Pemeriksaan pengeluaran yang pernah ditanyakan Refan akhirnya menunjukkan sesuatu yang lebih jelas daripada berkas kurang lengkap. Ada selisih antara catatan kegiatan yang diajukan dan keterangan dari pihak yang benar-benar menyediakan pekerjaan tersebut.
Andromeda tidak langsung menyebutnya pencurian. Tim yang ditugaskan memeriksa masih perlu memastikan apakah ada perubahan pesanan, kesalahan pencatatan, atau penjelasan lain yang dapat dibuktikan.
Namun, permintaan Refan untuk melihat kelengkapan pengeluaran kini tidak lagi tampak sebagai urusan kecil yang boleh dilupakan.
Sony diminta memberikan penjelasan beserta dokumen pendukung. Sementara itu, kewenangannya pada urusan yang sedang diperiksa dibatasi agar keputusan tidak kembali melewati orang yang keterangannya sendiri sedang dibutuhkan.
Alex membaca ringkasan di ruang Andromeda tanpa banyak bicara.
"Apakah Refan sudah melihat selisih ini?" tanyanya.
"Belum bisa dipastikan. Yang kita punya baru permintaannya agar rincian diperjelas," jawab Andromeda.
Alex mengangguk. Ia tidak ingin mengisi ruang kosong dengan cerita yang terdengar masuk akal hanya karena Sony sudah terbukti melakukan sesuatu yang salah terhadap Nindy.
Namun, ia juga tidak akan lagi membiarkan permintaan Refan berhenti di tumpukan lama.
Pembicaraan mengenai kecelakaan diteruskan melalui pihak yang menangani dan informasi yang dapat diperiksa bersama keluarga. Belum ada kesimpulan bahwa selisih pengeluaran berkaitan dengan kematian. Kedua jalur itu tetap harus ditelusuri tanpa memaksa satu jawaban lebih awal.
Saat berdiri, Alex merasakan sedikit pusing. Ia menunggu hingga pandangannya kembali stabil sebelum berjalan ke pintu.
Andromeda melihat jeda tersebut.
"Alex."
"Saya hanya lelah."
"Kau bahkan belum mendengar pertanyaanku."
Pria itu berhenti, menoleh dengan wajah kesal. Andromeda tidak tersinggung. Ia sudah mengenalnya cukup lama untuk tahu bahwa jawaban terlalu cepat biasanya berarti ada sesuatu yang tidak ingin dibicarakan.
"Nanti sore saya hubungi lagi," kata Alex akhirnya.
Ia keluar sebelum Andromeda melanjutkan, tetapi tidak menganggap pembicaraan itu benar-benar selesai.
°°°°°
Nindy sedang merapikan halaman laporan ketika Alex kembali ke lantai tiga. Pria itu melintas lebih pelan daripada biasanya, lalu masuk ke ruangannya tanpa memanggil siapa pun.
Di dalam, Alex duduk dan menunggu rasa berat pada kepalanya mereda. Sejak pagi terlalu banyak hal yang menuntut perhatian: keterangan mengenai Sony, pertanyaan yang belum dijawab tentang Refan, serta tubuhnya sendiri yang tidak mau bertindak seperti biasanya.
Ia membuka laci dan memandang pulpen tua beberapa detik. Lalu laci ditutup kembali. Ia tidak ingin setiap kali menyentuh pekerjaan harus berhenti pada kenangan yang sama.
Di layar komputer ada beberapa hal yang masih bisa diselesaikan. Alex membaca satu halaman, memberikan arahan singkat, kemudian beralih pada catatan berikutnya. Kegiatan biasa itu sempat membuatnya merasa lebih tenang.
Namun, ketika hendak mengambil sebuah pulpen, ia merasakan dorongan aneh pada ujung jari. Bukan gerakan yang sengaja dipanggil, melainkan tarikan yang datang sebelum ia menentukan apa yang ingin dilakukan.
Alex segera menjauhkan tangan dari meja.
Tempat pulpen tetap diam.
Ia mengamati benda tersebut sampai yakin tidak ada apa-apa, lalu mengusap wajah dengan kesal. Mungkin ia terlalu lelah. Mungkin kekhawatiran membuatnya memperhatikan setiap sensasi kecil secara berlebihan.
Penjelasan itu terasa nyaman karena tidak menuntutnya segera memanggil siapa pun.
Alex menarik napas dan mencoba melanjutkan pekerjaan. Kali ini ia hendak menggunakan tangan biasa, tanpa kemampuan apa pun. Tetapi sebelum jarinya mencapai pulpen, sebuah bunyi kecil terdengar dari sisi meja.
Ia membeku. Benda yang seharusnya tidak disentuh mulai bergetar, dan kali ini ia tidak dapat menyebutnya hanya perasaan.
Gadis itu melihat jam. Makan siangnya belum datang karena jadwal pertemuan tadi mundur. Urusan pemesanan pribadi kini ditangani melalui pengaturan yang berbeda, bukan otomatis menjadi tugas Nindy.
Ia tidak masuk tanpa dipanggil. Sebagai gantinya, Nindy menghubungi bagian yang bertugas untuk memastikan pesanannya tidak tertunda karena perubahan waktu.
Setelah mendapatkan jawaban, ia kembali pada laporan.
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi keras dari ruang Alex.
Nindy mendongak. Dari balik kaca, ia melihat tempat pulpen terjatuh ke lantai. Alex berdiri dengan satu tangan bertumpu pada meja, wajahnya menegang.
Gadis itu mengetuk cepat. "Pak?"
Alex memberi isyarat agar ia masuk. Nindy membuka pintu dan langsung melihat kursi di dekat jendela bergeser sendiri beberapa sentimeter.
Tidak ada orang yang menyentuhnya.
Tubuhnya otomatis berhenti di ambang pintu.
"Jangan mendekat dulu," kata Alex.
Nindy menurut. Ketakutan datang lagi, tetapi kali ini ia melihat bahwa pria di dalam ruangan tampak sama terkejutnya dengan dirinya.
Sebuah lembar kertas terangkat dari meja, berputar sebentar, lalu jatuh. Benda-benda lain tetap diam. Tidak ada angin yang cukup kuat untuk menjelaskan gerakan itu.
Alex memejamkan mata. Rahangnya mengeras, kemudian tangan yang tidak bertumpu pada meja mengepal.
Ruangan perlahan kembali tenang.
Nindy masih berdiri di tempatnya, memegang map seperti perisai yang sama sekali tidak masuk akal. Kalau kursi bisa berjalan sendiri, tentu tiga puluh lembar kertas tidak akan menyelamatkannya.
Ia menurunkan map dengan gerakan pelan.
"Bapak yang melakukan itu?"
Alex membuka mata. "Ya. Tapi saya tidak bermaksud memindahkannya."
Nindy menatap kursi, lalu pria tersebut. Selama ini ia memikirkan kemampuan Alex sebagai sesuatu yang dapat dinyalakan sesuai keinginan. Kejadian barusan menunjukkan bahwa persoalannya jauh lebih rumit.
"Saya panggil Pak Andromeda?"
Alex sempat ingin menolak. Nindy melihatnya dari cara ia menarik napas, tetapi kali ini pria itu akhirnya mengangguk.
"Telepon dia. Minta datang."
Gadis itu segera melakukannya, menyampaikan bahwa Alex membutuhkan kehadirannya tanpa menceritakan rincian di jalur yang tidak diperlukan. Setelah itu ia kembali menunggu dekat pintu, memastikan tidak ada orang masuk karena mendengar bunyi barang jatuh.
Alex duduk perlahan. Tangan yang tadi gemetar kini terlihat lebih tenang, tetapi wajahnya masih pucat.
"Airnya ada di sebelah Bapak," kata Nindy.
Pria itu menoleh. Gelas berada dalam jangkauan, tetapi untuk sesaat ia menatapnya seolah tidak sepenuhnya memercayai tangan sendiri.
"Diambil biasa saja, Pak," tambah Nindy spontan. "Gak perlu disuruh terbang."
Alex memandangnya, lalu mengembuskan napas yang hampir menyerupai tawa. Ia mengambil gelas dengan tangan, meminumnya sedikit, dan meletakkan kembali tanpa kejadian lain.
Andromeda datang tidak lama kemudian. Nindy menjelaskan yang dilihatnya, tanpa menambahkan dugaan. Lelaki tua itu menatap kursi, kertas di lantai, kemudian Alex.
"Selama ini kau bilang kadang tidak bisa menggerakkan sesuatu," katanya. "Sekarang justru bergerak ketika tidak diminta?"
Alex mengangguk.
Andromeda menarik kursi untuk duduk. Kali ini ia tidak membiarkan Alex kembali menggunakan pekerjaan sebagai jalan keluar.
Nindy hendak meninggalkan ruangan ketika telapak kanannya mendadak terasa hangat. Ia berhenti sebentar, melihat tempat yang dulu terluka oleh gelas.
Tidak ada cahaya. Tidak ada bekas luka yang muncul kembali.
Hanya rasa hangat singkat yang belum bisa dijelaskannya.
Ia mengangkat wajah, menatap Alex, lalu memutuskan bahwa kali ini hal aneh tidak akan disimpan sampai berubah menjadi kebohongan.
"Pak, ada satu hal lagi yang perlu saya katakan."
°°°°°