Ana mulai membuka matanya. Pandangan mulai mengedar ke seluruh ruangan perawatan, bau obat rumah sakit menyeruak di hidungnya, serta mendapati tangannya di infus. Akhirnya Ana tahu dirinya berada di rumah sakit.
Ana melihat seseorang yang duduk di kursi dan menggenggam jemarinya. Kepala orang tersebut ia tumpukan di brankar. Ana sangat mengenali Surai rambut dan raut wajah orang di sampingnya serta bau parfum yang dikenakan. Perlahan Ana mengusap rambutnya dan tersenyum. Ana merasa terharu ternyata ada yang peduli di saat dirinya benar-benar butuh seseorang untuk di jadikan Sandaran.
“Abang,” lirih Ana. Reymond terkejut dan melihat Ana yang sudah sadar dan tersenyum padanya.
“Ana!” Reymond sedikit panik dan langsung berdiri mengira Ana membutuhkan sesuatu.
“Kamu mau apa? Mau minum, atau mau makan?”
“Tidak Bang,” balas Ana lalu berusaha duduk.
“Jangan banyak gerak Na.”
“Ana mau duduk Bang.” Reymond akhirnya membantu Ana duduk kemudian mengambilkan air minum.
“Ini minum dulu.” Ana tersenyum, lalu meminum airnya.
“Kamu istirahat ya,” Pinta Reymond setelah Ana selesai minum dan meletakkan gelasnya di meja, lalu mengusap lembut rambut Ana. Ana memandangi wajah Reymond lalu tiba-tiba memeluknya dan menangis.
“Ana capek Bang. Ana rindu sama Ibu. Kenapa mereka meninggalkan Ana begitu cepat,” lirih Ana disela isak tangisnya. Ana sangat merindukan kedua orang tuanya, Kenapa orang tuanya pergi begitu cepat meninggalkan dirinya sebatang kara di Jakarta, bahkan saudara dari keduanya orang tuanya pun tidak begitu peduli dengannya.
“Ana tidak mempunyai siapa-siapa Bang, Ana hidup sendiri, Ana capek,” lirihnya lagi. Ana tidak mencari simpati pada Reymond, dirinya hanya ingin sebuah pelukan yang menenangkan hatinya.
Reymond hanya tersenyum tipis lalu mengusap punggung Ana, seolah memberikan semangat agar Ana tetap semangat dan tegar menjalani hidup.
“Masih ada Abang, kamu jangan merasa sendiri, kamu juga masih punya sahabat dan teman-teman kamu, dan jangan pernah merasa sendirian, Karena ada Tuhan yang selalu ada untuk kamu,” tutur Reymond menagkup kedua pipi Ana seraya mengusap air mata Ana dengan ibu jarinya.
Ana terharu mendengar ucapan Reymond, ucapannya begitu mendamaikan hatinya bahwa ia tidak boleh putus asa dan merasa sendiri karena di sekelilingnya masih ada sahabat dan juga teman-temannya. Kemudian Ana memeluk kembali Reymond.
“Terima kasih Bang. Maaf biarkan Ana memeluk Abang sebentar saja.”
“Iya,” balas Reymond mengusap punggung Ana.
Reymond tidaklah mengambil kesempatan dalam hal ini, ia benar-benar tulus bersimpati dan rasa ibanya pada Ana, membayangkan Ana hidup sebatang kara di ibu kota membuat dirinya semakin ingin melindungi Ana. Rasa cinta dan sayang Reymond pada Ana mengalir begitu saja sejak pandangan pertama. Sedangkan Ana ia merasa selama dekat dengan Reymond dirinya damai dan nyaman. Reymond selalu memberikan nasehat yang baik agar selalu tegar dalam menjalani hidup.
“Sekarang makan ya, kamu belum makan kan?” Tanya Reymond melepaskannya pelukan Ana lalu menghapus air matanya.
“Iya,” jawab Ana singkat. Reymond mengambilkan makanannya.
“Abang suapi ya?”
“Em...,” Angguknya ragu.
Reymond dengan senang hati menyuapi Ana sampai habis. Ana terus memandangi Reymond dengan rasa haru, kenapa ada pria yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya tidak pernah mengenal sebelumnya, kini mau merawat dirinya dengan suka rela, apa yang istimewa pada dirinya. Jika di pikir Ana bukanlah siapa-siapa.
“Satu suap lagi?” Reymond menyodorkan satu suapan lagi ke arah mulut Ana. Ana menerima suapan terakhir diiringi senyum Reymond.
“Terima kasih Bang, maaf sudah merepotkan Abang,” ujar Ana tidak enak hati.
“Tidak apa-apa, jangan merasa tidak enak. Abang akan selalu ada untuk kamu.”
Lagi-lagi Ana di buat terharu dengan ucapan Reymond, sampai-sampai ia tidak tahu harus mengucapkan kata apa lagi. Tidak berselang lama tiba-tiba ponsel Reymond berdering, Reymond mengambil ponselnya di dalam saku jaketnya lalu membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
“Reynand,” batinnya lalu mengangkat ponselnya.
“Hem...,”
“Kau di rumah?” Tanya Reynand di balik sambungan ponselnya.
“Aku ada di rumah sakit, menemani seseorang,” balasnya sambil melihat Ana.
“Ok baiklah, besok saja.”
“Katakan ada apa?” Desak Reymond agar Reynand mengatakan sesuatu. Namun belum selesai bicara Reynand menutup sambungan ponselnya dan itu membuat Reymond kesal.
“b******k! Telepon cuma ngomong gitu aja, Dasar Reynand!” Umpat Reymond membuat Ana tertawa karena Reymond mengumpat seraya menunjuk-nunjuk ponselnya.
“Siapa Bang? Kenapa Abang jengkel,” tanya Ana penasaran.
“Gimana gak jengkel, dia kalau telepon pasti gak pernah selesai ngomongnya. Main matiin aja,” kesal Reymond lalu duduk di samping Ana.
“Dia itu siapa?”
“Saudara kembar Abang?” Ana melihat Reymond tidak percaya jika laki-laki dewasa di depannya itu mempunyai saudara kembar, setahu Ana saudara Reymond adalah mantan kekasih bosnya, Rizal.
“Serius?”
“Dua rius!” Tegas Reymond meyakinkan.
“Ana gak percaya.”
“Ya terserah, mau percaya atau tidak. Tapi dia ada di London, karena dia punya perusahaan di sana,” ujarnya
“Oh begitu. Iya deh percaya,” balas Ana lalu tersenyum. Ana mulai sedikit sendu membayangkan dirinya tidak mempunyai siapa-siapa. Ingin rasanya ia juga mempunyai saudara akan tetapi semua hanya mimpi.
Ana mulai berbaring seraya melihat langit-langit ruangannya. Pikirannya melayang merindukan orang tuanya. Sekali lagi ia hanya bisa tersenyum kecut pada dirinya sendiri, bahwa ia benar-benar memang sendiri. Reymond melihat Ana dan tersenyum, seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Ana.
“Sudah, jangan di pikirkan!” celetuk Reymond.
“Apanya?”
“Biaya rumah sakit,” canda Reymond di iringi tawa begitu juga Ana. Reymond juga tidak ingin Ana bersedih memikirkan biaya rumah sakit. Tiba-tiba Ana teringat ponselnya.
“Hah...!!? Tunggu, mana ponselku?” Tanya Ana seraya mencari keberadaan ponselnya.
“Ini.” Reymond memberikan ponsel Ana, kemudian Ana mengecek saldo rekeningnya lewat ponselnya.
“Cukup gak ya?” Gumam Ana melihat layar ponselnya dan melihat saldo rekeningnya.
“Sudah Abang lunasi, tidak perlu khawatir. Sekarang kamu istirahat,” balas Reymond merebut ponsel Ana.
“Tapi Bang?”
“Gak ada tapi! Istirahat!” Tegas Reymond membantu Ana berbaring kembali dan membenarkan selimutnya.
Reymond benar-benar membuat Ana menjadi Gegana, perlakuan Reymond dari awal bertemu hingga saat ini membuat Ana semakin jatuh hati, akan tetapi hati Ana masih ragu. Apakah Reymond juga memiliki perasaan yang sama padanya. Ana sadar dengan statusnya yang bagai langit dan bumi dengan Reymond, mana mungkin bisa bersatu.
“Come on Ana, sadar kamu Cuma waiters, Dia CEO tidak mungkin bersatu,” batin Ana yang matanya terpejam.
Reymond memandangi Ana sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya, tanpa sadar ia mengecup kening Ana. Ana terkejut namun ia hanya diam dan tersenyum dalam hati seolah tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri.
“I love you,”batin Reymond tidak berani berbisik di telinga Ana.