Kabar mengenai kecelakaan Refan datang melalui keluarganya dan pihak yang menangani penelusuran, bukan dari percakapan rahasia di kantor. Laras lebih dahulu menerima penjelasan, lalu menghubungi Andromeda sesuai pembicaraan mereka sebelumnya.
Pengemudi kendaraan yang terlibat telah ditemukan. Keterangannya diperiksa bersama rekaman yang diamankan pada penanganan awal, catatan kendaraan, serta keterangan saksi di lokasi.
Informasi itu menunjukkan kendaraan tersebut memasuki persimpangan tanpa mematuhi pengaturan lalu lintas dan menabrak mobil Refan yang sedang dalam perjalanan menjemput Alex. Pengemudinya meninggalkan tempat kejadian. Identitasnya baru dapat dipastikan setelah penelusuran lebih lanjut.
Tidak ada rekaman lama yang tiba-tiba muncul dari perangkat yang seharusnya sudah terhapus. Bahan yang digunakan merupakan bagian dari penanganan kejadian sejak awal, kemudian dihubungkan dengan informasi yang berhasil diperoleh belakangan.
Alex mendengarkan penjelasan bersama Andromeda. Ia beberapa kali meminta satu bagian diulang, bukan karena sulit memahami kata-katanya, melainkan karena pikirannya terus mencari ruang bagi dugaan yang telah lama membuatnya terjaga.
Sejauh informasi yang telah diperiksa, tidak ditemukan hubungan antara pengemudi tersebut dan Sony atau urusan pekerjaan Refan. Arah penanganannya adalah pelanggaran dan tindakan meninggalkan lokasi, bukan serangan yang dipesan untuk menghentikan pemeriksaan biaya.
Proses terhadap pengemudi tetap berjalan. Mengetahui urutan kejadian tidak sama dengan mengatakan seluruh akibat hukumnya sudah selesai.
Alex memandang tangannya di pangkuan.
Refan benar sedang menanyakan pengeluaran yang janggal. Sony benar melakukan tindakan yang harus dipertanggungjawabkan. Tetapi dua kebenaran itu tidak membuat kecelakaan secara otomatis menjadi pembunuhan berencana.
Untuk beberapa saat, menerima penjelasan tersebut justru terasa lebih sulit daripada memegang kemarahan kepada satu orang yang sudah dikenalnya.
Andromeda menunggu sampai ia mengangkat wajah.
"Kita tetap menindaklanjuti urusan perusahaan," katanya. "Dan keluarga Refan tetap perlu didampingi menghadapi perkara kecelakaan ini. Keduanya punya jalan masing-masing."
Alex mengangguk. Ia memahami. Hanya saja, rasa kehilangan tidak mendadak berubah menjadi lebih tertib karena sebabnya mulai jelas.
°°°°°
Alex menemui Laras pada waktu yang disepakati. Perempuan itu terlihat lebih lelah setelah menerima kabar, meskipun selama berminggu-minggu ia juga menginginkan jawaban.
"Saya pikir kalau sudah tahu, rasanya akan sedikit lebih mudah," katanya.
Alex duduk di hadapannya tanpa membawa kalimat penghiburan yang terlalu cepat.
"Saya juga."
Laras mengusap mata. Ia tidak mengatakan bahwa pengemudi itu pantas dimaafkan atau sebaliknya. Hari tersebut ia hanya ingin memastikan keluarganya memahami apa yang sedang diproses dan apa yang masih perlu ditunggu.
Alex menyatakan dukungan yang memang dapat diberikan, tanpa menjanjikan bahwa ia bisa mengendalikan semua hasil. Bantuan kepada keluarga Refan tetap berjalan seperti sebelumnya; bukan hadiah agar mereka berhenti bertanya atau menerima penjelasan tanpa membaca.
Laras kemudian bercerita bahwa ia baru menemukan daftar belanja di saku baju suaminya. Kertas itu sudah kusut, tetapi tulisan Refan masih terbaca. Ada sabun, kopi, dan satu bahan masakan yang namanya dicoret karena rupanya sudah tersedia di rumah.
"Dia bisa ingat jadwal Bapak seminggu penuh, tapi kalau saya titip tiga barang harus dicatat," ujarnya.
Alex menunduk, senyumnya muncul dengan susah payah. "Di kantor juga dicatat. Hanya saja dia tidak selalu memperlihatkannya."
"Pantas saja. Saya sempat iri sama daya ingatnya kalau sedang bekerja."
Mereka tertawa kecil. Laras masih memegang tisu, dan matanya belum kering, tetapi untuk sesaat yang hadir di antara mereka bukan hanya kecelakaan. Ada seorang laki-laki yang pernah pulang membawa belanjaan, lupa sesuatu, lalu kembali keluar sambil mengomel kepada dirinya sendiri.
Alex menanyakan makanan kesukaan Refan di rumah. Ia menyadari betapa banyak hal sehari-hari yang tidak pernah masuk ke percakapan kantor mereka. Laras menjawab, lalu menceritakan kebiasaan suaminya mengambil bagian paling garing sebelum hidangan sampai di meja.
Kunjungan itu berlangsung lebih lama dari rencana. Ketika akhirnya berpamitan, Alex membawa ingatan baru tentang sahabat lamanya, bukan hanya penjelasan tambahan tentang cara ia meninggal.
Setelah kunjungan itu, Alex pergi ke makam Refan. Tidak ada orang kantor yang ikut. Ia membawa bunga sederhana dan berdiri lebih lama daripada yang direncanakan.
Selama lebih dari seribu tahun, ia sudah kehilangan banyak manusia yang pernah dikenalnya. Pengetahuan tersebut tidak membuat kematian berikutnya menjadi sesuatu yang ringan. Lama hidupnya tidak pernah mengajarinya cara menganggap satu suara yang hilang sebagai hal biasa.
"Saya sudah tahu lebih banyak tentang hari itu," katanya pelan.
Angin bergerak di antara pepohonan. Alex memandang nama pada penanda makam, lalu teringat hari ketika ia memanggil Refan untuk mengisi kopi yang kosong.
Ia tidak berada di lokasi ketika tabrakan terjadi. Kabar datang setelah pertolongan terlambat untuk mengembalikan orang yang dikenalnya. Kemampuan menyembuhkan yang dimilikinya tidak berarti ia selalu mengetahui bahaya di tempat lain, apalagi mampu memanggil pulang orang yang telah meninggal.
Ia sudah mengetahui itu.
Tetap saja, ada bagian dirinya yang terus bertanya bagaimana jika hari tersebut sedikit berbeda.
Alex mengembuskan napas dan menurunkan bunga. Kali ini ia tidak mencoba menjawab pertanyaan yang memang tidak mempunyai jalan kembali.
"Urusan yang Anda tanyakan tidak saya biarkan berhenti," lanjutnya. "Tapi saya juga tidak akan memakai nama Anda untuk menuduh tanpa dasar."
Ia berdiri beberapa saat lagi sebelum pergi.
°°°°°
Nindy hanya menerima kabar umum yang memang boleh dibagikan: penyebab kecelakaan mulai jelas, keluarga telah mendapat penjelasan, dan proses terhadap pengemudi masih berjalan. Ia tidak meminta rincian pribadi Laras atau melihat seluruh berkas.
Ketika Alex kembali ke kantor keesokan harinya, gadis itu melihat wajahnya tidak lebih cerah. Barangkali ia sempat berharap jawaban mengenai Refan akan membuat bahu pria tersebut segera lebih ringan.
Ternyata jawaban tidak bekerja secepat itu.
Ia menyerahkan jadwal yang telah diperbarui dan mengatakan bagian administrasi sudah mengetahui urusan yang perlu diteruskan. Alex membaca, lalu mengangguk.
"Ada pesan dari Pak Andromeda. Beliau bisa menemui Bapak setelah rapat pertama."
"Baik."
Nindy hendak keluar ketika melihat pulpen tua di meja. Ia mengenalinya dari kunjungan Laras. Biasanya benda itu disimpan dalam laci, tetapi pagi tersebut Alex menggunakannya untuk memberi tanda pada berkas.
Gadis itu tidak mengomentari.
Ia hanya memindahkan cangkir yang terlalu dekat ke tepi meja setelah meminta izin, kemudian kembali mengambil mapnya.
"Nindy."
Ia berbalik. "Ya, Pak?"
Alex memandangnya beberapa saat, seolah sedang memilih kalimat yang tidak biasa dipakai dalam pekerjaan.
"Terima kasih karena tidak berhenti mengatakan yang benar setelah pertama kali merasa takut."
Nindy terdiam. Kalimat tersebut tidak menyatakan semua kesalahannya telah dilupakan, tetapi cukup membuat dadanya terasa hangat tanpa bantuan kemampuan apa pun.
"Saya masih belajar, Pak."
Alex mengangguk. Ia juga.
Di luar ruangan, kehidupan kantor kembali bergerak. Galih mengirim bahan untuk dibaca, orang-orang menunggu keputusan, dan ada pekerjaan yang tidak akan selesai hanya karena mereka sedang bersedih.
Alex meraih pulpen Refan, membuka halaman berikutnya, lalu mulai bekerja.
Kali ini ia tidak memanggil nama orang yang sudah pergi.
Ia menekan tombol telepon dan memanggil Nindy.
°°°°°