“Allahu Akbar! Ngagetin aja sih bang!” Kesal Ana.
Bagaimana Ana tidak kesal Reymond datang tiba-tiba, dan sudah berdiri di depan pintu. Otomatis Ana terkejut saat Ana membuka pintu rumahnya. Reymond hanya terkekeh melihat ekspresi wajah kesal Ana yang begitu menggemaskan di mata Reymond.
“Abang anter ya!”
“Memangnya Abang gak ke kantor?”
“Malah udah pulang, Cuma metting aja tadi.” Jawab Reymond sambil melihat Ana mengunci pintu rumahnya.
“Terus Abang ngapain kemari? Bukanya pulang!”
“Mau anterin kamu,” balas Reymond
Reymond tersenyum melihat wajah kesal Ana, wajah yang selalu membuatnya rindu, rindu ingin cepat-cepat bertemu.
“Harusnya Abang pulang dulu, temui Mama Abang dulu.” Seketika Reymond terkekeh. Mungkin Ana menganggap Reymond anak kecil, sampai pulang dari kantor langsung pulang ke rumah.
“Memang Abang anak sekolahan? Pulang sekolah langsung pulang.”
“Setidaknya orang rumah tahu Abang sudah pulang kerja, keluarga itu sangat penting Bang, kita bisa tahu kehadiran mereka saat sudah kehilangan mereka, terlebih kedua orang tua, keluarga itu segalanya Bang.” Balas Ana sambil masuk ke dalam mobil Reymond. Reymond hanya tersenyum, tidak tahu harus mengatakan apa. Jalan pikiran Ana terlalu lurus. Percuma jika berdebat dengannya, sudah pasti wanita itu selalu benar dan apa yang diucapkan Ana memang benar keluarga adalah segalanya.
Reymond memilih diam dan fokus untuk menyetir, sesekali melirik Ana yang sedang fokus dengan ponsel bututnya. Lama-lama Reymond juga tidak menyukai situasi yang hening, dan hanya deru suara mobil yang terdengar.
Reymond mencoba melirik lagi apa yang dilihat Ana di dalam ponselnya, namun nihil ia tidak melihat apa pun. Reymond berinisiatif menyalakan musik di dalam mobilnya dengan musik full volume membuat Ana terkejut sampai ponselnya hampir terjatuh.
“Allahu Akbar!” Teriak Ana sedangkan Reymond tertawa melihat ekspresi kaget Ana.
“Abang! Ana kaget!” Kesal Ana melihat Reymond terkekeh.
“Maaf, Abang sengaja. Habisnya kamu serius ngelihat hapenya.”
“Ana lagi liat orderan risoles Bang, buat hari Minggu untuk acara pengajian.” Terang Ana sambil melihat ponselnya kembali.
“Oh, sudah banyak orderan sekarang?”
“Lumayan bang, tapi aku memang harus bisa bagi waktu saja sih, kalau gak aduh bisa keteteran.” Jelas Ana mengingat bisnis kuenya saat ini cukup banyak yang meminati kue-kuenya
“Nanti Abang bantu.”
“Terima kasih ya bang.” Ana memegang bahu Reymond untuk pertama kali membuat Reymond tersenyum senang seolah Ana membuka diri dan membiarkan dirinya membantu tanpa harus memohon agar ia bisa membantunya.
Selang beberapa menit mobil yang di kendarai Reymond tiba di pelataran restauran milik Rizal.
“Bang, terima kasih ya udah anterin Ana.” Ana tidak tahu lagi harus mengucapkan apa, beberapa hari ini Reymond yang selalu membantunya, Ana sangat bersyukur berkat bantuan Reymond usaha kue risolesnya juga berjalan lancar, dan semakin banyak pelanggan.
“Sama-sama.” Balas Reymond tersenyum.
“Ya udah bang, Ana kerja dulu. Jangan lupa, Abang pulang dulu, nanti baru main.” Ana menepuk pundak Reymond dan menasihatinya seperti Anak kecil. Reymond hanya mengangguk patuh layaknya anaknya kecil.
Ana turun dari mobil Reymond kemudian Reymond pun menuruti kata Ana untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Reymond melihat Mama dan Papanya sedang duduk santai di sofa sambil membaca surat kabar dan majalah.
“Siang Ma, Pa.” Sapa Reymond pada kedua orang tuanya, lalu ia duduk di samping Sang Mama.
“Tumben langsung pulang? Biasanya nongkrong?” balas Mamanya. Reymond tersenyum melihat Mama dan Papanya bergantian seolah kini ia tahu betapa berharganya sebuah keluarga, mungkin ini yang di maksud Ana.
“Nongkrong di rumah kayaknya asyik ma.” Balasnya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Mamanya.
Mila dan Darma saling pandang, apa yang terjadi pada anaknya. Biasanya Reymond acuh dan tidak seperti saat ini.
“Ma, tadi pagi Mama buat sarapan apa sih?” tanya Darma.
“Nasi goreng! Memang nasi goreng bisa buat orang berubah ya Pa?” balas Mila yang tahu maksud Darma.
“Ya gak juga, biasanya yang buat orang berubah itu ‘CINTA’. Iya itu!” Reymond terkekeh, ia tahu maksud kedua orang tuanya menyindir halus dirinya.
“Papa benar kok Ma, Rey memang lagi jatuh cinta,” jelas Reymond sedikit malu. Mila dan Darma saling pandang kemudian melihat Reymond yang sedang tersenyum membayangkan Ana.
“Siapa gadis bodoh yang kamu rayu,” ledek Darma.
“Papa! Dia itu justru gadis baik-baik tanggung jawab. Usianya 22 tahun sudah punya bisnis kue sendiri, dia anak yatim-piatu tapi semangat juangnya tinggi pa. Enggak kayak itu, udah tua tapi masih kuliah terus gak kelar-kelar.” Ujar Reymond menunjuk Adiknya Sarah yang baru saja pulang kuliah.
“Kenapa Mama, Papa lihat aku kayak gitu?” tanya Sarah heran.
“Gak apa-apa, sudah sana ganti baju nanti temani kakak beli buku,” titah Reymond.
“Pasti ada maunya?”
“Sudah sana, jangan banyak tanya.” Sarah memutar bola matanya, ia jengah setiap kali harus menemani Reymond ke toko buku, tapi di saat di toko buku Reymond tidak membeli satu pun buku
“Awas saja nanti kalau sampai di toko buku, kakak gak beli buku, malu-maluin Cuma baca aja.” Ancam Sarah seraya menunjuk Reymond. Mila dan Darma hanya tertawa melihat kelakuan kedua anaknya, sudah dewasa tapi kelakuan mereka bak remaja.
“Ma hari ini jalan-jalan yuk!” Ajak Reymond. Mila dan Darma saling pandang tidak biasanya anak laki-lakinya itu mau mengajaknya berkumpul.
“Tumben kamu ngajak Mama sama Papa jalan,” tanya Mila.
“Reymond rindu kebersamaan Ma, ternyata keluarga itu lebih penting, di luar sana banyak yang tidak mempunyai keluarga.” Jelas Reymond mengingat Ana yang tidak mempunyai siapa pun, Reymond sangat bersyukur ada yang mengingatkan pentingnya sebuah keluarga.
Mila masih terheran-heran dan melihat suaminya, lalu kembali lagi melihat Reymond yang sudah menaiki anak tangga.
“Anak kembar papa yang satu itu tumben lurus pa? Ketempelan di mana?”
“Sudah, mana ada ketempelan, yang pasti ada seseorang yang menasihati tentang keluarga, ya bagus Reymond semakin dewasa.” Saut Darma lalu tersenyum ke arah Sang istri.
Kini mereka semua mengganti baju mengikuti keinginan Reymond. Darma dan Mila juga sangat bahagia melihat perubahan salah satu anak kembarnya yang sepertinya sedang lurus. Selama ini bengkok ya pak haha.
“Sudah siap semua?” tanya Reymond menuruni anak tangga dan sudah berpenampilan bak model luar negri.
“Sudah dari tadi kak! Kakak aja yang lama!” protes Sarah yang duduk di sofa ruang tengah.
“Iya maaf, Ayo!” ajak Reymond. Mereka semua hanya menurut ajakan Reymond. Dan tidak tahu Reymond mengajaknya ke mana.
“Kita mau ke toko buku dulu kak?” tanya Sarah saat di mobil.
“Makan siang dulu, ke tempat favorit Mama dan papa.”
Reymond benar-benar ingin membahagiakan kedua orang tuanya, dan juga adik bungsunya. Reymond sadar sudah banyak waktu terbuang untuk keluarganya dan hanya gila bekerja.