Isabela melihat Nindy membawa berkas dari meja lain dan berhenti di tengah langkah. Ia sudah mendengar bahwa ada pembatasan tertentu pada tugas sekretaris Alex, meskipun tidak mengetahui seluruh sebabnya.
"Kamu dipindahkan?" tanyanya.
Nindy menggeleng. "Tidak, Bu. Tugas saya sedang diatur ulang."
"Karena membuat kesalahan?"
Gadis itu tidak langsung menjawab. Koridor bukan tempat yang tepat untuk menjelaskan pertemuannya dengan Sony atau uang yang telah dipakai keluarganya.
Namun, ia juga tidak ingin kembali berlindung di balik kebohongan.
"Ada kesalahan saya yang sedang ditangani melalui pemeriksaan kantor. Untuk keterangannya, saya perlu mengikuti yang sudah disepakati."
Isabela menatapnya tajam. "Kalau menyangkut Alex, saya tentu ingin tahu."
"Saya mengerti, Bu. Tapi saya tidak bisa menjelaskan urusan pribadi atau pemeriksaan orang lain di sini."
Nindy sudah bersiap menghadapi kalimat yang lebih keras ketika Alex keluar dari ruangannya.
"Isabela, kalau ada urusan dengan saya, masuk. Nindy sedang bekerja."
Wanita itu berbalik. Ia tampak ingin membantah, tetapi akhirnya melangkah mendekati Alex. Sebelum pintu tertutup, Nindy mendengar Isabela menanyakan apakah pria itu terlalu mudah mempertahankan orang yang telah membuat masalah.
Alex menjawab singkat bahwa penilaian pekerjaan sedang dilakukan oleh pihak yang menangani.
Tidak ada pembelaan manis yang menempatkan Nindy sebagai korban tanpa kesalahan. Anehnya, gadis itu justru merasa lebih tenang mendengar jawaban yang tidak berlebihan tersebut.
Ia membawa berkas ke tempat yang dituju dan menyelesaikan tugasnya.
°°°°°
Galih mengajaknya bicara setelah jam istirahat. Ia tidak membawa makanan atau lelucon pembuka kali ini. Cowok itu hanya menunjuk tempat duduk yang agak terpisah dari meja pegawai lain dan menanyakan apakah Nindy mempunyai waktu beberapa menit.
Gadis itu mengangguk, mendadak gugup.
"Aku mau tanya langsung daripada menebak dari omongan orang," kata Galih. "Pertanyaan kamu tentang Pak Alex waktu itu ada hubungannya dengan masalah yang sedang diperiksa?"
Nindy menunduk pada jari-jarinya.
Ternyata saatnya tetap datang, meskipun ia belum merasa siap.
"Ada," jawabnya pelan.
Galih tidak bergerak. Nindy mengangkat wajah dan menjelaskan sebatas bagiannya sendiri: ia pernah menerima tugas tambahan yang tidak seharusnya untuk mengumpulkan informasi mengenai atasannya, dan sebagian percakapan dengan Galih dimulai karena niat tersebut.
Ia tidak menyebut identitas Alex atau isi pemeriksaan yang bukan untuk disebarkan.
Wajah Galih berubah.
"Jadi waktu kamu tanya tentang Pak Refan..."
"Awalnya memang untuk mencari tahu lebih banyak tentang Pak Alex. Tapi aku tidak mendapat atau menyerahkan rahasia dari kamu. Aku tetap salah karena tidak jujur soal alasanku bertanya."
Galih bersandar dan mengembuskan napas panjang. Nindy membiarkannya diam. Ia tidak menambahkan alasan keluarganya dengan harapan cowok itu segera merasa kasihan.
"Aku mengira kita sedang berteman," katanya akhirnya.
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada yang diperkirakan Nindy.
"Aku memang senang berteman sama kamu. Tapi aku tahu setelah pengakuan ini, kamu gak harus langsung percaya."
Galih memandang lantai beberapa detik. Ia bukan orang yang mudah membentak, tetapi bukan berarti kekecewaannya tidak terlihat.
"Aku perlu waktu untuk memikirkannya."
Nindy mengangguk. "Iya."
Ia tidak meminta Galih tetap membawakannya roti, mengajaknya makan, atau berpura-pura bahwa percakapan mereka dahulu tidak mempunyai bagian yang palsu. Hal-hal yang sempat terasa ringan kini memperlihatkan harga yang tidak bisa dibayar dengan uang.
Ketika mereka berdiri, Galih tetap memberi tahu bahwa berkas revisi akan dikirim sore nanti. Pekerjaan harus berjalan, meskipun hubungan di luar pekerjaan belum kembali seperti semula.
Nindy mengucapkan terima kasih. Galih mengangguk lalu pergi, tanpa senyum lebar yang biasanya membuat gadis itu kehilangan fokus.
Ia baru memahami betapa mudahnya merindukan sesuatu tepat setelah membuatnya berubah.
Di lantai dua, Galih duduk di mejanya tanpa langsung membuka pekerjaan. Salah satu anggota tim menanyakan revisi bahan yang tadi dibawanya. Ia menjawab bahwa akan segera dikirim, lalu memastikan tidak ada bagian yang terlewat.
Ia tidak menceritakan pengakuan Nindy kepada orang di sekelilingnya. Rasa kecewa tidak memberinya alasan untuk membuat gadis itu menjadi bahan pembicaraan sepanjang sore.
Namun, ia juga tidak ingin berpura-pura baik-baik saja.
Galih teringat beberapa percakapan yang sebelumnya terasa menyenangkan: Nindy menanyakan usianya, mengagumi presentasi, dan tertawa ketika ia bercanda. Kini ia harus menerima bahwa sebagian pertanyaan mempunyai maksud yang tidak diketahuinya saat menjawab.
Belum tentu semuanya palsu. Justru karena tidak tahu batasnya, ia merasa sulit menentukan apa yang harus dirasakan.
Ponselnya menyala karena pesan koordinasi dari Nindy. Isinya hanya memastikan waktu pengiriman berkas. Tidak ada permintaan agar ia segera memaafkan atau menjawab dengan ramah seperti biasa.
Galih membalas waktu yang diperlukan, kemudian menyimpan telepon.
Ia masih ingin mengetahui Nindy lebih jauh. Ketertarikan itu tidak langsung hilang hanya karena ia kecewa. Tetapi untuk sekarang ia ingin memastikan bahwa, jika percakapan mereka kelak kembali akrab, tidak ada lagi tugas tersembunyi di belakang setiap senyuman.
Cowok itu membuka bahan presentasi dan mulai memeriksa. Pada satu bagian, ia menemukan kalimat yang terlalu panjang dan mencoretnya. Timnya menunggu keputusan nyata, bukan suasana hati atasannya.
Ia meneruskan pekerjaan sampai selesai, lalu mengirim berkas pada waktu yang telah dijanjikan. Bersikap profesional ternyata bisa dilakukan sambil tetap mengakui bahwa dirinya sedang terluka.
°°°°°
Sore itu Nindy bekerja lebih diam. Alex melihatnya beberapa kali dari balik kaca, tetapi tidak memanggil hanya untuk menanyakan suasana hati.
Saat menyerahkan ringkasan jadwal, gadis itu sempat keliru menyebut satu tanggal. Ia segera membetulkan sebelum Alex menunjuknya.
"Maaf, Pak. Saya periksa lagi."
Alex meletakkan berkas. "Kalau pikiran kamu sedang di tempat lain, berhenti sebentar lalu periksa. Jangan terus berjalan sambil menebak."
Nindy mengangguk dan mulai membaca ulang.
"Galih marah?" tanya Alex setelah beberapa saat.
Gadis itu mendongak. "Bapak tahu?"
"Saya melihat kalian bicara. Setelah itu dia tidak singgah di meja kamu seperti biasa. Saya menebak, bukan membaca pikiran."
Nindy tersenyum lemah. Rupanya pria itu sudah hafal bahwa ia mudah membayangkan kemampuan tambahan setiap kali Alex mengatakan sesuatu yang tepat.
"Dia kecewa. Saya menjelaskan bagian kesalahan saya kepadanya. Tidak soal Bapak yang... itu."
Alex mengangguk, tidak menuntut kata yang sulit diucapkannya di ruang kerja.
"Saya gak tahu harus bagaimana supaya orang percaya lagi," lanjut Nindy.
"Kamu tidak bisa mengatur kapan mereka siap."
Gadis itu menatap berkas di tangan. Ia sudah mulai memahami, tetapi mendengarnya dari Alex membuat pengertian itu terasa lebih nyata.
"Yang bisa saya atur pekerjaan saya sekarang," katanya.
"Salah satunya. Mulai dengan tanggal yang benar."
Nindy mengembuskan napas, lalu kali ini tersenyum sungguhan. Ia membetulkan angka, membacakan kembali, dan menunggu sampai Alex mengangguk.
Tidak ada jalan singkat yang diberikan kepadanya hari itu.
Namun, ada pekerjaan berikutnya yang bisa dilakukan tanpa kembali berpura-pura.
°°°°°