Nindy memandangi angka pada layar ponselnya sebelum memeriksa kembali tujuan pengiriman. Tiga juta rupiah. Itulah bagian uang Sony yang akhirnya dapat dipisahkan setelah semua pengeluaran diperiksa bersama keluarganya.
Jumlah itu terasa besar ketika dicari, tetapi kecil ketika dibandingkan dengan lima belas juta yang pernah diterimanya.
Roy duduk di sebelahnya. "Sudah sesuai dengan pembicaraan kemarin?"
Nindy mengangguk. Pengembalian tahap pertama telah dibicarakan melalui pihak yang menangani pencatatan di kantor. Ia tidak sedang mengirim uang karena Sony menelepon dan membuatnya panik. Ada jumlah yang jelas, tujuan yang dipastikan, serta catatan mengenai sisa yang belum diselesaikan.
Ia menekan tombol terakhir.
Setelah pemberitahuan muncul, Nindy tidak langsung tersenyum. Saldo berkurang. Sisa pengembalian masih dua belas juta. Dunia tidak mendadak berubah menjadi lebih ringan hanya karena satu langkah berhasil dilakukan.
Namun, langkah itu sungguh telah dilakukan.
Nindy menyimpan bukti untuk diteruskan kepada pihak yang perlu mengetahuinya, lalu meletakkan telepon di meja.
"Sudah, Pa."
Roy mengangguk. "Sekarang kita pikirkan tahap berikutnya tanpa menghabiskan uang makan."
Nandiro muncul dari dapur membawa dua gelas. Salah satunya terlalu penuh hingga air menetes ke jarinya. Ia mengumpat pelan, membuat Nindy spontan mendecih.
"Pelan-pelan. Lo bawa minum atau mau menyiram lantai?"
"Namanya juga bantu. Jangan langsung dinilai jelek."
Ratih tertawa dari belakang mereka. Pagi itu tetap mempunyai bunyi-bunyi biasa, meskipun keluarga tersebut baru saja membicarakan kesalahan yang tidak bisa diselesaikan dalam satu malam.
Nandiro lalu memberi tahu bahwa pekerjaan akhir pekan yang sempat ditanyakannya sudah lebih jelas. Ia akan membantu penataan tempat dan pendataan peserta pada sebuah kegiatan, dengan jam yang tidak bertabrakan dengan kuliah. Roy sudah ikut memeriksa keterangan yang diperlukan sebelum mereka menyetujuinya.
"Belum kaya," kata Nandiro. "Tapi setidaknya gue bisa beli kebutuhan sendiri dulu."
Nindy mengangguk. "Jangan dihitung jadi uang sebelum benar-benar dikerjakan dan dibayar."
"Iya, Bu Akuntan."
Ia melemparkan kain lap kecil kepada adiknya. Nandiro menangkapnya sambil tertawa, kemudian benar-benar mengelap air yang ditumpahkannya.
°°°°°
Di kantor, Nindy menyerahkan bukti pengembalian sesuai jalur yang telah disepakati. Ia memastikan catatannya menunjukkan pembayaran sebagian, bukan pelunasan seluruhnya. Sony belum menerima laporan rahasia baru. Pembayaran lanjutan yang dulu dijanjikannya juga tidak diterima Nindy.
Saat kembali ke meja, gadis itu menemukan tiga map menunggu. Ada penanda pada masing-masing bagian yang harus diperiksa. Alex tidak menitipkan dokumen pribadi lagi, tetapi pekerjaan kantor tetap cukup banyak untuk membuatnya sulit bernapas lega terlalu lama.
Nindy membuka map pertama dan mulai bekerja.
Tidak lama kemudian, pegawai dari bagian lain meminta konfirmasi atas sebuah angka yang belum lengkap keterangannya. Dahulu Nindy mungkin langsung membawa halaman itu kepada Alex agar bosnya memilih jawaban, lalu ia dapat mencentang satu tugas lagi.
Kali ini ia membaca lebih dahulu dan menyadari bahwa pertanyaan tersebut dapat diteruskan kepada orang yang menyiapkan bahan awal. Ia belum perlu membuat keputusan sendiri. Ia hanya perlu memastikan orang yang tepat menjawab.
Nindy menghubungi bagian tersebut, menjelaskan halaman yang dimaksud, lalu menunggu konfirmasi sambil mengerjakan tugas lain. Ketika jawabannya datang, ia mencatat perubahan tanpa menghapus versi yang masih perlu dibandingkan.
Sederhana. Tidak ada gerakan ajaib atau tepuk tangan.
Tetapi ia merasa sedikit lebih tegak ketika meletakkan hasilnya di tumpukan yang siap diperiksa.
Ponselnya kemudian bergetar karena pesan dari Nandiro. Adiknya mengirim foto sepatu yang akan dipakai untuk pekerjaan akhir pekan, menanyakan apakah masih terlihat pantas. Nindy memperbesar gambar dan segera tertawa melihat satu sisi yang belum dibersihkan.
Nindy: Bersihin dulu. Jangan berharap semua orang cuma lihat kaki kanan lo.
Nandiro membalas dengan protes panjang, lalu mengirim gambar kedua setelah dibersihkan. Nindy mengatakan sudah cukup baik dan mengingatkan agar ia datang tepat waktu.
Ia hampir menambahkan nasihat lain sebelum berhenti. Adiknya perlu belajar melakukan beberapa hal sendiri, bukan menerima daftar perintah sepanjang daftar Alex dahulu.
Nindy meletakkan telepon sambil tersenyum. Di rumah mereka masih belum mempunyai banyak uang. Di kantor ia masih menjalani pemeriksaan. Namun, ada hal-hal kecil yang bergerak ke arah lebih baik tanpa harus disembunyikan dari siapa pun.
Ia kembali memeriksa map dan menemukan satu catatan yang hampir terlewat. Senyumnya langsung berubah menjadi gerutuan lirih.
Rupanya pekerjaan sungguhan tetap tidak peduli apakah seseorang sedang merasa bijaksana. Kalau ada halaman belum lengkap, halaman itu tetap harus dibereskan.
Menjelang siang, Alex keluar untuk mengambil satu berkas. Ia melihat Nindy membandingkan dua jadwal, lalu menunjuk bagian yang berubah.
"Klien memundurkan pertemuan?"
"Iya, Pak. Konfirmasinya sudah masuk. Saya belum meneruskan jadwal baru sebelum Bapak melihat benturannya dengan rapat sore."
Alex membaca. Ia memilih satu penyesuaian, menyebut pihak yang perlu diberi tahu, lalu hendak kembali masuk.
"Pak."
Pria itu berhenti.
"Uang tahap pertama sudah dikembalikan. Tiga juta. Catatannya sudah disampaikan."
Alex mengangguk. "Baik."
Nindy menunggu tanpa sadar. Mungkin ia mengharapkan kalimat lain. Mungkin bahwa dirinya sudah melakukan hal yang benar atau tidak perlu terlalu takut lagi.
Namun, Alex hanya menambahkan, "Jangan lupa jadwalnya diperbarui setelah konfirmasi."
Kemudian ia masuk.
Gadis itu menatap pintu beberapa saat sebelum mendesah. Membayar sebagian kewajiban ternyata tidak disertai hadiah berupa kepercayaan yang langsung pulih. Ia tahu itu. Hanya saja, mengetahui sesuatu tidak selalu membuat perasaan segera menurut.
Nindy kembali mengetik sampai Galih mendatangi mejanya. Cowok itu membawa perubahan bahan presentasi dan sebuah roti yang masih terbungkus.
"Aku tadi beli lebih. Kamu mau?"
Nindy melirik roti, lalu wajahnya. "Berapa?"
"Ini tawaran makanan, bukan penagihan."
Ia tertawa kecil. Galih meletakkan roti setelah Nindy mengangguk, kemudian membicarakan berkas yang dibawanya. Sikapnya tetap ramah, membuat Nindy semakin ingin suatu hari menjelaskan mengapa dirinya pernah bertanya tentang Alex dengan niat yang tidak sepenuhnya baik.
Belum hari ini. Ia perlu memastikan tidak membocorkan hal yang bukan haknya untuk diceritakan.
Setelah Galih pergi, Nindy membuka roti. Ia baru menggigit sekali ketika telepon meja berbunyi. Dengan gerakan panik ia meletakkan makanan dan mengangkat gagang.
"Ya, Pak?"
"Habiskan dulu. Setelah itu masuk membawa map biru."
Nindy melirik kaca. Alex ternyata melihatnya sedang makan.
"Bapak gak buru-buru?"
"Saya ingin penjelasan yang jelas, bukan suara orang tersedak roti."
Sambungan terputus. Nindy menatap gagang telepon, kemudian tanpa sadar tersenyum kecil.
Bosnya masih menyebalkan. Ia juga masih marah.
Tetapi siang itu Nindy diberi waktu menyelesaikan makanan sebelum menjelaskan pekerjaan. Bukan hal besar. Bukan tanda bahwa semuanya sudah dimaafkan.
Ia memakan rotinya sampai habis, mencuci tangan, lalu mengambil map yang diminta.
Untuk sekarang, ada satu cara yang benar-benar dapat dilakukannya agar tidak terus menjadi orang yang hanya meminta kesempatan.
Ia harus mengerjakan kesempatan itu dengan baik.
°°°°°