"Eh..., pacarnya Ana ya? Ganteng bener!" Sapa tetangga Ana pada Reymond saat melihat Reymond menurunkan belanjaannya di depan Rumah Ana. Reymond hanya tersenyum dan mengangguk.
"Eh..., mending sama anak ibu, sama Ana nanti di suruh bantuin bayar hutang loh, kalau aku Ogah!" celetuk ibu-ibu satunya. Dasar ya ibu-ibu rempong kalau gak bergosip yang gibah, dosa Bu dosa!.
"Hutang?" tanya Reymond pura-pura belum mengetahui Ana mempunyai hutang, Reymond sengaja ingin tahu dari tetangga Ana, hutang seperti apa yg di maksud sehingga Ana menutupinya.
"Gimana sih! Masak pacarnya gak tahu, Ana itu punya hutang satu milyar. sebenarnya hutang orang tuanya sih. Berhubung orang tuanya meninggal jadi, Ana yang bayar." Reymond hanya tersenyum kemudian masuk kedalam rumah sambil membawa belanjaannya.
Jam menunjukkan pukul 10:00. Reymond memasak di dapur Ana sambil bernyanyi. Ia benar-benar sedang jatuh cinta dengan Ana. Gadis yang menurutnya cantik, manis, dan tutur katanya lemah lembut serta humoris. Memang Ana memang banyak digandrungi pria.
"Bau masakan?" Gumam Ana saat ia bangun dan mencium aroma masakan.
"Orang nyanyi di dapur gue, siapa? Maling?" Ana bergegas keluar dari kamar dan mengendap-endap menuju dapur sambil membawa sapu.
"Maling ya!"
"Hauaaa!!!!" Teriak Reymond. Seketika Ana tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Reymond yang terkejut.
"Ana! kamu benar-benar ya, untung Abang gak punya sakit jantung!" kesalnya lalu melanjutkan menggoreng ikan.
"Lagian Abang, masak di rumah orang gak izin. aku pikir Abang maling," Balas Ana sambil duduk di kursi meja makan dan mencoba mengambil tempe goreng yang baru saja matang
"Auh panas!" Pekik Ana merasakan panas. Reymond yang melihat Ana kepanasan hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf...,habisnya Abang lapar, terus kamu malah tidur."
"Eh..., tidur? bukannya tadi pagi kita makan risoles di sini ya Bang, kok tiba-tiba aku bangun tidur di kamar. Abang gak ngapa-ngapain aku kan?" Reymond tersenyum jail.
"Abang!!?" Ana menatap tajam Reymond.
"Gak! Abang gak ngapa ngapain, Cuma Abang mindahin kamu ke kamar," balasnya. sambil meletakkan tumis kangkung dan ikan goreng di meja makan.
"Ya udah makan, ini Abang udah masak buat kamu."
"kayaknya enak bang?" Ana mencoba mengambil ikan di piring. Namun Reymond menepuk tangannya.
"Aduh!!"
"Cuci tangan dulu!"
"Hehe..., iya Bang, maaf." Kemudian mereka mencuci tangan bergantian, lalu sarapan bersama.
"Abang gak kerja?" tanya Ana saat selesai makan.
"Ini kan hari Sabtu."
"Oh ya lupa, kantor Sabtu-Minggu libur ya!"
Mereka tertawa bersama, bercanda sambil mencuci piring berdua. Setelahnya mereka duduk di ruang depan. Mereka bercerita banyak hal kecuali masalah pribadi. terlebih Ana yang berhati-hati jangan sampai dirinya bercerita tentang masalah pribadinya pada Reymond. karena mereka baru saja kenal.
"Bang, Aku mau mandi terus mau ke pasar, mau beli bahan buat kue risoles, Sama beli kotak boks."
"Ya udah. Sana mandi nanti Abang temenin ke pasar."
"Gak ngerepotin Bang?"
"Gak! udah sana."
Ana bergegas menuju kamar dan mengambil baju ganti. Setelahnya ia keluar dan menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Sementara itu Reymond melihat foto Ana bersama keluarga dan sahabatnya siska. Foto Ana dari mulai Ana kecil sampai Ana dewasa juga berjejer rapi di dinding.
"Bukannya ini Siska?" Batinnya melihat foto Siska. Adik dari rekan bisnisnya.
"Oh iya. mereka kan kuliah bareng, kenapa aku bisa lupa," Batinnya lalu tersenyum. Tak lama ia mendapat panggilan dari Saudara kembarnya, Reynand.
"Apa Rey?" jawabnya.
"Aku belum bisa pulang ke Indonesia dalam waktu dekat!"
"Ada urusan apa lagi nunda pulang?"
"Bisnisku sedang ada masalah,"
"Ok! Beruntung aku belum memberitahu Mama,"
"Iya maaf, mungkin nanti saja aku kabari lagi kapan aku pulang." Jelas Reynand penuh sesal karena belum bisa pulang ke Indonesia menemui orangtuanya.
"Ok. No problems. See you." Kemudian keduanya mematikan sambungan ponselnya seiring terdengar suara Ana bernyanyi keluar dari kamar mandi.
"Ke sana-kemari membawa alamat. Namun yang ku temui bukan dirinya, sayang...!"
"Yang ku terima alamat palsu!"
Reymond pun menyambung lagunya, lalu keduanya tertawa bersama.
"Suara kamu bagus na, kenapa gak jadi penyanyi, nanti Abang kenalin produser rekaman." Reymond melihat Ana duduk di sampingnya dan masih membalut rambutnya dengan handuk.
"Penyanyi kamar mandi aja Bang, kalau penyanyi kayak artis-artis. Ana gak mau, anak gak mau di kenal banyak orang." Ujarnya sambil membuka handuk di depan Reymond. kemudian ia mengambil pengering rambut di lemari kecil di dekat sofa lalu mengeringkan rambutnya di depan Reymond.
Reymond hanya melihatnya sambil tersenyum. jangan di tanya, sudah pasti Reymond pikirannya melayang kemana-mana. Setelah selesai Ana menuju kamarnya dan bersiap mengambil uangnya dan ke pasar.
"Ya udah Bang. Ayo!" Ajaknya saat keluar kamar.
"Ayo!" Mereka pergi ke pasar bersama.
Mereka baru saling mengenal. Tapi entah mengapa sepertinya mereka nyaman satu sama lain, bercerita, bercanda, serta memiliki kebiasaan yang sama.
"Na ini lucu." Reymond menunjukkan gelas plastik bergambar Doraemon.
"Beli aja Dek, buat anaknya," ujar Si penjual.
"Belum punya anak Pak, masih bujang," jawab Reymond apa adanya.
"Berarti ini calonnya?" si penjual menunjuk Ana.
"Bukan pak! kenal aja baru dua hari." Bantah Ana cepat. Wajah Ana sedikit memerah sekilas melihat Reymond yang tersenyum padanya. bohong jika ia tidak tertarik dengan Reymond yang memiliki wajah tampan, tinggi, atletis dan wangi terlebih Reymond adalah seorang CEO di perusahaan JAYA ABADI GROUP. Namun bukan itu yang membuat Ana tertarik, Ana tertarik karena Reymond orang yang humoris dan selalu membuatnya tertawa.
"Ya jodoh siapa tau Neng."
"Bapak bisa aja," balas Reymond.
"Ya udah pak. berapa semua boksnya," tanya Ana mengalihkan pembicaraan.
"Si Neng malu-malu. Semua seratus ribu neng, harga masih sama seperti kemarin." Ana membayarnya kemudian menarik Reymond agar cepat pulang, karena Ana sudah risih melihat Reymond menjadi pusat perhatian ibu-ibu di pasar.
"Na, jajan dulu yuk," ucap Reymond saat sampai di parkiran.
"Jajan apa?"
"Apa aja, bakso, soto."
"Tapi bawa pulang aja ya, Aku juga mau nyiapin risoles buat besok pagi,"
"Iya. kamu mau Apa?"
"Bakso aja deh."
Reymond bergegas menuju warung bakso sementara Ana menunggu di parkiran. Ana tersenyum melihat membayangkan tingkah konyolnya Reymond saat berbelanja. ia juga malu Karena banyak orang mengira mereka pasangan suami istri dan terlebih Reymond menjadi pusat perhatian ibu-ibu di pasar.
Hati Reymond juga sangat bahagia, pendekatan yang baru dua hari ia jalani sepertinya tidak ada halangan yang berarti, dan sepertinya Ana juga tidak keberatan, justru memberi sinyal padanya.
"Udah yuk!" kemudian Reymond meletakkan Bungkusan baksonya di cantelan motor, lalu Reymond mengendarai motornya dan membonceng Ana pulang ke rumah.