Gaji pertama dari pekerjaan resmi Nindy masuk ketika ia sedang menunggu bus untuk pulang. Gadis itu membaca pemberitahuan di layar, kemudian membukanya sekali lagi untuk memastikan tidak salah melihat.
Tidak ada pesan Sony yang menyertainya.
Tidak ada perintah menemukan bukti atau janji untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin dikerjakannya.
Uang itu dibayar untuk pekerjaan yang benar-benar dilakukan: jadwal, berkas, koordinasi, serta segala hal yang dipelajarinya sejak masuk perusahaan. Jumlah yang diterima dan rinciannya sesuai dengan penjelasan bagian kepegawaian.
Nindy tersenyum sendirian sampai seorang perempuan di sampingnya ikut menoleh.
Ia buru-buru menurunkan telepon. Untung kali ini dirinya tidak menangis di halte seperti setelah wawancara kafe dahulu.
Walaupun, jika dipikir-pikir, matanya mulai terasa panas juga.
Sesampainya di rumah, Nindy tidak langsung mengumumkan rencana membeli ini dan itu. Ia duduk bersama Roy dan Ratih untuk menghitung kebutuhan bulan berikutnya. Ada biaya perjalanan kerja, kebutuhan makan, kuliah Nandiro, serta bagian yang dapat dipakai mengembalikan uang Sony.
Setelah semua diperiksa, mereka menentukan tambahan satu juta rupiah untuk pengembalian berikutnya. Jumlah itu tidak besar dibanding sisa yang ada, tetapi dapat dilakukan tanpa membuat mereka kembali mencari bantuan yang tidak jelas.
Pembayaran disampaikan melalui cara yang sudah disepakati dan dicatat. Total yang telah dikembalikan menjadi empat juta. Masih sebelas juta tersisa.
Nindy menatap catatan, lalu mengangguk pelan.
Kali ini ia tidak ingin menyembunyikan angka yang belum selesai hanya supaya merasa sudah menjadi orang yang lebih baik.
Nandiro kemudian pulang dari kegiatan akhir pekan yang telah dijalaninya. Wajahnya kusut, bajunya sedikit berdebu, dan keluhannya dimulai bahkan sebelum sepatu dilepas.
"Ternyata berdiri seharian itu capek banget."
Nindy mengangkat alis. "Oh, masa? Informasi baru sekali."
Adiknya menatapnya kesal, lalu tertawa malu. Ia meletakkan sebagian upah yang diterimanya di meja untuk kebutuhan bersama dan menyimpan bagian yang diperlukan untuk transportasi serta urusan kuliahnya.
"Jangan semuanya dikasih," kata Roy. "Kamu juga harus bisa mengatur kebutuhan sendiri."
Nandiro mengangguk. Ia kemudian meminta nasi tambahan dan mengatakan bahwa lain kali ia akan membawa air minum lebih banyak agar tidak terus membeli.
Nindy mendengarkan sambil tersenyum. Pelajaran mencari uang ternyata lebih sulit diabaikan ketika kaki sendiri ikut pegal.
Malam itu Ratih memasak lauk yang sedikit lebih banyak daripada biasanya. Bukan pesta, hanya makan bersama untuk menandai bahwa mereka telah melewati satu bulan lagi tanpa berpura-pura semua kesulitan sudah hilang.
Nandiro bercerita bahwa pada awal kegiatan ia sempat diminta memindahkan susunan kursi yang baru saja diselesaikannya. Ia hampir kesal karena merasa pekerjaannya sia-sia, tetapi kemudian diberi tahu bahwa jalannya terlalu sempit untuk peserta lewat.
"Jadi lo pindahkan lagi?" tanya Nindy.
"Ya, pindah. Masa gue ajak debat semua orang."
Gadis itu mengangkat kedua alis dengan sengaja. Ratih tertawa sebelum Nandiro sempat memprotes.
"Jangan pakai muka begitu. Gue juga bisa nurut."
"Bisa. Kalau ada yang bayar rupanya lebih cepat."
Nandiro melempar tatapan kesal, tetapi akhirnya ikut tersenyum. Ia mengakui bahwa bekerja membuatnya ingin langsung tidur, padahal masih ada bahan kuliah yang perlu dibaca. Nindy mengatakan ia juga pernah merasa demikian saat pulang dari kafe.
Kali ini adiknya tidak memotong dengan cerita tentang kebutuhannya sendiri. Ia mendengarkan sampai selesai.
Roy kemudian bertanya mengenai jadwal berikutnya. Pekerjaan harian tersebut tidak selalu tersedia, sehingga mereka tidak memasukkannya sebagai pendapatan tetap. Nandiro memahami, lalu mengatakan ia akan mencari kesempatan lain secara wajar tanpa meninggalkan kuliah.
Nindy memandang mereka satu per satu. Dahulu perbincangan tentang uang hampir selalu berakhir pada berapa banyak yang harus ia cari. Sekarang ada yang menanyakan siapa yang lelah, jadwal apa yang masih mungkin diatur, dan kebutuhan mana yang benar-benar harus didahulukan.
Keadaan keluarga mereka belum kembali seperti sebelum bangkrut. Kursi ruang tamu tetap sempit, dan mereka masih harus berbagi ruang dengan hati-hati.
Namun, malam itu Nindy tidak merasa dirinya satu-satunya orang yang harus berdiri di depan semua masalah. Ia masih mempunyai beban, tetapi beberapa tangan lain mulai ikut mengangkat bagian yang dapat mereka pegang.
Nindy memotret meja makan, bukan bukti pembayaran. Untuk sekali ini ia ingin menyimpan sesuatu selain angka dan kewajiban.
°°°°°
Awal minggu berikutnya, evaluasi pekerjaan Nindy dilakukan sesuai jadwal. Pelanggaran kepercayaan tetap dicatat, tetapi hasil tugas kantor yang dijalankannya selama pembatasan juga diperiksa. Ia menjawab pertanyaan dan menunjukkan bagian yang sudah dikerjakan tanpa berusaha menjadikan pengembalian uang sebagai penghapus kesalahan.
Keputusan yang diterimanya adalah melanjutkan pekerjaan dengan pembatasan yang tetap ditinjau. Tidak ada pemulihan seluruh tugas pribadi Alex. Tidak ada pernyataan bahwa ia telah kembali dipercaya tanpa syarat.
Nindy keluar dari pertemuan dengan napas lebih lega daripada saat masuk.
Ia masih mempunyai kesempatan bekerja. Sekarang ia tahu kesempatan itu tidak diberikan agar dirinya bisa kembali menjalankan rencana Sony.
Di mejanya, ada catatan pendek dari Galih tentang bahan projek yang sudah mendapat pembaruan. Nindy membalas sesuai keperluan, lalu mengirimkan ringkasan yang memudahkan timnya mengikuti perubahan.
Galih datang beberapa saat kemudian untuk memastikan satu bagian.
"Terima kasih. Ringkasannya membantu," katanya.
Nindy mengangguk, menahan keinginan bertanya apakah berarti ia sudah tidak marah. Pujian tentang pekerjaan tidak harus dipaksa menjadi jawaban tentang pertemanan.
"Kalau ada yang berubah lagi, kabari saja."
Galih tersenyum kecil. Belum seperti dahulu, tetapi tidak lagi sepenuhnya datar.
"Iya."
Cowok itu pergi setelah urusan selesai. Nindy memperhatikan punggungnya sebentar, kemudian kembali duduk. Ia mulai belajar membiarkan sesuatu tumbuh dengan waktunya sendiri, meskipun dirinya lebih suka semua masalah selesai secepat menekan tombol kirim.
Siang hari, Alex meminta satu jadwal dipindahkan karena pertemuannya dengan Ravian akan berlangsung pada sore yang sudah disepakati. Nindy mencatat, lalu memastikan tugas lain tidak bertabrakan.
"Tangan kamu masih terasa hangat?" tanya Alex.
"Belum muncul lagi sejak itu, Pak."
"Kalau berubah, beri tahu."
Nindy mengangguk. Pria tersebut hendak masuk ketika gadis itu tiba-tiba berkata, "Saya sudah mengembalikan tambahan satu juta. Catatannya sudah disampaikan."
Alex berhenti sebentar.
"Saya tahu dari laporan yang perlu saya terima. Pastikan kamu tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari."
Tidak ada tawaran menalangi, tetapi juga tidak ada ejekan tentang kecilnya jumlah tersebut.
Nindy mengangguk sekali lagi. Sesudah Alex masuk, ia memandang halaman perencanaan bulanannya. Masih banyak yang harus dibayar. Masih banyak tugas yang perlu diselesaikan.
Namun, untuk pertama kalinya setelah menerima uang Sony, ia dapat melihat penghasilan di catatannya tanpa merasa harus menghindari asalnya.
Gaji itu memang belum dapat membeli kembali semua kepercayaan.
Setidaknya ia tidak perlu menambah kebohongan untuk menerimanya.
°°°°°