Disisi lain Rizal gelisah menunggu Ana datang ke restoran untuk bekerja, akan tetapi Ana tak kunjung datang, dan Ana kemungkinan lupa mengabari Rizal. Rizal berjalan kesana-kemari di depan meja kasir. Karyawannya yang melihat hanya saling pandang dengan teman-temannya. Apa yang terjadi pada Bosnya? Sehingga terlihat gelisah.
Tak lama Rizal melihat Dita teman Ana yang juga karyawannya, Dita sedang membawa beberapa minuman untuk ia bawa ke meja pengunjung. Akhirnya Rizal memutuskan menghampiri Dita untuk bertanya keberadaan Ana.
“Dita, di mana Ana, jam segini kenapa belum datang?” Tanya Rizal Pelan di depan pengunjung.
“kurang tahu Bang, tadi saya juga sudah hubungi, tapi ponselnya gak di aktif.”
“Ke mana anak itu,” gumam Rizal lalu mengambil ponselnya di dalam saku celananya sedangkan Dita melanjutkan pekerjaannya.
“Ini pasti ada hubungannya sama Bang Reymond,” batin Rizal menduga, tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi Reymond.
“Halo Bang Rey,” sapa Rizal di sambungan ponselnya.
“Hem, ada apa?”
“Ana ada sama Abang?”
“Gak ada!”
“Abang tahu dia ada di mana?”
“Gak! Aku ada di kantor.” Bohong Reymond.
“Ke mana anak itu?” Gumam Rizal.
“Ya gak tau.” Sambung Reymond lalu memutuskan sambungan ponselnya secara sepihak dan itu membuat Rizal bertambah kesal.
“Sial!” Umpatnya di depan layar ponselnya. Kemudian ia memilih ke ruangannya yang ternyata di dalam sudah ada Sarah yang menunggunya tanpa ia tahu kapan Sarah masuk ke dalam ruangannya.
“Astagfirullah! Allahuakbar!” Teriak Rizal terkejut melihat Sarah yang menggunakan dress warna putih dan rambutnya sedikit menutupi wajahnya karena ia sedang menunduk membaca buku novel kesukaannya yang masih ada di ruangan Rizal.
Sarah juga terkejut saat mendengar suara Rizal yang mungkin menggema sampai keluar ruangannya, refleks Sarah pun melemparnya dengan buku novel yang ia baca dan mengenai lengannya.
‘Buk’
“Auh! Sakit Sarah!” Pekik Rizal mengusap lengannya.
“Kamu pikir aku hantu!” Kesal Sarah yang masih duduk di sofa.
“Kau yang kayak hantu blau! Datang gak diundang, tiba-tiba ada di sini, ada apa lagi?”
“He..., santai bos aku cuma main ke sini buat pastiin mantan pacarku ini benar-benar sudah move on, ternyata belum,” ledek Sarah melihat ada beberapa barangnya masih tersimpan rapi di rak buku miliknya. Rizal melihat Sarah jengah lalu berjalan menghampirinya.
“Bukannya kamu yang gak bisa move on, terus kamu ngapain datang ke sini kalau memang udah bisa move on,” ledek Rizal melihat Sarah Yang menatapnya sedikit kesal.
“Aku cuma mau kasih ini buat kamu.” Sarah menyerahkan undangan pembukaan restoran Jepang miliknya. Rizal sekilas membacanya kemudian melihat Sarah kembali. Ada rasa senang keinginan Sarah yang dulu ingin membuka restoran Jepang terealisasi, dan itu mimpi mereka berdua saat masih berpacaran.
“Nanti kalau sempat aku akan datang, kau tahu sendiri aku sibuk,” ujar Rizal.
“Terserah kamu mau datang atau tidak!” Sarah kemudian meninggalkan ruangan Rizal begitu saja.
“Gila ya! Adik kakak sama sablengnya.” Rizal melihat Sarah dari pintu kaca jendela. Lalu mendaratkan bokongnya ke sofa.
Pikirkan Rizal kini beralih pada Ana, kemana karyawan kesayangannya itu, tidak ada kabar sama sekali. Apa Ana sakit?
“Sial!” Rizal kemudian bangkit dan buru-buru menuju perkiraan, pikirannya sudah membayangkan Ana sakit dan tidak ada yang mengurusi. Sungguh rasa iba menggelayut di hati Rizal memikirkan Ana yang hidup sebatang kara di kota besar.
Rizal mengendarai mobilnya dengan hati gelisah, sesekali melihat ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Ana. Akan tetapi ponsel Ana tetap tidak aktif.
Rizal mungkin belum menyadari jika rasa khawatirnya pada Ana hanya akan membuat sakit hati dan kecewa, karena orang yang dikhawatirkan sudah ada yang lebih mengkhawatirkan, dan Reymond lah orang yang lebih khawatir dengan sosok gadis yang ia inginkan.
Saat sedang fokus menyetir tiba-tiba Rizal tidak sengaja melihat Sarah di tepi bahu jalan sedang menendang ban mobilnya, sepertinya mobil Sarah sedang bermasalah.
“Sarah,” Gumamnya lalu menepikan mobilnya. Kemudian menghampiri Sarah.
“Mobilmu kenapa?” tanya Rizal membuat Sarah terkejut.
“Astagfirullah!!.” Sarah memegang dadanya lalu menoleh ke arah sumber suara.
“Kaget tahu!” kesal Sarah menepuk lengan Rizal.
“Aku tanya mobil kau kenapa? Malah mukul!”
“Bannya bocor.”
“Bawa ban serep?”
“Gak!” Rizal menatap Sarah yang ternyata masih sama saja, tidak pernah berubah.
“Kamu itu ya gak pernah berubah. Sudah di bilang kalau pergi itu bawa ban serep, dasar cewek bisanya cuma bisa pakai”
“He...! Sembarangan kalau ngomong, gini-gini aku tahu mesin, cuma gak tahu aja penggelindingan.”
“Penggelindingan?”
“Iya itu, ban kan gelinding.” Rizal mulai jengah karena Sarah selalu bercanda.
“Gak usah ngelawak! Udah sekarang kamu mau kemana?”
“Mau anterin aku?” Lama-lama Rizal semakin jengah dan kesal kemudian meninggalkan Sarah menuju mobilnya.
“Eh...! Tunggu!” Teriak Sarah kemudian mengambil tas dan mengunci mobilnya lalu menyusul Rizal.
“Mau ke mana?” Tanya Rizal saat di dalam mobil.
“Mau pulang.” Tanpa bertanya lagi Rizal kemudian melajukan mobilnya mengantarkan Sarah pulang, sementara itu Sarah tidak lupa menghubungi bengkel untuk mengambil mobilnya.
Disisi lain Reymond tengah makan siang bersama Ana di ruangan perawatan Ana. Ana memakan makan siangnya dari rumah sakit dan Reymond membelinya di kantin rumah sakit. Mereka makan bersama sesekali Reymond menyuapi Ana dengan makanan miliknya.
“Ana, kamu harus makan yang banyak biar cepat sehat,” kata Reymond melihat Ana yang begitu enggan memakan makanannya. Rasa pahit dan hambar menjalar di Indra pengecapnya membuat selera makannya hilang.
“Udah Bang, Ana udah kenyang,” tolak Ana.
“Buah aja ya!” Ana mengangguk ragu karena sudah sangat merepotkan Reymond.
Reymond kemudian memberikan buahnya, dan mengawasi Ana makan, memastikan Ana menghabiskan buahnya. Reymond tersenyum saat Ana menghabiskannya berharap Ana cepat pulih agar bisa bercanda lagi.
“Sudah, sekarang istirahat ya!” Titah Reymond membantu Ana bersandar di brankar.
“Terima kasih?”
Ana tersenyum lalu matanya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 13:00. Ana baru teringat jika ia belum mengabari Rizal, bosnya.
“Astagfirullah!!”
“kenapa?” tanya Reymond.
“Ponselku mana Bang?” Ana menoleh ke arah meja yang ada di samping brankar, namun ponselnya tidak ada karena ponsel Ana di simpan Reymond. Reymond sengaja menyimpan ponsel Ana agar tidak ada yang mengganggu istirahatnya.
“Mau ngapain?”
“Mau izin Bang Rizal kalau hari ini gak masuk kerja.”
“Udah tadi Abang yan izin buat kamu, sekarang kamu istirahat.”
“Beneran Bang?” Tanya Ana tidak percaya Reymond meminta izin untuk Ana.
“Iya, katanya kamu istirahat dulu sampai sembuh,” bohong Reymond.
Ana tersenyum dan meraih jemari Reymond, Ana sangat berterima kasih Reymond sangat peduli dengannya.
“Terima kasih ya Bang,”
“Iya, tidur..., istirahat!” Ana mengangguk kemudian berbaring dan memejamkan matanya. Sementara itu Reymond mengusap lembut kening Ana dengan penuh kasih.