Nindy belum pernah merasa perjalanan lift begitu lama. Angka lantai bergerak naik dengan kecepatan biasa, tetapi ia merasa sempat memikirkan seluruh kemungkinan buruk sebelum akhirnya pintu terbuka di lantai sepuluh.
Alex menunggu di dekat ruang Andromeda.
"Kamu sudah makan?"
Pertanyaan itu membuat Nindy terkejut. "Sudah, Pak."
"Bagus. Jangan sampai pingsan waktu diminta menjelaskan."
Ternyata bukan kalimat penghiburan. Tentu saja. Nindy seharusnya tidak berharap terlalu banyak.
Namun, entah mengapa komentar menyebalkan itu membuatnya sedikit lebih mampu melangkah.
Andromeda menerima mereka dengan wajah serius. Tidak ada tawa lebar seperti pada hari pertama Nindy datang bersama Sony. Lelaki itu meminta mereka duduk, kemudian mempersilakan Nindy menjelaskan dari awal.
Ia sudah mendengar sebagian dari Alex, tetapi tetap ingin mendengarnya langsung.
Nindy menceritakan semuanya sekali lagi. Pertemuan di Seroja Kafe. Desakan biaya keluarga. Janji Sony. Pekerjaan sekretaris yang didapat melalui rekomendasi. Jumlah uang yang diterima.
Kali ini ia membawa catatan agar tidak ada bagian yang berubah hanya karena gugup.
Andromeda sesekali bertanya mengenai waktu dan pesan yang masih tersimpan. Ia tidak meminta Nindy mengulang kemampuan Alex di luar yang memang perlu dipahami untuk menjelaskan sebab pengakuannya.
"Kamu belum mengirim rekaman atau gambar tentang Alex?"
"Belum, Pak."
"Informasi pekerjaan?"
Nindy menjelaskan laporan kebiasaan yang pernah disampaikannya, lalu membedakan itu dari dokumen perusahaan yang tidak pernah ia serahkan kepada Sony sebagai bagian penyelidikan.
Andromeda memeriksa pesan yang ditunjukkan. Sesudahnya ia mengembalikan ponsel kepada Nindy dan meminta bagian yang relevan disimpan untuk pemeriksaan, dengan sepengetahuannya.
"Saya merekomendasikan kamu karena Sony membawa calon yang menurutnya memenuhi syarat," katanya. "Bukan untuk pekerjaan semacam ini."
Nindy mengangguk dengan wajah panas. "Saya mengerti."
"Kamu memahami bahwa kepercayaan bukan cuma urusan antara kamu dan Alex? Nama saya juga digunakan untuk memasukkan kamu ke posisi itu."
"Iya, Pak."
Tidak ada alasan yang dapat membuat pernyataan tersebut menjadi lebih ringan. Nindy menatap tangannya, lalu memaksa diri kembali mendongak ketika ditanya.
Andromeda akan meminta keterangan Sony secara terpisah sebelum mempertemukan pihak yang diperlukan. Urusan kepegawaian Nindy juga akan ditinjau. Untuk sementara ia tetap mengerjakan tugas kantor yang ditentukan, tanpa menangani dokumen pribadi Alex atau menerima tugas rahasia baru.
"Gaji pekerjaan resmimu dan uang dari Sony jangan dicampur," tambahnya. "Kita perlu jelas mana hak kerja, mana transaksi pribadi yang harus diperiksa."
Nindy mengangguk. Ia mengatakan keluarganya telah mengetahui asal uang dan sedang menghitung bagian yang masih tersisa. Andromeda meminta agar pengembalian dibicarakan melalui cara yang tercatat, bukan kesepakatan panik di lorong.
Pertemuan berakhir tanpa keputusan yang membuat semua orang langsung tenang.
Nindy tetap mempunyai pekerjaan untuk hari itu. Ia juga mempunyai kesalahan yang kini diketahui pemilik perusahaan. Kedua hal tersebut berjalan bersamaan ketika ia keluar membawa buku catatan di depan dada.
Di depan lift, ia membuka halaman tugas yang baru ditulis. Sebagian besar tidak asing: mencatat perubahan jadwal, menyiapkan berkas, memastikan pesan kerja diteruskan kepada pihak yang tepat. Tetapi sekarang ada pemeriksaan tambahan sebelum beberapa dokumen ditinggalkan di mejanya.
Gadis itu tidak bisa berpura-pura tidak merasakan perbedaannya.
Ketika kembali ke lantai tiga, seorang pegawai menanyakan apakah ia masih menerima berkas untuk Alex. Nindy menjelaskan alur yang diberikan kepadanya, lalu membantu memastikan dokumen tersebut sampai tanpa membiarkan orang itu kebingungan.
"Oh, baik. Saya kira mejanya dipindah," kata pegawai itu.
"Masih di sini. Saya juga masih di sini."
Kalimat terakhir terucap terlalu lirih untuk dianggap jawaban. Nindy menarik kursi dan duduk, kemudian membuka komputer. Layar menampilkan pekerjaan yang kemarin belum selesai, tidak peduli bahwa hidupnya terasa baru saja dibalik sekali lagi.
Ia memeriksa satu halaman, menemukan angka yang belum cocok, dan mengirimkan pertanyaan kepada bagian yang menyiapkannya. Tidak ada niat tersembunyi dalam pertanyaan itu. Ia hanya ingin pekerjaannya benar.
Beberapa menit kemudian, jawaban datang. Kesalahan diperbaiki. Nindy memberi tanda pada versi yang tepat agar tidak kembali tertukar.
Untuk satu urusan kecil itu, ia tidak perlu berbohong kepada siapa pun.
Nindy menghela napas dan melanjutkan halaman berikutnya. Rasanya tidak selega yang dibayangkan, tetapi cukup untuk membuatnya berhenti memikirkan pintu keluar selama beberapa menit.
Di samping layar, ponselnya tetap sunyi. Ia belum tahu bagaimana Sony akan bereaksi ketika dipanggil Andromeda. Ia juga belum tahu apakah makan siang nanti masih bisa ditelan dengan tenang. Namun, sebelum semua itu terjadi, ada pekerjaan di depannya yang belum selesai.
Ia memilih mengerjakannya.
Alex masih berada di dalam.
°°°°°
Andromeda menunggu pintu tertutup sebelum menatap Alex lebih dekat.
"Sejak kapan penyembuhan kecil membuat tanganmu gemetar sampai orang lain melihat?"
Alex menghela napas. "Saya tidak datang untuk membicarakan tangan saya."
"Aku tahu. Tapi itu tidak membuat pertanyaannya hilang."
Pria yang berusia lebih dari seribu tahun itu menatap meja. Dengan Andromeda, ia tidak perlu menjaga semua kalimat seperti ketika berbicara kepada pegawai lain. Namun, mengakui sesuatu yang tidak dipahaminya sendiri tetap terasa sulit.
"Kadang berhasil. Kadang tidak. Tenaga yang diperlukan juga berubah."
"Kau masih menganggapnya hanya karena usia?"
Alex tidak menjawab. Itu memang penjelasan yang paling mudah diucapkan ketika benda di dekatnya tidak mau bergerak atau tubuhnya terasa lelah setelah sesuatu yang dulu sederhana.
Andromeda tidak memaksakan kesimpulan. Ia hanya meminta Alex tidak terus menguji kemampuan sendirian lalu berpura-pura semuanya biasa.
Pembicaraan kembali kepada Sony. Andromeda tampak marah, tetapi menolak langsung menyimpulkan alasan di balik seluruh tindakannya hanya dari satu pertemuan.
"Yang jelas, dia membayar orang untuk mengawasi kehidupanmu," katanya. "Sisanya harus diperiksa."
Alex menatap laci di sisi meja Andromeda, tempat sebagian urusan perusahaan disimpan. Nama Refan tiba-tiba kembali berada di kepalanya.
"Saya ingin melihat lagi urusan terakhir Refan sebelum kecelakaan."
Andromeda terdiam. "Karena Sony?"
"Karena saya baru tahu ada orang yang berusaha memasukkan mata-mata ke dekat saya. Itu tidak membuktikan apa pun tentang kecelakaannya. Tapi saya tidak ingin terus menganggap tidak ada hal yang perlu ditanyakan."
Andromeda mengangguk perlahan. Mereka akan memulai dari catatan pekerjaan yang memang dimiliki perusahaan, kemudian menghubungi Laras untuk membicarakan informasi keluarga yang dapat ditinjau dengan izinnya.
Tidak ada janji bahwa pemeriksaan itu akan menemukan kejahatan. Mungkin mereka justru hanya akan mendapatkan urutan hari biasa sebelum sebuah kecelakaan.
Alex memahami kemungkinan tersebut.
Namun, ketika keluar dari ruangan, ia teringat pulpen tua di laci mejanya. Selama ini ia terlalu sering mengingat ketidakhadiran Refan, tetapi belum sanggup membuka kembali hari-hari sebelum lelaki itu pergi.
Kini, untuk pertama kalinya, ia ingin membacanya sampai selesai.
°°°°°