Nindy menerima pesan Sony pada hari ketika ia mulai terbiasa dengan meja yang tidak lagi dipenuhi urusan pribadi Alex. Tidak ada pakaian yang harus diambil. Tidak ada panggilan bangun pagi. Pekerjaan kantor masih banyak, tetapi jarak yang terbentuk terasa pada hal-hal kecil.
Alex selalu berbicara secukupnya.
Sony justru ingin berbicara lebih banyak.
Sony Ferdinan: Kamu sudah bicara kepada Pak Andromeda?
Nindy menatap layar beberapa detik sebelum membalas bahwa ia telah menjelaskan kesepakatan mereka. Tidak ada gunanya menyangkal sesuatu yang sebentar lagi akan diketahui langsung.
Panggilan masuk hampir seketika.
Ia tidak mengangkat di tengah meja kerja. Nindy berjalan ke tempat yang cukup tenang, tetap di area kantor, lalu menerima sambungan setelah menarik napas.
"Apa yang kamu katakan?" Suara Sony terdengar lebih keras daripada biasanya.
Nindy menjelaskan dengan singkat bahwa ia menceritakan tawaran dan uang yang diterima. Ia tidak menyebut rahasia Alex. Tidak pula mengatakan bahwa sekarang ia mengetahui sesuatu yang dahulu hanya dicurigai Sony.
"Saya sudah membantu keluarga kamu," kata pria itu. "Begini balasannya?"
Nindy memegang telepon lebih erat. Kalimat tersebut tepat mengenai bagian yang paling sulit dibantahnya.
"Saya tahu uangnya sudah dipakai. Saya sedang menyiapkan pembicaraan pengembaliannya."
"Dengan uang apa?"
Gadis itu terdiam.
Sony mengembuskan napas, kemudian suaranya berubah lebih rendah. Ia mengatakan mungkin Nindy terlalu takut dan salah memahami maksudnya. Permintaan itu, menurutnya sekarang, hanya untuk memastikan orang yang memimpin perusahaan memang dapat dipercaya.
"Kalau begitu, Bapak bisa menjelaskan langsung kepada Pak Andromeda," jawab Nindy.
"Kamu tidak perlu mengajari saya."
Nindy menelan ludah. Di seberang sana, Sony kembali diam sebelum berbicara dengan nada yang nyaris sama ramahnya seperti ketika pertama mendekatinya di kafe.
Ia menawarkan jalan yang dianggap lebih mudah: Nindy menyatakan bahwa ia salah menangkap maksud pembicaraan, lalu mereka bisa menyelesaikan urusan uang tanpa memperbesar masalah.
Gadis itu memandang lantai di dekat sepatunya.
Satu kebohongan lagi. Hanya satu, kata bagian pengecut dalam kepalanya. Barangkali setelah itu ia tidak perlu memikirkan pengembalian uang atau wajah kecewa orang tuanya.
Namun, Alex akan kembali menjadi orang yang harus menanggung akibatnya. Andromeda juga akan dipaksa memilih cerita yang diubah demi keselamatan Nindy sendiri.
"Saya gak salah dengar waktu Bapak meminta saya mencari bukti bahwa Pak Alex iblis," katanya pelan.
Sambungan terasa sangat sunyi setelah kalimat itu.
"Jangan merasa sudah aman karena sekarang kamu berpihak kepadanya," jawab Sony. "Kamu tetap menerima uang saya."
"Saya tidak menyangkal itu."
Sony menutup panggilan tanpa berpamitan.
Nindy tetap berdiri beberapa saat dengan telepon di telinga. Setelah menurunkannya, ia menyadari lututnya sedikit gemetar.
Ia tidak menang. Menolak tawaran tersebut tidak membuat uang muncul di rekeningnya atau mengembalikan kepercayaan Alex. Ia hanya berhasil tidak menambah kebohongan baru hari itu.
Ternyata hal sekecil itu saja melelahkan.
°°°°°
Galih menemukan Nindy di dekat tempat minum. Gadis itu sedang menatap gelas kertas yang hampir diremasnya sampai penyok.
"Gelasnya punya salah apa?"
Nindy mendongak, lalu cepat-cepat melonggarkan tangan. "Gak ada. Gue... aku cuma kepikiran sesuatu."
Galih mengangkat alis. "Kalau capek pakai aku, pakai gue juga boleh. Aku gak tersinggung."
Nindy tertawa pendek. Cowok itu selalu bisa menemukan bagian kecil yang membuat suasana terasa tidak terlalu berat.
Ia menanyakan apakah ada masalah pekerjaan. Nindy mengatakan ada urusan dengan atasan yang sedang diperiksa, tetapi belum ingin membicarakannya di luar pertemuan yang diperlukan.
Galih tidak mendesak.
"Kalau ada kerjaan yang perlu dikoordinasikan, bilang. Jangan sampai kamu menebak sendiri terus malah makin pusing."
Nindy mengangguk. Ia memandang wajah ramah itu dan merasa bersalah karena pernah berencana mendekatinya terutama untuk mencari informasi tentang Alex.
"Galih, waktu aku tanya banyak soal Pak Alex... maaf kalau bikin gak nyaman."
Cowok itu tampak heran. "Aku jawab yang aku tahu. Kenapa?"
"Gak apa-apa. Aku cuma ingin bilang itu."
Galih tidak terlihat benar-benar memahami, tetapi ia menerima permintaan maaf tersebut tanpa mengubahnya menjadi pertanyaan bertubi-tubi. Sebelum kembali bekerja, ia meminta Nindy mengganti gelas yang sudah terlalu penyok.
Ia juga memperlihatkan satu lembar yang dibawanya sejak tadi. Ada penyesuaian pada bahan projek susu setelah masukan Alex mengenai pesan iklan. Bagian yang sebelumnya terlalu menekankan akibat tidak mengonsumsi produk sudah ditinjau ulang bersama tim dan akan dibicarakan lagi dengan pihak klien.
Nindy membaca bagian yang ditunjuk. Untuk pertama kali hari itu, pikirannya berhenti memutar percakapan dengan Sony.
"Yang ini sudah lebih sesuai dengan catatan rapat kemarin," katanya.
Galih mengangguk. "Iya. Aku titip setelah penjelasannya lengkap. Jangan dipakai sebagai versi akhir dulu."
Nindy mengambil buku kecil dari sakunya dan mencatat. Ia mengulangi tahap berikutnya agar tidak salah, lalu memastikan waktu yang dibutuhkan tim.
Galih memperhatikannya dengan senyum tipis.
"Kamu sudah jauh lebih hafal alurnya."
Nindy hampir tersenyum bangga sebelum rasa bersalah kembali menarik ujung hatinya. Ia tidak tahu apakah Galih akan tetap berbicara sehangat ini setelah mengetahui alasan awal pertanyaan-pertanyaannya.
Namun, pekerjaan yang baru dijelaskannya memang dipahami. Ia tidak perlu menyangkal semua hal yang telah dipelajari hanya karena ada kesalahan lain yang sekarang harus dihadapi.
"Masih suka takut tertukar," jawabnya.
"Makanya ada catatan. Kalau semua harus diingat sendiri, meja kita gak perlu penuh kertas."
Nindy melihat map di tangannya, lalu meja-meja di kejauhan. Komentar biasa itu membuatnya kembali merasa berada di kantor, bukan di dalam pemeriksaan yang tidak pernah selesai.
Ia berterima kasih dan menutup bukunya. Galih tidak bertanya mengapa Nindy hari itu tampak lebih banyak mengucapkan terima kasih daripada biasanya. Ia hanya menunjuk gelas yang masih dipegangnya, mengingatkan benda itu belum juga diganti.
Nindy segera meletakkannya dengan wajah malu.
"Nanti airnya tumpah, terus kamu menyalahkan gedung."
Kali ini Nindy sungguh tertawa.
Setelah kembali ke meja, ia menuliskan isi percakapan dengan Sony sejauh yang masih diingat, membedakannya dari pesan yang benar-benar tersimpan. Ia tidak berpura-pura memiliki rekaman panggilan.
Catatan tersebut disampaikan kepada Alex dan Andromeda melalui jalur yang sudah mereka sepakati. Nindy tidak lagi pergi menemuinya diam-diam untuk membawa kabar baru kepada orang lain.
Sore itu, Alex berhenti di depan mejanya untuk mengambil satu map.
"Saya sudah membaca catatan kamu."
Nindy mengangguk.
"Besok, kalau diminta menjelaskan lagi, katakan hal yang sama dengan yang memang terjadi. Jangan tambahkan sesuatu hanya supaya kami percaya."
"Iya, Pak."
Alex mengangguk dan melangkah pergi. Tidak ada pujian besar. Namun, untuk pertama kalinya setelah pengakuannya, Nindy merasa ada tugas yang dapat dikerjakannya tanpa harus menyembunyikan tujuan sebenarnya.
Ia hanya perlu mengatakan yang benar.
°°°°°