Ana dan teman-teman waiters lainnya tengah bersiap untuk pulang dan Reymond sudah menunggunya Ana di parkiran, akan tetapi saat Ana ingin keluar Rizal memanggilnya.
"Ana!" Ana yang merasa di panggil bosnya pun menoleh kebelakang dan melihat Rizal.
"Ya Bang?"
"Abang antar ya." Ana tersenyum enggan lalu melihat ke arah Reymond yang sudah berada di parkiran.
"Maaf Bang, tapi Ana sudah ada yang menjemput, mungkin lain kali ya. Maaf ya Bang." Rizal tersenyum tipis dan melihat Reymond tengah berdiri memperhatikan dirinya dan Ana.
"Ya sudah, lain kali aja." Ana tersenyum kemudian berlari kecil menghampiri Reymond.
"Maaf ya Bang, udah nunggu lama?"
"Nggak apa-apa, santai aja," Balas Reymond kemudian merangkul Ana dan membukakan pintu mobilnya. Reymond tersenyum sinis pada Rizal dan menunjukkan jika dialah yang di pilih Ana. Dengan rasa kecewa Rizal kemudian menuju club malam untuk mencari pelampiasan apa lagi kalau bukan minum-minuman.
Ana dan Reymond tidak langsung pulang ke rumah, mereka berdua singgah di warung lesehan pinggir jalan.
"Mau apa?" Tanya Reymond menawarkan sesuatu pada Ana.
"Mie goreng aja deh Bang."
"Gak nasi goreng," tanya Reymond lagi karena biasanya Ana suka dengan nasi goreng.
"Gak Bang, lagi mau mie."
"Ya udah." Reymond mengusap lembut rambut Ana dan tersenyum, kemudian melihat penjualnya yang sedari tadi menunggu mereka memesan sesuatu.
"Mas. Mie gorengnya dua, minumnya biasa ya jeruk hangat." Pesan Reymond.
"Baik Mas, ada lagi?"
"Itu saja."
"Di tunggu ya Mas, Mbak." Reymond tersenyum dan mengangguk begitu juga Ana.
"Hari ini gimana pekerjaanmu," tanya Reymond meraih jemari Ana.
"Hari ini aku nggak full di restauran, siang tadi bang Rizal ngajak aku ke jalan permata," terang Ana apa adanya, Reymond juga senang Ana berterus-terang apa saja kegiatannya hari ini dan semakin yakin Ana juga menyukainya.
"Ngapain?"
"Eum..., meninjau tempat untuk membuka cabang restorannya."
"Oh..., Abang pikir di ajak kencan."
"Abang!" Ana menepuk lengan Reymond. "Gak lah, Ana profesional. Lagian sudah ada yang ngajak kencan Ana." Keduanya tersenyum dan Reymond mengusap punggung tangan Ana.
"Permisi Mas, Mbak ini pesanannya," Ucap Penjualannya meletakkan dua piring mie pesanan mereka.
"Oh iya Mas, terima kasih."
"Sama-sama." Kemudian si penjual duduk di tempatnya sedangkan Ana dan Reymond menikmati mie gorengnya.
Mereka makan bersama sesekali Reymond menyuapi Ana, dunia sudah bak milik berdua. Tidak bisa di pungkiri mereka benar-benar sedang jatuh cinta. Namun keduanya masih enggan mengatakan cinta.
"Bagaimana bisnis kamu," tanya Reymond di sela makannya.
"Bisnis?"
"Bisnis kue kamu?"
"Oh!" Ana tertawa kecil mengingat bisnis kuenya yang menurut dirinya masih belum menjadi apa-apa.
"Masih seperti kemarin belum ada perkembangan, tapi alhamdulillah setiap hari pasti habis."
"Sabar ya, semua bisnis besar dimulai dari yang kecil. Abang yakin bisnis kamu nanti akan menjadi besar asal kamu fokus."
"Fokus? Iya, Abang benar tapi Ana belum bisa fokus karena Ana juga harus kerja," balas Ana mengingat ia masih bekerja di restoran Rizal, karena jika mengandalkan bisnis kuenya saat ini sepertinya belum bisa untuk mencukupi kebutuhannya bahkan untuk mencicil hutangnya.
"Kamu bisa keluar dari pekerjaanmu yang sekarang. Abang akan membantu bisnismu," Ujar Raymond yang sebenarnya menginginkan Ana keluar dari pekerjaannya agar tidak lagi bertemu dengan Rizal. Ana tersenyum melihat sorot mata Reymond yang terlihat begitu tulus. Ana sangat beruntung bisa bertemu dengan Reymond disaat kondisinya memang benar-benar membutuhkan seseorang yang selalu mendukungnya.
"Akan Ana pikirkan Bang. Memang jika harus berbisnis harus fokus, itu kata almarhum ayah," balas Ana sedikit sendu mengingat almarhum Ayahnya yang begitu cepat meninggalkan dirinya sehingga sekarang ia sebatang kara hidup di Jakarta dan berjuang sendiri tanpa adanya saudara. Reymond meraih jemari Ana dan menggenggamnya.
"Abang akan membantumu."
"Terima kasih Bang," balas Ana lalu tersenyum dan membalas genggaman tangan Reymond.
Keesokan harinya Ana kembali ke aktivitasnya seperti biasa mengantarkan kue risolesnya ke warung-warung yang sudah menjadi langganannya. Namun sepertinya kondisi Ana tidak memungkinkan. Ana merasa seluruh tubuhnya pegal, kepalanya pusing dan suhu tubuhnya pun meningkat.
Ana pulang dari warung dalam keadaan sempoyongan dan hampir terjatuh di jalan, akan tetapi ia harus terus berjalan sampai ke rumahnya dan pada akhirnya ia terjatuh di teras rumahnya. Reymond yang baru saja turun dari mobilnya bergegas berlari setelah melihat Ana tergeletak di lantai teras.
"Ana!" Panggilnya seraya merengkuh kepala Ana ke pangkuannya. "Ana! Bangun Ana, kamu kenapa?" Panggil Reymond seraya menepuk-nepuk pipi Ana, serta mengecek suhu tubuhnya dengan menempelkan telapak tangannya di dahinya Ana.
"Panas," gumamnya. Tanpa pikir panjang Reymond lalu membopong Ana menuju mobilnya.
Para tetangga yang melihat anak dibopong pun berbondong-bondong menghampiri Reymond yang sedang membopong Ana.
"Ana kenapa itu Mas?" Tanya salah satu tetangga.
"Kurang tahu Mbak. pingsan di teras rumah, ini mau saya bawa ke rumah sakit."
"Ya Allah! Iya Mas, kasihan," balas tetangganya tersebut seraya membantu membukakan pintu mobil Reymond. Tetangga tersebut merasa kasihan melihat Ana yang hidup sebatang kara tidak mempunyai siapa pun.
"Mbak, tolong titip box-box punya Ana, semua masih ada di teras," Pinta Reymond meminta tolong pada tetangga Ana.
"Ya Mas, tenang aja nanti saya bereskan," balas tetangga tersebut.
"Terima kasih mbak." Tetangga tersebut mengangguk kemudian Reymond bergegas menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Reymond langsung membawa Ana ke ruang UGD agar mendapat pertolongan pertama. Reymond begitu gelisah menunggu Ana diluar ruangan UGD. Reymond sangat takut terjadi sesuatu pada Ana mengingat Ana tidak pernah istirahat dengan baik dan makan tidak tepat waktu. Mungkin ini adalah salah satu pemicu kondisi Ana menjadi menurun.
Setelah beberapa saat dokter yang menangani Ana keluar dari ruangan UGD. Reymond bergegas menghampiri Dokter tersebut.
"Dokter bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Reymond cemas.
"Istri Anda tidak apa-apa tuan, jangan khawatir. Istri Anda hanya kelelahan," balas dokter mengira Ana adalah istri Reymond, dan Reymond juga tidak membatah biarlah dokter itu mengira dirinya suami Ana jadi itu lebih mudah untuk mengurus Ana. Toh sang dokter juga tidak akan mengurusi bagian Administrasi.
"Syukurlah dok, boleh saya menemuinya dok."
"Boleh. Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruangan perawatan sesuai permintaan Anda." Reymond mengangguk kemudian tersenyum, lalu Sang dokter kembali memeriksa pasien lainnya.
Di ruangan perawatan Reymond duduk di kursi di samping brankar Ana. Ia melihat wajah pucat dan lelah Ana, sangat jelas wajah itu banyak menyimpan derita yang tersembunyi.
“Aku tidak mau tahu mulai besok kamu harus berhenti bekerja.” Lirih Reymond seraya mengusap lembut pipi Ana, lalu mencium keningnya.