Kakek Nindy mengingat sebuah sandal lebih jelas daripada wajah orang yang menolongnya.
Setidaknya itulah yang membuat Nindy tertawa kebingungan ketika mereka kembali berbicara melalui telepon pada malam berikutnya.
"Kakek ingat sandal?"
"Sebelah kiri. Hilang waktu Kakek bergerak menjauh dari ular. Setelah ditolong, Kakek masih memikirkan pulang tanpa sandal."
Nindy duduk lebih tegak. Ia meminta kakeknya bercerita sebatas yang benar-benar masih diingat. Tidak perlu menyusun jawaban hanya karena cucunya terus penasaran.
Lelaki tua itu menyebut jalan dekat kebun yang dahulu dilalui untuk pulang, aliran air, dan jembatan bambu yang kini sudah tidak sama bentuknya. Pada waktu itu ia masih muda. Nama daerah dan perkiraan masa kejadian ditulis Nindy di buku, lalu dibacakan kembali agar tidak salah mendengar.
"Kenapa kamu begitu serius?" tanya kakeknya.
Nindy terdiam. Alex sudah mengizinkannya mengajukan rincian cerita tersebut untuk mencari kemungkinan hubungan, tetapi itu tidak berarti ia boleh menyebarkan identitasnya kepada seluruh keluarga.
"Ada seseorang yang mungkin pernah berada di tempat itu, Kek. Nindy belum mau menyimpulkan sebelum tanya baik-baik."
Kakeknya tidak mendesak. Ia hanya mengingatkan bahwa waktu mengubah banyak tempat dan ingatan kadang menyisakan hal yang aneh, seperti sandal hilang, sementara hal yang dianggap penting justru menjadi kabur.
Nindy tersenyum. Setelah percakapan selesai, ia tidak mencari gambar acak untuk dicocokkan dengan cerita. Ia menyimpan catatannya dan menunggu kesempatan bertanya langsung.
°°°°°
Alex membaca nama daerah yang diperlihatkan Nindy keesokan harinya. Semula wajahnya biasa saja. Perubahannya baru tampak ketika gadis itu menyebut jembatan bambu dan sandal kiri yang hilang.
Pria itu mengangkat kepala.
"Kakek kamu menemukan kembali sandalnya?"
Nindy menggeleng. "Katanya tidak. Kenapa, Pak?"
Alex memandang tulisan pada halaman. Ada sesuatu dalam ingatannya yang terbuka perlahan, bukan wajah yang langsung lengkap, melainkan jalan sempit dan seorang pemuda yang tetap mencemaskan barang kecil setelah hampir kehilangan hidup.
"Saya pernah menolong orang di tempat itu. Dia memaksa mencari sandalnya dulu sebelum pulang."
Nindy menatapnya tanpa berkedip.
"Bapak lagi?"
"Jangan langsung berseru. Kita pastikan dulu."
Ia menyebut satu detail lain: sandal yang tersisa diikat pada tali barang bawaan karena pemiliknya akhirnya memilih berjalan tanpa alas kaki. Nindy belum mengetahui bagian itu. Ia menuliskannya, lalu meminta izin menanyakannya kembali kepada kakeknya.
Alex mengangguk. Ia tidak mengatakan kepada Nindy bahwa dirinya pasti menjadi jawaban untuk seluruh cerita keluarganya.
Namun, setelah gadis itu keluar, ia tetap duduk dengan pandangan jauh. Bumi menyimpan begitu banyak jalan yang pernah dilaluinya. Kadang ia lupa bahwa orang yang ditemuinya sebentar dapat membawa peristiwa tersebut selama puluhan tahun.
Pada jam istirahat, Nindy menelepon kakeknya dan bertanya mengenai sandal yang tersisa tanpa lebih dahulu menyebut jawaban Alex. Kakeknya tertawa karena mengira cucunya sedang menguji ingatan yang sama berulang kali.
Sebelum pertanyaan itu selesai, terdengar suara hujan dari seberang. Nindy menunggu kakeknya berpindah duduk agar suara mereka lebih jelas. Gangguan kecil itu membuat percakapan terasa biasa, padahal jantungnya sudah bergerak lebih cepat.
Ia tidak ingin memberi jawaban melalui bentuk pertanyaan. Jadi Nindy hanya meminta kakeknya menceritakan bagaimana pulang setelah memutuskan berhenti mencari sandal yang hilang.
Lelaki tua itu kembali tertawa, lalu mengeluh bahwa cucunya membuat hal kecil terdengar seperti pemeriksaan penting. Nindy ikut tertawa dan mengatakan ia memang sedang berusaha mendengar dengan benar.
Kakeknya menjelaskan tentang jalan yang dilalui dan betapa ia harus berjalan lebih hati-hati setelah kehilangan alas kaki. Ia tidak menambahkan nama penolong atau mengaku mendadak mengingat seluruh wajahnya. Ada bagian yang tetap samar, dan Nindy membiarkannya demikian.
Gadis itu menulis tanpa terburu-buru. Pulpen yang biasanya dipakai mencatat perintah Alex kini bergerak mengikuti cerita yang jauh lebih tua daripada pekerjaannya sendiri.
Di sekitar tempat ia duduk, pegawai lain sedang menikmati istirahat. Seseorang mencari sendok, seseorang mengeluh makanannya terlalu pedas. Nindy hampir merasa lucu karena tidak ada seorang pun mengetahui bahwa di sela suara biasa itu, ia sedang mencocokkan peristiwa yang terjadi ketika kakeknya masih muda dengan ingatan bosnya yang tidak tampak lebih tua dari kepala tiga.
Namun, ia menahan diri untuk tidak melompat ke kesimpulan hanya karena ceritanya terasa menakjubkan.
"Terus sandal satunya dibawa bagaimana, Kek?" tanyanya setelah kakeknya menyelesaikan penjelasan mengenai jalan pulang.
Jawaban dari seberang datang dengan nada ringan, seolah tidak mengetahui bahwa satu kebiasaan kecil dapat membantu cucunya memahami hubungan antara dua masa yang sangat berjauhan.
"Yang kanan Kakek ikat ke bawaan. Masa mau melompat pakai satu sandal sepanjang jalan?"
Nindy menutup mulut.
Keterangan itu diikuti gambaran pertolongan yang cocok dengan ingatan Alex: tempat pemuda tersebut duduk menunggu tenaganya pulih dan arah jalan yang ditunjukkan sebelum penolongnya pergi.
Nama daerah, masa kejadian, dan rincian kecilnya tidak lagi berdiri sebagai kemiripan umum.
Nindy kembali menemui Alex setelah pekerjaannya memungkinkan. Ia menceritakan jawaban kakeknya dan melihat pria itu mengangguk perlahan.
"Ya," katanya. "Saya ingat orangnya sekarang."
Gadis itu duduk di kursi dengan napas panjang. Tidak ada rencana besar yang menjelaskan mengapa keluarganya dua kali bertemu penolong yang sama. Alex telah hidup begitu lama, berpindah tempat, dan melakukan hal-hal yang sebagian bahkan tidak disimpannya sebagai kejadian penting.
Bagi orang yang ditolong, akibatnya ternyata tidak kecil.
"Kakek cerita itu waktu saya kecil," kata Nindy. "Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa tidak semua iblis jahat karena cerita tersebut."
Alex menatapnya. "Lalu kamu menerima pekerjaan Sony."
Nindy meringis. Ia tidak dapat menyangkal pertentangan itu.
"Iya. Ternyata tahu cerita baik gak otomatis membuat saya mengambil keputusan yang baik."
Alex tidak melanjutkan teguran. Jawaban gadis itu cukup menunjukkan bahwa ia tidak sedang memakai hubungan keluarga sebagai alasan agar kesalahannya dilupakan.
Nindy kemudian menanyakan apakah kakeknya boleh mengetahui bahwa penolong tersebut masih hidup. Ia tidak ingin mengirim foto atau nama tanpa bertanya.
Alex berpikir cukup lama sebelum mengizinkan Nindy menyampaikan kabar terbatas. Pertemuan langsung belum direncanakan. Kakeknya juga tidak perlu didorong melakukan perjalanan hanya karena percakapan ini.
Malamnya, Nindy memberitahukan bahwa ia telah bertemu orang yang sangat mungkin merupakan penolong tersebut dan sudah saling mencocokkan ingatan. Dari seberang terdengar napas panjang, lalu tawa lembut yang membuat matanya panas.
"Kalau kamu bertemu lagi, sampaikan terima kasih dari Kakek. Kakek masih punya banyak hari setelah pertolongan itu."
Nindy mengangguk sambil mengusap sudut mata. Setelah panggilan berakhir, ia menuliskan kalimat tersebut agar tidak berubah ketika disampaikan.
Besok ia tidak akan membawa petunjuk baru kepada Alex.
Ia akan membawa ucapan terima kasih yang sudah menunggu terlalu lama.
°°°°°