengeluarkan ponsel, memperlihatkan bahwa tidak ada rekaman yang sedang berjalan, lalu meletakkannya di atas meja tanpa membuka hal lain.
"Saya gak merekam, Pak."
"Kamu memahami kenapa sekarang saya perlu menanyakan itu?"
Nindy mengangguk. Ia tidak mempunyai hak untuk tersinggung setelah mengaku datang dengan niat memata-matai.
Alex berdiri, berjalan ke dekat jendela, lalu berhenti di sana. Lampu gedung lain mulai terlihat di luar. Punggung pria itu tampak lebar dan tegang, tetapi Nindy tidak lagi memikirkan apakah ia akan berubah menjadi makhluk menyeramkan.
Ia justru memikirkan betapa buruk rasanya mengetahui orang yang baru diberi kepercayaan ternyata menyimpan alasan lain untuk mendekat.
"Kenapa baru mengatakan sekarang?" tanya Alex tanpa berbalik.
Nindy menunduk. "Karena saya takut kehilangan pekerjaan. Karena uangnya sudah dipakai. Dan karena saya terus mencari alasan supaya yang saya lakukan terasa wajar."
Alex berbalik.
Gadis itu menarik napas dengan susah payah. "Keluarga saya kesulitan, Pak. Tapi itu bukan berarti saya gak tahu kalau pekerjaan tambahan ini salah. Saya tahu. Saya tetap menerimanya."
Tidak ada lagi tempat menyembunyikan kalimat tersebut.
Alex kembali ke meja, tetapi tidak duduk. "Apa Sony sudah mengetahui kemampuan saya sebelum kamu masuk?"
"Dia bilang pernah melihat hal-hal yang membuatnya curiga. Waktu saya tanya lebih jelas, dia gak menjawab."
"Andromeda tahu kesepakatan kalian?"
Nindy menggeleng. "Saya gak tahu apakah Pak Sony pernah cerita kepadanya. Di depan saya, Pak Andromeda cuma membicarakan pekerjaan sekretaris."
Alex mengangguk pelan, menyimpan perbedaan antara fakta dan dugaan itu.
"Tunjukkan pesan yang berkaitan dengan tawarannya. Hanya yang itu."
Nindy membuka percakapan dengan Sony. Ia menyerahkan ponsel setelah menemukan pesan transfer dan janji berikutnya, kemudian menjelaskan bagian yang disampaikan melalui percakapan langsung.
Alex membaca tanpa menggulir ke pesan keluarga atau percakapan lain. Wajahnya semakin keras ketika melihat permintaan laporan. Setelah selesai, ia mengembalikan ponsel.
"Jangan hapus percakapan itu. Besok kita perlu membicarakannya dengan Andromeda."
Nindy memegang ponsel dengan kedua tangan. "Saya dipecat?"
Alex memandangnya. Pertanyaan yang sejak awal ditahan itu akhirnya keluar dengan suara nyaris berbisik.
"Kamu juga mendekati Galih untuk tujuan itu?" tanyanya.
Nindy merasa wajahnya semakin panas. Ia belum memikirkan bahwa kebohongannya menyentuh lebih banyak orang daripada Alex dan Sony.
"Saya pernah bertanya tentang Bapak. Tentang Pak Refan juga. Awalnya saya memang berpikir Galih mungkin tahu sesuatu."
"Dan?"
"Dia cuma menjelaskan yang diketahuinya. Tidak ada rahasia yang dia berikan. Kalau dia bilang tidak tahu, saya tidak mendapat jawaban lain."
Alex mengangguk kecil. Ia tidak terlihat lega. Hanya menambahkan keterangan itu pada sesuatu yang sedang disusunnya dalam pikiran.
Nindy ingin mengatakan bahwa ia juga sungguh menyukai keramahan Galih. Bahwa tidak semua tawanya palsu. Tetapi membela bagian dirinya yang masih tulus terasa tidak pantas ketika bagian yang berbohong belum selesai dijelaskan.
"Pekerjaan yang kamu lakukan di sini selama ini juga cuma untuk bertahan sampai mendapat bukti?"
Pertanyaan tersebut jauh lebih menyakitkan daripada dugaan Nindy. Ia segera menggeleng, kemudian berhenti karena jawabannya tidak sesederhana itu.
"Awalnya saya memang berusaha bertahan untuk kesepakatan itu. Tapi saya juga ingin bisa bekerja dengan baik. Saya belajar sungguhan. Saya gak mengarang laporan atau mengubah berkas supaya Bapak terlihat buruk."
Alex memandangnya lama. Ia teringat suara yang membangunkannya tiap pagi, wajah kesal di balik senyum, dan catatan yang makin rapi setelah beberapa hari.
Semua itu sekarang harus dilihat kembali melalui sesuatu yang belum diketahuinya dahulu.
"Saya tidak bisa langsung membedakan bagian mana yang bisa dipercaya," katanya.
Nindy menahan air mata. "Saya mengerti."
Ia tidak benar-benar tahu seberapa banyak yang telah dirusaknya. Namun, untuk pertama kalinya, ia mendengar akibat kebohongannya bukan sebagai ancaman kehilangan pekerjaan, melainkan sebagai keraguan dalam suara orang yang setiap hari ditemuinya.
"Saya belum memutuskan. Tetapi saya tidak bisa berpura-pura semuanya tetap sama. Untuk sementara, kamu tidak menangani urusan pribadi saya. Pekerjaan kantor yang perlu dilakukan akan saya tentukan dengan jelas."
Nindy mengangguk. Ia lebih suka jawaban itu daripada pengampunan yang terlalu cepat lalu berubah menjadi hukuman diam-diam.
Tetap saja, matanya terasa panas.
"Maaf, Pak."
Alex mengusap wajah. "Saya dengar. Saya belum bisa menjawab lebih dari itu malam ini."
Ponsel Nindy bergetar. Nama Ratih muncul di layar, membuatnya semakin ingin menangis. Alex melihat nama tersebut sekilas, kemudian menunjuk teleponnya.
"Jawab. Orang rumah pasti menunggu."
Nindy menerima panggilan dan mengatakan ia akan segera pulang. Ia menjaga suaranya agar terdengar biasa, tetapi gagal pada dua kata terakhir. Ratih langsung bertanya apakah ada masalah.
"Nanti Nindy cerita, Ma."
Setelah sambungan berakhir, gadis itu berdiri. Kakinya terasa lemah, tetapi ia tetap merapikan barang yang dibawanya. Ia tidak ingin meninggalkan ruangan dalam keadaan berantakan setelah sudah membuat kekacauan yang jauh lebih besar.
Di depan pintu, ia berbalik.
"Bapak gak akan meminta saya balik memata-matai Pak Sony?"
Alex menatapnya lama. "Tidak. Kalau saya membutuhkan keterangan, saya meminta yang memang kamu ketahui. Bukan menyuruh kamu memasuki kesepakatan lain yang tidak kamu pahami."
Nindy mengangguk sekali lagi, lalu keluar.
Di mejanya, daftar tugas pagi masih terbuka. Bangunkan Pak Alex. Ambil pakaian. Siapkan kopi.
Ia menutup buku itu perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak diterima bekerja, Nindy tidak tahu apakah esok pagi namanya masih mempunyai tempat di ruangan tersebut.
°°°°°