Reymond mengajak semua keluarganya makan di Restauran Jepang tempat favorit Darma, Sang Papa. Mereka memesan menu sesuai selera masing-masing, begitu juga minumannya.
Sarah sang adik masih saja terdiam dan heran melihat perubahan kakaknya dan terus melihatnya penuh selidik.
Darma dan Mila sangat bahagia melihat perubahan Reymond. Senang karena Reymond mau meluangkan waktu untuk keluarga.
"Pa... Ma.... Selesai ini Reymond mau ke toko buku," ujar Reymond di sela makanya.
"Ya sudah kita rame-rame ke toko buku." Balas Darma diangguki Mila tanda setuju. Sarah sepertinya mempunyai alasan agar tidak ikut ke toko buku karena kedua orang tuanya yang akan menemani Reymond.
Sarah ingin menemui Rizal, Sang mantan, sebenarnya bukan menemui akan tetapi hanya ingin melihatnya di restauran miliknya.
"Ya sudah, kakak kan ada temannya membeli buku, aku pergi ya, aku ada janji," ucap Sarah beralasan.
"Sama siapa?"
"Ada deh, da!" Sarah kemudian meninggalkan mereka dan menuju restauran milik Rizal.
Sementara itu di tempat lain Ana dan teman-temannya sibuk dengan pengunjung restoran yang saat ini begitu ramai.
Rizal tersenyum saat melihat Ana dengan cekatan melayani para pengunjung restauran, semenjak kehadiran Ana di restauran miliknya, restorannya menjadi ramai terlebih banyak pengusaha dan pejabat yang singgah. Rizal juga sangat pintar dalam mencari pegawai, ia memilih yang masih muda dan cekatan, tentunya mempunyai paras yang cantik.
Tidak terasa pengunjung sudah mulai berkurang dan melanjutkan aktivitas masing-masing. Kini saatnya sebagian para waiters untuk istirahat makan siang.
Ana dan Dita makan bersama-sama di belakang restauran, mereka duduk berdua sambil menikmati makan siangnya. Tak lama Rizal membawa piring dan ikut bergabung dengan mereka.
"Boleh gabung?"
"Eh.... Abang, duduk aja Bang." Balas Ana melihat Rizal duduk di sebelahnya. Dita tersenyum saat Rizal duduk di samping Ana, karena ia tahu Rizal menyukai Ana, walau Rizal tidak pernah mengungkapkannya akan tetapi gestur tubuh Rizal sangat terlihat ingin selalu dekat dengan Ana.
"Ana, gue kedalam dulu ya, mau ambil minum." Pamit Dita yang paham tatapan Rizal, bahwa Rizal ingin berdua dengan Ana.
"Iya," jawab singkat Ana yang tidak mengetahui maksud Dita.
"Na, selesai ini temani Abang ya," ujar Rizal membuka suara.
"Kemana bang?"
"Itu belanja bahan dapur, semua habis, Abang mau coba belanja di pasar induk,?" Alasan Rizal.
"Bukanya biasanya yang belanja pak Budi?"
"Iya, sama pak Budi ,maksud Abang itu Abang mau survei tempat juga, Abang mau buka cabang di daerah sana."
"Boleh, tapi restauran bagaimana?"
"Sudah jangan pikirkan, masih banyak orang!" Ana langsung terdiam dan melanjutkan makan siangnya.
Ana dan Rizal menuju pasar induk dan Pak Budi sudah ditugaskan lebih dulu pergi ke sana dengan membawa mobil box. Sepanjang perjalanan Ana justru tertidur, karena ia merasa lelah dan mengantuk. Bagaimana ia tidak mengantuk, pulang bekerja tengah malam dan tidak langsung tidur, ia membuat kue untuk ia titipkan di warung-warung, setelah itu Ana baru tidur hanya beberapa jam, kemudian pagi-pagi buta ya harus mengantarkan kue tersebut di tempat langganannya.
Rizal mencoba mencuri kesempatan dengan cara meraih tangan Ana dan menggenggamnya. Rizal tersenyum membayangkan andai ia bisa menggenggam jemari gadis di sampingnya setiap saat pasti dirinya sangat bahagia, akan tetapi mustahil karena Ana hanya menganggap dirinya sebagai kakak.
Rizal merasakan telapak tangan Ana sedikit kasar, namun Rizal mengabaikan apa yang ia rasakan telapak tangan Ana. Rizal tahu bagaimana perjuangan Ana untuk menyambung hidup dan membayar sisa hutang orang tuanya yang cukup besar. Rizal memang sangat mengagumi sosok Ana yang begitu tangguh dan pekerja keras.
Perlahan Anda membuka matanya karena merasa ada yang menggenggam tangannya, namun dengan cepat Rizal menarik tangannya dan bersikap santai seolah tidak terjadi apa-apa. Ana mengercepkan pandangannya dan melihat sekelilingnya dan mengira sudah sampai ke tempat tujuan.
"Belum sampai bang?" Tanya Ana melihat jalanan.
"Belum, sebentar lagi juga sampai."
Ana kembali membenarkan posisi duduknya lalu meraih botol minuman yang ada di depannya, minuman yang memang ia bawa dari restaurant.
"Maaf ya bang Ana malah ketiduran," ujar anak merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Abang tahu kamu pasti capek." Ana tersenyum lalu membuang pandangannya, ia sangat bersyukur mempunyai bos yang sangat pengertian.
Rizal bukannya ke pasar melainkan mengajak anak mensurvei tempat yang nantinya akan ia buka cabang restorannya, Ana menjadi heran karena Rizal tidak membawanya ke pasar melainkan sebuah ruko dan sedikit padat penduduk.
"Bang katanya mau ke pasar?" tanya Ana
"Nanti saja, Abang mau menemui seseorang, ayo!" Ajak Rizal pada Ana sambil menarik pergelangan tangannya. Ana hanya mengikuti langkah Rizal menuju ke sebuah kafe, di mana kafe tersebut sudah ada seseorang yang sepertinya sudah menunggu kedatangan Rizal, karena terlihat Rizal melambaikan tangan pada orang tersebut.
"Selamat siang pak Rizal," sapa orang tersebut yang diketahui bernama Bagas.
"Selamat siang pak Bagas, maaf kami terlambat." Balas Rizal yang menyambut uluran tangan Bagas.
"Kami?" Bagas melihat Ana dengan penuh arti mengira Ana adalah kekasih Rizal, Rizal hanya tersenyum sedangkan Ana justru asyik melihat interior kafenya.
"Mari silahkan duduk." Ujar Bagas lalu semuanya duduk di sebuah sofa panjang.
"Mau minum apa?" Tanya Bagas menawari Rizal minum.
"Capuccino."
"Anda Nona?"
"Em...,jus jeruk saja," jawab Ana tersenyum Ramah.
Kemudian Bagas memesankan minuman untuk mereka dan untuk dirinya sendiri. Setelahnya Bagas dan Rizal membicarakan tentang tempat yang nantinya akan ia buka restaurant, sedangkan Ana hanya mendengarkan sampai tidak sadar tertidur di sandaran sofa. Rizal hanya tersenyum melihat Ana yang tertidur dan justru meraih kepala Ana untuk ia sandarkan di bahunya, kemudian Rizal melanjutkan pembicaraan bersama Bagas.
Tak lama Rizal selesai membahas tempat untuk restorannya nanti, kemudian Bagas pamit, dan Rizal masih duduk di sofa bersama Ana yang masih tertidur bersandar di pundaknya. Rupanya Ana benar-benar kelelahan sampai Rizal tidak berani membangunkan Ana dan membiarkan Ana tidur.
"Rupanya kamu memang kelelahan Na." Batin Rizal mengusap lembut rambut Ana.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedari tadi mengawasi mereka, siapa lagi kalau bukan Rico. Orang suruhan Reymond untuk mengawasi Ana dari kejauhan. Kemudian Rico melaporkannya pada Reymond bahwa Ana berduaan bersama Rizal.
Reymond rupanya membeli beberapa buku resep kue tradisional dan modern yang nantinya ia akan berikan kepada Ana, Agar Ana bisa lebih memajukan bisnis kuenya. Setelah memilih dan membayar bukunya, Reymond mengangkat ponselnya yang sedari tadi berdering.
"Halo, ada kabar apa Rico?" Tanya Reymond di seberang ponselnya.
"Maaf tuan saya mengikuti Nona Ana sampai ke jalan permata, Nona Ana saat ini sedang bersama tuan Rizal," jelas Rico.
"Bersama Rizal? Mereka di jalan permata di mananya?"
"Di kafe Den Laras dan sepertinya mereka sangat mesra," jawab Rico yang melihat Ana dan Rizal layaknya sepasang kekasih. Hati Reymond mendidih menahan rasa cemburu, kemudian mematikan ponselnya, akan tetapi ia tak lantas mengamuk, dan hanya bisa terdiam sambil sedikit meremas buku yang ia beli.