Setelah mendengar kabar dari Rico Reymond kemudian mengajak kedua orangtuanya untuk pulang dari mall.
"Ma, Pa! Ayo kita pulang!" Ajak Reymond.
"Ayo! Mama juga sudah dapat buku yang mama cari,"
"Ya sudah, ayo!" Saut Darma kemudian mereka semua pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Reymond langsung membersihkan dirinya. Hatinya masih terasa panas terbakar api cemburu mengingat ucapan Riko yang melaporkan bahwa Ana dan Rizal nampak begitu mesra. Setelah mengganti baju Reymond memutuskan untuk ke restauran Rizal.
"Kamu mau kemana lagi Rey?" Tanya sang Mama saat melihat Raymond tengah terburu-buru menuju pintu depan.
"Mau ke restoran Rizal ma, ada perlu."
"Oh, ya sudah sekalian nanti pulang sama Sarah ya, Sarah katanya lagi di restoran mantannya."
"Iya Ma, Sarah ada-ada saja sudah putus masih saja mengejar Rizal," balasnya jengah.
"Namanya juga cinta Rey." Saut Darma Sang papa.
"Ya sudah Pa, Ma. Reymond berangkat dulu." Pamit Reymond kemudian ia pergi.
Di perjalanan Remon kembali menghubungi Rico untuk memastikan keberadaan Ana sudah kembali atau masih di jalan permata.
"Rico posisi Ana ada di mana?" tanyanya di sebrang sambungan ponsel.
"Nona Ana sudah kembali ke restauran tuan, baru saja sampai," jawab Riko di seberang ponselnya.
"Baiklah, terima kasih!" Reymond kemudian mematikan sambungan ponselnya, lalu menambah kecepatan mobil yang ia kemudikan.
Sementara itu Ana yang sudah kembali ke restauran dan kembali bekerja, sedangkan Rizal menemui Sarah yang sedari tadi duduk sendiri di pojokan, niatnya hanya ingin melihat Rizal akan tetapi Sarah justru di hampiri Rizal.
"Ada apa kemari?" Tanya Rizal sedikit ketus pada Sarah kemudian ia duduk di kursi di seberang meja , Sarah berusaha bersikap biasa saat bertemu Rizal, padahal jantungnya berdebar di dekat Rizal.
"Memangnya tidak boleh aku melihat mantan pacarku," kilahnya santai.
"Katakan ada perlu apa? Aku masih banyak pekerjaan!" Rizal begitu kesal melihat Sarah yang tiba-tiba datang ke restauran, padahal mereka cukup lumayan lama tidak berkomunikasi yaitu hampir 3 tahun. Dan dalam 3 tahun itu mereka masih saling sendiri, mungkin mereka tidak menyadari bahwa mereka masih saling mencintai, akan tetapi Rizal masih sangat sakit hati dengan alasan Sarah yang memutuskan hubungan.
"Tidak ada! aku hanya ingin melihatmu dan ingin tahu kabarmu saja, apa aku salah?" Sarah sengaja tersenyum manis, senyum yang sangat Rizal sukai. Seketika Rizal membuang pandangannya saat Sarah memberikan senyuman andalannya.
"Aku masih mencintaimu Rizal," Ucap lirih Sarah meraih jemari Rizal. Rizal melihat Sarah penuh Arti lalu tersenyum miring mengingat dahulu yang meminta putus karena Rizal sangat posesif.
"Bukannya kamu yang minta putus, karena aku sangat posesif padamu dan kamu tidak nyaman dengan sikapku yang posesif, dan sekarang kamu mengatakan masih mencintaiku?"
"Aku tahu tapi aku merasa tidak ada laki-laki sepertimu yang sangat pengertian, yang selalu menjagaku," Sesal Sarah. Mungkin saja penyesalan Sarah terlambat dan mungkin juga tanpa sadar ini adalah awal kelak mereka bersatu. Sejujurnya mereka masih saling mencintai.
"Tapi maaf, aku mencintai wanita lain?" kemudian Rizal beranjak meninggalkan Sarah yang masih duduk seraya memandangi Rizal yang meninggalkannya. Akan tetapi Sarah masih sangat yakin jika Rizal masih mencintainya, terbukti selama 3 tahun ini mereka masih saling sendiri.
Kamu itu tidak akan pernah bisa melupakanku Rizal karena hanya aku yang memahami mu." Batin Sarah kemudian ia keluar dari restaurant. Saat Sarah keluar dari pintu masuk secara tidak sengaja ia pas-pasan dengan Reymond, Sang kakak.
"Kakak?"
"Pulang! Ngapain kesini? Bukanya udah putus sama Rizal?"
"Bukan urusan kakak!" Sarah kemudian pergi menaiki taksi yang sudah ia pesan secara online sedangkan Remon menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sikap adiknya itu yang diam-diam masih ingin tahu kehidupan Rizal.
Reymond masuk mencari keberadaan Ana, ia melihat ke semua arah akan tetapi tidak menemukan Ana lalu ia bertanya pada salah satu waiters.
"Permisi mbak. Ana ada?"
"Ada Tuan, tapi sepertinya ada di mushola sedang shalat,"
"Oh iya terima kasih."
"Sama-sama Tuan." Kemudian Remon menuju mushola dan memutuskan untuk shalat magrib.
Sementara itu Rizal duduk termenung mengingat ucapan Sarah yang masih mencintainya, kata itu yang membuat dirinya gelisah memikirkannya, di sisi lain ia sangat menginginkan Ana.
Sementara itu Ana sudah selesai menunaikan shalat Maghrib, kemudian ia memakai apronnya dan menghampiri Dita yang duduk disalah satu kursi menunggu pengunjung datang.
"Hai Dita!" Sapa Ana.
"Hai! Bagaimana jalan sama big bos?" Ledek Dita.
"Apa sih! Cuma di ajak lihat lokasi yang nanti buat buka cabang restauran,"
"Oh, Aku pikir di ajak kencan?"
"Apa sih. biasa aja!"
"Oh ya, kamu di cariin pengagum rahasia mu." Ana melihat Dita heran, siapa pengagum yang di maksud Dita.
"Siapa?
"Bang Reymond,"
"Bang Reymond kemari? Mana?" Ana melihat Ke arah tempat di mana biasanya Reymond duduk.
"Mana gak ada?"
"Itu!" Tunjuk Dita melihat Reymond yang baru saja keluar dari mushola, kemudian berjalan ke arah mereka. Ana tersenyum saat melihat Reymond datang menghampirinya, karena memang Ana diam-diam menaruh hati pada Reymond, entah sejak kapan Ana menyukai Reymond yang jelas saat bertemu Reymond jantungnya berdebar.
"Bang Rey." Sapa Ana saat Reymond di depannya.
"Nanti malam pulang jam berapa?" tanya Reymond.
"Biasa Bang, jam 11 malam."
"Oh, ya sudah Abang tunggu, em..., kalau gitu Abang mau ke temu Rizal." Ana mengangguk kemudian menemui Rizal di ruangannya.
"Memangnya tuan Reymond sama tuan Rizal saling kenal?" Tanya Dita penasaran melihat Ana yang masih tersenyum melihat Reymond berjalan ke ruangan Rizal.
"Iya, Bang Rizal itu mantan pacar adiknya Bang Reymond. Ya udah ayo balik kerja, itu ada pengunjung baru datang!" Seru Ana kemudian mereka kembalikan bekerja.
Sementara itu Reymond masuk keruangan Rizal tanpa mengetuk pintu lebih dulu membuat Rizal terkejut dengan kedatangannya. Rizal melihat malas ke arah mantan calon Kakak iparnya itu.
"Ada apa?" Tanya Rizal ketus.
"Tidak ada! Hanya bilang jangan coba-coba mendekati Ana! jika masih...!" Ancam Reymond yang tidak melanjutkan kalimatnya dan melihat Rizal tertawa.
"Abang itu siapanya Ana? Suami? Abang kandung? Abang itu gak punya hak untuk melarang siapapun dekat dengan Ana."
"Ya Aku tahu, tapi segera Ana akan menjadi milikku dan jangan harap kamu bisa mendekatinya,"
" Ya sudah! Kita lihat nanti." Tegas Rizal tidak mau kalah. Rizal melihat tajam Reymond begitu juga Reymond menatap tajam Rizal. Mereka seolah sedang merebutkan sesuatu yang sangat berharga padahal Ana hanyalah seorang waiters. Mungkin di mata Mereka berdua Ana calon Ratu di hati masing-masing.
Reymond keluar dari ruangan Rizal kemudian ia duduk di kursi, tempat biasa ia duduk . Ingin rasanya Reymond membawa Ana pergi dari Restaurant milik Rizal, akan tetapi itu tidak mungkin ia lakukan mengingat dirinya bukan siapa-siapa Ana.
"Bang, kok melamun?" Tanya Ana yang menghampirinya. Reymond hanya tersenyum dan menarik tangan Ana agar duduk di sebelahnya.
"Abang kenapa?"
"Abang lapar?" Ana terkekeh melihat ekspresi lucu Reymond saat mengatakan dirinya lapar lantaran wajahnya di buat seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.
" Ya sudah, Abang mau apa?"
"Ayam bakar seperti biasa,"
"Tunggu Ana ambilkan." Reymond mengangguk kemudian mengambil pesanan Reymond.