Alex tidak menyukai pekerjaan rumah yang diberikan Ravian.
Bukan karena sulit ditulis. Justru karena terlalu sederhana: catat kapan kemampuan tidak menurut, apa yang sedang dilakukan sebelumnya, serta apakah ia memaksa mencoba lagi setelah gagal.
Ketika dibaca ulang, halaman itu membuatnya tampak seperti seseorang yang terus melakukan hal sama lalu marah kepada hasilnya.
Ravian mengatakan penilaian tersebut tidak terlalu jauh dari kenyataan.
"Kamu menikmati bagian menegur saya, ya?" tanya Alex pada pertemuan berikutnya.
Pria itu tersenyum. "Sedikit. Tapi itu tidak mengurangi kegunaan catatanmu."
Pertemuan berlangsung di apartemen Alex setelah waktu yang disepakati. Nindy tidak hadir. Penyesuaian kekuatan bukan pekerjaan tambahan yang harus ditangani sekretarisnya, terlebih ketika sebagian masalahnya masih berkaitan dengan kepercayaan.
Andromeda datang untuk bagian awal pembicaraan, lalu meninggalkan mereka setelah memastikan Alex benar-benar akan mendengarkan.
Ravian membandingkan catatan beberapa hari dengan hasil pengamatan sebelumnya. Ia tidak meminta Alex mengangkat perabot atau mengulangi penyembuhan agar dapat melihat pertunjukan yang lebih jelas.
"Tenagamu tidak sekadar menghilang," katanya. "Pada beberapa keadaan, kamu menahannya terlalu kuat, lalu memaksa keluar ketika tidak mendapat hasil yang diinginkan."
Alex menatapnya. "Saya selalu menahan diri di depan manusia."
"Benar. Itu sudah lama kamu lakukan. Sekarang ada perubahan dalam cara tubuhmu merespons, dan kamu menanganinya dengan menekan lebih keras."
Ravian menjelaskan bahwa penyesuaian mereka hidup di bumi tidak membuat kemampuan selalu tetap. Usia panjang, kebiasaan penggunaan, dan beban yang terus ditahan dapat memengaruhi kestabilan. Ia belum menyimpulkan bahwa salah satu hal tersebut menjadi satu-satunya sebab pada Alex.
Yang mulai terlihat adalah pola pemaksaan yang memperburuk keadaan.
"Jadi bukan karena Nindy?" tanya Alex.
Ravian menggeleng. "Keluhanmu sudah muncul sebelum kamu menyembuhkan tangannya. Jangan menukar urutan kejadian hanya karena sekarang ada jejak yang dapat dilihat pada orang lain."
Alex mengangguk perlahan. Ia tidak pernah ingin menyalahkan gadis itu, tetapi kemungkinan tersebut tetap perlu ditanyakan agar tidak diam-diam tumbuh menjadi keyakinan.
Ravian kemudian meminta Alex memperhatikan aliran tenaga tanpa mencoba memindahkan benda. Latihan itu tidak tampak mengesankan. Tidak ada cahaya besar, tidak ada kursi melayang. Alex hanya duduk, menahan keinginan menguji hasil setiap kali merasa sedikit lebih baik.
Justru bagian terakhir itulah yang paling sulit.
Setelah beberapa waktu, ia membuka mata dan memandang gelas di meja. Tangannya hampir bergerak memanggilnya sebelum berhenti.
Ravian melihat, tetapi tidak mengucapkan apa-apa.
Alex meraih gelas dengan tangan biasa.
Pria di seberangnya tersenyum kecil. "Ternyata masih bisa."
"Jangan terlalu menikmati ini."
Tawa Ravian mengisi ruang yang selama ini lebih sering terlalu tenang.
Ketika tawa itu reda, bunyi pendingin ruangan kembali terdengar. Ravian melihat sebuah kursi di sisi meja makan yang tidak pernah dipakai selama kunjungannya. Di sandarannya tersampir jas, sedangkan permukaan meja di depan kursi tersebut dipenuhi berkas.
"Kamu makan di mana?"
Alex menunjuk tempatnya duduk.
"Sambil membaca itu?"
"Kadang."
Ravian mengangkat alis. Alex akhirnya memindahkan beberapa lembar ke sisi lain, gerakannya agak kesal karena jawaban pendeknya rupanya tidak dipercaya.
Mereka memesan makanan. Ketika pesanan tiba, Alex berdiri mengambilnya sendiri. Ia kembali membawa kantong kertas dan dua pasang alat makan, lalu berhenti melihat Ravian sudah mengosongkan sebagian meja.
"Saya tidak meminta kamu membereskan apartemen."
"Bagus. Aku juga tidak berniat mengerjakan semuanya."
Alex duduk di kursi yang biasanya tertutup berkas. Untuk beberapa saat mereka membahas makanan, bukan kegagalan kemampuan. Ravian menyisihkan sayuran yang hampir dibuang Alex dan menaruhnya kembali ke wadahnya sendiri sambil menggeleng.
"Bertahun-tahun hidup di sini, seleramu masih keras kepala."
"Sayur itu tetap sayur meskipun ditunggu seribu tahun."
Ravian tertawa lagi. Alex menyadari dirinya hampir tersenyum, lalu membiarkannya terjadi. Tidak ada kebutuhan mempertahankan wajah seorang direktur di depan orang yang sudah mengenalnya jauh sebelum jabatan itu ada.
Sesudah makan, ia sempat merasakan dorongan kecil untuk menarik kantong kosong tanpa berdiri. Ia berhenti, menunggu rasa tidak sabarnya lewat, kemudian berjalan membuangnya.
Ravian tidak memuji seperti sedang melihat anak kecil berhasil makan sendiri. Ia hanya melanjutkan ceritanya tentang perjalanan menuju Jakarta. Alex mendengarkan, dan malam itu terasa sedikit lebih pendek daripada malam-malam ketika ia menghabiskan waktu menatap gelas yang menolak bergerak.
°°°°°
Di kantor, perubahan jadwal Alex mulai terasa tanpa perlu dijelaskan kepada semua orang. Ada rapat yang dipercayakan kepada bagian yang memang mampu menjalankannya. Ada pekerjaan yang tidak dipaksakan selesai larut hanya karena bosnya terbiasa masih berada di ruangan.
Nindy menerima arahan lebih jelas mengenai tugas yang menjadi bagiannya. Ia tidak langsung merasa bebas melakukan apa pun. Namun, kesempatan memahami pekerjaan membuatnya lebih jarang pulang dengan perasaan hanya menjadi dua tangan tambahan.
Ketika Ravian datang sebentar pada hari lain, Nindy menyampaikan bahwa rasa hangat pada tangannya tidak muncul lagi. Dengan persetujuannya, pengamatan singkat menggunakan benda bening diulangi tanpa menyakitinya.
Pendar yang pernah terlihat kini nyaris tidak ada.
Ravian mengatakan hasil itu sesuai dengan jejak penyembuhan yang mereda. Tidak ada alasan menjadikan Nindy sumber tenaga bagi Alex atau meminta gadis itu terus berada di dekatnya supaya kemampuan pria tersebut membaik.
Nindy tampak lega.
"Bagus. Saya belum menyiapkan diri jadi baterai kantor."
Alex, yang kebetulan mendengar, menatapnya datar. "Kamu sendiri sering mengantuk sebelum jam makan."
"Itu karena dulu disuruh menelepon jam lima pagi, Pak."
Kalimat tersebut keluar begitu saja. Nindy menahan napas, mengira suasana akan kembali kaku.
Namun, Alex justru terdiam sebelum mengatakan sesuatu yang tidak diduganya.
"Saya sebenarnya tidak membutuhkan telepon untuk bangun."
Nindy berkedip. "Maksud Bapak?"
"Itu tambahan untuk melihat apakah kamu sungguh mengikuti tugas."
Gadis itu menatapnya tanpa suara. Lalu wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi yang membuat Ravian segera memalingkan kepala untuk menyembunyikan tawa.
"Saya kehilangan tidur untuk ujian iseng?"
Alex mengusap wajah. "Saya tidak mengatakan iseng."
"Tapi kedengarannya begitu."
Pria itu tidak berhasil menemukan jawaban yang membuatnya terlihat lebih baik. Akhirnya ia mengakui bahwa tugas tersebut tidak perlu diberlakukan lagi, bukan hanya karena pembatasan pekerjaan Nindy sekarang.
Nindy mengangguk tegas. "Saya catat, Pak. Jangan sampai lupa sendiri besok."
Ravian tertawa terang-terangan kali ini.
Alex memandang keduanya dengan wajah kesal, tetapi tidak memerintahkan Nindy berhenti menjawab. Ia sendiri yang membuka pembicaraan, dan kali ini ia harus menerima akibat kalimatnya.
Di meja, gelas air tetap diam.
Tidak ada keajaiban besar hari itu. Hanya sedikit lebih banyak kejujuran, beberapa catatan yang benar-benar digunakan, serta seorang iblis tua yang mulai belajar bahwa tidak setiap benda harus menurut sebelum ia mau mengulurkan tangan.
°°°°°