Nindy menunggu sampai Alex selesai memberi arahan sebelum mengajukan pertanyaan yang disimpannya sejak mengetahui usia pria itu. Ia sudah terlalu sering membuat dirinya sendiri penasaran lalu mencari jawaban melalui orang lain.
Kali ini ia akan bertanya langsung.
"Pak, Bapak pernah menolong seseorang yang jatuh di hutan?"
Alex mendongak dari berkas. "Orang seperti apa?"
"Anak sekolah. Perempuan. Pakai seragam putih."
Pria itu mengerutkan kening. Selama hidupnya, ia pernah menolong banyak orang. Sebagian dikenalnya, sebagian bahkan tidak sempat menyebut nama. Nindy melihat keraguan pada wajahnya dan segera menjelaskan lebih banyak.
"Sekitar delapan tahun lalu. Ada kegiatan PMR. Saya ikut ujian bersama tiga teman. Kami sedang jalan pulang dari pos ketika dua teman saya bertengkar."
Alex perlahan meletakkan berkas.
"Kamu yang jatuh?"
Nindy mengangguk. "Saya melerai, terus terdorong. Saya pikir bakal jatuh sampai dasar, tapi ada orang menangkap saya. Kami seperti turun lewat udara."
Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.
Alex memandang wajah di depannya lebih saksama. Selama ini ia hanya melihat sekretaris yang terlalu cepat menyahut, terlalu sering berlari, dan mempunyai mata bulat yang hampir selalu menyimpan pertanyaan.
Kini sebuah ingatan lain bergerak mendekat.
Anak perempuan yang memejamkan mata begitu rapat, lalu membukanya dengan ekspresi seolah tidak yakin dirinya masih hidup. Suara teman-temannya terdengar jauh di atas. Seragam yang kotor setelah ia menapakkan kaki di dasar jurang.
"SMP Harapan?" tanya Alex pelan.
Nindy membeku.
Nama itu belum disebutkannya dalam percakapan tersebut.
"Bapak... tahu?"
Alex menatapnya beberapa detik lagi, lalu mengangguk. "Saya ingat nama di seragamnya. Saya sedang melintas tidak jauh ketika mendengar teriakan."
Nindy mencengkeram buku yang dipegang. Wajah dalam ingatannya masih tidak setajam wajah Alex sekarang, tetapi potongan yang selama ini berdiri sendiri mulai mempunyai tempat.
"Bapak menyuruh saya turun dari gendongan."
"Karena kamu terus memegang lengan saya setelah kami sampai di bawah."
Nindy menutup mulut dengan tangan.
Ia ingat rasa takut melepaskan. Bukan takut kepada orang yang menggendongnya, melainkan takut kakinya ternyata tidak benar-benar bisa menyentuh tanah lagi.
"Itu Bapak?"
Alex mengangguk sekali lagi. "Ya."
Tidak ada cahaya yang memenuhi ruangan ketika jawaban itu diberikan. Tidak ada ingatan sempurna yang tiba-tiba kembali. Nindy hanya berdiri dengan napas tertahan, mencoba menerima bahwa orang yang selama bertahun-tahun ingin ditemuinya kini justru menjadi orang yang telah dikhianatinya.
"Saya gak tahu," bisiknya.
"Saya juga tidak mengenali kamu ketika pertama datang. Kamu sudah dewasa."
Nindy tertawa pendek, tetapi matanya basah. "Waktu itu saya takut sudah mati."
"Kamu masih sempat bilang terima kasih."
Gadis itu mengangguk berulang kali. Setelah sekian lama, ingatan tersebut tidak lagi harus diperdebatkan seorang diri. Ia pernah ditolong. Ia memang hidup sesudah jatuh dari tempat yang seharusnya membuatnya celaka.
Dan orang itu sedang duduk di depannya, masih dengan wajah yang sulit dibaca.
"Kenapa Bapak pergi begitu saja?"
"Orang-orang sudah datang. Kamu tidak sendirian lagi. Saya tidak ingin harus menjelaskan bagaimana bisa sampai ke sana begitu cepat."
Nindy menunduk. Ia teringat suara tim yang memanggilnya, langkah-langkah mendekat, dan kelegaan yang membuatnya sulit menceritakan urutan peristiwa dengan tenang.
"Bapak masih bisa terbang seperti waktu itu?" tanyanya setelah beberapa saat.
Alex melihat tangannya sendiri sebentar sebelum menjawab. "Itu bukan sesuatu yang akan saya coba hanya untuk membuktikan cerita."
Nindy buru-buru mengangguk. "Saya gak minta Bapak mencoba. Saya cuma teringat Bapak kelihatan lelah setelah menyembuhkan tangan saya."
Pria itu tidak memberi jawaban pasti mengenai apa yang sekarang mampu dilakukannya. Ia hanya mengatakan bahwa Nindy tidak boleh menganggap semua keadaan dapat diatasi dengan cara yang sama seperti delapan tahun lalu.
Gadis itu memandang jendela di samping meja. Ada ketinggian di luar sana yang dahulu akan membuatnya membayangkan hal menakjubkan setelah mendengar pengakuan seorang iblis. Sekarang ia justru memikirkan risiko yang selama ini mungkin tidak pernah terlihat dari orang yang ditolong.
"Waktu itu Bapak juga kesakitan sesudahnya?"
Alex menggeleng. "Tidak seperti sekarang."
Jawaban tersebut membuat Nindy diam. Ia ingin bertanya apa yang berubah, tetapi ia juga sudah mendengar bahwa pria itu belum memahami semuanya.
Untuk sekali ini, pertanyaan dapat menunggu tanpa berubah menjadi kecurigaan bahwa Alex pasti sedang menyembunyikan jawaban yang mudah.
Nindy lalu mengingat hal lain dan tersenyum malu. "Saya sempat pikir Bapak malaikat. Dulu juga waktu pertama lihat foto untuk pekerjaan ini."
Alex mengangkat alis.
"Itu sebelum Bapak meninggalkan saya di depan lift," sambungnya cepat.
Pria itu menatapnya beberapa detik, kemudian mengembuskan napas. "Kamu masih mengingat itu?"
"Kaki saya ingat, Pak. Pakai heels sambil mengejar orang bukan pengalaman yang gampang dilupakan."
Percakapan menjadi lebih ringan untuk sesaat. Nindy bisa tertawa kecil tanpa menganggap tawa itu menghapus apa pun. Alex pun dapat mendengarnya tanpa harus segera kembali memasang jarak yang sama kaku seperti hari pengakuan.
Alex tidak memintanya mencari orang itu lagi. Tidak meninggalkan nama atau membuat dirinya merasa harus membalas sesuatu. Ia hanya menolong seorang anak yang hampir kehilangan hidup.
Rasa bersalah kembali naik begitu tajam sampai Nindy sulit menelan.
"Kalau saya tahu dari awal..."
"Kamu tetap perlu berhenti melakukan yang salah, meskipun orang yang menjadi sasaranmu tidak pernah menolong kamu," potong Alex.
Nindy mendongak, terdiam.
Kalimat itu tidak diucapkan keras. Justru karena tenang, ia tidak bisa menghindarinya dengan merasa sedang dimarahi.
"Iya," jawabnya akhirnya. "Saya tahu."
Alex menghela napas. Ia tidak ingin sebuah pertolongan delapan tahun lalu berubah menjadi utang yang dipakai untuk memenangkan percakapan sekarang.
"Saya menolong karena kamu jatuh. Tidak ada kesepakatan setelah itu."
Nindy mengusap sudut matanya. "Tetap boleh terima kasih lagi, kan?"
Pria itu mengangguk.
"Terima kasih karena waktu itu menyelamatkan saya."
Alex menerima ucapan tersebut tanpa banyak kata. Ia menggeser kotak tisu ke dekatnya, lalu pura-pura merapikan berkas agar Nindy mempunyai waktu mengeringkan mata.
Setelah lebih tenang, gadis itu bertanya apakah Alex pernah menolong kakeknya juga. Ia hanya dapat memberi cerita yang sudah didengar, tanpa waktu dan lokasi yang cukup jelas untuk memastikan.
Alex tidak mengaku mengenali kejadian yang belum diingatnya.
"Kita belum tahu," katanya. "Jangan membuat semua penolong dalam cerita kamu menjadi saya."
Nindy tertawa kecil. "Iya, Pak. Saya baru mau berpikir Bapak punya cabang di mana-mana."
Alex memandangnya datar. Namun, kali ini kedataran itu tidak terasa sedingin sebelumnya.
Ketika keluar, Nindy berhenti sebentar di dekat mejanya. Dahulu ia sering membayangkan bagaimana rasanya bertemu lagi dengan pria di hutan.
Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi sekretarisnya.
Apalagi sekretaris yang kini harus belajar memperbaiki kepercayaan yang sudah dirusaknya sendiri.
°°°°°