Sony tidak bisa lagi menjelaskan selisih pengeluaran sebagai berkas yang belum lengkap setelah seorang staf menyerahkan percakapan mengenai perubahan angka. Pesan itu tidak berisi pengakuan panjang. Justru kalimatnya pendek, seperti instruksi kerja yang biasa diterima setiap hari.
Tetapi angka yang diminta untuk dimasukkan tidak sesuai dengan tagihan penyedia pekerjaan.
Andromeda membaca salinan yang diberikan bersama penjelasan staf tersebut. Ia meminta konteks percakapan diperiksa, termasuk berkas sebelum dan sesudah perubahan. Tidak ada keputusan yang hanya didasarkan pada satu potongan pesan.
Hasil perbandingannya tidak membantu pembelaan Sony.
Staf yang menyerahkan percakapan duduk di ujung meja dengan jari saling mengunci. Ketika ditanya mengapa perubahan itu dahulu diteruskan, ia menatap tempat Sony duduk sebelum menjawab.
"Saya mengira persetujuan dari atas sudah ada. Bapak bilang saya tinggal memperbaiki angkanya."
"Saya bilang perbaiki pencatatannya," sela Sony.
Petugas pemeriksa membuka bagian percakapan sesudah pesan tersebut. Di sana staf itu pernah menanyakan apakah perlu meminta tagihan pengganti kepada penyedia. Jawaban Sony menyatakan tidak perlu; berkas yang ada cukup untuk dilampirkan.
Ruangan menjadi sunyi ketika kedua pesan dibaca berurutan.
Alex memperhatikan wajah staf itu. Ia mengenali ketakutan yang muncul ketika seseorang harus membantah orang yang selama ini menentukan pekerjaannya. Namun, mengenali rasa takut bukan berarti semua tindakan staf tersebut boleh dilewatkan. Mereka tetap perlu mengetahui siapa yang mengubah dokumen, siapa yang memeriksa, dan di bagian mana persetujuan diberikan tanpa perbandingan yang memadai.
"Jelaskan yang Anda kerjakan sendiri," kata Alex. "Kalau ada bagian yang tidak Anda lihat, katakan tidak tahu."
Staf itu menarik napas, kemudian mulai menunjuk urutan berkas. Kali ini ia tidak lagi melihat Sony sebelum menjawab.
Andromeda meminta perbaikan pemeriksaan tagihan dilakukan segera. Pekerjaan yang benar-benar sudah diselesaikan penyedia tetap perlu dibayar sesuai kewajiban perusahaan. Orang-orang yang bekerja di luar ruangan ini tidak seharusnya ikut menanggung kekacauan hanya karena mereka menunggu keputusan mengenai seorang direktur.
Alex mencatat satu hal di pinggir halaman. Selama ini ia sangat teliti memeriksa apa yang akan ditampilkan kepada klien. Ada bagian di belakangnya yang terlalu mudah dianggap sudah beres begitu sebuah map sampai di mejanya.
Ia tidak menyukai kesadaran itu, tetapi kali ini tidak mencari orang lain untuk menanggung seluruh ketidaknyamanannya.
Pihak penyedia kembali memastikan nilai pekerjaan yang benar-benar dilakukan. Tidak ditemukan pekerjaan tambahan yang dapat menjelaskan selisih sebagaimana diklaim. Penelusuran pembayaran kemudian memperlihatkan bagian dana yang dialihkan melalui instruksi Sony ke tujuan yang tidak berkaitan dengan kebutuhan kegiatan tersebut.
Alex duduk dengan kedua tangan di atas meja ketika ringkasan itu dijelaskan.
Selama ini ia terbiasa mencari kesalahan dalam rencana yang belum selesai: kalimat iklan yang berlebihan, jadwal yang bertabrakan, atau angka yang harus diperiksa sebelum disetujui. Kali ini kesalahannya bukan sesuatu yang diperbaiki dengan mengembalikan berkas untuk revisi.
Ada keputusan sengaja di baliknya.
"Refan meminta bukti untuk bagian yang sama," kata Andromeda.
Alex mengangguk. Itu menjelaskan mengapa sekretarisnya tidak menerima jawaban pertama begitu saja. Namun, belum menjelaskan kecelakaan.
Ia menjaga perbedaan tersebut, meskipun pikirannya terus ingin menyambungkan semuanya.
Sony diberi kesempatan menanggapi temuan itu. Ia mula-mula menyatakan staf salah memahami arahan, lalu mengatakan ada kebutuhan kegiatan yang tidak dicatat dengan cara biasa.
Ketika diminta menunjukkan kebutuhan tersebut, jawabannya kembali berputar pada hal yang belum dapat dibuktikan.
Andromeda menutup satu map dengan gerakan perlahan.
"Kamu sudah diberi waktu melengkapi penjelasan. Yang kami terima justru berbeda dari keterangan pihak yang mengerjakannya."
Sony menatap Alex, seolah selama ini pria itulah yang menyiapkan seluruh pemeriksaan untuk menjatuhkannya.
"Kalau sejak awal sudah tidak percaya, untuk apa meminta saya menjelaskan?"
Alex mengangkat wajah. "Karena keputusan tidak boleh dibuat hanya dari perasaan saya terhadapmu."
Kalimat itu membuat Sony terdiam beberapa detik. Lalu ia kembali berbicara tentang pekerjaannya selama bertahun-tahun, hasil yang pernah dibawa, serta hubungan yang dibangun untuk perusahaan.
Tidak seorang pun menyangkal bahwa ia pernah bekerja dengan baik. Namun, pekerjaan baik tersebut tidak membuat pengalihan dana yang sedang diperiksa menjadi hilang.
Andromeda meminta seluruh keterangan dicatat sebelum pertemuan diakhiri. Keputusan resmi mengenai jabatan dan tindak lanjut akan disampaikan setelah pemeriksaan internal dirampungkan bersama pihak yang menanganinya.
Sony keluar dengan langkah lebih cepat daripada ketika datang.
°°°°°
Nindy tidak mengikuti pertemuan itu. Ia menghabiskan pagi dengan memastikan perubahan jadwal diketahui orang yang tepat. Ketika mendengar pintu lift terbuka, gadis itu hanya mengangkat wajah sebentar, kemudian kembali membaca layar.
Ia sedang berusaha tidak menjadikan setiap gerakan di kantor sebagai petunjuk untuk diselidiki.
Namun, Sony berhenti di depan mejanya.
"Rajin sekali sekarang."
Nindy menegakkan punggung. "Ada berkas yang perlu diteruskan, Pak?"
Sony memandang map di samping komputer. "Kamu benar-benar sudah belajar menjawab seperti dia."
Gadis itu memilih diam. Tidak ada pekerjaan yang diminta. Tidak ada pertanyaan yang perlu dijawab agar tugasnya dapat berjalan.
Alex keluar dari ruangannya beberapa saat kemudian. Ia berhenti ketika melihat Sony, lalu mempersilakan pembicaraan mengenai pemeriksaan dilakukan melalui jadwal yang telah diatur.
Sony tertawa pendek. "Saya hanya menyapa sekretaris kamu."
"Kalau sudah selesai, dia perlu melanjutkan pekerjaan."
Pria itu memandang Alex beberapa detik sebelum pergi. Nindy baru melepaskan napas setelah langkahnya menjauh.
Alex tidak menanyakan apakah ia takut. Ia hanya menunjuk laporan yang terbuka di layar.
"Bagian ini sudah dijawab?"
Nindy memeriksa catatannya, lalu mengangguk. "Sudah. Jawabannya saya lampirkan."
Mereka membahas pekerjaan selama beberapa menit. Percakapan biasa itu membantu Nindy menurunkan bahunya yang sejak tadi menegang.
Sebelum kembali masuk, Alex mengatakan ia tidak perlu menerima pembicaraan pribadi dari Sony ketika sedang bekerja. Jika ada pesan mengenai pengembalian uang, Nindy cukup meneruskannya melalui pihak yang memang menangani pencatatannya.
"Saya tahu, Pak."
Gadis itu berhenti sebentar, kemudian menambahkan, "Saya dulu kira orang yang menolong pasti orang yang perlu saya turuti. Ternyata saya salah membedakan."
Alex menatapnya. "Pertolongan tidak membuat semua permintaan berikutnya menjadi benar."
Nindy mengangguk. Kalimat itu berlaku untuk Sony. Ia juga menyadari bahwa Alex sedang tidak mengecualikan dirinya sendiri.
Siang itu, setelah mengerjakan tugas, Nindy menyisihkan beberapa menit untuk memeriksa catatan pengembalian uangnya. Sebelas juta masih tersisa. Temuan kesalahan Sony tidak otomatis membuat angka tersebut hilang tanpa penyelesaian.
Ia tidak ingin memakai kesalahan orang lain untuk berpura-pura pilihannya sendiri tidak pernah terjadi.
Nindy menutup catatan, lalu membuka pesan dari Ratih yang menanyakan apakah ia pulang tepat waktu. Ia membalas dengan jadwal yang diketahuinya, bukan jawaban asal agar ibunya tenang.
Perubahan-perubahan kecil itu tidak terlihat seperti keberanian.
Tetapi ia mulai merasakan bedanya menjalani hari tanpa terus mencari cara agar kebohongan berikutnya terdengar masuk akal.
°°°°°