Ratih sudah menunggu di ruang tamu ketika Nindy tiba. Nandiro duduk di dekat tirai kamarnya, sementara Roy baru selesai mengganti pakaian kerja. Melihat mereka bertiga, Nindy hampir mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Kalimat itu sudah terlalu mudah digunakan.
Malam ini ia tidak sanggup mengucapkannya lagi.
"Nindy perlu cerita," katanya sambil meletakkan tas.
Ratih segera menyisihkan gelas dari depan kursi agar ia bisa duduk lebih nyaman. Tidak ada yang memotong ketika Nindy mulai menjelaskan tentang uang dari Sony.
Ia tidak menyebut identitas Alex. Rahasia pria itu bukan miliknya untuk dibagikan. Namun, ia mengatakan bahwa uang tersebut diberikan sebagai bagian dari kesepakatan mencari informasi pribadi atasannya, bukan gaji biasa atau hadiah tanpa syarat.
Roy menatapnya dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.
"Kamu diminta menjual rahasia orang?"
Nindy menunduk. "Mencari bukti tentang sesuatu yang dituduhkan kepadanya. Saya menerima karena dijanjikan bantuan untuk keluarga."
"Kenapa tidak cerita dari awal?" tanya Ratih.
Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan marah. Justru kesedihan dalam suaranya membuat mata Nindy langsung basah.
"Karena Nindy ingin bawa pulang kabar baik, Ma. Waktu dapat tawaran itu, rasanya semua masalah bisa selesai."
Nandiro memandang kakaknya, lalu buku kuliah yang terletak di lantai. Ia tidak bertanya lebih lanjut tentang orang yang menjadi sasaran. Pikirannya sudah sampai pada sesuatu yang terasa jauh lebih dekat.
"Uang kuliah gue dari situ?"
Nindy mengangguk. "Sebagiannya."
Ruangan menjadi sunyi. Di luar terdengar suara motor melewati gang, lalu percakapan tetangga yang tidak mengetahui ada keluarga sedang mencoba memahami akibat keputusan salah satu anggotanya.
Roy menarik kursi lebih dekat.
"Papa kecewa kamu menerima pekerjaan seperti itu. Tapi Papa juga harus mendengar semuanya sebelum bicara. Uangnya sekarang tersisa berapa?"
Nindy mengeluarkan catatan pengeluaran. Tangannya gemetar ketika menunjuk pembayaran yang sudah dilakukan dan bagian yang masih dapat dipisahkan. Jumlahnya tidak cukup untuk mengembalikan seluruh transfer sekaligus.
Ratih menutup mulut. Nandiro mengusap wajah dengan kedua tangan.
"Gue yang terus mendesak lo," katanya.
"Nan, keputusan menerima tawarannya tetap keputusan gue."
"Tapi gue bikin lo merasa harus dapat uang secepatnya."
Nindy tidak langsung menyangkal. Ia memang pernah merasa demikian. Berpura-pura bahwa tekanan adiknya tidak pernah menyakitkan juga bukan jawaban yang benar.
"Iya," katanya pelan. "Tapi sekarang gue gak mau kita saling menyalahkan sampai gak ada yang dikerjakan."
Nandiro mengangguk dengan mata memerah.
Mereka mulai menghitung. Bukan menghitung jalan keluar ajaib, melainkan kebutuhan yang masih harus dipenuhi, uang yang jangan lagi digunakan, dan siapa yang perlu diajak membicarakan pengembalian dengan benar. Roy mengingatkan agar Nindy tidak menjanjikan pembayaran yang mustahil hanya karena panik.
"Kita tidak boleh membuat kebohongan baru untuk menutup yang lama," katanya.
Nindy mengusap pipinya. "Besok saya bertemu pemilik perusahaan bersama Pak Alex."
Ratih terkejut. "Atasanmu sudah tahu?"
"Sudah. Saya yang cerita."
"Dia marah?"
Nindy memandang tangannya sendiri. "Iya. Dia berhak marah."
Ia tidak mengatakan bahwa pria yang marah itu baru saja mempercayakan sebuah rahasia yang mungkin telah dijaganya lebih lama daripada usia keluarganya digabungkan. Cukup sulit menjelaskan kesalahan sendiri tanpa menyeret segala sesuatu yang bukan bagiannya.
Roy mengangguk pelan. Ia menanyakan apakah Nindy tetap diminta bekerja. Gadis itu menjelaskan bahwa keputusan akhir belum dibuat, sementara tugasnya akan dibatasi.
Nandiro segera mengatakan bahwa ia bisa menunda beberapa kebutuhan kuliah yang belum mendesak. Ia juga akan menindaklanjuti kesempatan kerja akhir pekan setelah memastikan jadwal dan kejelasannya.
"Jangan asal ambil karena ingin membayar kesalahan gue," kata Nindy cepat.
Adiknya menatapnya. "Gue juga harus belajar tanggung jawab, Kak. Bukan cuma nunggu lo pulang bawa duit."
Nindy menekan bibir, tidak ingin kembali menangis. Namun, air matanya sudah jatuh lebih dahulu.
Ratih mendekat dan memeluknya.
"Mama sayang kamu, bukan cuma hasil yang kamu bawa pulang."
Kalimat itu membuat pertahanan Nindy runtuh. Ia menangis di bahu ibunya, bukan dengan tangis lega karena semua akan segera selesai, melainkan karena akhirnya tidak perlu berpura-pura sanggup sendirian.
Mereka makan malam setelah makanan dipanaskan kembali. Tidak banyak percakapan. Nandiro mengambilkan air tanpa diminta, sedangkan Roy menyimpan catatan pengeluaran bersama Nindy agar bisa dilihat lagi besok.
Sesudah makan, Nindy hendak membereskan piring ketika Nandiro lebih dahulu mengangkatnya. Gadis itu menatap adiknya dengan curiga.
"Lo mau minta apa lagi?"
Nandiro mendengus. "Gue mau cuci piring. Jangan dibikin susah."
Ia membawa tumpukan itu ke dapur dengan gerakan canggung. Ratih menyusul untuk menunjukkan tempat sabun dan mengingatkan agar tidak menumpuk gelas terlalu tinggi. Bunyi air segera terdengar, diselingi protes Nandiro ketika lengan bajunya basah.
Nindy tertawa pelan untuk pertama kalinya sejak sampai di rumah.
Roy duduk di dekatnya, memandang catatan yang belum ditutup. Ia tidak menjanjikan akan mendapatkan pinjaman besar esok pagi atau meminta Nindy kembali menuruti Sony sampai masalah selesai. Ia hanya menggarisbawahi kebutuhan yang tidak boleh diabaikan ketika mereka menyusun kemampuan pembayaran.
"Makan tetap perlu. Transportasi kerja tetap perlu. Kuliah adikmu juga tidak bisa dihapus begitu saja dari hitungan," katanya. "Kita hitung supaya janji kita bisa dijalankan, bukan supaya terdengar bagus."
Nindy mengangguk. Selama ini ia terlalu sering membayangkan bantuan besar akan datang dan mengangkat mereka kembali ke kehidupan dahulu. Malam itu jalan keluarnya tampak jauh lebih kecil: angka yang ditulis hati-hati, pengeluaran yang dipisahkan, dan pembicaraan yang tidak menyenangkan tetapi dilakukan bersama.
"Papa gak malu punya anak seperti Nindy?"
Roy meletakkan pulpen. "Papa sedih karena kamu memilih itu. Tapi kamu tetap anak Papa. Sekarang kita hadapi akibatnya."
Nindy kembali menunduk. Ia ingin memperoleh kalimat yang membuat rasa bersalahnya hilang. Ayahnya tidak memberikan itu. Yang diberikannya justru tempat untuk duduk sambil mengakui kesalahan, tanpa dibiarkan menghilang dari keluarganya sendiri.
Dari dapur, Nandiro berseru meminta kain lap. Nindy berdiri untuk mengambilkannya, lalu tetap berada di sana sampai pekerjaan kecil itu selesai.
Sebelum tidur, Nindy membuka ponsel. Ada pesan dari Alex mengenai waktu pertemuan pagi. Tidak ada panggilan untuk membangunkannya pukul lima, tidak ada permintaan pribadi tambahan.
Gadis itu membalas bahwa ia akan datang tepat waktu.
Ia lalu mematikan alarm yang selama ini khusus dipakai untuk membangunkan Alex. Jarinya berhenti beberapa detik di layar.
Aneh. Tugas yang paling sering dikeluhkannya justru terasa menyedihkan ketika tidak lagi perlu dilakukan.
Nindy meletakkan telepon dan menutup mata.
Besok mungkin menjadi hari terakhirnya di perusahaan impian itu. Tetapi malam ini, setidaknya, ia tidak tidur di antara kebohongan yang harus dijaga seorang diri.
°°°°°