Laras datang pada waktu yang telah disepakati, membawa salinan informasi yang dimilikinya tentang kecelakaan Refan. Ia tidak datang dengan keyakinan bahwa suaminya dibunuh. Justru kekhawatiran itulah yang pertama kali disampaikannya kepada Andromeda dan Alex.
"Saya tidak ingin anak-anak mendengar kabar yang belum jelas," katanya.
Andromeda mengangguk. "Kami juga tidak ingin membuat kesimpulan sebelum mengetahui faktanya."
Nindy tidak berada dalam pertemuan itu. Ia hanya membantu menyiapkan jadwal dan menyambut Laras sebelum kembali ke mejanya. Alex tidak membawanya masuk untuk mendengar semua hal hanya karena gadis tersebut sudah mengetahui rahasianya.
Di dalam, Laras menyerahkan keterangan yang selama ini diterima keluarga. Hari, waktu, serta tempat kejadian diperiksa kembali. Informasi tersebut tidak tiba-tiba berubah menjadi penjelasan lengkap tentang apa yang mendahului kecelakaan.
Alex membaca dengan rahang mengeras.
Nama Refan pada halaman itu terasa terlalu resmi. Tidak ada suara lelaki tersebut, tidak ada kebiasaan mengingatkan makan siang, tidak ada gerakan mengangkat alis ketika Alex kembali lupa meletakkan barang.
Hanya catatan mengenai hari terakhirnya.
Andromeda kemudian menanyakan pertemuan dengan bagian pemasaran yang tercantum dalam jadwal lama. Laras mengingat Refan pulang sedikit lebih lambat pada hari yang disebutkan. Suaminya mengatakan ada urusan pengeluaran kegiatan yang harus diperiksa ulang.
"Beliau menyebut Sony?" tanya Alex.
Laras menggeleng. "Saya tidak ingat nama yang disebut. Saya tidak mau mengatakan iya hanya karena sekarang Bapak menanyakannya."
Alex mengangguk. "Tidak apa-apa."
"Yang saya ingat, dia kesal karena satu urusan harus ditanyakan berulang kali. Tapi itu juga pernah terjadi pada pekerjaan lain."
Laras menatap keduanya, seperti ingin memastikan kalimat tersebut tidak akan dipakai untuk membentuk cerita yang lebih besar daripada maksudnya.
Andromeda mengatakan mereka akan membandingkannya dengan catatan kerja, bukan menjadikan ingatan itu kesimpulan tunggal.
Pertemuan berlangsung tidak terlalu lama. Laras memberi izin untuk membicarakan informasi tertentu dengan pihak yang memang berwenang menanganinya jika nanti diperlukan. Ia tetap menyimpan dokumen keluarga yang tidak berkaitan dengan pemeriksaan pekerjaan.
Andromeda menanyakan apakah ada hal dari pekerjaan Refan yang membuat keluarga merasa kesulitan setelah kepergiannya. Laras menjelaskan beberapa urusan sudah dibantu diselesaikan. Yang masih sulit justru kebiasaan menunggu suaminya pulang pada jam yang sama.
"Kadang saya masih menyiapkan gelasnya," katanya sambil merapikan ujung tas. "Baru sadar setelah sudah ditaruh di meja."
Alex menatap tangannya sendiri. Ia teringat pernah memanggil nama Refan untuk secangkir kopi, lalu kesal kepada diri sendiri ketika ruangan tidak menjawab.
Laras tidak sedang meminta sesuatu darinya. Ia hanya mengatakan bagaimana kehilangan terus muncul melalui gerakan yang dilakukan sebelum sempat berpikir.
"Saya juga masih sering hampir memanggilnya," kata Alex.
Perempuan itu mendongak. Untuk beberapa saat, keduanya tidak membicarakan kecelakaan atau berkas. Mereka hanya mengingat orang yang sama dari dua tempat yang berbeda.
Laras bercerita bahwa Refan suka mengeluh ketika pulang terlalu lelah, tetapi selalu kembali memeriksa tasnya sebelum tidur agar tidak ada kebutuhan kerja yang tertinggal. Kadang istrinya menyuruh ia berhenti memikirkan kantor setelah sampai rumah.
"Dia bilang kalau besok lebih rapi, semua orang bisa pulang lebih cepat. Padahal seringnya dia sendiri yang terakhir selesai," ujar Laras dengan senyum sedih.
Alex menunduk. Ia tidak dapat mengubah kebiasaan masa lalu itu sekarang. Yang dapat dilakukannya hanya memastikan pekerjaan terakhir Refan tidak diperlakukan sebagai sisa yang mengganggu meja orang lain.
Andromeda memberikan waktu sebelum kembali memastikan informasi mana yang boleh diteruskan untuk penelusuran. Laras membaca keterangan yang dicatat, membetulkan satu bagian tentang waktu suaminya pulang, lalu mengangguk.
"Saya ingat dia terlambat. Saya tidak ingat jamnya persis. Tolong jangan ditulis seolah saya tahu."
Catatan itu diperbaiki. Alex melihatnya dilakukan tanpa bantahan dan merasa sedikit lebih tenang. Dalam keinginannya mencari penjelasan, ia tidak ingin membuat Laras harus mempertahankan ingatan yang sebenarnya tidak pernah dimilikinya.
Kejujuran tentang hal yang tidak diketahui ternyata sama pentingnya dengan jawaban yang berhasil ditemukan.
Sebelum pulang, ia memandang Alex.
"Bapak sendiri baik-baik saja?"
Pertanyaan yang sama seperti dari Nindy beberapa hari sebelumnya. Alex hampir memberi jawaban singkat bahwa ia masih bekerja, tetapi wajah Laras membuatnya berhenti.
"Saya masih sulit membiasakan diri," katanya akhirnya.
Laras mengangguk dengan mata basah. Tidak mengatakan bahwa waktu pasti menyembuhkan semuanya. Ia juga masih belajar menghadapi kursi yang tidak lagi ditempati suaminya saat makan malam.
°°°°°
Pada sore yang sama, administrasi memastikan bahwa pertemuan Refan dengan bagian pemasaran memang terlaksana. Ada tindak lanjut tertulis mengenai kelengkapan bukti pengeluaran kegiatan. Permintaan Refan belum seluruhnya dijawab sebelum kecelakaan.
Sony sudah mengetahui permintaan itu karena namanya tercantum sebagai penerima.
Andromeda meletakkan dua catatan berdampingan. Satu menunjukkan waktu pertemuan, yang lain menunjukkan apa yang diminta sesudahnya. Tidak ada kalimat ancaman. Tidak ada pengakuan mengenai tindakan mencelakai siapa pun.
Namun, kini mereka mempunyai pekerjaan yang konkret untuk diperiksa, bukan hanya nama dalam sebuah jadwal.
"Minta bagian terkait menjelaskan status dokumennya," kata Andromeda. "Apakah sudah dilengkapi lewat jalur lain atau memang masih kurang."
Alex mengangguk. Ia tidak ingin memanggil Sony lalu membentaknya berdasarkan prasangka, meskipun keinginan tersebut sempat melintas.
Refan pantas mendapat jawaban yang benar, bukan sekadar seseorang untuk disalahkan.
Ketika kembali ke ruangannya, Alex melihat Nindy sedang berdiri di depan rak berkas. Gadis itu berusaha mengembalikan map ke bagian atas tanpa membuat tumpukan di sampingnya jatuh.
"Pakai pijakan yang tersedia," katanya.
Nindy menoleh, kehilangan konsentrasi, lalu buru-buru memeluk map sebelum meluncur dari tangannya.
"Iya, Pak. Bapak kalau muncul bisa pakai bunyi dulu, gak?"
Alex menatapnya datar. "Saya berjalan. Bukan muncul dari dalam lemari."
Nindy langsung menutup mulut. Dengan semua hal yang baru diketahuinya, kalimat itu justru membuat bayangan aneh bermunculan lagi.
Alex menunjuk pijakan pendek di dekat dinding. Nindy mengambilnya, menyelesaikan pekerjaan, lalu turun dengan hati-hati.
"Bu Laras tadi sudah pulang?" tanyanya.
"Sudah."
"Beliau kelihatan sedih waktu datang. Saya cuma ingin tahu kalau perjalanannya pulang sudah beres."
Alex memperhatikannya. Nindy tidak bertanya apa isi pertemuan atau meminta melihat dokumen. Kali ini kepenasarannya berhenti pada hal yang memang dapat ia bantu.
"Sudah dijemput keluarganya."
Nindy mengangguk lega. Ia mengangkat map terakhir dan kembali bekerja.
Alex masuk ke ruangan, lalu membuka laci tempat pulpen Refan disimpan. Ia menyentuh benda tersebut sebentar tanpa mengambilnya.
Hari itu belum memberinya jawaban tentang kecelakaan.
Tetapi ada satu urusan yang pernah coba diselesaikan Refan, dan kini tidak akan dibiarkan hilang hanya karena orang yang menanyakannya sudah tiada.
°°°°°