Nindy mengangkat telapak tangannya di depan Alex dan Andromeda. Tidak ada sesuatu yang tampak istimewa. Kulitnya terlihat biasa, sama seperti beberapa jam sebelumnya ketika ia mengetik laporan dan membuka bungkus makan siang.
Justru itulah yang membuatnya merasa sedikit bodoh.
"Tadi hangat," katanya. "Di tempat yang dulu terluka. Sebentar saja."
Andromeda mendekat setengah langkah, tetapi tidak langsung menyentuh. Ia menanyakan apakah rasa itu masih ada. Nindy menggeleng.
Alex memandang tangannya lebih lama daripada yang membuatnya nyaman.
"Bukan karena memegang gelas?"
"Saya dari tadi pegang map, Pak. Kecuali mapnya diam-diam bisa merebus air."
Andromeda menahan senyum. Alex tidak tampak terhibur, tetapi kali ini Nindy juga tidak sedang berusaha melucu. Ia hanya ingin memastikan pengamatannya tidak dibuang sebagai sesuatu yang dibayangkan karena gugup.
Alex menurunkan pandangan kepada kedua tangannya sendiri.
"Saya belum tahu hubungannya," katanya.
Nindy mengangguk. Mendengar pengakuan tidak tahu dari pria itu terasa lebih menenangkan daripada penjelasan panjang yang belum tentu benar.
Andromeda meminta mereka menceritakan urutannya. Alex menjelaskan getaran pada tempat pulpen, benda yang bergerak tanpa diperintah, serta rasa lelah sejak sebelum kembali ke ruangan. Nindy menerangkan kapan ia masuk dan kapan rasa hangat muncul.
Tidak ada cahaya pada telapak. Tidak ada suara atau bisikan. Rasa tersebut juga sudah hilang sebelum ia selesai memutuskan untuk mengatakannya.
"Jangan coba mengulangi kejadian ini hanya untuk memastikan," kata Andromeda kepada Alex.
Pria itu mendengus. "Saya tidak sedang berencana menjatuhkan seluruh isi kantor."
"Bagus. Karena aku sudah cukup banyak memikirkan pekerjaan hari ini."
Nindy melihat mereka bergantian. Dalam situasi lain, percakapan itu mungkin terdengar seperti pemilik perusahaan sedang menegur CEO yang merusak perabot. Namun, sebuah kursi baru saja bergerak sendiri di depan matanya.
Rupanya hidupnya sudah sampai pada tahap ketika kedua hal tersebut bisa terjadi sekaligus.
Andromeda menanyakan apakah Alex akan menghubungi seseorang bernama Ravian. Nama itu belum pernah didengar Nindy, tetapi perubahan wajah Alex membuatnya tahu bahwa pria tersebut bukan kenalan baru.
Alex tidak segera menjawab. Ia mengusap kedua telapak seolah berusaha menghilangkan rasa yang tidak nyaman, lalu memandang kertas-kertas di lantai.
Nindy sempat berpikir ia malu. Dugaan itu terasa aneh ketika diarahkan kepada seseorang yang dapat menyembuhkan luka hanya dengan sentuhan. Namun, semua gerakan pria tersebut menyerupai orang yang tidak suka dilihat ketika gagal melakukan sesuatu yang biasanya mudah.
"Bapak pernah mengalami yang seperti tadi sebelum saya bekerja di sini?" tanyanya.
"Benda bergerak sendiri seperti itu, belum. Kalau tidak menurut ketika dipanggil, pernah."
"Gelas di kamar juga," tambahnya setelah jeda.
Andromeda mengangkat wajah. Rupanya keterangan kedua belum pernah didengarnya. Alex segera memasang ekspresi kesal karena menyadari ia baru saja memberikan alasan tambahan untuk ditanya lebih jauh.
Nindy membayangkan bosnya duduk di tempat tidur, mengajak gelas bergerak, lalu akhirnya terpaksa mengambil sendiri. Dalam keadaan biasa, bayangan tersebut pasti membuatnya tertawa. Sekarang ia lebih banyak merasa tidak nyaman karena tahu ada bagian yang benar-benar membuat pria itu khawatir.
"Kalau saya salah mencatat jadwal, biasanya saya bisa tanya ulang," katanya perlahan. "Bapak juga sepertinya perlu tanya orang yang tahu."
Alex menatapnya. "Ini bukan soal jadwal."
"Saya tahu. Tapi sama-sama gak selesai kalau cuma dimarahi."
Nindy baru menyadari kalimat terakhir terlalu berani sesudah terucap. Ia langsung memandang ujung sepatu, siap menerima balasan tajam.
Andromeda justru mengangguk kecil. Alex melihat keduanya bergantian, lalu mengembuskan napas panjang.
"Kalian berdua sekarang kompak sekali."
Gadis itu tidak menjawab. Namun, ketika Alex akhirnya mengambil ponsel, ia merasa pertanyaan tadi tidak sepenuhnya sia-sia. Setidaknya pertemuan ini bergerak menuju sesuatu selain menganggap semua kejadian hanya akibat hari yang melelahkan.
"Dia masih di luar kota," jawab Alex.
"Telepon tetap bisa digunakan."
"Saya tahu cara kerja telepon, Andro."
"Kalau begitu, gunakan."
Nindy segera menunduk agar tidak ketahuan tersenyum. Ternyata ada orang yang dapat berbicara kepada Alex dengan nada seperti itu dan tetap duduk dengan aman.
Alex mengambil ponselnya. Ia berpikir sebentar, kemudian mengatakan kepada Nindy bahwa Ravian berasal dari bangsanya dan sudah lama mempelajari cara mereka beradaptasi hidup di bumi.
"Bukan orang yang dapat menjawab semuanya begitu mendengar satu keluhan," tambahnya.
"Saya juga belum minta ramalan, Pak."
Alex menatapnya. Nindy buru-buru merapatkan bibir, tetapi Andromeda kali ini benar-benar tertawa pendek.
Panggilan tersambung setelah beberapa saat. Alex menyebut namanya, lalu mendengarkan suara di seberang sebelum menjelaskan keadaan. Nindy tidak mendengar semua jawaban Ravian karena percakapan tidak dinyalakan melalui pengeras suara.
Ia tidak mencoba mendekat untuk mencuri dengar.
Alex menyampaikan bahwa ada orang yang pernah disembuhkannya dan mengalami rasa hangat setelah kejadian tadi. Ia menanyakan apakah perempuan tersebut bersedia ikut menjelaskan ketika Ravian dapat berbicara langsung.
Nindy terkejut ditanya lebih dahulu, lalu mengangguk.
"Saya bisa menjelaskan yang saya rasakan."
Setelah panggilan berakhir, Alex mengatakan Ravian akan datang beberapa hari lagi. Untuk sementara, ia diminta mencatat kejadian yang muncul tanpa sengaja dan tidak terus memaksa kemampuan ketika tubuhnya tidak menurut.
Tidak ada kepastian bahwa masalah selesai hanya karena nama orang lain telah disebut.
Nindy memandang kursi di dekat jendela. "Kalau nanti terjadi lagi waktu ada orang lain?"
Pertanyaan itu membuat Alex dan Andromeda sama-sama diam.
Andromeda akhirnya mengatakan pekerjaan Alex akan diatur agar tidak seluruhnya harus dilakukan sendirian. Perubahan jadwal cukup dijelaskan sebagai kebutuhan beristirahat, tanpa mengundang pegawai lain ikut menyaksikan hal yang belum dipahami.
Nindy menerima tugas menyusun perubahan yang memang menjadi pekerjaannya. Tidak ada kewajiban tinggal sampai malam atau menjaga rahasia dengan mengorbankan keselamatan dirinya.
"Kalau keadaan membuat kamu takut, jangan berdiri dekat benda yang bergerak," kata Alex.
Nindy mengangguk. "Tadi saya sudah pakai map sebagai tameng. Setelah dipikir, sepertinya kurang meyakinkan."
Untuk pertama kali sejak benda-benda itu jatuh, Alex tersenyum sedikit.
"Sangat kurang."
Gadis itu membereskan kertas yang sudah tidak bergerak setelah diizinkan, lalu keluar untuk mengerjakan perubahan jadwal. Tangannya tidak kembali hangat sepanjang sore.
Namun, ketika ia membuka buku catatan, Nindy tetap menuliskan waktu dan apa yang dirasakannya. Ia tidak menambahkan dugaan tentang kutukan, jodoh, atau tanda bahwa dirinya mulai berubah menjadi iblis.
Ia sudah belajar bahwa satu hal aneh tidak memberi izin untuk membuat sepuluh kesimpulan.
Di ruang sebelah, Alex menerima makanan yang akhirnya datang. Ia memakannya tanpa menggunakan kemampuan apa pun untuk mengambil benda di meja.
Nindy melihat sekilas, lalu kembali mengetik.
Untuk sore itu, hal paling menakjubkan yang ingin dilihatnya adalah seluruh perabot tetap diam sampai jam pulang.
°°°°°