Ravian tidak datang memakai jubah atau membawa tongkat. Ia mengenakan kemeja gelap, membawa tas sederhana, dan terlihat seperti pria yang bisa tersesat di antara pegawai kantor tanpa menarik perhatian.
Nindy merasa sedikit kecewa kepada bayangannya sendiri.
"Kamu berharap saya mempunyai tanduk?" tanya pria itu setelah diperkenalkan.
Gadis tersebut membelalak. "Bapak bisa baca pikiran?"
Ravian tertawa. "Tidak. Kamu melihat kepala saya dua kali."
Alex mengusap pangkal hidung, sedangkan Andromeda menyembunyikan senyum di balik cangkir. Nindy langsung menyesal ikut menghadiri pertemuan dengan wajah yang tidak pandai menyimpan pikiran.
Mereka duduk di ruangan yang telah dipilih agar tidak terganggu pekerjaan. Nindy hadir hanya untuk menjelaskan pengalaman yang berkaitan dengan tangannya. Ia tidak diminta menjadi saksi untuk seluruh riwayat kehidupan Alex.
Ravian sudah mendengar sebagian melalui telepon. Kali ini ia meminta Alex menguraikan kapan kemampuan mulai lebih sulit digunakan, apa yang sengaja dicoba, dan apa yang bergerak tanpa keinginan.
Alex menjawab dengan ringkas sampai Ravian beberapa kali meminta penjelasan lebih lengkap.
"Kata kadang itu terlalu luas, Lex."
"Saya tidak membuat buku harian untuk setiap gelas yang menolak bergerak."
"Mulai sekarang sepertinya perlu."
Nindy hampir tertawa, tetapi buru-buru berpura-pura memeriksa catatannya. Alex melihatnya sekilas dan membuatnya kembali duduk tegak.
Ketika tiba gilirannya, gadis itu menjelaskan luka pada tangan, cahaya tipis, serta rasa hangat yang muncul beberapa waktu kemudian. Ia menunjukkan bagian telapak setelah Ravian meminta izin melihat.
Pria itu tidak melukainya lagi atau menyuruh Alex mengulang penyembuhan. Ia mengambil sebuah benda bening kecil dari tas, meletakkannya pada alas di meja, kemudian meminta Nindy mendekatkan tangan tanpa menyentuh.
Di bagian dalam benda tersebut muncul pendar redup yang segera padam.
Nindy menarik napas tajam.
"Itu apa?"
"Alat yang bereaksi pada tenaga bangsa kami," jawab Ravian. "Bukan sesuatu yang perlu kamu coba sendiri."
Ia kemudian meminta Nindy menjauhkan tangan. Tidak ada pendar lain sampai Alex mendekatkan telapaknya. Kali ini cahaya muncul lebih terang, tetapi bergetar dan padam sebelum gerakan pria itu selesai.
Ravian segera menghentikan pemeriksaan singkat tersebut. Tidak ada alasan memaksa Alex menunjukkan lebih banyak ketika hal yang diperlukan sudah terlihat.
Nindy memandang tangannya dengan cemas. "Saya berubah jadi seperti Bapak?"
"Tidak," jawab Ravian tenang. "Yang terlihat adalah sisa tenaga penyembuhan. Itu tidak mengubah kamu menjadi salah satu dari kami."
Ia menjelaskan bahwa sebagian tenaga dapat tertinggal sementara setelah digunakan untuk menyembuhkan. Biasanya jejak itu tidak cukup kuat untuk dirasakan. Dalam keadaan Alex yang belum stabil, keberadaannya perlu diamati, tetapi tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai ikatan khusus atau kemampuan baru pada Nindy.
Gadis itu mengembuskan napas panjang.
"Syukurlah. Saya baru selesai memikirkan satu masalah pekerjaan. Belum siap menambah umur seribu tahun."
Ravian tertawa kecil. Alex tidak ikut tertawa, tetapi bahunya terlihat sedikit lebih santai ketika Nindy berhenti memandang telapak seolah benda asing.
Pembicaraan kemudian beralih kepada Alex. Ravian menjelaskan bahwa yang dilihatnya tidak cukup untuk memastikan satu penyebab. Tenaga yang sulit digunakan dan tenaga yang lepas tanpa kendali tidak boleh hanya dirangkum sebagai tanda sudah tua.
Ravian menyimpan kembali benda bening setelah memastikan tidak diperlukan pengamatan tambahan saat itu. Nindy mengikuti gerakannya dengan mata penasaran, tetapi tidak meminta mencoba menyentuh atau membawanya.
"Dari tempat asal bangsa Bapak?" tanyanya.
"Dasar pengetahuannya, ya. Benda yang saya gunakan sekarang sudah lama disesuaikan dengan keadaan di sini."
Nindy mengangguk, meskipun jelas masih mempunyai banyak pertanyaan. Alex melihat wajahnya dan segera memperingatkan bahwa pertemuan mereka bukan kelas sejarah seluruh alam semesta.
"Saya baru tanya satu, Pak."
"Wajah kamu sudah menyiapkan dua puluh."
Andromeda tertawa kecil. Ravian ikut tersenyum, lalu memberi kesempatan kepada Nindy menanyakan hal yang memang mengganggunya mengenai tangan sendiri.
Gadis itu ingin tahu apakah ia harus takut menyentuh keluarganya. Pertanyaan tersebut membuat suasana sedikit lebih tenang. Sejak rasa hangat muncul, ia sempat berhati-hati ketika membantu Ratih, meskipun tidak mempunyai alasan yang bisa dijelaskan.
Ravian mengatakan jejak yang diamatinya tidak menunjukkan bahwa sentuhan biasa akan memindahkan perubahan kepada orang lain. Nindy tidak perlu memperlakukan dirinya seperti ancaman yang menular hanya karena pernah disembuhkan.
Bahunya langsung turun karena lega.
Ia baru menyadari betapa banyak ketakutan yang telah disusun sendiri selama beberapa hari, sebagian lebih menakutkan daripada kejadian sebenarnya.
"Kalau ada perubahan, katakan sesuai yang kamu alami," lanjut Ravian. "Tidak perlu membuatnya terdengar lebih hebat atau lebih ringan."
Nindy mengangguk. Kali ini ia merasa dapat menjalankan permintaan tersebut tanpa membutuhkan daftar panjang tentang semua hal yang harus diingat.
"Kamu terus mencoba memakai cara yang biasa, lalu memaksanya ketika tidak berhasil," katanya.
Alex menatap benda bening di atas meja. "Saya ingin tahu apakah masih bisa."
"Saya mengerti. Tapi percobaanmu sendiri membuat kita semakin sulit membedakan keadaan awal dengan akibat kelelahan berikutnya."
Andromeda menanyakan apa yang dapat dilakukan untuk sementara. Ravian menyarankan jeda dari penggunaan kekuatan yang tidak perlu, pencatatan kejadian tanpa sengaja, dan pembicaraan lanjutan mengenai riwayat perubahan. Tidak ada obat ajaib yang dikeluarkan dari tasnya. Ia juga tidak menjanjikan seluruh kemampuan kembali hanya dalam beberapa hari.
Alex tampak tidak menyukai ketidakpastian tersebut.
"Jadi saya hanya duduk menunggu?"
"Tidak. Kamu berhenti memperlakukan tubuhmu seperti pegawai yang bisa disuruh lembur setiap kali tidak menuruti jadwal."
Nindy menutup mulut dengan buku catatan. Terlambat. Alex sudah melihat sudut bibirnya naik.
Namun, kali ini pria itu tidak membalas. Ia justru menyandarkan punggung dan mengangguk dengan enggan.
Pertemuan ditutup dengan hal-hal yang perlu diperhatikan, termasuk meminta Nindy menyampaikan jika rasa hangat kembali atau berubah. Jejak pada tangannya diperkirakan dapat mereda seiring waktu, tetapi tetap akan diperiksa lagi jika diperlukan.
Sesudah Ravian dan Andromeda keluar lebih dahulu, Nindy tinggal sebentar untuk merapikan catatannya. Ia teringat pesan yang dibawanya dari kakek dan meminta waktu sebelum Alex kembali bekerja.
Gadis itu menyampaikan ucapan terima kasih tersebut persis seperti yang ditulisnya.
Alex terdiam.
"Dia bilang masih punya banyak hari setelah Bapak menolong," tambah Nindy.
Pria itu memandang jendela, lalu menunduk pada kedua tangannya. Tangan yang kini tidak selalu menurut, tetapi pernah memberi orang lain kesempatan pulang.
Nindy tidak mengisi diam itu dengan permintaan maaf baru atau pertanyaan tentang pekerjaannya.
Setelah beberapa saat, Alex berkata pelan, "Sampaikan saya senang dia masih dapat menceritakannya."
Nindy mengangguk.
Ketika meninggalkan ruangan, telapak tangannya tetap terasa biasa. Cahaya itu belum memberikan seluruh jawaban. Begitu juga pemeriksaan Sony, catatan Refan, atau kepercayaan yang masih harus diperbaiki.
Namun, untuk pertama kalinya sejak melihat gelas dan kursi bergerak sendiri, Nindy tahu kepada siapa ia dapat menyampaikan pertanyaan tanpa harus menjual jawabannya kepada orang lain.
°°°°°