Galih mengajak Nindy minum kopi setelah memastikan gadis itu tidak sedang dikejar pekerjaan. Undangannya begitu sederhana sampai Nindy justru mencurigai ada kalimat yang terlewat.
"Kopi?"
"Iya. Yang diminum. Bukan yang harus dibuatkan untuk Pak Alex."
Nindy tertawa kecil, lalu melihat jam. Pekerjaannya sudah hampir selesai dan ia tidak mempunyai tugas untuk menemani Alex pulang. Ia hanya perlu memberi kabar kepada Ratih agar makan malamnya tidak ditunggu terlalu lama.
"Boleh."
Galih tampak lega, tetapi tidak langsung kembali bersikap seolah seluruh persoalan di antara mereka telah hilang. Mereka bertemu di pintu keluar setelah menyelesaikan urusan masing-masing, lalu berjalan ke tempat yang tidak jauh dari kantor.
Nindy memilih minuman setelah memeriksa harga. Galih tidak berpura-pura tidak melihat, tetapi juga tidak membuatnya malu dengan menawarkan semua yang paling mahal.
"Masing-masing pesan yang disukai saja," katanya.
Gadis itu mengangguk. Ia menyukai betapa mudahnya kalimat itu dilakukan.
Untuk beberapa menit mereka membicarakan pekerjaan. Projek yang baru selesai, anggota tim yang mempunyai kebiasaan mengirim pesan terlalu panjang, dan betapa sulitnya memilih satu gambar ketika semua orang merasa pilihannya paling tepat.
Nindy tertawa lebih lepas daripada beberapa hari sebelumnya.
Namun, ia tetap menunggu percakapan yang sulit datang. Galih akhirnya menyadari caranya merapikan tisu berkali-kali.
"Kamu gugup?"
"Sedikit. Aku gak tahu apakah kamu ngajak kopi untuk membicarakan kesalahanku lagi."
Galih memandangnya, lalu menggeleng. "Aku ingin bicara tentang itu sebentar. Setelahnya, kalau kamu masih mau duduk, aku ingin mengenalmu tanpa urusan mencari informasi tentang siapa pun."
Nindy meletakkan tisu.
Cowok itu mengatakan bahwa ia masih tidak menyukai cara sebagian percakapan dahulu dimulai. Namun, ia juga melihat Nindy tidak memaksanya segera memaafkan atau memakai cerita sulit keluarganya untuk membenarkan semuanya.
"Aku bisa mencoba berteman lagi. Tapi kalau ada yang mau ditanyakan, bilang yang sebenarnya."
"Iya," jawab Nindy. "Aku juga lebih capek mengingat kebohongan daripada mengingat jadwal rapat."
Galih tersenyum. "Kalau begitu, pertanyaan pertama. Kamu sebenarnya suka kopi atau cuma sudah kebal karena pekerjaannya?"
Nindy melihat gelasnya, kemudian tertawa. Ia bercerita tentang Seroja Kafe, mesin kasir, dan pelanggan yang memutuskan pesanan begitu lama sampai antrean bertambah. Ia juga menceritakan bagaimana dirinya semula melamar posisi berbeda, lalu menerima pekerjaan yang tersedia karena tidak bisa menunggu kesempatan sempurna.
Galih mendengarkan tanpa mengubah ceritanya menjadi pelajaran tentang bersyukur.
"Pernah salah kasih kembalian?" tanyanya.
"Pernah hampir. Untung pelanggan mengingatkan. Setelah itu aku hitung lagi sampai orangnya kelihatan ingin pulang."
"Berarti teliti sejak dulu."
"Takut ganti pakai uang sendiri sejak dulu. Beda."
Galih tertawa sampai harus menaruh gelas. Nindy menyukai suara tawanya; tidak keras dibuat-buat, tetapi cukup lepas untuk membuat orang di meja sebelah sempat menoleh.
Ketika pelayan datang membawa piring kecil yang tidak mereka pesan, keduanya serentak menggeleng. Pelayan memeriksa nomor meja lalu meminta maaf. Setelah orang itu pergi, Nindy memandang kue yang dibawa ke seberang dengan ekspresi yang terlambat disembunyikan.
Galih mengikuti arah matanya. "Mau pesan?"
"Gak. Aku cuma menghargai penampilannya."
"Dari jauh?"
"Seperti mengunjungi pameran."
Cowok itu tertawa lagi, tetapi tidak diam-diam memanggil pelayan untuk membelikan sesuatu yang telah ditolaknya. Nindy kembali menyesap minumannya. Ia tidak perlu menjelaskan seluruh anggaran rumah hanya untuk melewatkan sepotong kue.
Pembicaraan bergeser kepada hal-hal yang mereka lakukan saat libur. Nindy mengakui bahwa belakangan ia lebih sering tidur, membantu Ratih, atau mengomeli Nandiro yang meninggalkan barang sembarangan. Ceritanya terdengar biasa dibandingkan masa ketika ia masih bisa merencanakan perjalanan dengan uang tabungan.
Namun, Galih justru menanyakan bagian paling lucu dari pertengkarannya dengan sang adik. Nindy bercerita tentang Nandiro yang menuduhnya berisik sambil mencari kaus yang ternyata sedang dipakai sendiri.
Galih membungkuk menahan tawa.
Gue harus minta komisi sama anak itu, batin Nindy. Kelakuannya ternyata berguna buat bahan ngobrol.
Ia tersenyum tanpa buru-buru memeriksa apakah rambutnya masih rapi. Selama beberapa menit, ia lupa menyiapkan kalimat yang akan membuat dirinya tampak lebih menarik. Rasanya justru menyenangkan bisa bercerita tanpa memikirkan hasilnya terlebih dahulu.
Ia gantian bercerita mengenai pekerjaan pertamanya di bagian kreatif. Ada ide yang pernah ditolaknya sendiri sesudah melihat hasilnya, dan ada hari ketika ia merasa terlalu muda untuk memimpin orang yang pengalamannya lebih banyak.
"Tapi waktu presentasi kamu kelihatan yakin sekali," kata Nindy.
"Latihan. Kadang aku sudah panik duluan sebelum masuk ruangan."
Pengakuan itu membuat Galih terasa lebih dekat daripada ketika ia tampak selalu berhasil. Nindy menyadari ia tidak perlu mencari rahasia besar untuk mengenal seseorang. Kadang cukup duduk dan membiarkan orang itu menceritakan bagian yang ingin dibaginya.
Teleponnya berbunyi karena pesan Ratih. Nindy membalas bahwa ia akan pulang setelah minuman selesai. Tidak ada panggilan Alex yang memintanya kembali hanya karena jam kerjanya sudah habis.
Ia menaruh telepon dengan perasaan sedikit asing.
"Aman?" tanya Galih.
"Mama memastikan aku masih ingat jalan pulang."
Galih tertawa. "Bagus. Aku juga tidak ingin dituduh menghilangkan sekretaris perusahaan."
Mereka berjalan menuju halte setelah selesai. Galih menawarkan menemani sampai kendaraan Nindy datang. Gadis itu menyetujui dan tetap berdiri dengan jarak yang terasa nyaman.
Tidak ada pengakuan cinta mendadak. Tidak ada tuntutan menentukan hubungan sebelum mereka selesai mengenal satu sama lain.
Namun, ketika Galih berkata ingin mengajaknya keluar lagi suatu hari, Nindy tidak menganggap kalimat tersebut hanya basa-basi.
"Aku mau," jawabnya. "Asal tidak bentrok dengan kerja dan aku tahu rencananya dulu."
"Tentu."
Bus datang beberapa saat kemudian. Nindy masuk, menemukan tempat berdiri yang tidak terlalu sesak, lalu melambaikan tangan melalui kaca.
Galih membalas sebelum berbalik.
°°°°°
Keesokan paginya, Nindy datang dengan wajah sedikit lebih cerah. Alex memperhatikannya ketika menerima ringkasan jadwal, kemudian tanpa sadar bertanya mengapa ia terlihat begitu senang.
"Memangnya harus kelihatan menderita setiap masuk kantor, Pak?"
Alex menatapnya datar. "Saya hanya bertanya."
Nindy tersenyum. "Kemarin saya minum kopi sama Galih. Sudah agak lebih enak bicara lagi."
Pria itu mengangguk, tetapi ada jeda kecil sebelum ia kembali melihat berkas.
"Bagus kalau pekerjaan kalian tidak terganggu."
"Iya."
Nindy keluar setelah penjelasan selesai. Alex memandang pintu beberapa detik lebih lama, lalu meraih cangkir dengan tangan biasa.
Ia tidak mempunyai alasan untuk kesal. Galih pegawai yang baik. Nindy sudah selesai bekerja ketika pergi. Tidak ada jadwal yang dilanggar.
Lalu mengapa kopi paginya mendadak terasa kurang menyenangkan?
Alex memandang cangkir, seolah jawaban bisa ditemukan di dasarnya.
Sayangnya, yang ada hanya kopi.
°°°°°